
Tubuh Dina reflek mengelak saat mendengar benturan keras yang menghantam pintu. Sedari tadi ia menguping di depan pintu kamar Weini. Sesuai janji, Dina datang pukul tujuh pagi saking mengkhawatirkan artisnya. Pesan yang ia kirim sebagai pancingan sudah dibaca dibaca Weini tanpa memberinya balasan. Dari situlah Dina yakin Weini sudah bangun dari tidurnya dan penasaran apa yang dilakukan gadis itu sendirian.
“Li Xiao Jun, aku benci kamu!”
Teriakan keras itu disusul dengan benturan susulan di pintu. Dina terkesiap hingga berjalan mundur selangkah dari pintu. Ini kejadian luar biasa yang baru disaksikan Dina, sekecewa apapun Weini selama ia mengenalnya, masih dalam batas wajar tapi sekarang gadis itu berteriak dan membanting sesuatu.
“Non, are you okay? Buka pintunya!” Dina menggedor pintu dengan kuat.
Haris menghampiri Dina yang cemas, pria itu siaga di ruang tamu dengan sikap yang tetap tenang. “Buka aja, pintunya nggak dikunci.” Ujar Haris.
Dina setengah percaya dengan omongan Haris tetapi ia mencobanya. Benar saja, pintu yang dikira dalam posisi terkunci nyatanya mudah dibuka. Dina menoleh ke Haris lalu melemparkan senyum canggung. “Boleh masuk nggak nih om? Hehehe …”
“Masuk aja. Tolong tenangin dia ya.” Haris tersenyum, ia terkesan memasrahkan pada Dina, padahal secara tidak langsung ia terus memerhatikan Weini yang tengah patah hati.
Dina mengangguk sekali kemudian berjinjit masuk mendekati Weini setelah ia menutup rapat pintu. Bantal guling serta selimut berhamburan di lantai, Dina berjalan sembari memunguti teman tidur yang melayang akibat jadi pelampiasan. Sekilas melihat kondisi kamar dan pemiliknya, Dina bisa menebak bahwa Weini tengah berada di titik rendah. Luka hati yang dialaminya pasti dalam, hingga ia bersedia membiarkan dirinya terlantar dengan baju yang dari kemarin belum diganti, make up yang separuh luntur tak beraturan di wajah dan kamar yang biasanya rapi sekarang bak kapal pecah.
Weini menyadari kedatangan Dina, ditutupi wajahnya dengan kedua tangan. Betapa ia tak ingin sisi lemahnya dilihat siapapun saat ini.
“Non, kalau mau cerita … aku janji bakal tutup mulut rapat-rapat. Kupingku udah siap dengerin semuanya non.” Dina berkata pelan sembari duduk di sebelah Weini yang masih menghindari tatapannya.
Ingin rasanya Dina membelai dan menyisir rambut Weini yang tergerai acak-acakan. Ia memang bukan siapa-siapanya, tetapi Dina semakin menyadari bahwa ia menyayangi Weini selayaknya saudara. Di saat melihat kerapuhan Weini, tak dipungkiri Dina pun merasakan sedihnya.
“Kak Dina, boleh tinggalin aku dulu. Aku pengan sendiri, plis.” Desis Weini yang masih enggan menampakkan wajahnya. Ia masih mencoba sebisa mungkin menguasai diri, menghentikan air mata yang jatuh tanpa diinginkan.
Suara hati Dina memintanya bertahan, tak perlu mematuhi permintaan Weini yang memang punya hak memerintahnya. “Non, aku nggak bakal ganggu kamu. Biarin aku di sini ya sampai kamu tenang.”
Beberapa kali Dina memergoki Weini menangis, dan sumber kesedihannya semua dikarenakan Xiao Jun. Dina mulai berpikir, jika Xiao Jun sungguh mencintai Weini lalu kenapa tega membuatnya menangis. Bahkan untuk mengakui perasaan cinta kepada Weini saja, ia sempat jual mahal dan memungkiri rasa itu. Andai Weini tak mengalami kecelakaan, apa mungkin Xiao Jun akan menyatakan cinta sampai sekarang? Apa pria itu harus diancam oleh rasa takut kehilangan baru ia bersedia bertindak sesuai hati?
Weini tak memberi jawaban, ia memilih diam sembari membuang muka dari Dina. Sesekali napasnya masih sesengukan pasca menangis hebat.
“Non kan tahu, aku ngikutin perjalanan cinta non. Tahu gimana perjuangan non, dan lihat gimana non menangisi dia. Aku ada di saat semua itu, sekarang non lagi sedih mana bisa aku meninggalkanmu gitu aja.”
Pengakuan Dina membuat Weini tergugah, dia memang selalu ada baik suka maupun duka yang dihadapinya karena Xiao Jun. “Terima kasih kak.” Weini berbalik memeluk Dina, menjatuhkan pelukan kepada sandaran hati yang tepat dan berbagi beban yang dipikul.
Dina tersenyum lalu menepuk beberapa kali punggung Weini, “Nggak perlu makasih non. Udah seharusnya kan berbagi rasa. Non kalo masih mau nangis, ya nangis aja.”
Dipersilahkan seperti itu oleh Dina, jelas memancing Weini meluapkan perasaannya. Bukan air mata yang ia tumpahkan tetapi ganjalan hatinya yang ia pendam sejak kemarin. “Kak, dia udah berubah. Bukan yang kita kenal lagi …”
“Berubah gimana non coba ceritain.” Pinta Dina dengan lembut dan masih memeluk Weini.
Dina heran mendengar cerita itu, bagaimana mungkin seorang pria yang begitu mencintai Weini bisa berlaku demikian? Mengabaikan ketika seharusnya bisa berkomunikasi lagi. Walau begitu, Dina harus memberi pendapat. Minimal agar Weini bisa menerima kenyataan dengan tenang.
“Mungkin lagi sibuk non, siapa tahu ntar lagi dibalas.” Jawab Dina berusaha positif thinking.
Weini menggeleng lemah, “Aku pikir juga gitu, tapi kalau lebih dari dua kali itu pasti kesengajaan kak. Ia memang nggak mau berhubungan sama aku entah kenapa. Kalo memang udah nggak pengen lanjut, ya udah ngomong aja! Kenapa harus pake sikap gini?”
Dina juga tak bisa berbuat banyak, walaupun ia tetap merasa bahwa Xiao Jun bukan tipe pria yang mudah berpaling hati, tetapi keyakinan itu tak punya bukti pendukung. “Ya, kita nggak tahu sih yang namanya cinta … kapan dia datang dan dia pergi. Tapi ya non, rasanya tuan Xiao Jun nggak begitulah. Aku kasih tahu satu rahasia ya, tetapi janji dulu non jangan marah lho.”
Weini hanya menjawab Dina dalam isyarat. Dua jarinya membentuk V sebagai simbol ia bersedia berjanji sesuai keinginan Dina.
“Mmm … janji loh non. Serius Nih.” Dina menyakinkan sekali lagi, ia takut Weini naik pitam setelah tahu kebenarannya.
“Iya kak, iya janji!” Akhirnya Weini buka suara, rahasia apa yang bikin Dina sangat ketakutan menceritakannya?
Dina tersenyum kaku, ia rada kikuk mengakui dosanya. “Ehem, menurutku non itu gadis paling istimewa bagi tuan Xiao Jun. Sekelas pria hebat kayak dia nggak bakalan mainin perasaan cewek lah. Kalo buat main-main mah, ngapain dia berani bayar mahal demi dicomblangin sama non.”
Weini langsung menatap heran ke Dina, kata terakhir Dina terdengar mencolok. “Maksudnya apa? Siapa yang comblangin kak?”
Kali ini tamat riwayat Dina, mendengar reaksi Weini barusan rada menurunkan keyakinan Dina bahwa ia akan selamat setelah pengakuan dosa. Sayangnya umpan sudah dilempar, maksud hati Dina ingin menghibur dengan cerita yang mungkin akan mengembalikan rasa optimis Weini, sepertinya bakal berakhir tak sesuai ekspektasi.
“Sebenarnya non, sorry banget ya. Aku dulu udah kadung terjebak tawaran mereka, aduh gimana ya ….” Dina menggosok hidungnya yang mendadak gatal saat salah tingkah.
“Jadi tuan Xiao Jun itu beberapa kali sewa aku jadi mata-mata non biar dia punya kesempatan buat deketin non. Ya gitu lah pokoknya. Jadi intinya, mana ada orang yang terlampau foya foya bayar orang buat comblangin kalau dia hanya nggak niat serius.” Timpal Dina, bicaranya lebih cepat saking gugup.
Weini terkejut, pengakuan yang sungguh serius. Ia baru sadar selama ini beberapa kejadian yang seolah kebetulan rupanya kerjaan Dina. Ironisnya Xiao Jun membayar untuk semuai itu? orang terdekatnya saja bisa punya rahasia, lantas mana yang beneran tulus tanpa embel embel imbalan?
“Tapi ya non, aku lakuin semua bukan semata demi uang. Dia memberiku tanpa aku minta, dan aku bersedia karena tersentuh sama kesungguhan dia mencintai non. Maka aku mantap bantu dia dapatin non. Tuan Xiao Jun terlihat keras kepala dan tegas dari luar, tapi aslinya ia sangat menjagamu. Jadi aku yakin, apapun yang dia
lakukan sekarang pasti demi kebaikan non juga. Entah apa itu, pokoknya dia pasti punya alasan. Beri dia kesempatan non, setidaknya sabarlah tunggu ia siap menjelaskan.”
Dina meraih dua tangan Weini, meyakinkannya dengan apa yang ia rasa dan ceritakan. Kini tiada rahasia di antara mereka. Sejelas apapun Dina membongkar rahasianya, Weini masih belum mampu menerima. Ia tak tahu harus berkata apa sekarang selain satu kata ini ….
“Entahlah ….”
***