OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 476 CANGGUNG



Aku tahu siapapun yang hidup pasti akan sampai pada akhir seperti ini. Hanya saja aku tidak menyangka harus mengantar kepergianmu secepat ini. Ayah... Damailah dalam tidur panjangmu.


Telah habis air mata yang sanggup diteteskan Weini, kering sudah kantong air matanya menangisi satu persatu duka yang bertubi-tubi. Kini ia hanya bisa mengikuti serangkaian ritual pemakaman dalam diam, sorot matanya yang menyiratkan kepedihan karena kehilangan sosok ayah yang belum sempat ia rasakan lagi kasih sayangnya.


Tangisan Liang Jia dan kakak-kakak perempuannya terdengar nyaring, paling pecah saat peti Li San memasuki liang lahat. Itulah terakhir kalinya mereka bisa melihat fisik Li San yang telah kaku itu.


"Ayaaah...." Pekik kepedihan dari para kakak Weini saling bersahutan.


Weini meremas bajunya, menahan getir dalam hati yang ia paksakan kuat untuk melihat proses penguburan. Sedikit demi sedikit tanah mulai menutupi peti, sesak di hati Weini pun terasa membuatnya sulit bernapas. Sepedih apapun yang ia rasakan sekarang, tidak bisa ia tuangkan dalam tangisan. Dan ini jauh lebih menyakitkan memendamnya ketimbang menangis sesenggukan.


Tanah merah itu telah membumbung tinggi, Weini berharap kepedihannya ikut terkubur, nyata tidak semudah itu menyembuhkan luka. Ia tetap berduka dan memaksakan diri agar kuat menjalankan prosesi selanjutnya.


Kelima bersaudara itu berlutut bersamaan, mengangkat sebatang hio memberikan penghormatan tertinggi mereka pada sang ayah. Para tetua yang memimpin upacara masih terus merapalkan doanya, Xiao Jun yang dianggap sebagai anak pun turut berlutut sebarisan dengan anak kandung sang penguasa itu.


Ada banyak luka yang Li San torehkan pada mereka yang tengah berduka atas kepergiannya. Luka yang sungguh nyata, tanpa terselip dendam ataupun kebencian. Mereka yang hadir mengantarkan kepergiannya dengan rasa kehilangan. Orang yang pernah hadir dalam kehidupan ini kini hanya tinggal nama.


Selamat jalan, tuan besar... ayah....


Lirih Xiao Jun dalam diamnya. Tak dipungkiri, Li San banyak jasa terhadap Xiao Jun, kendati telah memisahkan keluarga mereka. Namun dengan akhir yang seperti ini, tak ada yang sanggup untuk membencinya.


Langit mendung dan berangin seolah turut berkabung mengantarkan kepergianmu. Tenanglah di sana, tuan besar. Aku akan menjaga keluargamu sampai akhir hayatku.


Batin Haris ikut menyuarakan isi hatinya, ia menyembunyikan air matanya dengan kepala yang menunduk dalam.


Dan langit menjadi saksi, betapa berdukanya mereka di bawah sana. Menangisi kepergian seseorang yang semasa hidupnya nyaris tak punya perasaan.


❤️❤️❤️


Xiao Jun berjalan berdampingan dengan Weini saat pemakaman usai. Mereka berjalan lunglai menuju mobil masing-masing. Dalam keheningan dan lelah, Xiao Jun langsung berinisiatif menggandeng tangan Weini. Gerakan spontan itu membuat Weini terkesiap, namun saat menoleh dan melihat senyum tipis Xiao Jun, kecemasannya pudar berganti rasa lega karena tahu pria itu ada di sampingnya.


"Aku ikut mobilmu saja ya." Pinta Xiao Jun. Saat berangkat, Xiao Jun satu mobil dengan keluarganya. Sedangkan Weini, ia tidak bergabung dengan siapapun. Bahkan Liang Jia saja memilih ikut semobil dengan keempat putrinya karena tahu Weini sepertinya perlu waktu untuk menyendiri.


Weini mengangguk sebagai jawaban tanpa kata. Xiao Jun mempersilahkan Weini naik terlebih dulu, lalu ia mengambil posisi duduk di sebelahnya. Pengawal menutup pintu mobil dan tak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan area pemakaman klan Li.


Sepanjang perjalanan Xiao Jun terus menggenggam tangan Weini. Mereka lebih nyaman dalam diam, biarlah saat ini hanya bahasa tubuh yang bicara. Asalkan mereka sama-sama tahu bahwa berdekatan seperti ini saja sudah membuat mereka merasa nyaman.


"Hwa, sabar ya... ikhlaskan saja ini yang terbaik untuk ayah." Xiao Jun lah yang pertama memecah keheningan, ia tahu kepedihan Weini yang tak bersuara. Sama ketika ia kehilangan Chen Kho, sakitnya hingga tak mampu berkata-kata.


Weini menarik napas sejenak, pedih yang ia pendam dari tadi akan lebih baik dilontarkan. Dan pada Xiao Jun lah ia nyaman mengutarakannya.


"Aku sudah ikhlas, Jun. Siapa yang bisa melawan kehendak langit. Aku hanya... hanya berpikir apa aku sanggup menjalankan ini semua? Apa aku akan memimpin dengan baik seperti yang ayah harapkan?"


"Setelah ini, aku harus menghadapi pers. Kita tidak bisa membungkam lebih lama lagi. Aku sudah memikirkan sejak kemarin, setelah prosesi pemakaman ayah selesai, kita harus terbuka pada media. Bukan hanya keluarga yang harus mengakui dan menerima posisiku, tapi mereka... mereka yang sudah lama melupakan aku." Gumam Weini serius.


Xiao Jun mengangguk setuju dengan rencana Weini. "Kalau begitu aku mendukungmu penuh. Kita harus menjadwalkan pertemuan pers secepatnya. Kamu hanya perlu klarifikasi satu kali, seluruh dunia akan menyorotimu tapi hanya kali itu saja. Setelah itu seiring waktu mereka pasti akan terbiasa menerimamu kembali. Kau harus percaya bahwa kamu sanggup menjadi pemimpin yang dicintai oleh mereka."


Semangat yang diberikan Xiao Jun cukup menenangkan Weini. Akhirnya gadis itu bisa menarik senyum tipis, menyungingkan kepada kekasih yang selalu mendukungnya.


"Aku perlu kamu, Jun. Temani aku...." Pinta Weini.


Senyuman lembut Weini melelehkan hati Xiao Jun, gadis perkasa itu nyatanya masih bisa meminta perlindungan padanya. Xiao Jun merasa sangat dihargai, reflek ia meraih kepala Weini dan menyandarkannya pelan di bahunya. Weini menurut saja, posisi itu membuatnya merasa nyaman.


"Kamu tidak perlu meminta saja, aku selalu menemanimu. Sekarang dan seterusnya akan selalu menemanimu." Ungkap Xiao Jun dengan senyum optimisnya.


Weini merasa tak perlu menjawab lagi, apa yang ia dengar barusan sudah sangat jelas dan menggetarkan hatinya. Walau harus menunggu tiga tahun lagi, ia tidak akan khawatir karena Xiao Jun akan tetap di sisinya. Weini masih sanggup bersabar, menunggu masa ia melangkah ke jenjang serius bersama pria di samping. Tak perlu tergesa pun tidak masalah, ini hanya masalah waktu saja.


"Hwa, ada yang ingin aku sampaikan padamu...." Lirih Xiao Jun, ia tiba-tiba diserang rasa gugup padahal belum mengatakan maksudnya.


"Hmm... apa? aku mendengarmu." Jawab Weini masih dengan posisi bersandar di pundak Xiao Jun.


Xiao Jun merasa kacau, bukan saat yang tepat untuk mengutarakan maksudnya. Ini bukan momen romantis untuk melamar seorang gadis.


Tangannya mengepal, Xiao Jun gugup karena kekacauan yang ia ciptakan.


"Nanti saja, setelah kita membuat pernyataan di media." Ujar Xiao Jun terbata-bata, wajahnya memerah menahan malu.


Weini menegakkan kepalanya, ia merasa aneh mendengar suara Xiao Jun yang bergetar. Padahal tadi tidak apa-apa, Weini mengerutkan dahi saat melihat wajah Xiao Jun memerah. Spontan ia meraba kening Xiao Jun, dan seketika itu pula Xiao Jun mematung dengan wajah canggung.


"Kamu kenapa? nggak demam kok, kamu sakit?" Tanya Weini cemas.


Xiao Jun menggeleng cepat, napasnya jadi tak beraturan yang menyerupai orang flu yang kesulitan bernapas. Sentuhan tangan Weini di saat pikirannya tengah kacau memikirkan cara romantis untuk lamaran, malah terasa seperti ancaman yang akan menyumbat napasnya yang sudah buntu. Sekacau itulah Xiao Jun sekarang, ia benar-benar tak menyangka dirinya akan sepayah itu hanya karena mau melamar seorang gadis.


"Nggak... aku nggak apa-apa, nggak apa-apa." Jawab Xiao Jun yang suaranya tak terkontrol lagi saking paniknya.


Weini mengerutkan dahi melihat keanehan kekasihnya. Apa yang mau kau katakan padaku sampai membuatmu tersiksa begitu?


Weini hanya bisa mereka-reka dalam hatinya.


❤️❤️❤️