OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 538 CARA MELINDUNGI



Pernyataan yang disampaikan Haris dengan nada menyedihkan itu tidak dapat Xiao Jun terima. Tangan pria muda itu mengepal erat, geram memikirkan akhir yang tidak menyenangkan sama sekali. “Ini tidak adil ayah, untuk apa kita jadi orang yang memiliki kemampuan sihir kalau ternyata kemampuan ini mencelakakan salah satu di antara kita. Lebih baik kita jadi orang biasa saja, tak perlu terbelenggu oleh masalah seperti ini. Aku rindu hidup yang damai dan jauh dari masalah ayah, aku... aku tidak mau kehilangan siapapun karena pertarungan itu.” Geram Xiao Jun.


Haris mengangguk, mengerti bagaimana perasaan putranya. Sama halnya dengan Xiao Jun, ia pun tidak ingin melewati masa sulit seperti itu lagi. “Tapi semua itu hanya prediksi, Nak. Sama ketika aku melihat akhir waktu itu, nyatanya takdir berkata lain. Kita selalu punya harapan untuk merubah nasib, selagi belum terjadi... belum bisa dinamakan takdir.”


Xiao Jun semakin tidak mengerti, entah Haris hanya berkata untuk menenangkan hatinya saja ataukah memang kebenarannya demikan. Sepasang alisnya mengkerut, Xiao Jun tak bisa menafsirkan lagi teka teki Haris. “Maksud ayah bagaimana? Tadi ayah bilang ini takdir yang tidak bisa dihindari, tapi sekarang ayah bilang masih bisa berubah. Tolong jangan permainkan aku ayah, apa ayah sedang menutupi sesuatu yang buruk dariku? Apa ayah ingin memendamnya sendiri seperti waktu itu?” desak Xiao Jun yang tak bisa tenang lagi bicara dengan Haris.


Haris menghela napas berat seraya mengelengkan kepalanya. “Bukan nak, bukan seperti itu maksud ayah. Suka tidak suka, mau tidak mau, nona Yue Hwa harus menghadapi babak penentuan, di mana hanya ada dia dan pengujinya. Kita tidak akan bisa turut campur, atau salah satu di antara kita akan jadi korbannya. Pertarungan ini akan berjalan adil, hanya ada satu yang akan keluar sebagai pemenang. Dan... nona Yue Hwa hanya bisa mengandalkan semua kemampuannya. Apa kamu bersedia untuk tidak turun tangan nantinya? Kita mempunyai energi sihir yang sama, jika kamu ikut campur maka ayah akan ikut terseret, begitu pula sebaliknya. Itulah kenapa waktu itu kamu ikut campur, mau tidak mau ayah pun harus turun tangan. Tapi ini bukan arena kita Jun. Kita harus sadar diri untuk diam menyaksikan, walaupun ayah tahu ini sulit. Apa kamu paham maksud ayah?”


Xiao Jun berusaha mencerna perkataan Haris, agak lama berpikir barulah ia melontarkan perkataannya. “Jadi aku harus tega membiarkan Yue Hwa berjuang sendiri, seperti apapun hasilnya?” Tanya Xiao Jun memastikan.


“Ya.” Jawab Haris singkat.


“Meksipun ia babak belur atau akan terluka karena lawannya, aku tetap harus diam?” Xiao Jun bertanya lagi, hatinya semakin panas jika ayahnya kembali menjawab dengan kata yang sama.


“Ya.” Apa yang ditakutkan Xiao Jun terjadi, Haris memang mengeluarkan jawaban seperti itu.


“Aku tidak bisa ayah, aku tidak mungkin membiarkan Yue Hwa celaka. Aku akan melakukan apapun, mungkin masih ada cara lain yang bisa kita lakukan tanpa berpangku tangan.” Ujar Xiao Jun yang tak tahan lagi. Suaranya bahkan terdengar bergetar saking menahan geram.


“Tapi kita benar benar harus menjadi penonton. Atau dia kalah total dan kita kehilangan nyawa. Semua ada di tanganmu Jun, aku tahu kamu cemas. Sama... ayah juga mencemaskannya. Ada kalanya kita menyayangi seseorang bukan dengan cara menariknya ketika terjatuh tapi dengan tega membiarkan ia tertatih, terjatuh dan bangkit meraih kemenangannya. Aku sangat percaya pada kemampuan nona Yue Hwa. Apalagi di saat ia terdesak, dia punya kekuatan yang melebihi ekspektasi kita. Untuk itu, ayah mohon Jun... kali ini saja, tegalah kepadanya.” Ujar Haris menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya beberapa hari ini.


Xiao Jun mengerti keresahan ayahnya, pun mulai berlapang dada menerima pembelajaran dari pria tua itu. Tak sedikitpun Xiao Jun meragukan kemampuan Weini, jika memang seperti itu syaratnya, jika demi kebaikan Weini dan semua orang, Xiao Jun harus berkeras hati untuk membiarkan Weini menghadapi pertarungannya sendiri.


“Baik ayah, Jun mengerti.”


❤️❤️❤️


Weini datang menghadap Liang Jia bersama Dina dan Ming Ming. Xiao Jun meminta ijin untuk bicara dengan Haris sehingga menitip pesan bahwa ia akan menyusul nantinya. Liang Jia tampak antusias, tak sabar lagi ingin memeluk Weini.


“Lihat anakku akhirnya pulang.” Seru Liang Jia seraya mengulurkan kedua tangannya agar Weini mendarat dalam pelukannya.


Suara Liang Jia yang penuh semangat itu membuat Weini tersenyum. Ia menahan diri sejenak untuk berlabuh dalam pelukan ibunya, Weini justru memberi penghormatan sejenak. Dina yang berjalan di belakangnya pun ikut membungkuk hormat.


“Hormat untuk ibu.” Ujar Weini lembut, ia masih membungkukkan badannya sampai Liang Jia meraih pundaknya.


Dina yang sejak tadi masih membungkuk pun ikut menyapa, “Hormat kepada nyonya besar.” Namun dalam bahasa Indonesia yang membuat Liang Jia mengerutkan dahinya.


“Maaf nyonya, maksud gadis ini adalah memberi salam kepada nyonya besar.” Ming Ming segera menerjemahkan agar dimengerti oleh Liang Jia. Pria pengawal itu ikut memberi hormat di sebelah Liang Jia.


Liang Jia tersenyum senang seraya manggut-manggut, “Oh, baiklah aku terima hormat kalian. Berdiri tegaklah.” Perintah Liang Jia, ia memperhatikan Ming Ming yang dengan telaten menunjukkan tata krama kepada Dina. Membuat nyonya besar itu sedikit penasaran.


“Hwa, bukankah ini temanmu yang dari Jakarta. Hmm... ibu lupa lupa ingat, tapi dia yang pernah datang ke sini kan?” Liang Jia belum sepenuhnya yakin meskipun ingat wajah Dina, terutama raut wajahnya yang tegang itu.


Weini mengangguk seraya tersenyum pada ibunya. “Benar ibu, namanya Dina, dia temanku dari Jakarta. Aku mengajaknya untuk tinggal di sini, tapi belum menentukan posisi yang tepat untuknya. Ibu tidak keberatan bukan, kalau Hwa mengambil keputusan ini tanpa pertimbangan ibu?”


Ming Ming yang mendengar pertanyaan itu ikut merasa berdebar, pasalnya ia khawatir penentu kekuasaan tertinggi masih di tangan nyonya besar, meskipun secara aturan sang nona lah yang sudah menjadi pemimpinnya. Andai Liang Jia berkata tidak, kemungkinan besar Weini akan mendengarkan keputusannya.


Liang Jia tertawa kecil, melihat ekspresi tegang Dina dan Ming Ming yang begitu takut mendengar pernyataan kontra darinya. “Tentu saja ibu setuju, apapun yang kamu putuskan, ibu akan mengikutinya. Jangan lupa, di sini kamulah penguasanya.” Ujar Liang Jia masih dengan senyuman yang melekat.


Ming Ming menghela napas lega, urat tegangnya pun sedikit bisa rileks. Dina yang tidak tahu apa apa namun bisa menebak dari situasi yang ada bahwa semuanya berjalan lancar. Ia pun bisa merasakan kelegaan saat ini. Sementara Weini tampak berseri dan senang, segalanya terasa mulus dan ia bisa memikirkan nasib Dina selanjutnya.


“Terima kasih, ibu.” Gumam Weini membungkuk lagi, diikuti oleh Ming Ming dan Dina yang juga mengucapkan terima kasih.


“Wah, terima kasih ibu mengijinkan kak Dina tinggal di paviliun ibu. Hwa sangat menghargai kebaikan ibu.” Ungkap Weini.


Weini menatap lembut pada Ming Ming dan Dina, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menunjuk seorang pelayan yang berdiri di belakang tak jauh dari Liang Jia untuk membantunya. “Tolong antarkan nona ini ke kamar tamu di paviliun nyonya besar.” Perintah Weini.


“Kak Dina, ikut dulu ya sama pelayan ini. Kakak akan tinggal di tempat yang sama dengan ibu dan aku. Jadi kakak istirahat dulu ya, nanti aku dan ibu akan menyusul ke sana. Dan kamu, Ming Ming... istirahatlah juga, besok baru aku aturkan pekerjaan untukmu.” Ujar Weini dengan lembut dan penuh kharisma.


Dina tersenyum girang, setidaknya ia tidak akan terlantar karena berjauhan dengan Weini. “Ah terima kasih nona, eh Gong Zhu.” Ralat Dina seraya menampar pelan pipinya.


“Kak, panggil nona juga sama saja, jangan lukai diri sendiri.” Ujar Weini yang tidak tega melihat Dina menghukum diri sendiri.


Dina menggeleng dengan cepat, “Tidak Gong Zhu, aku harus mendisiplinkan diri. Ini kan pilihanku, jadi aku harus bisa menyesuaikan diri dengan aturan di sini.” Ujar Dina yang secara sadar tidak ingin diperlakukan spesial oleh Weini.


Weini terharu melihat sikap Dina yang tidak memanfaatkan kedekatannya, meskipun bagi Weini tidak masalah, namun ia tetap menghargai tekad Dina untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang serba ketat aturan di sini.


“Baiklah kak, sekarang istirahat dulu ya. Pelayan, antarkan tamuku ke kamarnya.” Perintah Weini tegas.


Dina dan Ming Ming pun berlalu dari hadapan nonanya. Tinggallah Liang Jia yang tak sabar ingin mendengar cerita Weini sejak tadi. Mereka pun mengambil posisi duduk yang santai di pendopo. “Bagaimana di sana Hwa, apa ada yang ibu lewatkan di sana?” Tanya Liang Jia memancing Weini untuk menceritakan kabar baik yang sebenarnya sudah ia ketahui.


Weini mengangguk pelan, senyuman bahagia begitu kentara terukir dari bibirnya. Sedikit malu malu Weini menunjukkan cincin yang disematkan Xiao Jun saat melamarnya, dari perhiasan itu saja sudah bisa menjawab apa yang ingin Liang Jia tanyakan. Sepasang mata wanita tua itupun berbinar, menatap antusias bahkan meraih jemari Weini untuk melihat lebih dekat.


“Akhirnya... ibu turut berbahagia untukmu nak.” Liang Jiang menggenggam tangan putrinya dengan lembut, perasaan haru dan bahagia yang begitu kentara. Ibu mana yang tidak bersuka cita saat melihat anaknya akan memasuki jenjang pernikahan? Apalagi jika tahu bahwa anaknya mendapatkan pasangan yang tepat untuk seumur hidup bersama.


“Terima kasih, ibu.”


“Setelah pernikahan kakakmu, kita akan fokus pada acara lamara secara adat dan ritual pernikahan. Ayah Wei mu sudah menentukan tanggal pernikahan kalian sejak jauh hari. Kami hanya menunggu urusan anak muda selesai, barulah kami yang tua akan bertindak.” Ujar Liang Jia yang membuka kartu Haris.


Weini mengerutkan dahinya, tak menyangka kalau Haris sudah merancang sampai sejauh itu. “Ayah Wei sudah mencarikan hari baik? Astaga... Hwa tidak menyangka kalian justru lebih tak sabaran ketimbang aku.” Ledek Weini, tawa ia dan ibunya pun pecah, terdengar begitu akrab.


“Oya Hwa, tentang temanmu itu... sepertinya dia harus banyak belajar jika ingin tinggal di sini. Kasihan jika terkendala bahasa.” Ujar Liang Jia yang mengingat tentang Dina.


Weini mengangguk setuju, ia pun ingin membahas masalah Dina secara serius kepada ibunya. “Hwa juga berpikir demikian, menurut ibu bagusnya bagaimana ya? Apa kita carikan guru bahasa saja?”


Liang Jia kurang setuju, ia menunjukkannya dengan gestur gelengan lemah. “Menurut ibu, sebaiknya ajarkan dia tentang tata krama di sini. Apapun posisi yang akan kamu berikan padanya, ibu tidak keberatan. Yang pasti, semua yang tinggal di sini harus paham bagaimana bersikap, tidak terkecuali kamu pun mendapat pelajaran tata krama waktu kecil kan?” Liang Jia mengingatkan Weini tentang pelajaran singkat yang Weini terima waktu kecil.


“Iya, bu. Hwa masih ingat betul, diajari menjadi putri kecil yang tahu sopan santun.” Kenang Weini. Liang Jia pun manggut manggut, setidaknya Weini sudah paham arah pembicaraan dan maksudnya.


Liang Jia tersenyum lebar, “Ingatanmu memang luar biasa, Hwa. Untuk itu ibu harap pelajaran pertama yang temanmu dapatkan adalah tata krama. Menurutmu bagaimana?” Liang Jia melemparkan pilihan pada putrinya.


Weini menimbang nimbang sebentar, tidak ada salahnya juga menuruti saran ibunya. Toh, Weini bisa sambil mencarikan guru terbaik untuk Dina. Dalam waktu sekaligus, mungkin tidak sulit bagi Dina untuk belajar dua keahlian. “Hwa juga setuju dengan ibu. Jadi, siapa yang lebih pantas mengajarinya Bu?”


Liang Jia tertawa kecil, sepertinya Weini belum mengingat siapa pelayan senior yang spesial dalam bidang tata krama. Dengan enteng Liang Jia menjawabnya. “Tentu saja Bibi Gu.”


Alis Weini mengkerut, nama yang ibunya sebutkan langsung mengingatkannya pada satu orang yang pernah berkeluh kesah karena tak tahan menghadapi satu orang di rumah ini. Dialah Bibi Gu, sang pelayan legendaris di kediaman Li.


Kak Dina, aku harap kamu tetap semangat ya. Gumam Weini dalam batinnya, merasa prihatin dengan Dina yang harus berurusan dengan wanita tua bernama Bibi Gu itu.


❤️❤️❤️