OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 462 AKUR



"Seseorang... tolong ke sini! Pengawal!"


Berulang kali Kao Jing berteriak di dalam selnya, tapi tidak satupun yang sudi menggubrisnya. Sekeliling tampak hening, benar benar sunyi dan gelap, nyaris tak ada tanda kehidupan.


Kao Jing berteriang, meraung-raung sendiri menangisi sesuatu yang belum pasti. Ia merasakan kehilangan yang sangat nyata, entah apa dan tanpa bisa mencari tahu fakta pada siapapun. Rasa sakitnya terasa bergejolak dalam hati, tanpa ia sadari air mata mulai meleleh. Ia tidak masalah merasa kesepian dalam penjara ini, tapi hatinya tidak bisa menerima ketika perasaan tak enak terus dirasakan.


Kepala Kao Jing yang tertunduk perlahan terangkat saat telinganya menangkap suara derap langkah kaki yang kian mendekat. Ia bergegas bangun dan berjalan tertatih menuju pintu besi, sepasang kaki tuanya mulai diserang penyakit orangtua, gara-gara berdiam di tempat lembab dan gelap itu semakn memicu ngilu pada persendian dan ototnya.


Seorang pengawal datang membawa nampan berisi jatah makanan. Biasanya dikirim dua kali sehari, tetapi hari ini dikirim hanya sekali, itupun ketika hari menjelang sore. Bukan tanpa alasan, semua pengawal dan pelayan sibuk berkabung dan mengesampingkan hal yang kurang penting, termasuk Kao Jing yang berstatus pemberontak.


Kao Jing terkejut melihat pakaian serba putih polos yang dikenakan pengawal itu. Nuansa duka begitu sarat terlihat, tetapi siapa yang meninggal? Itu yang terbersit dalam benak Kao Jing.


"Siapa yang meninggal?" Tanya Kao Jing serius, saat pengawal itu menyelipkan makanan dari sela selnya.


Pengawal itu melihat Kao Jing sejenak dalam diam, keseriusan mimik Kao Jing membuat ia tak tega mengabaikan pertanyaannya.


"Tuan besar Li San Jing telah tutup usia."


Kao Jing tersentak kaget, tangannya terlepas dari pegangan jeruji besi, menyusul langkah yang mundur satu langkah saking kagetnya.


"Kapan? Kapan dia...." Kao Jing tak mampu melanjutkan lagi, tak sanggup menyebut nama adiknya setelah ia tahu telah meninggal dunia.


"Tadi pagi." Jawab pengawal itu singkat, ia pun tak bisa berbuat banyak selain menyampaikan informasi sesuai yang ditanyakan.


Kao Jing bergeming, merasakan kesedihan yang terasa nyata. Ia berpikir mungkin inilah yang membuat ia merasa tak tenang akhir akhir ini. Rasa kehilangan yang seolah nyata itu pertanda bahwa ia akan kehilangan adik kandungnya. Pikiran Kao Jing yang menerawang jauh itu tersadarkan ketika pengawal itu membalikkan badan hendak meninggalkannya.


"Tunggu!" Teriak Kao Jing mencegah pengawal itu berlalu.


Pria bertubuh tinggi tegap itu berhenti, menuruti permintaan Kao Jing. Ia menoleh ke belakang, menatap pria tua yang terlihat sedih itu.


"Tolong sampaikan pada Liang Jia, aku mau memberikan penghormatan terakhir untuk adikku." Lirih Kao Jing memohon.


Pria itu tampak berpikir sejenak, "Maaf tuan, tapi sekarang pengambil keputusan tergantung pada penguasa baru yang ditunjuk tuan besar."


Kao Jing mengernyit heran, "Siapa? Xiao Jun sudah naik tahta?" Tanya Kao Jing penasaran, jika ia masih dalam penjara berarti Chen Kho gagal merebut kekuasaan dan penerus yang ditunjuk Li Sa pastinya adalah Xiao Jun.


"Penguasa baru kami adalah nona ke lima, nona Li Yue Hwa." Jawab pengawal itu tegas.


Kao Jing terperanjat, benar benar kejutan besar baginya mendengar kabar itu. Saking shock hingga ia terdiam dalam pikiran kacau, jika nona ke lima sudah kembali, berarti Chen Kho gagal membunuhnya. Lalu di mana Chen Kho sekarang? Mengapa mereka tidak menjebloskan nya ke penjara? Atau kah Chen Kho berhasil melarikan diri?


Berbagai pertanyaan muncul di benak Kao Jing hingga ia tidak sadar telah ditinggal oleh pengawal itu. Setelah menghilang dari hadapannya, baru lah Kao Jing sadar dan kembali berteriak.


πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


"Semuanya baik-baik saja kan, ayah?" Tanya Xiao Jun yang menyadari gerak gerik ayahnya yang seperti mencurigai sesuatu.


Haris tersenyum tipis, "Sudah beres. Kita harus mengamankan situasi sampai pemakaman selesai." Perintah Haris.


Xiao Jun mengangguk paham, "Paman Lau dan yang lainnya sedang dalam perjalanan, kisaran satu jam lagi mereka pasti tiba ayah."


"Baguslah, memang seharusnya memberikan penghormatan terakhir pada tuan besar. Semua yang dihidupi olehnya patut menunjukkan kesetiaan. Di mana nona Yue Hwa?" Tanya Haris yang celingukan mencari keberadaan Weini.


"Dia sedang bersama saudaranya di dalam." Jawab Xiao Jun sambil melirik ke arah dalam, di mana Weini dan dua saudaranya berada.


Tempat yang dimaksud Xiao Jun adalah ruangan kecil di belakang aula utama, di sana Weini sedang berbicara dengan saudaranya, Yue Xin da Yue Xiao. Dalam suasana duka, kedua kakak Weini meminta waktu untuk bicara dengan Weini.


"Adik, sudah lama aku mengharap pertemuan ini. Kita belum sempat bicara setelah kau pulang, aku hanya ingin memberitahu bahwa kami berdua setuju dan tidak merasa keberatan sama sekali dengan keputusan ayah. Kami mengakui mu sebagai penerus ayah, dan percaya kamu mampu menjadi pemimpin yang baik." Ujar Yue Xin tulus.


Weini bisa merasakan ketulusan itu dari tatapan kakaknya, ia tahu mereka berdua tidak memiliki siasat buruk pada nya.


"Terima kasih kakak kedua, kakak ke empat, Yue Hwa akan berusaha agar tidak mengecewakan kalian." Jawab Weini sambil setengah menunduk.


Yue Xiao meraih tangan Weini, senyumnya mengembang penuh. "Adik, aku akan mengandalkan mu. Walaupun aku ini kakakmu, tapi aku tidak tangguh seperti kamu. Aku tidak bisa apa apa dan tidak suka bekerja keras, aku harap kamu tidak keberatan menafkahi aku." Lirih Yue Xiao.


Weini dan Yue Xin tertawa mendengar keluguan Yue Xiao mengakui kelemahannya. Yue Xiao malah ikut tertawa seolah membenarkan apa yang ia katakan.


"Adik, kau harus mencarikan aku jodoh yang terbaik ya. Aku tidak mau lama-lama melajang." Pinta Yue Xiao sambil tertawa.


"Bukankah kakak bisa cari sendiri? kakak cantik dan anggun, pria mana yang berani menolak kakak?" Goda Weini.


Yue Xiao menggeleng kencang, "Tidak... Aku tidak bisa apa-apa, aku hanya tahu bermain, belanja, bersantai, aku malas belajar. Hmmm... Adik, apa terlambat kalau aku belajar sekarang? Setidaknya menjadi wanita yang bisa mandiri." Tanya Yue Xiao sungguh-sungguh.


Weini mengangguk, senyumnya lebar dan sangat lepas. "Kakak, aku juga malas belajar, aku benci sekolah, nilai pelajaran ku rendah, tapi akhirnya aku bisa menemukan apa yang aku suka dan ku tekuni. Jadi tidak ada kata terlambat selama kakak mau berusaha. Yue Hwa akan membantu mu."


Mendengar itu, Yue Xiao tidak tahan lagi dan langsung menghambur memeluk Weini. Semangat dari Weini membuat ia merasa plong dan punya keberanian menghadapi hal baru. "Terima kasih adikku...." Lirih Yue Xiao masih memeluk Weini, saat itu pula Yue Xin memeluk dua adiknya dengan erat.


Andaikan saja mereka lebih cepat menyadari bahwa persaudaraan adalah di atas segalanya, bahwa ikatan darah lebih kental dari air, mungkin kedua kakak Weini tidak akan menghabiskan waktu begitu lama untuk menyimpan rasa iri pada adik bungsu mereka. Adik yang sudah mereka prediksi sejak dulu akan menjadi penerus keluarga. Nyatanya, akur memang lebih membahagiakan, dan Weini memang sangat layak menjadi penerus klan mereka.


πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


Mau baca endingnya? sabar ya guys, nggak lama lagi kok. pokoknya mohon dukungan like, komennya ya. makasih.