
Tidur Weini tampak gelisah, tubuhnya bolak-balik dengan peluh keringat nyaris di sekujur tubuh. Erangan kecil sesekali terdengar hingga membangunkan Dina yang lelap di sampingnya. Mata yang masih berat oleh kantuk terpaksa ditahan Dina saking mengkhawatirkan Weini. Ia segan membangunkan Weini meskipun tahu kualitas tidur artis itu tengah dihantui mimpi buruk.
Adegan dalam mimpi Weini ….
Ia berdiri kaku menatap Xiao Jun yang berdiri di kejauhan, hanya bibirnya yang dapat digerakkan perlahan kemudian ia berteriak memanggil nama kekasihnya.
“Jun … Xiao Jun … Li Xiao Juuun ….” Berulang kali berteriak sampai harus menyebut nama panjang prianya, namun si pemilik nama tak bereaksi apapun.
Weini mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, berusaha mengejar si pria namun apa daya tubuh yang tak bertenaga itu hanya seperti patung hidup. Seorang wanita tak dikenal muncul dari samping Weini, menatapnya tajam sekilas sebelum mengalihkan pandangan pada Xiao Jun.
Wanita itu memanggil nama Xiao Jun lebih pelan dari suara Weini, anehnya dengan volume sepelan itu mampu membuat Xiao Jun menoleh. Ia bahkan memberikan senyuman lembut pada wanita yang belum pernah Weini temui itu. Semua terjadi begitu saja di depan mata Weini, melihat kekasih yang siang malam ia rindukan pergi dalam
rangkulan hangat seorang wanita. Ia terabaikan, terlupakan, terasingkan sendirian sembari menatapi langkah mereka yang kian menjauh dan hilang.
“Xiao Juuun ….” Pekik Weini histeris kemudian terbangun dengan napas tersengal dan air mata yang menggantung di ujung kelopak mata.
Dina bergegas menepuk pundak Weini dengan lembut, berusaha menyadarkan bahwa yang barusan ia alami hanya di alam mimpi. “Sadar non, ini aku Dina … bukan tuan Xiao Jun.” ujar Dina sok kalem.
Weini termenung sejenak antara bingung dan sedih, jika yang barusan terjadi hanya mimpi kenapa rasanya sangat nyata dan menyakitkan. Tapi jelas itu hanya bunga tidur, kenyataannya ia terbangun dalam keadaan bersama Dina, bukan pria yang ia pekik sekuat tenaga. Sentuhan lembut tangan Dina yang menepuknya beberapa kali memang ia sadari, namun bibir masih kelu untuk sekedar memberi jawaban singkat.
Belum juga mendapat respon dari Weini, akhirnya Dina menyerah hanya berdiam diri di sebelah. Ia menggeser posisi duduk ke tepi ranjang lalu berjinjit pelan seakan enggan menimbulkan suara mengganggu, padahal Weini menyadari tingkah anehnya dan tetap tak kuasa buka suara.
“Minum dulu non.” Dina hanya beranjak satu meter ke arah meja demi mengambilkan segelas air mineral untuk Weini.
Weini menengadah pada Dina, wajah kusut dan ngantuk dari si manager itu membuta Weini iba. “Thanks, kak.” Gelas kecil berisi penuh air mineral itu berpindah tangan. Weini segera meneguk beberapa tegukan kemudian gelas itu tetap dipegang erat olehnya.
“Biar aku bawain non.” Dina menawarkan diri untuk mengambil kembali gelas di tangan Weini.
Weini tersenyum, kesadaran dan moodnya sudah membaik. Ia berdiri sembari mengembalikan gelas itu pada tempat semula di atas meja. “Thanks kak, aku udah nggak apa apa.
Pengakuan Weini seketika membuat saraf Dina relax, sendi-sendi terasa lemas dan ingin segera menempel di atas kasur. “Syukurlah non, hoaaamm ….” Dina menguap panjang sembari menjatuhkan tubuh dengan kasar ke atas ranjang. Tanpa perlu melihat jam, ia yakin waktu masih sangat panjang dan masih jauh dari pagi hari.
“Non nggak balik tidur?” Dina mengintip Weini yang masih berdiri bengong.
“Kakak duluan aja, sorry udah ganggu tidurmu.” Weini duduk di pinggiran ranjang, membiarkan jatah tidurnya dikuasai Dina. Ranjang yang hanya seukuran single itu dipaksa memuat dua orang, untung saja tubuh mereka cukup langsing meskipun kebebasan gerak terbatasi. Weini mana tega membiarkan tamunya tidur di sofa,
apa boleh buat ruangan kosong lainnya lebih diprioritaskan sebagai ruang kursus ketimbang kamar tamu.
Kantuk Dina serasa ditepis oleh kata-kata Weini, dipersilahkan untuk tidur namun ia malah kembali cemas. “Trus non mau ngapain kalau nggak tidur? Besok kita syuting di Bogor loh non, Mending istirahat yang bener.”
Weini enggan menolak kebaikan Dina, walaupun belum berniat kembali tidur ia mulai rebahan di jatah tempat tidurnya. Pandangannya menyebar memandang langit-langit kamar yang remang. “Kak, kamu pernah putus cinta nggak?” tanya Weini dengan suara pelan, pertanyaannya cukup sensitif apalagi ia selama ini tidak pernah
mengusik kehidupan pribadi managernya.
pertanyaan sekonyol itu pada orang yang ia tahu baru merasakan cinta pertama. Ia tak henti merutuki mulut usilnya yang sering kebablasan.
“Ng, mungkin bentar lagi kak.” Jawab Weini datar tak bersemangat dan masih menatap langit-langit.
“Hush jangan ngomong gitu non, pamali. Non udah dilamar, cukup sabar dan percaya aja non. Tuan pasti kembali untuk non.” Ujar Dina penuh semangat, ia merasa kenal betul dnegan karakter pantang menyerah Xiao Jun dan yakin pria itu tak akan melepaskan Weini.
Weini enggan berkomentar, ia sendiri tengah krisis kepercayaan kepada Xiao Jun. Diaktifkannya ponsel yang tergeletak di kolong ranjang, sebuah kebiasaan baru Weini yang suka tidur berdekatan dengan ponsel namun memilih mode offline agar lebih aman. Ia mencoba memastikan sesuatu, rasanya teramat janggal jika Xiao
Jun betah hidup tanpa alat komunikasi.
Sayangnya dugaan itu melenceng setelah mendengar nada panggilan yang tidak tersambungkan, Weini tak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin masalah yang dihadapi Xiao Jun tidak sesederhana yang ia bayangkan. Weini mengerti bila kebanyakan keluarga terhormat dan kaya akan menaruh perhatian khusus soal jodoh pewarisnya. Ia pun berasal dari keluarga terpandang di Hongkong, andai ia masih berada di sana dengan status nona pewaris tahta maka hampir pasti nasibnya tak jauh berbeda dengan Xiao Jun. Jika sudah demikian berat campur tangan orangtua Xiao Jun, apalagi yang bisa ia perbuat? Haruskah demi memperjuangkan cinta, Weini terpaksa membongkar identitasnya? Apa itu jalan terbaik? Setelah tahu ia adalah putri kelima sang penguasa bisnis di Hongkong, lalu orangtua Xiao Jun akan bertekuk lutut menyetujui hubungan mereka? Atau malah sebaliknya, sang ayah akan kembali memburu nyawa Weini dan Haris? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Weini penat dan sakit, ia menyudahi kerja keras otaknya mencerna pikiran berat.
“Sulit untuk hanya percaya tanpa melakukan apapun. Diam itu bukan emas kak, itu jauh lebih menyakitkan daripada gagal tapi masih sempat berusaha.” Ujar Weini setelah gagal menghubungi Xiao Jun namun ia merasa sedikit lega. Setidaknya tahu kenyataan bahwa nomor kekasihnya memang tidak bisa dihubungi.
“Iya sih, non. Aku belum pernah di posisi non jadi nggak pengalaman juga. Palingan yang aku tahu secara teori yang namanya jatuh cinta itu paling sulit di masa mempertahankan. Harus sama-sama berjuang, kalau cuman salah satu yang usaha ya nggak bakal jalan non.” Ujar Dina sok jadi penasehat cinta, tapi itulah gunanya ia memaksakan diri berada di dekat Weini dalam masa-masa sulit si artis. Meskipun minum pengalaman soal cinta, yang jelas ia masih berguna untuk sekedar jadi pendengar yang baik.
Weini mencoba meresapi kata-kata bijak Dina, ada benarnya yang disampaikannya. Setelah memikirkan Xiao Jun di saat setengah kehilangan ini, Weini baru menyadari ia sungguh jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Jatuh cinta yang terlampau mudah, namun proses pendekatan yang lumayan rumit dan sekarang ketika selangkah
lagi sampai ke jenjang serius, proses yang ia hadapi cukup dilematis. Jatuh cinta mungkin mudah, mempertahankannya terkadang harus melewati proses sakit yang tidak berdarah, dan yang paling menyakitkan ketika gagal adalah sulitnya melupakan dan menganggap segala yang terjadi tak pernah ada.
“Kalau masalahnya dari pihak ketiga, apa yang harus aku lakukan kak? Aku tak yakin sanggup bertahan ….” Keluh Weini, ia masih terbayang mimpi yang terasa nyata itu.
Dina kebingungan harus memberikan jawaban apa, setahunya Xiao Jun dan Weini bukan tipikal yang bisa melenceng hati. “Ng … itu sih aku juga nggak tahu non. Jangan mikir yang aneh ya, kita balik tidur yuk.”
Hati dan pikiran yang enggan kompak, meskipun mencoba mengalihkan pikiran buruk dan menyusul Dina yang sudah terlelap, namun Weini masih tetap berkutat dengan pikirannya.
Kalau kamu kembali dengan seorang wanita, aku harus bagaimana? Gumam Weini penuh kegusaran, ia harus bagaimana?
***
Hi Reader, boleh bantu Weini menjawab pertanyaan rumit itu?
Jika kamu jadi Weini, apa yang akan kamu lakukan andai Xiao Jun kembali dengan Grace?
Dijawab ya guys, siapa tahu bisa bantu author buat inspirasi hehe ^^
Sincerely,
Author
Chantie Lee