
Pasca pertemuan yang berujung menyakitkan hati, Grace memilih mengurung diri dalam kamar. Setelah ia menyampaikan hasil pertemuan dengan ayahnya pada Liang Jia dan Li San, ia meminta ijin untuk memiliki privasi. Liang Jia tampak memahami perasaan Grace, wajah gadis itu menyorotkan kesedihan. Ia pun memaklumi dan membebaskan Grace menempati ruang tamu di paviliunnya.
Grace membenamkan wajahnya dalam bantal, suasana hatinya yang rusak ini rasanya sulit untuk diajak bahagia lagi. Ia merenungi nasib buruknya, tetapi yang terlintas dalam pikirannya justru wajah Stevan. Senyuman pria itu, suara pria itu kala memanggilnya, semua kenangan tentang Stevan memenuhi kepalanya.
Grace menarik bantal yang membekap wajahnya, ia bernapas dalam-dalam seolah balas dendam karena beberapa detik lalu sengaja menahan napasnya. "Kenapa di saat seperti ini, aku justru teringat dia?" Lirih Grace, wajahnya terasa hangat menahan rasa malu karena terlalu memikirkan pria pencuri hatinya.
Ponsel yang ia geletakkan di atas meja pun disambarnya. Sepanjang hari ini Fang Fang belum mengabarinya, bahkan Stevan pun tumben pasif terhadapnya. Firasatnya terasa tak enak, dua orang itu hampir tak pernah berhenti menghubunginya. Paling lama jeda satu jam saja Fang Fang mengirimkan ia pesan, tetapi ini hampir lima jam tak ada jejak darinya.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi dalam rasa penasarannya, Grace memencet tombol panggilan pada nomor Fang Fang. Ia menggigit kukunya tanpa sadar, saking cemasnya. Tak ada jawaban dari seberang, Grace tetap mencoba menghubungi kembali nomor pelayannya. Kegigihannya membuahkan hasil, senyum Grace mengembang saat seseorang mengangkat panggilannya.
"Fang, kamu ke mana saja seharian nggak ada kabar?" Celetuk Grace begitu panggilan itu tersambung. Namun senyum lebarnya seketika menciut saat mendengar suara pria yang mengangkat telponnya.
"Nona Grace, ini saya pengawal Lau. Maaf, Fang Fang tidak bisa menerima panggilanmu. Dia...." Ujar Lau penuh hati-hati, khawatir mengejutkan Grace.
"Dia kenapa?" Seru Grace dengan mata melotot dan tubuh yang segera beranjak dari posisi tidur.
"Dua mengalami kecelakaan mobil bersama Stevan dan Bams. Tapi ketiganya sudah tidak apa-apa, nona jangan khawatir." Jelas Lau pelan, tetapi tetap saja mengejutkan hati Grace.
Grace berdiri tegang, tangannya gemetaran memegang ponsel. Kecelakaan itu pasti bukan sebuah kebetulan, itulah mengapa ia menugaskan Fang Fang untuk menjaga Stevan, tapi ternyata dijaga seketat apapun tetap ada celahnya. Grace bisa menebak, ini pasti ulah kakaknya yang tak akan tinggal diam selepas Stevan menyatakan pengakuan kontroversial.
"Pastikan mereka selamat, aku segera pulang hari ini juga!" Seru Grace, ia tak mau menunggu jawaban Lau, pun tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Kabar buruk itu telah melayangkan pikirannya menuju Stevan, raganya di Hongkong namun hatinya sudah di Jakarta bersama Stevan.
Grace berlari keluar kamarnya, menghampiri kamar Liang Jia yang berjarak empat kamar dari kamarnya. Tak ada lagi yang ia harapkan di sini, tugasnya menjaga kedua orangtua Weini pun ia anggap selesai, setelah insiden mengenaskan itu menimpa kekasihnya.
Liang Jia mempersilakannya masuk setelah mendengar ketukan pintunya. "Grace? ada apa denganmu?" Tanya Liang Jia saat melihat kecemasan gadis itu.
"Tante, maafkan aku... Aku harus kembali ke Jakarta sekarang. Ada kejadian darurat di sana... Fang Fang... Stev...." Ujar Grace terbata-bata saking panik dan hendak menangis.
Liang Jia menepuk pundak Grace, berharap bisa membuatnya lebih tenang dengan sentuhannya. "Iya, Grace. Tenangkan dirimu ya, aku akan mengutus pengawal untuk mengantarmu pulang dengan jet."
Mendapatkan perlakuan lembut justru membuat hati Grace bobol mempertahankan agar tidak menangis. Ia mendarat dalam pelukan Liang Jia sambil sesenggukan. Hangatnya pelukan wanita itu, menenangkan hatinya yang sejak dulu haus kasih sayang seorang ibu.
"Terimakasih tante, maaf tidak bisa menjagamu lebih lama. Aku... Aku takut kehilangan mereka...." Lirih Grace dalam isaknya.
Liang Jia tetap menenangkan Grace, naluri keibuannya bergerak, ia tahu betul Grace sangat menginginkan kasih sayang. Dan yang sekarang gadis itu inginkan adalah perhatian yang tulus, itulah mengapa Liang Jia memberikannya.
⏳⏳⏳
Setelah memastikan Xiao Jun berlalu dengan aman, Haris pun bergegas melakukan langkah terakhir. Di tangannya sudah ada jas hitam milik pengawal itu yang siap dijadikan media sihirnya. Ia celinguk pada Wen Ting yang melipat tangan melihatnya bekerja.
"Kemarikan itu." Pinta Haris sambil menunjuk bantal sofa di pojokan ruangan.
Haris masih menyempatkan tersenyum, "Kamu lagi beruntung bisa menyaksikan langsung pertunjukanku." Jawab Haris separuh bercanda. Tangannya dengan gesit membungkus bantal itu dengan jas milik si pengawal yang sekarang berada dalam genggaman mereka.
Setelah memakaikan jas pada bantal, Haris meletakkannya dengan rapi seperti terbaring di atas bangsal. Wen Ting menatap heran namun penuh rasa kagum, ia tahu betul Haris pasti melakukan trik sihir. Yang tak habis ia pikir, mengapa harus bantal?
Haris merapalkan mantera kemudian menepuk bantal itu tiga kali. "Selesai, ayo tinggalkan tempat ini." Seru Haris yang sudah membalikkan badannya henda menuju pintu keluar.
Wen Ting mengikuti jejak ayah mertuanya, namun ia masih menyempatkan menoleh ke belakang, menatap bingung dengan media sihir yang Haris gunakan. Tetapi belum sempat ia berpaling, Wen Ting ternganga kaget hingga spontan mengucek matanya.
Ia tak salah melihat, bahkan setelah berkedip pun ia masih jelas melihat pengawal yang sudah dibawa pergi Xiao Jun itu terbaring di sana, lengkap dengan selang infus di tangannya.
"Kok bisa?" Celetuk Wen Ting tak percaya.
Haris menoleh ke belakang lalu tersenyum tipis, ia perlu sedikit menyeret menantunya agar segera angkat kaki dari sini. Dan Wen Ting cukup pasrah harus berjalan terseret Haris, tatapannya masih tertuju pada pengawal yang terbaring itu yang tampak masih hidup dan menatapnya.
"Ayah, kok bisa? Dia kembali lagi ke sana? Apa betul itu orang yang sama yang dibawa Xiao Jun?"
Wen Ting akhirnya berani bertanya setelah mereka menjauhi ruangan itu. Haris berjalan cepat menuju ruangan Bams dirawat, di sana semestinya Lau masih menunggu mereka.
Kepergian mereka tepat waktu, polisi yang sudah selesai cuci perut gara-gara sihir itupun kembali ke ruangan itu dan mengintip pasien di dalam yang terlihat tidur.
"Itu hanya bantal, orang yang asli kan sudah dibawa pergi. Ya... Paling saat mereka menguburnya, jenasahnya terasa ringan saja." Jelas Haris dengan santainya, tapi tak mudah dicerna oleh Wen Ting.
Haris kembali bernostalgia dengan kenangan masa lalunya, saat ia pernah menggunakan sihir fatamorgana ini agar lolos dari hukuman penggal pengawal suruhan Li San. Ketika perkelahian mereka lagi panas-panasnya, Haris yang melihat keadaan di sekitar sangat mendukung, lalu memanfaatkan sebatang pohon pisang untuk menggantikan tubuhnya.
Musuhnya percaya bahwa itu adalah tubuh Haris, dengan puas memenggal bongkahan pisang itu lalu menyerahkan pada Li San. Setidaknya mereka percaya selama puluhan tahun, bahwa yang terkubur itu adalah jasatnya. Padahal itu hanyalah sebongkah pohon pisang yang tidak akan membusuk dalam peti matinya.
⏳⏳⏳
Halo guys, apa kabar?
Edisi hari ini, author akan tampilkan visual salah satu pemeran pembantu wanita yang baik, setia, polos dan sederhana, tapi cukup kuat, tatapannya tegas apalagi kalau sedang bertarung.
Dia munculnya memang belakangan dan jarang dapat panggung, tapi karakternya cukup disayang oleh pembaca sih (harusnya), karena dia nggak neko-neko. Dan dia yang berjasa loh comblangin Stevan sama Grace secara tak langsung.
Yup, dialah Fang Fang. 💖💖💖
Kira-kira seperti ini visualnya, semoga kalian suka.