OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 261 GRACE YANG SEMAKIN MISTERIUS



Urusan pekerjaan yang mulai terhandel kembali akhirnya membuat Xiao Jun sedikit melonggarkan diri, ia tak lagi perlu berangkat dini hari ke kantor dan bisa lebih lama menikmati sarapan di rumah. Lau melayaninya seperti biasa, menyuguhkan santapan khas kampung halaman yang sesuai lidah bos muda itu. Ia mencuri pandang pada Xiao Jun yang melahap bubur tanpa mengalihkan perhatian dari Ipad yang diletakkan di atas meja.


“Ehem ….” Lau sengaja mendehem, ia ingin merebut perhatian tuannya dari benda canggih itu. Usahanya berhasil, Xiao Jun kini menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Ada yang ingin kau sampaikan, paman?” Xiao Jun yakin ada sesuatu yang ingin pria tua itu beritahukan. Lau tersenyum mendengar tebakan tuannya, ia tak perlu sungkan lagi berbicara.


“Tuan, sepertinya ada yang tidak beres dengan nona di seberang.” Nona seberang adalah julukan baru yang mereka sepakati untuk melabeli Grace. Demi menghindari pembicaraan yang mudah ditebak orang ketika


mereka menyebutnya.


Xiao Jun menyipitkan mata, beberapa hari ini mereka libur membicarakan Grace. Entah apalagi ulahnya pasca berhenti dari kantor sehingga dicap tidak beres oleh Lau. “Apa yang dia lakukan, paman?”


Lau sedikit menundukkan kepala, “Saya kurang tahu, tuan. Menurut Fang Fang, nona itu lebih banyak berdiam di kamar sejak tidak bekerja. Ia juga tidak pernah menanyakan tentang anda, dan tidak pernah mendatangi anda lagi. Apa mungkin dia sudah menyerah mencintai anda?”


Dahi Xiao Jun mengkerut, jika seperti itu faktanya justru ia harus merasa bersyukur. “Baguslah kalau begitu, kita hanya perlu sedikit membujuknya untuk pulang ke Amerika.”


“Saya merasa sedikit aneh, kalau dia sudah menyerah lalu untuk apa dia bersikeras belajar bahasa Indonesia? Fang Fang bilang nona itu sudah fasih bicara bahasa lokal dan sehari-hari mereka komunikasi dengan bahasa itu. Saya tak menyangka bahwa nona itu cukup genius, ia pasti sudah berusaha keras hingga berhasil secepat itu.” Lau sukses membuat tuannya memutar otak sepagi ini, namun ia tak punya pilihan lain. Kecemasannya harus segera


dikeluhkan pada Xiao Jun, mereka tidak akan tahu apa yang direncanakan gadis itu selanjutnya.


Xiao Jun mengelap bibirnya dan menyudahi sarapan, ia masih terdiam memikirkan perkataan Lau. “Paman benar, ini memang terlalu aneh. Sepertinya dia punya ambisi lain, apa yang dia lakukan selain itu?”


“Nona itu sudah membeli mobil baru, dan dia dengan berani mengitari jalanan ibukota seharian bersama Fang Fang. Dia tidak bisa dikekang, dia belanja apapun yang disukai dan kemanapun sesukanya. Fang Fang bilang nona itu tidak ingin bergantung pada anda.”


Xiao Jun tersenyum nyinyir, harus ia akui bahwa sikap Grace itu cukup menarik dan bisa saja membawa petaka baginya.


“Tuan, apa anda tidak merasa bahwa ini adalah jebakan? Dia bisa saja mengadukan kepada tuan besar dan mempersulit anda jika anda tetap bersikap dingin padanya.” Lau menyatakan kecemasannya, mungkin terdengar sedikit berlebihan namun ia sungguh mengkhawatirkan keselamatan Xiao Jun. Siapa yang bisa menyangka bahwa Grace mungkin sedang menjalankan sebuah siasat.


“Biarkan saja, kita ikuti permainannya. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk lembut kepadanya. Tapi dia juga tidak bisa seenaknya, selama ia berstatus di bawah pengawasanku. Dia datang bersamaku, aku masih harus bertanggung jawab atas keselamatannya. Jadi, paman tolong awasi saja dia dan juga jangan terlalu percaya pada pelayannya. Mungkin ia sudah bukan lagi di pihak kita.”


Lau menghela napas, pelayan wanita yang ia andalkan rupanya tak bisa dipegang buntutnya. “Maaf telah mengecewakan tuan, saya akan lebih tegas kepada pelayan itu.”


Xiao Jun tersenyum, “Tidak perlu, cukup ikuti saja alurnya. Hanya saja, jangan terlalu percaya padanya lagi. Entahlah, firasatku mengatakan demikian.”


Kedua pria itu berakhir dengan saling bertatapan, mereka menyimpan pikiran untuk diri masing-masing. Xiao Jun meneguk sisa minumannya sembari bergumul, perlukah ia menemui Grace?


***


“Hmm, apa sudah matang? Kau membuatku kelaparan dengan aromanya.” Grace mengejutkan Fang Fang dengan suaranya yang pelan, ia tak menyangka akan membuat pelayan itu segitu terkejutnya.


Fang Fang sedikit gelagapan, ia meletakkan spatula yang digunakan untuk mengaduk masakannya ke atas piring bersih. “Ah, maaf nona, saya melamun tadi dan terkejut saat anda datang tiba-tiba. Ini sebentar lagi siap, nona tunggulah sebentar.”


Grace tersenyum, “Pagi-pagi sudah melamun, apa kau sedang jatuh cinta? Eh, kamu belum jawab, masakan apa ini namanya? Wanginya bikin aku kelaparan.”


Fang Fang serba salah mendengar candaan majikannya, ia tak terbiasa akrab dengan atasan apalagi Grace mulai memperhatikannya seperti seorang teman. “Ini namanya soto ayam, masakan lokal nona. Saya juga baru belajar memasaknya sesuai resep di internet.”


Grace manggut-manggut, ia sungguh antusias dengan wangi masakan itu hingga tak sungkan menyiapkan mangkuk jatahnya yang belum ditata Fang Fang. Pelayan itu merasa bersalah sehingga mencegat Grace melakukannya, namun Grace menolak. Sembari tersenyum Grace meyakinkan pelayannya, “Biar aku aja, cepat selesaikan masakan itu. Oya, kalau hasilnya enak, bagikan sedikit ke tetangga. Mereka juga harus belajar makan masakan lokal.”


Fang Fang mengernyitkan dahi, “Maksud nona, diberikan untuk tuan muda Xiao Jun?” Ia perlu menyebutkan nama agar tidak salah paham dengan maksud majikannya. Tak perlu waktu lama, Grace mengangguk sambil memamerkan senyum manisnya.


“Perlukah kita berikan ke mereka? Setahu saya, tuan Xiao Jun tidak bisa makan sembarangan. Perutnya sensitif, jadi hanya tuan Lau yang dipercayakan untuk mengatur menu makanannya.” Fang Fang menunduk ketika


menjawab Grace, setengah takut dan setengah sungkan.


Kompor listrik yang dipakai untuk masak sudah dimatikan, Fang Fang menyajikan soto selagi panas lengkap dengan telur rebus dan kerupuk udang. Grace merasa mendapat informasi berharga dari pelayan itu, rasa ingin tahunya semakin terusik. “Kamu sepertinya sangat mengenal dia, apalagi yang kau tahu? Ceritakan padaku, apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka? Tapi bisakah kau berjanji, ini hanya antara kita berdua yang tahu?”


Fang Fang menghela napas, ia menyembunyikan tatapan matanya dari sang nona. “Saya tidak begitu mengenalnya, semua itu hanya saya dengar dari tuan Lau yang secara tidak sengaja   membahas sedikit tentang tuan muda. Maaf mengecewakan anda, nona.”


Grace tersenyum dengan hati lapang, ia tak terlalu kecewa karena tidak menaruh harapan besar pada pelayan itu. Jika memang harus dilakukan sendiri, ia pun sudah bertekad untuk memperjuangkan cintanya sendiri, dan karena itulah ia menjadi lebih kuat dan terbiasa sekarang.


“Oya, setelah ini bersiaplah, pakai dressmu yang cantik. Ikut aku ke suatu tempat.” Grace tak berniat membahas soal pria lagi, ia menyudahi obrolan itu dengan topik lain.


Fang Fang tertegun, ia diminta berpakaian bagus lagi oleh majikannya, yang artinya akan ada sesuatu lagi yang hendak dilakukan Grace. “Kemana nona?”


Grace mencicipi sesendok kuah soto kemudian ekspresi wajahnya berubah girang, ia jatuh cinta pada cicipan pertama. “Nanti kamu juga tahu.”


***


Aku tak perlu berseru pada dunia, saat aku berjuang mendapatkanmu. Namun ketika aku berhasil memenangkan cintamu, seluruh dunia akan tahu dengan sendirinya bahwa akulah sang pemenang!


_Quote of Grace_


***