OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 548 MEMBUKA HATI LAGI



Liang Jia duduk di sofa ruang tamu apartemen yang sudah dibiarkan kosong lama oleh penghuninya. Jika bukan karena kedatangan keluarganya, Weini mungkin tidak memerlukan tempat ini untuk ditinggali sementara. Weini datang menghampiri Liang Jia dengan nampan berisi teko kecil dan tiga cangkir kosong. Yue Fang masih belum keluar dari kamar setelah mengatakan ingin membersihkan diri sejenak.


“Ibu, kita minum teh dulu ya.” Ucap Weini dengan lembut, suaranya menyadarkan Liang Jia ari lamunan dan wanita tua itu memberikan senyumannya.


“Kamu kok repot-repot Hwa.” Ujar Liang Jia sembari menerima cangkir yang disodorkan Weini.


Weini menggeleng pelan, “Tidak repot kok ibu, di sini tidak ada pelayan. Aku sengaja meminta Jun untuk tidak mencarikan asisten rumah tangga, jadi selama di sini kita harus mengandalkan kemampuan diri sendiri. Hwa justru senang, Hwa bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak mungkin dilakukan di kediaman kita.” Ungkap Weini polos.


“Bagus juga idemu, ibu sudah lama tidak pernah memasak. Entah masih bisa masak atau tidak, tapi dengan begini ibu bisa mencoba memasak lagi. Hwa, kita siapkan makan malam sendiri bagaimana?” usul Liang Jia terdengar girang.


Weini mengangguk dengan semangat, “Baiklah bu, usul yang bagus. Tinggal sebutkan saja bahan apa yang ibu perlukan, Hwa akan meminta kak Dina membelikannya. Nanti kita masak bersama, setelah itu Hwa ijin ke tempat Grace sebentar ya Bu. Malam ini ada prosesi pelepasan lajangnya. Ibu tidak keberatan kan Hwa tinggal sebentar?” Tanya Weini takut takut karena ia tahu suasana hati ibunya masih belum sepenuhnya membaik.


Liang Jia tampak diam berpikir sejenak kemudian mengangguk, “Pergilah. Sampaikan salam ibu saja, semoga nanti malam lancar acaranya. Ibu hanya bermasalah dengan ayahnya tapi tidak ada perasaan apapun pada Grace. Kalian anak-anak hanyalah korban, ibu tidak bisa menyalahkan.” Ujar Liang Jia, yang sekaligus membuka kesempatan bagi Weini untuk membahas masalah ini.


“Ibu, kalau boleh Hwa ikut bicara... sebenarnya paman Kao Jing sudah menunjukkan sikap penyesalannya. Hwa lihat paman sangat menderita, bisakah ibu memaafkannya dengan tulus?” Lirih Weini takut salah bicara dan malah menyinggung perasaan ibunya.


Liang Jia malah menghela napas kasar, pandangannya menerawang ke sisi lain, menatap jendela yang terang karena tirainya terbuka. “Mau menyesal bagaimanapun, ayahmu tidak akan hidup kembali karena penyesalannya. Ibu masih belum bisa memaafkan kesalahan dia yang telah membuat kamu menderita dan terpisah sekian lama dari ibu.”


Weini diam sejenak, membiarkan hati ibunya sedikit tenang sebelum ia mengutarakan pendapatnya lagi. Jika bukan berhadapan dengan ibunya, mungkin Weini akan mengambil tindakan lebih jauh dengan kekuatan sihirnya. Misalnya mengajaknya meminum teh yang telah dibubuhi mantera pelupa ingatan, tapi ia tidak ingin melakukannya pada orang terdekat, karena ia mempunyai harapan agar ibunya bisa memaafkan, mengampuni dengan hati yang lapang. “Ibu, dia juga kehilangan satu satunya anak laki-laki. Paman juga tak kalah menderita, kita semua di posisi impas. Sekalipun memang benar paman yang jadi dalang masalah di keluarga kita, tapi ini bukan sepenuhnya salah paman. Aku yakin paman juga di bawah pengaruh kekuatan jahat yang memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan keuntungan. Hanya saja, Hwa tidak berani bicara banyak soal itu karena Hwa sendiri belum bisa memastikannya.” Desis Weini, mencoba terbuka pada ibunya dalam hal sihir.


Liang Jia terdiam, menimbang apa yang diucapkan Weini. Ia pun tahu bahwa ada masalah internal dalam klan Li yang ternyata mempunyai kemampuan sihir, seperti yang Haris ceritakan. Dan Weinilah yang menguasai kekuatan itu sekarang, hal itu pula yang Liang Jia takutkan jika terjadi sesuatu dengan putrinya.


“Ibu, mungkin sekarang masih sulit untukmu membuka hati bagi paman. Tapi Hwa mohon, ibu bisa pertimbangkan lagi di kemudian hari, baik aku maupun Jun juga tidak menaruh dendam padanya. Setelah penyesalan yang paman tunjukkan, dan saat aku melihat detik kematian putranya, aku tidak bisa membencinya sedikitpun. Kehidupan kini sudah membaik untuk kita, sedangkan paman sudah menjalani hukumannya dengan dicoret dari keluarga dan tidak punya apa-apa. Apa menurut ibu, hukuman untuknya masih belum sepadan?” lanjut Weini, meminta Liang Jia membuka hati sepenuhnya agar bisa mengampuni Kao Jing.


“Hwa....” Liang Jia menatap putrinya dengan sepasang mata berkaca-kaca, bahkan anak gadisnya yang baru dewasa saja sudah bisa mengajarkannya menjadi seorang yang pengampun, padahal jelas Weini lebih menderita karena perbuatan Kao Jing, tapi ia dan Xiao Jun justru tidak menyimpan dendam dan sungguh memaafkan.


Weini meraih kedua tangan ibunya untuk digenggam, menunggu kata-kata yang hendak dilontarkan wanita itu. Meskipun ia tahu apa yang ada di benak ibunya, tetapi lebih baik memberi kesempatan padanya untuk menyuarakan secara nyata.


“Hwa, kamu benar... tidak seharusnya ibu membenci dia seperti itu. Sehancur apapun, ikatan keluarga tiak bisa dipungkiri. Ada darah dan daging yang berasal dari satu keturunan. Baiklah, ibu akan menurutimu, kita datang untuk bahagia, bukan seperti ini yang ibu mau.” Jawab Liang Jia seraya tersenyum lembut.


Weini tersenyum senang, memeluk ibunya dengan erat. “Terima kasih ibu.”


Liang Jia mengelus pundak Weini yang mendekapnya, “Ibu punya ide, bagaimana kalau kita masak bersama ibu mertuamu juga. Nanti masakannya kamu bawa ke tempat Grace. Acara syukuran juga harus ada hidangannya, mungkin dia sudah menyiapkannya tapi ibu mau memberikan padanya juga.”


***


Makan malam yang terasa hangat suasananya, sejenak dua keluarga dapat melebur bersama tanpa memikirkan status yang biasanya menyekat mereka di negara asalnya. Keluarga Weini dan Xiao Jun tampak menikmati makan malam hasil masakan Liang Jia dan Xin Er.


“Emmm... ini makanan terlezat yang pernah aku makan. Ibu dan nyonya memang hebat, koki yang luar biasa.” Puji Li An yang tampak sangat berselera menyantap makanannya. Ia tak pernah berselera seperti ini ketika hamil dan makanan yang dimasak ibunya terasa menggugah selera.


“Eh, jangan panggil nyonya lagi. Kedengarannya kurang nyaman, mulai sekarang panggil saja tante. Terima kasih ya Li An, sudah suka sama masakan tante.” Gumam Liang Jia yang tersenyum senang mendengar pujian dari setiap orang yang mencicipi masakannya.


Semuanya tampak tersenyum, namun yang paling bersemangat adalah Li An. “Baik tante, akan ku habiskan semuanya nanti.” Ujar Li An bersemangat.


Xin Er menatap Weini dengan teduh, “Hwa, bukankah kalian masih ada acara? Sepertinya sudah waktunya.” Ujar Xin Er yang paling hobi mengingatkan waktu kepada siapapun.


Liang Jia dan yang lainnya menatap Weini, “Iya Hwa, antarkan ini ke tempat Grace ya. Jangan makan terlalu kenyang nanti tidak bisa makan di sana.” Ujar Liang Jia mengingatkan.


Weini menatap bergantian pada dua ibunya kemudian mengangguk, “Baik ibu, setelah ini Hwa, Dina, dan kak Li An akan ke sana.”


Hanya Yue Fang yang menolak untuk ikut karena ialebih antusias mengikuti Lau yang bersedia mengantarnya keliling kota. Sementara Xiao Jun, ia pun punya acara dengan calon pengantin pria yang juga menggelar acara di kediamannya. Mereka akan berpencar sejenak namun pastinya akan kompak bersatu keesokan harinya di acara pernikahan.


Tak lama setelah itu, acara makan malam pun usai. Liang Jia dan Xin Er memastikan ulang masakan yang akan dibawa Weini dan Dina ke tempat Grace. Tidak ada yang kurang, dan rasanya yang lezat semakin menambah senang kedua wanita tua itu agar mereka yang mencicipi masakannya merasa puas.


“Sampaikan salamku untuk Grace ya, Hwa.” Seru Liang menitip pesan pada putrinya.


“Apa ibu tidak berniat hadir? Grace pasti senang melihat dua ibu hadir di acaranya.” Pinta Weini yang mengingatkan sekali lagi.


Liang Jia menggeleng seraya tersenyum, “Dua ibumu ini sudah tua, sudah kadaluwarsa, nggak cocok hadir di malam kembang. Pokoknya sampaikan saja salam ibu, besok baru hadir di pestanya.”


Weini tidak bisa membujuk lebih jauh lagi, yang pasti ia merasa lega karena bisa melihat Liang Jia berpikir jernih dan mulai mengikis rasa tak senangnya kepada Kao Jing. Ia yakin, seiring waktu yang akan menyembuhkan luka, hubungan keluarga yang retak inipun akan merekat kembali, meskipun meninggalkan bekas dan retakan yang rentan pecah, namun selagi masih ada hati untuk menengahi konflik yang ada, Weini yakin pasti akan ada jalan untuk kembali bersatu.


❤️❤️❤️