OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 107 RENCANA PERTEMUAN DUA KELUARGA



“Resep seperti ini sangat banyak di internet, aku ambil dari sana. Hahaha… apa segitu enaknya sampai kau sepenasaran itu?”  Ujar Haris santai, ia kembali menyumpit makanan dari mangkuknya.


Xiao Jun merenungi sejenak jawaban Haris, sangat masuk akal di era secanggih ini berbagai resep bisa diperoleh dengan mudah. Ia mulai menepis pikiran lain, mungkin sebuah kebetulan saja masakan Haris bercita rasa sama dengan ibunya.


“Ah… haha… maaf paman, aku takjub saja. Tidak ada maksud lain, mohon paman maafkan ketidak sopananku.” Xiao Jun merasa bersalah menyimpan kecurigaan tidak jelas kepada Haris. Hanya mengandalkan perasaannya


yang terasa dekat namun janggal dengan Haris, ia hampir saja kelewat batas mencurigainya.


“Tidak masalah. Anak muda memang harus waspada meskipun pada orang terdekat. Jadi, kamu sudah menghubungi Weini? Dia mungkin akan pulang malam seperti biasa jika tidak diberitahu.”


Xiao Jun menggelengkan kepala, kedatangannya kemari memang untuk menemui Haris. “Paman, sebenarnya aku kemari untuk menyampaikan hal penting kepadamu.”


Haris mengernyitkan dahi, ditaruhnya sumpit di atas mangkuknya yang sudah kosong. “Kedengarannya sangat menarik. Langsung ceritakan saja kalau begitu.”


Porsi jumbo misoa yang sudah menyisakan tiga mangkuk kosong itu menjadi saksi betapa tegangnya Xiao Jun. Hanya menyampaikan kabar gembira saja bisa membuat darahnya mendesir lebih kencang, padahal Haris


memasang wajah sangat bersahabat menanti pemberitahuannya.


“Sabtu depan mohon paman luangkan waktu, aku akan mengajak paman dan Weini ke Guangzhou. Ibuku juga sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan kalian.” Akhirnya kata-kata itu tercetus dari Xiao Jun.


Bertemu ibumu? Haris menggumam dalam hati. Ia ingat pernah menantang Xiao Jun membuktikan keseriusannya pada Weini sebelum dinyatakan layak sebagai calon menantu. Hanya saja Haris tidak menyangka bos muda itu begitu cepat mengambil langkah, kini giliran dirinya yang merasa belum siap melakukan pertemuan dua keluarga. Sabtu depan? Enam hari lagi dari sekarang? Keluh Haris membatin sembari berusaha bersikap tetap tenang.


“Baiklah. Mungkin akan jadi langkah yang bagus untuk hubungan kalian hahaha.” Tapi kali ini tawa Haris terkesan dibuat-buat dan terdengar canggung. Xiao Jun bahkan bisa merasakannya meskipun tidak berani berkomentar.


“Ibuku pasti menyukai Weini, percayalah paman.” Xiao Jun berkata mantap dengan nada yang lembut tapi tegas.


“Pasti.” Ujar Haris singkat. Menurut Haris, hanya orang berhati dangkal dan iri lah yang tidak menyukai Weini.


Xiao Jun mengangguk setuju, Xin Er pasti akan menyukai Weini. Selain wajah yang cantik mempesona, kebaikan hatinya seakan terpancar keluar. Gadis yang penuh semangat dan baik adalah tipe yang disukai ibunya.


“Paman, maaf jika aku lancang bertanya sesuatu yang pribadi, tetapi rasanya aku perlu memperkenalkan Weini secara personal sebelum ia tatap muka dengan ibuku. Sebenarnya Weini bermarga apa? Dulu aku pernah


bertanya tapi ia bersikeras menutupinya. Aku tidak percaya ia tidak memiliki marga.” Xiao Jun belum menyerah, jika Weini enggan mengatakan maka ia perlu mencoba bertanya pada yang lebih tahu.


Pertanyaan itu tentu berat dijawab oleh Weini, dan Haris masih ingat bagaimana reaksi Weini ketika Xiao Jun menodongnya. Kalau memang sudah saatnya membuka kartu, satu persatu harus dimunculkan ke permukaan. “Marga Li.”


Setelah mendapatkan jawaban, bukan kepuasan batin yang dirasakan Xiao Jun. Antara senang atau sedih yang tak bisa dibedakan, jawaban itu seperti tidak diharapkan. Ia menyesal sudah bertanya dan tidak menyiapkan hati mendengar kenyataan yang tidak sesuai harapan.


“Ajun? Kenapa bengong?” Haris membuyarkan pandangan suram Xiao Jun yang terpaku pada satu titik sejak tadi.


Roh kesadaran Xiao Jun seakan kembali pada tubuhnya, ia tak boleh terlihat murung di depan Haris. “Ah, tidak paman. Marga Li ya? Li Wei Ni?”


“Ya. Semarga denganmu, tapi tidak sedarah. Jaman dulu mungkin tabu, tapi sekarang udah lumrah pernikahan semarga. Kamu jangan banyak mikir. Aku yakin orangtuamu juga sepemikiran denganku.” Haris mencoba


menenangkan pikiran bos muda itu sebelum kehilangan kepercayaan diri.


“Benarkah paman? Jadi nggak masalah? Ah… syukurlah.” Xiao Jun menghela napas panjang, ia lega seketika. Jika ke depannya terpaksa tak bisa menanggalkan marga Li saat menikah, setidaknya ia tetap bersikukuh pada Li San bahwa darah dalam tubuhnya adalah darah klan Wei, ya… walaupun mungkin ia akan kehilangan kepalanya.


Haris mengangguk. “Modal nikah kan cinta, gimana tekad dua orang itu buat bersatu. Masalah lain kan urusan belakangan, selama kalian nggak kehilangan kemantapan hati.”


Apa yang disampaikan Haris meman benar. Xiao Jun tidak khawatir dengan restu Xin Er, ia tahu betul sifat ibunya selama itu pilihan Xiao Jun maka Xin Er pasti mendukung. Masalah terbesar pasti dari Li San yang belum tentu menerima ia menikahi orang biasa. Tapi Xiao Jun tidak goyah dengan ancaman itu, mencintai dan memilih siapa pasangan hidup adalah hak mutlaknya. Ia sudah berkorban menjadi boneka Li San sejak kecil, dan ia berhak


mencari kebahagiaannya di luar dari ambisi kekuasaan dan bisnis.


***


Chen Kho terburu-buru turun ke lobby setelah mendengar pesan dari sekretarisnya yang mengatakan Li An datang dan berusaha masuk ke ruang kerjanya. Ia tidak mungkin membiarkan gadis itu masuk sementara di dalam sana ada seorang wanita seksi yang belum selesai bermain dengannya.


“Akho…” Li An melambai dan meneriakkan nama Chen Kho. Ia memang diijinkan memanggil nama pendek kekasihnya, namun Chen Kho terlihat sangat tidak senang dengan air muka ketus ia mendekati Li An.


“Sayang kenapa kamu ke sini?” Chen Kho berusaha merubah mimiknya menjadi lebih ramah walau sembari menggertak gigi menahan geram.


Li An tidak menyadari ketidak-sukaan Chen Kho, ia dengan polos tersenyum girang. “Apa kabar? Kamu sibuk terus sampai dua mingguan tidak ke rumahku. Aku hanya mau memastikan kamu baik-baik saja. Karena kamu terlihat baik, aku tidak khawatir lagi. Aku pulang dulu ya, nggak ganggu waktu kerjamu.”


Gadis itu berbalik badan meninggalkan Chen Kho yang masih terdiam. Ia takut membuat kesal pria kesayangannya, apalagi kemunculannya di perusahaan Li San pasti bisa menimbulkan masalah jika ketahuan.


Chen Kho masih diam berpikir, masih tahu diri juga dia. Hubungan ini sangat membosankan, jika tidak ada informasi penting yang bisa diperoleh darinya, lebih baik aku akhiri semua sekarang.


“Tunggu! Aku antar kamu pulang.” Chen Kho mengejar Li An lalu menyelaraskan langkah mereka.


“Tidak perlu repot, aku bisa sendiri. Ini masih jam kerja, jangan buang waktu menemaniku.” Li An menolak, ia memang rindu kekasihnya tapi ini bukan saat yang tepat berduaan.


Sesampai di luar gedung, Chen Kho mencengkram lengan Li An hingga terasa sedikit menyakitkan. Digeretnya gadis itu menuju lokasi parkir mobil, ia tidak peduli Li An yang meringis menahan sakit namun tidak berani buka suara. Tubuh tinggi kurus itu dihempaskan ke dalam mobil di sebelah kursi kemudi. Chen Kho membanting pintu mobil ketika ia masuk, kegeramannya memuncak hingga ia tak sabar memberi pelajaran pada gadis polo situ.


“Kamu ingin aku ke rumahmu kan? Kenapa sekarang aku mau pergi malah ditolak?” Chen Kho meraih paksa wajah Li An lalu mengulum bibirnya dengan keras. Beberapa gigitan terasa menyakitkan hingga ujung bibir gadis itu lecet. Ia tak berani menolak, hanya memejamkan mata dan berusaha menikmati ciuman kasar itu.


Tangan Chen Kho mulai turun ke bagian dada Li An, namun sekali rabaan saja ia sudah berhenti. Kesadarannya mulai terkontrol, ia memang tidak berniat menjalin hubungan serius dengan Li An dan tidak tega menodai kesuciannya. Ia mengalihkan perhatian pada setir dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


***