OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 136 MENGIRIM SINYAL PESAN?



Suara mesin mobil yang masuk ke halaman rumah terdengar jelas di keheningan malam. Hari yang teramat panjang dan melelahkan telah tergantikan hari baru setelah jam menunjukkan pukul dua dini hari dan Weini baru kembali ke rumah. Lelah jiwa dan raga yang tidak terekspresikan dengan ungkapan kata, yang ingin Weini lakukan


segera adalah menemui Haris.


Pintu dibukakan dari dalam rumah, Haris sigap menunggu dengan tanda tanya. Ketika beradu tatap dengan Weini, dari pertemuan sepasang bola mata mereka saja Haris berhasil membaca rekam jejak perasaan Weini.


“Maaf, aku pulang telat ayah.” Suara lemah Weini nyaris tak terdengar, andai Haris tidak peka pasti ia mengira Weini sedang berbisik.


“Yang penting sudah pulang dan baik-baik saja, istirahatlah kau pasti lelah.” Haris meraih ransel yang dipakai Weini. Awalnya Dina hendak membawakan semua peralatan itu, namun Weini menolak dan meminta supir mengantar Dina ke rumahnya dan terakhir mengantarnya pulang.


“Makasih ayah tas itu nggak berat kok, malah merepotkanmu saja.” Weini tidak enak membiarkan Haris membawakan tas berisi pakaian dan peralatan pribadinya. Haris tak menggubris dan terus memimpin jalan menuju kamar Weini. Mereka berhenti ketika sampai di muka pintu, Haris mengkode Weini masuk tetapi gadis itu tampak


keberatan.


“Ayah, ada yang mau aku tanyakan. Penting!” Weini mengiba ayahnya, berharap diberi kesempatan bicara saat itu juga walaupun hari kian beranjak pagi. Ia tidak perlu syuting nanti jadi apa salahnya capekkan badan sekalian.


Haris meletakkan ransel di lantai, senyumnya menyungging misterius sembari berjalan menuju teras. “Jika tidak bisa ditunda sampai pagi, kita bicarakan sampai fajar. Tanyakan apapun yang ingin kau tahu.”


Weini sumingrah, Haris adalah sosok ayah yang pengertian dan sabar. Sepanjang tumbuh besar dalam didikannya, tidak pernah ia diperlakukan dengan cara kekerasan. Semua bisa dibicarakan baik-baik walaupun kadang Weini lah yang membangkang.


Mereka duduk di depan teras bertemankan keheningan sekitar dan angin malam yang sepoi berembus. Haris menyuguhkan teh dan setoples kacang telur, serumit apapun masalahnya lebih afdol bila didampingi minuman dan cemilan.


“Jadi kapan kelas tanya jawab dimulai?” goda Haris mencairkan suasana hening. Diseruputnya teh beraroma melati yang diberi pemanis dari gula batu.


Senyum Weini merekah oleh candaan Haris, ia salut pada sosok Haris yang selalu berpembawaan tenang sekacau apapun masalah. Sama ketika ia menyelamatkannya dan memberi kehidupan baru di Jakarta, semua dijalani dengan terlihat tenang.


“Ayah, Xiao Jun mengirim pesan padaku tapi aku tidak boleh membalasnya. Entah seperti apa kondisinya sampai harus mencari kesempatan untuk menghubungiku. Aku harus siaga sama ponsel jika tidak mau melewatkan telponnya.” Pandangan Weini menerawang, menatap bintang yang kian redup sinarnya seredup perasaannya yang


mendung pekat.


“Lalu pertanyaannya apa?” tanya Haris dengan tenang namun justru membuat Weini tersenyum lantaran merasa lucu.


“Ayah, gimana caranya mengirim sinyal pesan seperti yang biasa ayah lakukan? Ajari aku biar bisa mengirim telepati ke dia.” Pinta Weini serius, meskipun sudah menguasai sebagian besar sihir klan Wei namun Haris belum juga menurunkan sihir hebat kepadanya, salah satunya adalah telepati jarak jauh ini.


Haris mengernyit, ketenangannya sedikit terusik oleh pertanyaan Weini. Anak gadis itu kian kritis bertanya, kini Haris yang bingung harus menjawab jujur atau menciptakan kebohongan sementara. Weini semakin dewasa dengan kecerdasan berpikir yang luar biasa, Haris tahu betul itu. Terus-terusan berkelit pun tidak akan menyelesaikan masalah, sebaiknya ia tahu apa yang memang perlu diketahui.


Weini manyun seketika, ia tak mengukur kemampuan sebelum mengajukan diri. Haris yang sehebat itu saja masih sering mengalami kegagalan apalagi dirinya yang belum seujung kuku Haris. “Begitu ya.” Ujar Weini singkat dan lemah.


“Sebenarnya pesan sinyal itu diciptakan leluhurku sebagai sarana komunikasi dengan keluarga. Hanya keturunan Wei saja yang bisa melihat pesan sinyal itu, kecuali ada yang lebih sakti ilmunya daripada kami. Orang awam tidak akan peka bahkan anak-anakku yang tidak berbakat pun tidak bisa menerima pesannya meskipun mereka ada di sekitar sana.” Haris mengungkapkan kejujuran, ia belum siap mengajarkan Weini namun bersedia memberikan sedikit informasi tentang jenis sihir tingkat tinggi itu.


“Begitu ya.” Lagi-lagi Weini hanya mengulang kata-kata itu. Ia kehabisan kata bahkan untuk mengekepresikan kekecewaannya. Sepanjang perjalanan pulang sehabis mengantar Dina, ia terus berpikir positif mengupayakan cara tak lazim ini untuk berkomunikasi dengan Xiao Jun. Setelah mendapatkan jawaban dari Haris, ia kembali pesimis dan hanya berpangku tangan menunggu kabar selanjutnya dari Xiao Jun.


“Dia hanya orang awam, tidak mungkin berhasil sampai padanya meskipun aku mencoba sekuat tenaga. Sayangnya….” Weini menyembunyikan raut kecewa dengan rambut yang sengaja dijuntai ke depan menutupi wajah.


Ucapan Weini yang pesimis itu membuat Haris merasa bersalah, ia hanya berani berterus terang dalam hati. Li Jun bukan orang biasa, dia anakku tapi maafkan aku Weini … Rahasia ini belum boleh kau ketahui. Semua akan kacau, aku tidak mampu mengatasinya jika kalian tahu yang sebenarnya dalam keadaan yang belum kondusif.


Beruntungnya Weini belum mampu membaca pikiran orang, Haris aman berkeluh kesah apapun dalam batin tanpa kuatir diketahui. “Ehem … sebenarnya ada satu cara agar pesan itu bisa dilihat orang awam. Tapi resikonya terlalu besar, kau tidak perlu melakukannya untuk masalah ini.”


Weini menengadah menatap Haris, masih ada secerca harapan untuk berusaha. “Apa resikonya ayah? Aku coba boleh ya?”


Haris menggelengkan kepala, “Tidak untuk saat ini. Kau bisa mati kalau nggak kuat atau energi yang kau kirim


berbalik menyerangmu.”


Weini tertunduk lagi menatap ujung jari kakinya, “Kau langsung berkata tidak sebelum aku mencobanya. Lalu aku harus bagaimana? Dia berjuang untukku dan aku di sini hanya diam menunggu?”


Haris menyentuh pundaknya dengan lembut, menitipkan semangat untuk menguatkan hati Weini. Pundak itu terlalu kecil untuk menanggung beban berat, tetapi hati Weini yang begitu tegar dan kuat pasti mampu melewati cobaan ini.


“Weini, tidak ada hubungan yang selalu lancar, sebaik apapun pasangan itu. Keromantisan yang dipertunjukkan di muka umum, tidak menjamin kelanggengan seterusnya. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari harmonisnya sebuah hubungan, karena untuk retak hanya perlu sedikit alasan. Cinta itu kuat ketika masalah menerpa dan kalian


mencari cara melewatinya. Diam juga sebuah cara, bergerak terlalu lincah juga bisa tergelincir. Bukan memperbaiki situasi tapi justru merunyamkannya.” Haris memberi nasihat panjang, soal cinta dan pengorbanan tentu ia sudah banyak mencicipi asam garamnya.


Isak tangis Weini pecah, tidak selamanya ia harus bertameng kuat. Hatinya lelah, berkutat dengan masalah yang menurut Haris sederhana hingga belum worth it melakukan pengorbanan besar untuk menyelesaikannya. Apartemen bahkan perusahaan Xiao Jun telah dialihkan pada orang lain, akankah hubungan yang menggantung itu


bisa menjamin hati Xiao Jun tidak akan beralih? Wanita asing yang bersamanya, Weini masih mengingatnya dengan jelas. Ditatapnya cincin yang disematkan Xiao Jun di jari manisnya, masih pantaskah ia menjadi pemilik cincin itu?


“Menangislah sepuasnya, keluarkan semuanya! Setelah itu lupakan, lupakan cara menangis dan hanya ingatlah bagaimana cara tersenyum di tengah masalah.” Haris menyemangati Weini, mempersiapkan sepasang telinga untuk menampung keluh kesahnya, menyiapkan sebidang hati yang luas untuk menenangkannya.