
Grace duduk di samping ranjang Stevan, pria itu masih terlelap setelah minum obat. Menurut keterangan suster yang merawatnya, hanya managernya saja yang datang menjenguknya selain Grace. Saat tertidur lelap, wajah Stevan begitu polos, membuat Grace senyam-senyum sendiri menatapnya.
Apa kau juga tidak punya keluarga? Apa kita bernasib sama? Pertanyaan itu muncul dalam benak Grace, ia baru sadar belum terlalu mengenali pria ini.
Stevan membuka matanya perlahan lalu mendapati Grace tengah melamun dengan tatapan kosong. Senyumnya
mengembang tipis karena bahagia, ketika pertama kali membuka mata, ada makhluk secantik itu yang dilihatnya. “Hei, jangan sedih! Aku masih hidup.” Lirih Stevan yang mendapat delikan dari Grace.
“Aku nggak suka kamu sering bicara seperti itu!” Ketus Grace tampak memanyunkan bibirnya.
Stevan tersenyum, ia menggerakkan tangannya perlahan untuk meraih tangan Grace. Senyumnya memudar
saat merasakan jari Grace yang tertempel plester. “Kamu kenapa?” Tanya Stevan cemas.
Grace agak menarik tangannya dari pegangan Stevan tapi pria itu tidak mengijinkannya. Terpaksa ia harus membiarkan Stevan menggenggam tangannya yang diplester. “Hanya tertusuk kulit kacang, tapi kak Li An terlalu berlebihan dan... Kamu lihat sendiri hasilnya.” Senyum Grace.
“Kakaknya si bos ada di sini? Wah... Aku tertidur berapa lama sampai nggak tahu update berita terkini?” Gumam Stevan heran.
“Kamu pingsan dua minggu!” Sebal Grace yang kemudian mendapat tawa dari Stevan.
Grace mencubit ringan tangan Stevan hingga pria itu pura-pura kesakitan. “Kamu ini, jangan jangan suka bercanda seperti itu. Aku nggak suka.” Ketus Grace.
Stevan terkekeh, ia meraih tangan Grace lagi untuk digenggam. “Baiklah, apapun yang tidak kamu sukai, tidak akan aku lakukan. Aku janji!” Gumam Stevan lembut.
Grace mengangguk setuju, ia pun menjawab pertanyaan Stevan yang belum terjawab. “Keluarga Xiao Jun sudah berkumpul sejak pagi tadi. Sementara ini aku juga tinggal di apartemennya, Xiao Jun dan keluarganya tidak mengijinkanku sendirian di apartemenku. Sampai Fang Fang sembuh dan keluar dari rumah sakit, baru aku
pikirkan lagi langkah selanjutnya.” Gumam Grace.
Stevan nampak memerhatikan mimik Grace yang sedih, ia berusaha mengalihkan topik ke hal lain. “Apa belum ada kabar dari Weini?”
Grace menggeleng lemah, “Sejak tadi pagi Xiao Jun dan ayahnya sudah pergi mencari dia. Aku rasa mereka sudah menemukan tempat Weini berada, tapi sampai sekarang mereka belum kembali.”
“Jam berapa sekarang?” Tanya Stevan lemah, dalam ruangannya memang tidak ada jam dinding yang bisa
dilihat sebagai penunjuk waktu.
Grace melirik layar ponselnya, “Jam sembilan malam, aku sudah di sini setengah jam lalu.”
Stevan terkesiap, “Aku tidur sepanjang hari tanpa tahu waktu lagi. Kapan aku bisa keluar dari sini? Hmm....”
“Sabarlah, pulihkan tubuhmu dulu. Jangan pikirkan masalah lain, yang paling penting kamu sehat.” Ujar Grace perhatian.
Stevan menghela napas, “Kau pasti kesulitan sendirian. Pemburu berita itu mengincarmu? Ah... Kau jangan sering datang menjengukku, mereka bisa mengusikmu terus. Tunggulah sampai aku keluar rumah sakit, sementara ini jangan sering mendatangiku.” Pinta Stevan cemas.
Grace malah tertawa mendengar perhatian Stevan yang berlebihan, saking lucunya ia mengeluarkan air mata. Stevan malah bingung, bagian mana dari kata-katanya yang terdengar lucu. “Kamu ini... Aku belum setenar itu, siapa yang akan mengejarku. Lagipula debut pertamaku saja belum tentu jadi tayang. Setelah dua pemeran utamanya bermasalah, apa kau yakin produser akan tetap menayangkan film itu?”
Stevan terdiam, perkataan Grace memang ada benarnya. Ia dan Weini tengah bermasalah, ini bukan sensasi recehan yang mereka hadapi. Weini pun belum diketahui keberadaannya sementara jadwal premier film mereka tinggal beberapa minggu lagi. Dengan kejadian yang menggemparkan ini, kumungkinan besar film akan ditunda untuk waktu yang belum pasti. Stevan menatap Grace dengan raut sedih, ia justru prihatin dengan nasib Grace yang sepertinya belum dinaungi bintang keberuntungan.
“Grace, jika debutmu gagal... Apa kau akan merasa kecewa? Ng... Maksudku... Aku tidak apa-apa kehilangan karier keartisanku, aku masih bisa mengerjakan hal lain. Jika memang ini akhir dari karierku, aku ikhlas. Tapi aku tidak tahu bagaimana denganmu... Apa kau akan merasa impianmu terkubur?” tanya Stevan hati-hati.
Grace masih menunduk, ia tidak suka memperlihatkan sisi lemahnya, namun memang kenyataan ini harus
Stevan ketahui. Jika memang mereka berniat serius, Stevan tetap harus tahu seluk beluk keluarga Grace, begitupula dengan Grace yang harus tahu detail tentang Stevan.
“Tenanglah Grace, kamu masih punya aku. Meskipun tidak ada tempat di dunia ini untukmu, tapi kamu masih punya tempat di hatiku.” Gumam Stevan dengan segala kegombalannya.
Grace kembali mendelik pada Stevan, saat pandangan mereka beradu, tawa mereka pun pecah. “Kau bersedia punya istri yang keluarganya berantakan?” tanya Grace.
Stevan tertawa, ia perlu beberapa detik untuk menghentikan tawanya sebelum bicara serius. “Apa kau piir di dunia ini hanya kamu yang memiliki keluarga berantakan? Pria di depanmu juga tidak beruntung memiliki keluarga yang harmonis. Tapi aku selalu berharap memiliki keluarga harmonis dan tidak ingin berakhir seperti kegagalan
orangtuaku. Apa kau bersedia menjadi pendampingku dan mewujudkan impianku?” Tanya Stevan serius, ia tanpa persiapan apapun malah melamar Grace di saat ini.
Grace ternganga, pertanyaan Stevan terdengar seperti lamaran yang diperhalus caranya. Spontan gadis itu menggelengkan kepalanya hingga membuat Stevan kecewa karena ditolak.
“Jika kau sedang melamarku dengan cara seperti ini, aku akan menolaknya. Kau bisa mengajukan lamaran lagi dengan cara yang lebih baik dari ini dan tentunya tidak di rumah sakit. Ah... kesannya terlalu pesimis, aku tidak suka.” Jelas Grace blak-blakan.
Stevan kembali menyunggingkan senyuman, kekecewaannya segera ia singkirkan dan kini ia bisa tersenyum lebar. Grace menunggu lamarannya yang romantis, mereka punya harapan besar untuk masa depan bersama. “Ya... Oke... Aku akan melamarmu dengan cara paling romantis. Tunggu kejutan dariku, Grace. I love you....” Seru Stevan
dengan kencang, ia bahagia sampai terasa seperti melambung ke udara.
Di saat dua sejoli itu sedang bahagia dengan rencana lamaran, dering ponsel Stevan yang diletakkan di atas meja pun menjeda kebahagiaan itu. Grace mengambilkan ponsel itu dan memberikan pada Stevan.
“Siapa sih ganggu malam-malam?” Gerutu Stevan yang merasa panggilan itu masuk saat timing yang kurang tepat. Namun saat melihat nama dari layar itu, ia segera menarik omelannya barusan. Dengan senang dan penuh semangat, Stevan menerima panggilan itu.
“Dina... Lu ke mana aja?” Tanya Stevan blak-blakan tanpa mengindahkan sapaan pembuka.
“Bro, lu udah sehat? Lu nggak apa-apa kan? Sorry gue baru tahu kabar lu tadi... Hiks.” Terdengar suara sedih dan terisak dari Dina, ia terlalu parno membaca berita bahwa Stevan dan Bams cidera cukup parah dalam kecelakaan mobil itu.
Stevan nyengir, seperti biasa jika ia bicara dengan Dina selalu tidak nyambung obrolannya. Saat ia bertanya, maka Dina pun akan menanyakan hal lain padanya. “Gue masih hidup, nih lagi ngomong sama lu.”
“Eheeemm....” Dehem Grace yang sengaja dikeraskan suaranya sebagai bentuk protes pada Stevan yang mulai bicara ngelantur.
Stevan mengangguk say sorry pada Grace, ia benar-benar harus terbiasa menjaga ucapannya di hadapan Grace mulai sekarang. “Gue udah mendingan, tinggal pmulihan. Kak Bams juga udah baikan kok. Lu di mana sih? Kok nggak jenguk gue sampai sekarang?” Protes Stevan yang merasa personil temannya kurang.
“Gue... Gue diungsikan ke Hawaii sama tuan Xiao Jun. Hiks... tadinya gue senang bisa liburan, tapi pas tahu lu kenapa-napa, gue nggak nyaman lagi liburan. Masa gue doang yang enak, gue mau bujuk tuan Xiao Jun buat mulangin gue segera. Habis itu gue pasti datang jenguk lu, eh tapi mendingan lu cepet keluar rumah sakit, jadi
gue ketemu lu nya di apartemen aja. Jangan sakit kelamaan maksud gue.” Dina cerocos terus mengeluarkan bakat bawelnya, ia sungguh mencemaskan Stevan dan yang lainnya, tapi apa daya ia terbatas dan tak bisa berbuat banyak untuk sementara.
“Wah, sumpah enak banget peran lu. Kita kebagian sedih-sedih, lu malah kebagian senangnya.”
*out of story... Gila nih author\, yang lain pada mewek\, eh ada Dina yang lagi enjoy liburan. Nggak kompak nih\, buruan bikin Dina balik! Protes Stevan.*
“Gue bakal balik segera. Gue kangen kalian semua, gue... Kangen non Weini.” Lirih Dina. Tak bisa ia tutupi bahwa di manapun ia berada, senyaman apapun tempatnya, bahkan sekeren apapun bodyguard di sampingnya, Dina tidak bisa move on dari sahabatnya terutama Weini. Ia pun sudah bertekad akan membujuk Xiao Jun agar segera
mengijinkannya kembali.
***