
Seusai rapat yang mengejutkan itu, satu persatu orang yang tak lagi berkepentingan di dalam studio pun mulai meninggalkan tempat itu. Xiao Jun menghampiri Weini yang dari raut wajahnya terbaca jelas menyimpan banyak pertanyaan. Dina yang berdiri di samping Weini melirik pada bosnya yang datang menghampiri, ia cukup tahu diri tanpa perlu diminta.
“Non pulang sama tuan Xiao Jun aja ya, aku ada keperluan lain.” Ujar Dina yang pamit dan buru-buru pergi tanpa menunggu jawaban Weini. Ia menyapa Xiao Jun ketika berpapasan lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
“Aku datang tepat waktu kan?” Tanya Xiao Jun tersenyum, ia berhasil membuktikan chatnya yang mengabari akan datang menjemput Weini saat ini.
“Ya, dan sangat mengejutkan. Kita perlu bicara kan, tua CEO?” Canda Weini.
Xiao Jun mengangguk, “
“Tapi mungkin berempat, kamu tidak keberatan kan?” Xiao Jun melirik Grace dan Stevan yang dimaksud orang tambahan yang jadi teman bicara mereka setelah ini.
“It’s okay. Sepertinya ini hal serius sampai kau harus datang bersama dia.” Ujar Weini yang tersenyum dan membalas lambaian tangan Grace padanya.
Xiao Jun menatap Weini penuh makna, ia tak berkesempatan menjawab lagi lantaran Grace dan Stevan sudah sampai di depan mereka. Weini pun sibuk menanyakan kabar Grace yang hari ini tampil dengan wajah agak sembab, meskipun sudah ditutupi dengan riasan namun bengkak di matanya masih terlihat mengganggu penampilannya. Weini yakin gadis itu telah menangis hebat tadi malam.
“Ikut mobilku saja ya, nanti kuantarkan kamu ke sini lagi mengambil mobilmu.” Ucap Xiao Jun pada Stevan.
“Tidak perlu repot, gue bisa suruh manager gue bawa pulang mobil jadi nanti gue tinggal pulang naik taksi.” Tolak Stevan yang sungkan merepotkan.
Lau kembali menyetir mobil tuannya, dengan penambahan dua orang penumpang lagi hingga mobil yang biasanya kosong itu terisi penuh. Andai saja keadaan dapat stabil seperti saat ini, betapa bahagianya mereka bisa akur dan bersahabat dengan tulus. Sayangnya mengapa ketenangan ini justru didapatkan menjelang detik perpisahan? Jika bukan karena akan segera berpisah, mungkinkah mereka pergi kencan ganda seperti sekarang?
***
“Wah, bos mengajak kita kencan di bar. Kayaknya dia memang hobi minum atau senang mengurung diri di sini? Apa lu nggak punya tempat nongkrong lain selain di sini? Perlu gue rekomendasikan nggak?” Tanya Stevan usil saat tahu Xiao Jun membawa mereka nongkrong di bar langganan Xiao Jun. Stevan pernah diajak kemari untuk bernegosiasi, tampaknya Stevan mulai paham maksud bos muda itu mengajak mereka kemari. Mungkin akan ada perundingan lain yang bos itu inginkan.
“Kamu juga pernah dibawa ke sini?” Tanya Grace tak menyangka karena ia juga dikenalkan tempat ini oleh Xiao Jun.
Xiao Jun hanya nyengir, tak bersedia menanggapi komentar pasangan baru itu. Sementara Weini memilih menjadi pendengar setia, ia tahu pasti ada maksud penting hingga Xiao Jun mengundang mereka kemari. Di bar yang biasanya dijadikan markas untuk berunding.
“Pesanlah sepuasnya, hari ini kita pesta.” Seru Xiao Jun seraya tersenyum.
“Dalam rangka apa kita pesta?” Weini nimbrung bicara setelah merasa cukup sebagai pendengar.
Grace yang sedari tadi ramah senyum seketika bungkam, ia menatap Xiao Jun seakan meminta perwakilan pada pria itu untuk menyampaikan yang sebenarnya. Stevan melirik tiga orang di sekelilingnya secara bergantian, suasana saat ini memang aneh dan ia juga merasa janggal sekarang.
Xiao Jun memandangi wajah kekasihnya dengan sorot teduh, ia sengaja mengulur waktu agar bisa sedikit merasakan ketenangan sebelum menyampaikan maksudnya. Tetapi pertanyaan Weini barusan telah merusak
rencananya, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menunda waktu lagi.
“Aku pikir membahas hal penting itu lebih baik dengan perut terisi, tapi rasa penasaran pun bisa membuat selera makan hilang. Baiklah, aku langsung bahas intinya, setelah itu kita tetap harus makan. Oke?” Ucap Xiao Jun yang tetap menjaga suasana hatinya agar stabil tenangnya.
“Weini … Stevan … Kalian pasti tahu hubunganku dan Grace masih ada ikatan pertunangan yang harus diselesaikan. Kami mencintai orang lain, tidak mungkin melanjutkan hubungan lebih jauh lagi. Sudah saatnya bagi kami untuk tegas menolak pada keluarga bahwa kami lebih bahagia dengan pilihan kami masing-masing.” Xiao Jun mengatakan itu dengan tegas, sorot matanya mencerminkan betapa jujurnya ucapan itu. Ia menjeda sejenak lanjutan kata-katanya, terasa cukup berat untuk meneruskan pembicaraan yang mulai melenceng dari kejujuran.
Weini mulai bernapas lega, sejak tadi ia menahan napas demi mendengar apa yang hendak Xiao Jun sampaikan. Ternyata tidak seburuk bayangannya, justru ini terdengar baik bagi mereka. Begitupun Stevan yang begitu bahagia lantaran sudah mendapat pengakuan resmi menjadi bagian penting di hati Grace. Ia tanpa malu meraih tangan Grace untuk digenggam, Grace membiarkan pria itu menyentuhnya hangat. Biarlah, ketika bibirnya tak sanggup
berkata maka biarkan tangan yang mewakili maksud hatinya untuk terus berdekatan.
“Kami harus kembali ke Hongkong besok untuk menghadap kedua pihak keluarga. Cepat atau lambat ini memang harus terjadi, kami sudah mantap untuk mengakhiri ikatan tanpa cinta ini. Untuk itu, aku dan Grace mohon pada kalian agar tetap percaya dan mendukung langkah kami tanpa rasa curiga atau cemburu. Bisakah kita bekerja sama demi kebahagiaan kita di masa depan?” Dengan berat hati Xiao Jun akhirnya bisa mengutarakan kebohongan
itu dengan luwes.
“Tentu saja.” Stevan menjawab dengan cepat dan mantap. Ia mempererat genggamannya di jemari Grace lalu meletakkan tautan jemari itu di depan dadanya. Grace tersanjung mendapatkan perlakuan lembut pria itu, bahkan tak canggung menunjukkan kasih sayangnya di depan orang lain seolah menegaskan bahwa Grace adalah miliknya.
Tinggal Weini yang belum menunjukkan sikap hingga tiga pasang mata itu tertuju padanya. Weini masih bungkam, kepekaan rasanya membuat ia ragu dengan ucapan Xiao Jun namun ia tak punya bukti untuk tak mempercayai kekasihnya. Perlahan Weini menganggukkan kepala, membuat senyum lega dari Xiao Jun dan Grace mengembang bersamaan.
Grace melepaskan genggaman tangan Stevan lalu menghampiri Weini. Dengan mantap Grace menarik Weini ke dalam pelukan, tak dihiraukannya betapa terkejutnya Weini mendapatkan perlakuan manis itu secara mendadak.
“Tenanglah, percaya padaku Weini. Aku pinjam sebentar Xiao Junmu, pasti kukembalikan utuh secepatnya.” Ucap Grace tulus dengan mata terpejam, ia betul-betul menyayangi sepupunya.
Weini tersenyum, ia membalas pelukan Grace dengan mengelus lembut punggung gadis itu. “Good luck untuk kalian.” Desis Weini. Biarlah sebentar lagi kehangatan ini dirasakan, kebersamaan indah yang entah kapan akan
terulang kembali.
Ini hanya sebuah pamitan biasa tetapi mengapa rasanya seperti sebuah pertanda akan terjadi perpisahan? Aku seharusnya lega dan bahagia karena tidak ada lagi penghalang berarti dalam hubungan kami, perasaan apa ini yang sangat mengganjal di hati? Batin Weini sedih meskipun masih berada dalam pelukan hangat Grace.
***
Coretan author :
Hi readers, author mau jajak pendapat dulu ya, mohon dibantu hehe ….
Menjelang konflik utama yang akan terjadi (perkiraan author satu minggu lagi), author mau tahu pendapat kalian :
Kalian ingin siapa yang jadi orang pertama yang melihat wajah asli Weini ketika topengnya dibuka? Pendapat kalian pasti author baca dan pertimbangkan, barangkali kita sependapat gitu hehe …. So, tinggalkan jejak di kolom komentar, siapa tahu author wujudkan keinginan kalian ya.
Yup, terima kasih telah setia mengikuti kisah ini. Satu hal yang author janjikan, cerita ini pasti happy ending! Biar nggak percuma juga kan ngikutin sejauh ini tapi malah dapat yang sedih-sedih ujungnya. Akhir kata, sampai jumpa besok di episode selanjutnya.
Salam sayang ^^
Author Lee