
Senja merah menghiasi langit ufuk barat, kala Haris duduk santai di depan teras rumahnya seusai mengantarkan murid kursusnya pulang. Ketenangan hidup yang ia rasakan semenjak Weini mulai beranjak remaja mulai bisa ia nikmati, terlebih setelah bertemu dengan putra dan istrinya. Ia tidak perlu mengirim sinyal sihir lagi, toh orang yang ingin ia beritahu telah tahu bahwa ia masih hidup. Kini tinggal memikirkan bagaimana jalan untuk kembali mempersatukan keluarganya. Hanya saja masalah kian rumit dengan status Li Jun yang diangkat menjadi putra dan calon penerus klan Li. Haris tidak yakin, waktu bisa mengubah sifat keras dan kejam Li San. Entah seperti apa reaksinya jika suatu saat mengetahui Yue Hwa masih hidup, apa mungkin Li San menyesali perbuatan di masa lalunya dan menerima kembali putrinya?
Kerumitan pikiran Haris terbuyarkan ketika melihat mobil Xiao Jun berhenti tepat di depan rumah. Kebiasaan baru anak muda itu selalu datang pada jam pulang kantor dan mengobrol bersama Haris hingga Weini pulang. Xiao Jun menebar senyum saat bertatapan dengan Haris yang masih duduk dengan posisi santai. Ia menutup pintu mobil lalu menekan kunci hingga berbunyi.
Haris mengamati wajah putranya yang terlihat cerah dengan kemeja biru navy, raut wajah yang tegas namun ada sisi lembut. Sayangnya paras tampan itu tidak mirip dengan dirinya atau istrinya, pria itu memiliki karakter wajah yang berbeda. Pantas saja Weini jatuh cinta, Haris yakin gadis manapun pasti akan menyukai putranya dalam sekali pandang. Fengshui wajah yang kharismatik untuk seorang pria, putranya memang terlahir dengan jiwa kepemimpinan dan profesinya sekarang sangat sesuai untuknya. Andai keluarganya masih utuh, Haris tak yakin putranya memiliki masa depan secemerlang ini. Meskipun berupaya keras, namun takdir klan Wei yang turun temurun menjadi pengawal klan Li pasti akan menjebak Xiao Jun berakhir dengan profesi yang sama dengan ayahnya. Sekarang melihatnya dengan posisi pengusaha sukses dan belajar banyak tentang bisnis, Haris merasa perlu berterima kasih pada tuan besar Li. Setidaknya pria sadis itu masih punya hati nurani untuk putranya.
Xiao Jun menenteng sebuah kantong plastik merah besar, Haris bisa menebak isinya pasti cemilan untuk pelengkap acara ngobrol mereka. “Paman, aku bawakan martabak Bangka.” Ujar Xiao Jun sembari menyodorkan tentengan di tangannya.
“Wah, kebetulan aku pengen makan yang manis-manis. Duduk dulu, aku buatkan teh untuk pendamping makan.” Haris beranjak dari tempat duduknya namun Xiao Jun malah mencegatnya.
“Paman duduk saja, aku yang buatkan tehnya. Permisi ya.” Xiao Jun lebih gesit masuk ke dalam rumah lalu menuju dapur. Sejak melamar Weini, ia bukan lagi sekedar tamu namun sudah bagian dari keluarga ini. Ia tidak ingin diperlakukan spesial layaknya orang lain yang berkunjung.
Haris membiarkan dirinya dilayani oleh Xiao Jun, dalam hati ia berseru sudah seharusnya seorang putra melayani ayahnya. Ia kembali dengan posisi duduk santai sembari menanti teh pertama buatan Xiao Jun siap.
“Silahkan, paman.” Xiao Jun menyuguhkan secangkir teh tawar panas. Setelah ia duduk, Haris
langsung membahas ke pokok pembicaraan.
“Terima kasih. Ayo disambi kuenya.” Seru Haris, ia mulai mengambil potongan pertama kue manis dengan toping keju coklat susu itu kemudian Xiao Jun menyusul.
“Jun, ada yang tidak aku mengerti. Kemarin hanya ada ibumu yang datang, di mana ayahmu?” Haris langsung menodong pertanyaan yang epic dan menurunkan standar rasa kue yang sedang dicicipi Xiao Jun dari manis menjadi hambar.
Pertanyaan yang terdengar simpel namun rumit dijawab, Xiao Jun perlu berdiam sejenak memikirkan apa yang harus ia katakan pada ayah Weini. Sedari kecil ia tidak terbiasa berbohong, terasa sangat menyakitkan dan menakutkan seakan ia dihantui rasa bersalah saat ia menyatakan kebohongan.
“Paman, apa tanggapanmu tentang pembohong? Apa paman bisa mentolerir kebohongan meskipun itu demi kebaikan?” bukannya menjawab, Xiao Jun malah balik memberikan pertanyaan yang tak kalah rumit bagi Haris.
Ibarat menabur debu pada angin yang berlawanan, debu itu bukan terbang menjauh namun balik menerpa muka dan mata orang yang menabur. Haris tertohok diam, bicara soal kebohongan mungkin ia paling banyak melakukannya. Saking banyaknya kebohongan demi kebohongan hingga terkesan seperti kebenaran terselubung. Ia lebih senior soal itu ketimbang putranya.
“Tergantung… separah apa efek kebohongan itu dan alasan di balik itu.” jawab Haris mencoba tenang
padahal ia seperti orang yang terbongkar kedoknya.
Haris tertawa, pertanyaan itu terdengar konyol. “Ha ha ha… selagi kamu masih semangat berusaha, anak muda seperti kalian tidak akan kesulitan menjalani hidup. Yang termahal itu bukan harta, tapi sifat. Harta bisa dicari tapi sifat sulit diubah sekalipun kamu jungkir balik.”
Xiao Jun menunduk, pikirannya membuat kepala terasa berat. Ia bingung antara harus jujur atau tidak, tetapi kebohongan ini cepat atau lambat pasti terbongkar. Akan lebih menyakitkan bahkan ia mungkin tidak akan mendapatkan maaf bila suatu hari kebenaran itu terungkap dari orang lain.
“Paman, ada sesuatu yang ingin aku akui padamu. Paman boleh memukulku, menamparku, memarahiku, tapi mohon jangan mengusir atau membatalkan pertunanganku dengan Weini setelah aku katakana yang sebenarnya.” Xiao Jun menatap Haris dengan tegang, tidak ada senyuman manisnya lagi yang ada hanya raut serius nan tegas.
Haris terdiam, darah dagingnya kini mengajaknya berbicara secara gentle. Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan itu dan tentu tidak ambil pusing dengan pengakuan apapun yang Xiao Jun lontarkan. “Baik, aku janji apapun yang kau katakan tidak akan mengubah kenyataan kalau kamu tunangan Weini.”
Xiao Jun tersenyum lega, “Terima kasih paman.” Sayangnya saat hendak melanjutkan bicara lidahnya kelu, ia tidak tahu harus memulai darimana.
“Paman, sebenarnya aku… aku…”
Haris menepuk pundak Xiao Jun, tanpa disadari Xiao Jun pula ia mentransfer sedikit energi agar putranya tenang. “Pelan-pelan bicarakan.”
Xiao Jun menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, ia mulai bisa menguasai diri dengan tenang. “Paman, sebenarnya aku bukan keturunan murni klan Li. Aku hanya anak angkat mereka dan mungkin sebagai calon penerusnya.” Xiao Jun mulai membongkar kedoknya, ia sendiri heran mengapa ia bisa setenang itu mengutarakan
kenyataan. Sebelumnya ia tidak pernah mmbocorkan identitas aslinya.
“Hmm… lalu kamu anak siapa?” tanya Haris iseng, sekalian ia ingin mendengar bagaimana jawaban putranya.
“Aku bukan berasal dari keluarga terpandang ataupun berada. Ayahku hanya seorang pengawal yang turun temurun setia pada klan Li. Ayahku pergi bersama anak bungsu klan Li, entah kemana hingga sekarang. Entah masih hidup atau…” Xiao Jun tidak mampu meneruskan, terlalu perih membayangkan kenyataan terburuk itu.
Haris mengerti perasaan Xiao Jun, setidaknya itulah yang ia rasakan sebelum bertemu kembali dengannya. “Siapa ayahmu?” Haris melanjutkan pertanyaannya.
Xiao Jun menatap Haris sebelum menjawab, ia merasa perlu saling beradu pandang saat pengakuan itu ia lontarkan. “Aku berasal dari klan Wei. Namaku Wei Li Jun, putra dari Wei Ming Fung.” Ada rasa bangga saat ia mengucapkan identitas aslinya dengan lantang.
“Apa kau masih mencari ayahmu?” desis Haris, ia terharu mendengar namanya diserukan dengan mantap oleh putranya. Namun ia masih berusaha menahan diri agar tidak membocorkan kenyataan. Pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari Xiao Jun yang masih terguncang, ia sendiri ragu apakah ia masih berusaha mencari ayahnya atau tidak.
***