OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 515 MALAM PARA GADIS



“Seriusan nih si Fang Fang udah tidur? Kan baru jam sebelas?” Dina mengerjapkan matanya, tak percaya kalau salah satu di antara mereka yang sudah mengantuk sebelum jam dua belas malam. Ia baru saja ingin menelpon gadis pelayan itu andai saja tidak dicegah oleh Weini.


“Biarkan saja kak Dina, mungkin dia bosan menonton lalu ketiduran. Ya sudah malam ini biar kita bertiga aja yang ngobrol, besok malam para cowok itu disuruh tidur lebih cepat saja, biar Fang Fang nggak bete.” Seru Weini, senyumnya mengembang lalu tangannya menepuk sisi sebelah ranjang empuk yang didudukinya. Sebuah kode agar Dina segera bergabung di sana.


Dina tak punya pilihan lain, ia pun pasrah menurut pada Weini lalu nimbrung di sisi ranjang dengan girang. Bukan duduk melainkan langsung rebahan dengan leluasa sehingga tangannya membentur Grace yang sudah duduk tenang di sana.


“Hei, jangan menyentuh area kekuasaanku!” Seru Grace kemudian menggeser tangan Dina.


Weini hanya tersenyum melihat kelakuan dua sahabatnya, sungguh kebersamaan yang sangat ia rindukan. Demi melihat senyuman mereka pula, Weini akan lakukan apapun asalkan orang-orang terdekatnya bahagia.


“Eh tapi non, aku ngerasa kasian juga sih sama Fang Fang kalau kita kencan rame-rame gini. Dia kayak tersisihkan tahu nggak. Kamu ngerasa nggak sih Grace, secara kamu kan nonanya?” Ujar Dina kemudian melirik penuh arti pada Grace.


Grace mengetuk bibir dengan jari telunjuknya, mengingat kembali reaksi Fang Fang selama ini yang kerap menghindar. “Ng, kayaknya bener juga deh. Aku kira dia memang mau istirahat atau pengen di rumah aja, tapi kalau dipikir-pikir benar juga sih dugaanmu, Din. Si Fang Fang kayak menghindar gitu.”


Dina manyun, berpikir keras apa yang bisa ia lakukan untuk temannya. “Dulu aku pikir aku yang bakalan jadi jomblo abadi setelah tuan dan nona nikah, eh nggak tahunya malah Fang Fang yang cakep gitu yang belum laku. Hmm... ini tidak bisa dibiarkan nih! Tidak boleh ada jomblo di antara kita.” Ucap Dina penuh antusias.


Weini dan Grace yang sedari tadi menyimak pun ikut ternganga melihat semangat Dina.


“Non, gimana kalau kita jodohkan saja. Hmm... sama siapa ya?” celetuk Dina tiba-tiba dengan suara yang nyaring.


Weini dan Grace kompak hanya angkat bahu. “Kan kamu yang punya usul, siapa coba yang menurut kamu cocok, kak?” Tanya Weini kalem, ia pun melempar senyuman ke Grace pertanda setuju saja jika memang harus begitu jalannya.


“Fang Fang itu orangnya pendiam tapi keras loh, dia nggak suka cowok bawel. Aku tahu dari cara dia melihat Stevan, kalau lagi berdebat sama Dina, ketahuan banget Fang Fang nggak sukanya.” Timpal Grace mengingatkan apa yang ia kenali dari siat Fang Fang.


Weini manggut-manggut, tampak memikirkan pendapatnya juga. “Tipe kayak Fang Fang memang harus dicomblangin, dia malu-malu kalau urusan asmara. Dan aku tahu betul tipikal gadis pelayan sekaligus pengawal dari kediamanku, mereka sudah dilatih dispilin dan berprinsip. Kita harus mencarikan tipikal pria yang sepadan dengannya, hmm....”


Dina tampak sumingrah, isi kepalanya sudah tertebak hendak mengatakan apa. “Ah, gimana kalau sama kak Bams aja? Lumayan tuh kak Bams udah mapan, siap nikah! Rumahnya gede, udah cukup buat muatin anak banyak ha ha ha....”


Weini dan Grace tampak diam berpikir, tapi agaknya mereka berduapun kompak kurang sreg bila Fang Fang dipasangkan dengan pak sutradara itu. “Kak, apa nggak kejauhan ya selisih usianya? Lagian kak Bams itu bawel deh, Fang Fang mana mungkin sreg. Udah kenal lama pun belum ada chemistry apa apa kan mereka berdua. Kok kayaknya aku pesimis deh kalau sama dia.” Ujar Weini terus terang, pendapatnya pun disetujui Grace dengan anggukan.


Dina kecewa, kandidatnya ditolak mentah mentah oleh dua nona Li. “Yaaa... trus siapa dong? Apa kita coba aja tanyain ke Fang Fang? Kali aja ada hasrat terpendam yang malu malu diungkapkan? Ha ha ha....” Dina berujar sok puitis saking terlalu banyak menonton drama Korea belakangan ini. Ming Ming salah satu korban nyata keromantisan dalam fiksi yang ia terapkan dalam kehidupan nyata, gaya percintaan mereka pun jadi berbau romansa drakor.


Grace menggeleng pelan, pendapatnya tetap sama seperti sebelumnya. “Jangan deh, aku takut mereka jadi nggak nyaman. Kalau memang bener bisa dipasangkan sama kak Bams, ya biar mengalir apa adanya deh, daripada terang terangan kita jodohkan tapi salah satu atau dua duanya nggak mau, ke depannya malah jadi canggung loh. Apalagi bakal sering ketemu di lokasi syuting nantinya, jangan ah Din.”


Weini berpikir sejenak, rasanya ia memiliki seorang kandidat yang tepat namun belum terpikir siapa. Ganjalan di hatinya itu malah membuatnya terus memutar otak, ia tahu seseorang yang pas dengan Fang Fang dan pernah ia lihat sebelumnya.


“Hmmm... bukankah Jun baru-baru ini punya pengawal baru? Aku pernah perhatikan sih waktu itu Fang Fang pernah melihatnya trus kayak tersipu malu gitu.” Gumam Grace yang akhirnya menjadi titik terang bagi Weini.


Senyum Weini terukir jelas, orang yang dalam pikirannya sejak tadi adalah orang yang dimaksud Grace sekarang. “Ah iya, Grace benar. Pria itu juga yang aku pikirkan sejak tadi, tapi aku lupa namanya. Nanti coba aku tanyakan pada Jun.”


Dina berdecak, wajah sombongnya mulai terpasang seakan ia ingin menunjukkan kalau ia bisa diandalkan. “Nggak perlu pake tanya tuan segala, Dina tahu segalanya non. Kalau hanya nama pengawal itu mah, kecil.” Seru Dina seraya menjentikkan jemarinya.


Weini menatap takjub pada mantan managernya, memang Dina masih bisa diandalkan dalam hal apapun. “Siapa kak?”


“Ah ya, benar Su Rong. Hwa, kita jodohin sama Su Rong saja.” Seru Grace yang sudah memberi lampu hijau pada gadis pelayannya.


Weini tersenyum lebar seraya mengangguk setuju, “Ya, mereka sama-sama dari basis pengawal. Chemistry mereka lebih dapat, tapi gimana kalau Jun menugaskan Su Rong kembali ke Hongkong? Aku bahkan belum tahu nasib kami di masa depan seperti apa? Apa akan tetap begini setelah menikah atau....” Wajah Weini tiba-tiba bersemu merah, ia baru sadar keceplosan membahas tentah kehidupan setelah menikah, padahal dilamar saja belum.


Dina dan Grace menyadari kecanggungannya dan memanfaatkan momen itu untuk menggali gosip sebanyak mungkin dari nara sumbernya. “Ehem, rupanya diam-diam udah lamaran ya non? Kok kita nggak dikasih tahu sih?” Celetuk Dina.


Kini bola panas bergulir pada Weini sebagai sasarannya, padahal pembahasan tentang Fang Fang saja belum selesai. Weini menggeleng cepat, berusaha mengembalikan topik pembahasan tentang Fang Fang lagi.


“Apa benar yang Dina katakan, Hwa? Kok jahat banget sih nggak cerita kalau udah dilamar? Grace ikut-ikutan menodongnya.


Weini menghela napas, repot menghadapi dua gadis yang sudah bersekutu untuk meledeknya. Lagipula salah Weini juga yang tiba-tiba membahas tentang kehidupan pernikahan.


“Apaan sih kalian, ya belumlah. Dia belum bahas apa-apa soal itu, nggak lucu dong kalau aku yang desak minta dilamar.” Gumam Weini polos.


Dina mengepalkan tangannya kemudian meninju telapak tangannya sendiri. “Ih, bos Jun kok gitu amat sih? Masa lamar kekasih doang pake diulur-ulur. Dulu aja mau kenalan minta dibantuin, jadian minta disatuin, masa lamaran juga minta Dina yang turun tangan?” Celetuk Dina, blak-blakannya kumat lagi dan bocor.


Weini mengernyitkan kening saat mendengar Dina tengah mengenang jasa besarnya atas bersatunya ia dan Xiao Jun. “Maksudnya gimana nih kak? Kenalan sama jadian dibantuin?” alis Weini terangkat satu, siap menagih kejujuran Dina.


Dina kikuk, mati kutu rasanya dipelototi seperti itu oleh Weini. Matilah aku! Gumamnya dalam hati. “Ng bukan gitu, kan dulu aku managermu non. Bos Jun cuman nanya jadwal nona apa biar nggak bentrok gitu. Cuman itu doang kok suwer dah, kalau bohong berani dinikahin sama Ming Ming deh.”


Grace terkekeh mendengar alibi serta kekonyolan Dina, tawanya yang terpingkal itu pun langsung diikuti oleh Dina meskipun terdengar dipaksakan. Lebih baik segera menyelamatkan suasana ketimbang ia semakin disoroti.


“Eh, balik lagi ke Fang Fang deh, jadi gimana? Deal nih kita jodohin aja sama Su Rong. Trus tadi non Weini ngomongin kendalanya apa? Tanggung nih belum selesai, he he he....” Senyum Dina kikuk.


Weini menghela napas sesaat kemudian membiarkan Dina lolos kali ini, lebih baik menuntaskan pembahasan tentang Fang Fang dulu daripada membahas tentang dirinya yang belum ada kepastian.


“Hmmm... kalau nanti Su Rong ditugaskan ke Hongkong lalu membawa Fang Fang pulang ke sana, kamu gimana Grace?” tanya Weini membahas masalah yang belum ketemu solusinya itu.


Grace tampak berpikir sejenak, berat memang harus berpisah dengan gadis pelayan yang sudah ia anggap seperti saudara perempuan. “Aku nggak pernah terpikir bakal berpisah sama dia, selalu mikir kalau dia akan tetap ada buat aku karena dia pengawalku. Tapi kalau dipikir begitu, kesannya aku egois banget dong. Kayak hanya aku doang yang perlu bahagia ha ha ha. Dia juga punya kehidupannya sendiri dan juga punya impian untuk berkeluarga. Jadi kalau memang harus begitu jalan ceritanya, aku ikhlas gimanapun selama Fang Fang bahagia. Kita semua harus mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing.” Ucap Fang Fang, raut wajahnya begitu bahagia ketika ia mengungkapkannya.


Weini tersenyum lega, akhir yang bahagia tentu saja bagian yang ia nantikan. Setelah semua yang terjadi pada mereka, kebahagiaan itu memang pantas mereka dapatkan. Syukur-syukur bisa lebih lama ketimbang masa penderitaan yang sudah terlewati di masa lampau. Semoga saja!


❤️❤️❤️


Hi guys, menjelang cerita ini benar-benar tamat, Thor hanya ingin sedikit merilekskan pikiran kalian saat membacanya. Kebayang kan, sepanjang 500an episode isinya banyak sekali ketegangan, kesedihan, nah ini saatnya kita panen kebahagiaan ya. Nantikan terus sampai momen paling bahagia Xiao Jun dan Weini.


Makasih buat pembaca setia yang selalu mendukung cerita ini, sukses selalu buat kita.


❤️❤️❤️