OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 394 TEMPAT PERSEMBUNYIAN



Li An baru saja memapah ibunya berjalan kembali ke kamar, setelah menghabiskan waktu beberapa jam di depan balkon untuk berkabung. Suara ponselnya yang berdering tanda panggilan masuk, mengalihkan fokusnya. Ia menatap kakaknya sebentar agar menggantinya menemani Xin Er. Li Mei pun mengangguk setuju, kemudian duduk di sebelah Xin Er sambil menenangkannya.


Senyum Li An merekah lega saat mendapati adik bungsu yang ditunggu akhirnya menghubungi. "Jun, kamu ke mana saja?" Tanya Li An tergesa, ia sudah tahu dari Wen Ting yang mengatakan bahwa Xiao Jun telah mengetahui kabar duka itu kemudian pergi entah ke mana.


"Kakak... Maaf membuat kalian cemas. Aku pergi menenangkan diri sebentar tadi. Apa ibu bersamamu?" Tanya Xiao Jun, dari raut wajahnya tampak tenang, tak seperti Li An yang masih menyisakan duka.


Li An mengangguk kemudian tanpa diminta iapun mendekatkan ponsel pada ibunya. Panggilan beralih menjadi panggilan video, sorot kamera mengarah pada Xin Er yang berwajah sembab dan tampak lelah. "Jun, yang sabar ya nak...." Ujar Xin Er lirih, ia sendiri tengah terluka namun ia masih menghibur anaknya.


Xiao Jun tak bisa berkata-kata untuk sejenak, hingga kesadarannya kembali terkumpul dan fokus pada ibunya lagi. "Bu, aku pun sama merasakan kehilangan itu, tapi kita harus sudahi semua duka ini. Ayah telah kembali, bu... Ayah kembali...." Lirih Xiao Jun, tak menunggu lama lagi ia mengarahkan kamera ponselnya kepada Haris.


Haris mengambil alih ponsel dari pegangan Xiao Jun, senyumnya mengembang dan matanya ikut berkaca-kaca melihat kondisi Xin Er yang menyedihkan. "Istriku, jangan menangis lagi. Aku telah kembali...." Lirih Haris. Kembali yang ia maksud tentunya dirinya yang dulu sangat dikenal Xin Er dan anak-anaknya.


Li An dan Li Mei terpekik bersamaan begitu melihat wajah ayah mereka yang telah menua. Begitu pula dengan Xin Er yang justru menangis lagi, ia menutup mulutnya dengan dua tangan. Beberapa saat lalu ia menangis karena kehilangan, namun sekarang ia menangis karena yang hilang telah ditemukan.


"Kamu sungguh kembali, kamu menepati janjimu." Desis Xin Er, ia mengucek matanya demi meyakinkan sekali lagi bahwa itu adalah Haris.


"Kamu adalah alasanku tetap hidup, aku pasti menepati janji untuk sehidup semati denganmu. Jangan bersedih lagi, maaf membuatmu sehancur ini." Lirih Haris turut sedih melihat tampang istrinya yang nyaris hilang semangat hidup.


Xin Er terharu mendengar pengakuan Haris, memang tak dipungkiri bahwa mereka sudah sangat mengenal satu sama lain dengan baik. Tak terbersit sedikit pun keraguan di hati Xin Er atas apa yang diucapkan Haris.


"Kapan kamu akan datang? Apa sudah waktunya kita berkumpul lagi?" Pinta Xin Er penuh harap.


"Sebentar lagi, aku harus menjemput nona dulu. Kali ini percayalah aku pasti bisa menyelamatkan dia dengan selamat." Ucap Haris segera meyakinkan Xin Er sebelum wanita itu protes.


Xin Er mengangguk paham, ia begitu ikhlas merestui apapun yang suaminya rencanakan. "Baik, aku akan menunggumu kembali di sini. Secepatnya datanglah pada kami, mengerti?" Xin Er meminta kepastian ulang.


Haris pun mengangguk sebagai kesempatan mereka. "Sesekali telponlah nyonya besar, dia pasti kesulitan sekarang." Pinta Haris yang juga sekaligus menjadi akhir perbincangan mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Hanya mereka berdua saja yang tampak turun, sisanya diperintahkan untuk kembali ke lokasi semula agar dapat menghabisi orang-orang yang dianggap berbahaya. Dari tempatnya berpijak sekarang, Chen Kho menginjak sebuah lambang yin yang ☯ yang timbul. Dalam sekejap sebuah gelembung muncul lalu melindungi Chen Kho dari semburan air laut di sekitar. Daratan buatan itupun bergerak turun, seperti menghisap Chen Kho dan Weini masuk ke dalam air.


Tempat berpijak Chen Kho bergerak membawa mereka pada satu tempat di bawah laut, daratan buatan itu bukan satu satunya keajaiban yang mengagumkan, tetapi di dalam lautan itu tampak sebuah rumah yang berdiri kokoh di antara banyaknya binatang laut yang berkeliaran di sekitar.


Chen Kho tiba dalam rumah dalam laut itu, satu satunya aset keluarga Li peninggalan leluhur mereka yang tidak diketahui Li San. Tidak hanya Li San, bahkan tak seorangpun yang tahu kecuali Kao Jing dan Chen Kho.


"Selamat datang di rumah peninggalan leluhur kita." Gumam Chen Kho mengajak Weini yang belum sadarkan diri itu bicara.


Chen Kho melangkah masuk dalam rumah yang luar biasa canggih, oksigen otomatis menyembur keluar dari lubang-lubang yang terdapat di beberapa titik dalam rumah itu. Tidak sedikitpun air laut yang bisa menembus ke dalam rumah, bahkan suhu ruangan pun terasa hangat. Rumah yang tampak seperti aquarium raksasa itu begitu canggih, cukup dengan menekan satu tombol maka penampakan suasana bawah laut akan tertutup otomatis.


Tubuh Weini yang tak sadar itu dibaringkan di atas tempat tidur dalam sebuah kamar. Chen Kho menatapi wajah Weini yang sedikit terhalangi rambut. Bercak darah mengitori wajah serta tubuh gadis itu, baju putih yang dikenakannya pun tampak mengerikan dengan noda darah yang banyak di bagian belakang.


Hanya tersisa satu orang yang ada dalam rumah itu, seorang pengawal yang ditugaskan kemari lebih awal untuk memastikan kondisi rumah. Chen Kho mengambil sebuah baskom dan mengisi dengan air hangat dan kain lap, lalu menghampiri Weini. Ia cukup risih melihat darah yang mengotori Weini, meskipun berstatus tawanan tetapi Chen Kho tak sampai hati membiarkan gadis itu tampak kotor.


Perlahan diusapnya kain lap pada wajah Weini, begitu noda darah di pipi serta kening Weini terhapuskan, kecantikan asli Weinipun terpancar. Chen Kho berhenti melanjutkan bersih-bersih itu, ia terpana melihat kecantikan yang dimiliki sepupunya. Matanya tanpa berkedip menatap lekat Weini, kemudian tanpa ia sadari tangannya meremas kencang kain lap dalam genggamannya.


"Hmm... Kamu cantik juga sepupu." Pujian itu tulus terlontar dari mulut Chen Kho, tidak berlebihan baginya menilai kecantikan Weini begitu sempurna. Di antara sekian banyak wanita yang dikenali, belum ada yang menandingi kecantikan Weini.


"Kalau kutahu sejak dulu kamu secantik ini, aku bersedia menikah denganmu meskipun kita sedarah." Timpal Chen Kho dengan senyum tipis.


Ia melirik baju Weini yang dikotori darah, menjijikkan serta mengerikan untuk dipandang. Gadis secantik Weini tak boleh dibiarkan lusuh dan kotor. Chen Kho menatap agak lama, pikirannya mulai mempertimbangkan satu hal, hanya ada dia dan seorang pengawal di sini, mau tak mau dengan sangat terpaksa ia yang harus melakukannya jika berniat membersihkan tubuh Weini.


Tangan Chen Kho mulai menyentuh baju Weini di bagian pinggang, "Maaf sepupu... Aku terpaksa harus melakukan ini."


πŸ”œπŸ”œπŸ”œ


Oh tidak... Apa yang akan Chen Kho lakukan lagi?