OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 121 KONFLIK AYAH VS ANAK ANGKAT



Telepon tengah mencoba menyambungkan pembicaraan jarak jauh antara Jakarta – Hongkong. Ia melirik jam dinding yang menunjuk pukul sembilan malam yang artinya di Hongkong sudah jam sepuluh malam. Li San tidak mungkin tidur seawal itu, panggilan pertama tidak terhubung namun Xiao Jun tidak menyerah, ditelponnya kembali


sampai akhirnya tersambung.


“Ni hao, ayah. Apa aku mengganggu waktu istirahatmu?” Sapa Xiao Jun di awal percakapan dengan ayahnya.


Dari pihak lawan bicara meminta telpon beralih ke panggilan video, Xiao Jun mengaktifkan kameranya. “Apa menurutmu aku dalam keadaan baik?” Li San menyeringai, raut mukanya sangat tidak bersahabat. Ia yang biasanya penuh senyum pada Xiao Jun namun kini terlihat menatap dengan muak. Pria tua itu mengenakan piyama tidur dan dalam kondisi siap beristirahat malam.


“Ayah?” Xiao Jun tidak berani menjawab banyak, ia belum menemukan titik lemah untuk menghadapi lawannya.


“Kamu masih berani memanggilku sesantai itu? Aku beri kamu kepercayaan tapi malah menusukku dari belakang.” bentak Li San.


Xiao Jun paham situasinya sekarang, ia tidak akan menang berdebat dengan pria tua itu dalam kondisi seperti ini. Ia hapal betul peringai Li San ketika marah, lebih baik ia diam menerima apapun yang dikatakan pria yang sedang dikuasai emosi itu.


“Aku mau besok pagi kamu sudah berdiri di hadapanku! Jangan buang waktuku marah dari  layar hape!” Li San mengakhiri pembicaraan sepihak.


Lau dan Xiao Jun saling berpandangan, “Paman, keadaan ini lebih rumit daripada yang aku kira. Siapkan jetku sekarang, aku harus kembali sebelum subuh.”


“Apa tidak istirahat sebentar tuan? Tuan besar biasanya siap ditemui jam tujuh pagi, anda masih punya waktu beberapa jam di sini sebelum berangkat.” Lau cemas melihat kondisi Xiao Jun, ia takut keadaan tidak lagi sama sekembalinya sang tuan dari Hongkong. Mungkin saja Li San tidak membiarkan Xiao Jun kembali lagi, atau bahkan Lau dan keluarganya akan ikut terseret hukum.


Sejak kejadian Xiao Jun membatalkan kepulangan ke Hongkong, Lau nyaris dihukum dan dipecat sebagai pengawal Xiao Jun. Saat itu Liang Jia yang meyakinkan tuan besar agar memberinya kesempatan, mengingat keakraban yang sudah terjalin sejak kecil dengan tuan mudanya. Kali ini, entah ia masih punya keberuntungan untuk selamat atau habislah dirinya.


Xiao Jun menggeleng, “Aku tidak capek, hanya saja… kepergian mendadak seperti ini apa bisa diterima Weini? Aku tidak tahu kapan bisa pulang menemuinya lagi.” Berat banget kala mengucapkan itu, seperti membayangkan perpisahan yang tak tahu kapan hadirnya pertemuan kembali.


“Apa mau kuantar bertemu nona Weini sekalian pamitan? Nanti jetnya ku aturkan lokasi terdekat yang bisa dijangkau dari sana. Ng… Tuan, aku temani anda menghadap tuan besar.” Seru Lau, di saat situasi genting ia ingin mendampingi tuannya.


Xiao Jun diam berpikir sejenak, “Berpamitan tengah malam? Dia mungkin sudah tidur, aku tidak mau membuatnya kepikiran. Paman, kali ini biarkan aku hadapi sendiri. Tolong urus bisnis selama aku pergi, jangan menyusulku! Lebih mudah melindungimu dari jauh ketimbang kau ikut pulang, biarku selesaikan sendiri tanpa melibatkanmu.”


Ada rasa bangga terselip di tengah perasaan gundah Lau, bangga mengetahui bahwa anak lelaki kecil yang ia jaga selama ini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang penuh tanggung jawab. “Tuan, aku mengerti. Jika kau butuh bantuanku, kapanpun itu aku siap jadi perisaimu.”


***


Satu jam sudah Weini mencoba tidur namun hanya mata yang terpejam, ia tak kunjung masuk ke alam mimpi. Perasaannya tak menentu, sulit untuk dijelaskan. Akhirnya ia lelah memaksakan diri terlelap, disibaknya selimut lalu bangun menghirup udara malam di luar.


“Lho, ayah belum tidur?” Weini terkejut, bukan hanya ia yang jadi seperti kelelawar – sebutan keren orang begadang – tapi Haris lebih duluan berdiri di depan teras. Pandangan pria itu menerawang ke langit malam sebelum akhirnya buyar karena dipanggil Weini.


“Kamu juga nggak bisa tidur?” Haris melambaikan tangan agar Weini mendekat.


Weini melipat kedua tangan di depan dada, piyamanya terasa tak berguna menahan angin subuh yang dingin. “Ng… begitulah.” Tanpa ia sadari, helaan napasnya terdengar berat ketika ia menjawab Haris.


“Lagi banyak pikiran? Kupingku siap menampung sampah otakmu hahaha.” Haris masih bisa guyonan padahal ia tahu apa yang diresahkan Weini tetapi lebih afdol kalau yang bersangkutan yang menceritakan langsung.


“Tadi sehabis mandi, aku melihat sekelebat bayangan dari cerminku. Ah… itu lebih mirip cuplikan kejadian, ada Xiao Jun dan seorang wanita tidak kukenal. Hanya sekilas saja, bayangan itu hilang. Apa aku halusinasi ayah?”


Haris tepekur diam, peristiwa yang disampaikan Weini bukan hal baru baginya tetapi yang ia herankan, Weini hanya belajar sihir dan tidak mewarisi darah penyihir dan ternyata mata batin gadis itu bisa terbuka untuk melihat masa depan walau hanya sekejab.


“Ya, itu hanya halusinasi. Bisa terjadi saat banyak pikiran plus tubuh yang lelah. Nggak usah dipikirin ya.” Haris berbohong, ia tahu betul penglihatan Weini adalah nyata dan mungkin akan terjadi dalam waktu dekat namun biarkan saja terjadi secara alamiah. Seorang penyihir yang tahu segalanya adalah orang yang paling menderita, terbebani akan hal yang tidak lagi menjadi rahasia. Mencoba merubah takdir namun justru bisa merusak masa depan, yang terjadi biarkanlah bergulir semestinya.


“Begitu ya… aneh sih aku merasa itu sangat nyata. Xiao Jun sepertinya punya hubungan dengan gadis itu.” Weini menundukkan kepala, hatinya perih meskipun hanya membayangkan prianya punya kedekatan dengan gadis lain.


Haris enggan menjawab, kenyataan akan datang layaknya bom waktu. Ia tidak bisa menutupi ataupun mencegah apa yang akan terjadi di masa datang. Yang pasti, ia yakin putranya tidak akan pernah mengkhianati cintanya pada Weini. Jalan masih panjang, kadang mulus kadang penuh kerikil berliku. Mereka pasti menemukan cara untuk bersatu, seburuk apapun cobaan yang menghalang. Setidaknya itulah yang Haris yakini sebagai orang yang pernah muda dan berpengalaman tentang pahit manis cinta.


Langit malam ini bertabur bintang sebagai saksi bisu yang mengetahui bahwa lintasannya telah dilewati seorang pria yang sedang bersedih. Xiao Jun tak melepaskan pandangannya ke bawah, mengitari langit malam Jakarta seorang diri, mengenang seseorang yang pernah duduk di samping kursi jetnya. Betapa ia merindukan Weini, andai ia bisa mengendalikan seluruh hidupnya takkan ia biarkan siapapun yang mengekang perasaan ini. Dalam kesendirian Xiao Jun dengan mantap bersumpah, “Hanya ada Weini yang aku pilih, dalam hidup ini aku berjanji hanya akan menikahinya!”


***