
“Nona Grace sudah siap?” Lau bertanya pada Fang Fang yang membukakan mereka pintu. Xiao Jun berdiri di belakang pengawalnya dengan setelan casual dan terlihat lebih santai, berbeda dengan kesehariannya yang
sering mengenakan pakaian formal. Misi kepergiannya kali ini bukan untuk urusan kerjaan, pun bukan untuk menghadap Li San, ia perlu sedikit ketenangan yang bisa ditunjang dari penampilan luar yang terkesan santai dan dingin.
“Ng, ayo berangkat.” Jawab Grace yang muncul dari belakang mengejutkan Fang Fang yang tak menyadari kedatangannya. Grace memonopoli pertanyaan yang ditujukan pada pelayan manisnya hingga Fang Fang tak perlu lagi menjawab.
“Ayo!” Sebuah suara susulan dari belakang Grace yang tak asing dan membuat Xiao Jun mengernyit heran. Sejak kapan Stevan di sana dan apa maksud perkataannya barusan?
Grace memahami kebingungan Xiao Jun, ia tersenyum seraya menggelengkan kepala. “Dia hanya mengantar kok.” Ujar Grace yang melegakan Xiao Jun serta Lau.
Xiao Jun menyeringai sejenak, “Sepertinya cinta kalian sudah dalam secepat ini, hanya ke rooftop saya harus diantar segala?” Ledek Xiao Jun, tawa kecilnya pun terdengar menggoda pasangan baru itu.
Grace tersipu malu mendengarnya, untung saja Stevan sigap mewakilinya memberi klarifikasi. “Namanya juga pasangan baru, lagi hangat-hangatnya. Loh, Weini nggak datang nganterin?” Tanya Stevan yang celingukan mencari sosok Weini tapi tak menemukannya.
“Dia tidak selebay kamu. Sudahlah, pesawat sudah menunggu. Kalau tidak ada urusan lain lagi, segera ke atas.” Ucap Xiao Jun yang mengingatkan agar mereka segera beranjak dari apartemen.
Stevan meraih jemari Grace untuk digenggam, sepanjang berjalan mereka terus bergandengan dalam diam. Fang Fang tersipu malu dan menunduk, ia berjalan di belakang pasangan yang sedang menunjukkan kemesraan. Tak banyak barang yang dibawa Grace, hanya satu koper kecil yang berisi alat makeup serta keperluan pribadi lainnya. Tidak ada satu setelpun baju yang ia bawa, selain pakaian yang menempel di tubuhnya saat ini. Grace sungguh
berencana tidak menetap lama di sana, bahkan andai bisa ia ingin pergi dan kembali hari ini juga.
Jet pribadi sudah menanti penumpangnya, Xiao Jun dan Lau melangkah masuk tanpa memerdulikan Grace yang berjalan pelan bersama kekasihnya. Fang Fang menyerahkan koper pada nonanya, inilah batas pengantaran
serta pelayanan yang bisa ia lakukan. Grace tersenyum melihat Fang Fang yang menunduk menyembunyikan kesedihan, begitupun dengan Stevan yang menatapnya lekat dan berat melepaskan genggaman tangan mereka.
“Kalian jaga diri ya, aku janji nggak akan lama di sana.” Ucap Grace menenangkan dua orang yang masih berwajah sendu itu.
“Janji ya, sayang! Dan janji jangan macam-macam dengan siapapun di sana.” Pinta Stevan manja.
Grace tertawa kecil seraya mengelengkan kepala. Tatapannya mengkode Fang Fang yang dengan cepat dipahami oleh pelayan itu.
“Baik nona, jaga diri anda.” Jawab Fang Fang yang mengerti maksud Grace yang menyuruhnya menjaga Stevan.
Grace menyudahi adegan perpisahan ini, ia membalikkan badan dan berlari menaiki tangga jet sembari melambaikan tangan. Matanya tak sanggup menatap langsung, namun tangannya ingin menunjukkan perasaan bahwa ia pun sebenarnya tak ingin berpisah.
***
Xiao Jun menyandarkan tubuh di kursinya, matanya mencoba terpejam walaupun perjalanan belum juga dimulai. Lau mengambil posisi duduk di belakang, membiarkan kursi di sebelah Xiao Jun ditempati oleh Grace sesuai permintaan tuannya. Grace melenggang menuju tempat duduknya, ia mengernyit saat melihat kursi yang kosong justru di sebelah Xiao Jun.
“Tumben mau duduk di sebelahku?” Tanya Grace heran, ia sudah menjatuhkan tubuh pada kursi empuk itu.
Semua penumpang sudah berada di dalam, jet pun lepas landas dan Grace melambaikan tangan pada Fang Fang dan Stevan dari jendela. Xiao Jun masih terdiam, belum berniat menjawab pertanyaan dari gadis yang
konsentrasinya masih terbelah dua. Begitu Grace menghela napas dan mengarahkan pandangan ke depan, barulah Xiao Jun buka suara.
Grace menatap Xiao Jun dengan tajam, atmosfirnya seketika berubah tegang. “Katakan saja, aku siap mendengar.”
“Aku akan mendesak mereka mempercepat pernikahan menjadi besok. Tugasmu adalah menyetujui rencana ini walau terdengar gila.” Jelas Xiao Jun mantap.
Grace terguncang, “Secepat itu? Bukankah kita coba negosiasi dulu, siapa tahu mereka berubah pikiran dan tidak perlu mengancam kita menikah.” Tolak Grace yang masih belum menerima pernyataan Xiao Jun.
Xiao Jun menggelengkan kepala, “Harus besok Grace, atau kita kalah telak.” Kecam Xiao Jun, ia menekankan kata-katanya hingga Grace tak bisa lagi membantah.
Grace menjambak ringan rambutnya, ia bahkan membuang muka dari Xiao Jun. “Oh, aku bisa gila. Kalian menganggap pernikahan itu seperti permainan, membuatku hilang respek saja! Impianku tentang lamaran manis, pesta pernikahan yang bak putri dalam dongeng, semua angan manis itu rusak karena ini semua.” Umpat Grace kesal dan tak habis pikir kenapa nasibnya tak seberuntung gadis biasa di luar sana.
Xiao Jun enggan menanggapi luapan amarah Grace, ia memilih menatap langit cerah dari jendela di sampingnya. Grace kembali menatapnya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Apa Weini tahu ide nekadmu ini?”
“Tidak.” Jawab Xiao Jun singkat.
Grace kembali menarik rambutnya, kebiasaan baru yang tak ia sadari ketika panik. “Jun, kau sudah pikirkan konsekuensinya? Kalau rencanamu meleset, kita akan terjebak pernikahan palsu. Cukup tunangan palsu saja sudah membuatku hancur, apalagi sampai menikah? Oh, aku bisa gila!” Lagi-lagi Grace mengumpati diri sendiri.
Xiao Jun menatap dingin pada Grace, sedingin senyuman yang ia sunggingkan pula. “Grace, tugasmu hanya menurut saja. Selebihnya biar aku yang mengurus.”
Grace terkesiap, perlahan ia mengangguk karena takut dengan sorotan mata tajam itu.
***
Haris memanfaatkan kondisi rumah yang kosong untuk menghubungi seseorang. Weini pamit keluar sendiri tanpa tujuan jelas, Haris membiarkannya begitu saja. Ia tahu gadis itu sedang berusaha mengobati kesedihannya ditinggal
pergi oleh kekasih.
“Bagaimana kabar ibumu?” Suara Haris yang terdengar berat itu meminta kepastian kondisi Xin Er pada orang terdekatnya.
“Kami sudah membawanya pulang ke rumah, kondisinya cukup stabil dan aku menyiapkan tim medis yang sigap memeriksa kapanpun ia merasa tak enak badan.” Jawab Wen Ting dari seberang.
“Syukurlah, pastikan dia tidak kedinginan atau berada dalam suhu dingin. Racun di tubuhnya akan melemah dalam kondisi hangat.” Timpal Haris.
“Baik ayah.” Jawab Wen Ting tegas.
“Xiao Jun sudah berangkat, pastikan rencana kita berjalan sesuai harapan. Mereka pasti menikah besok, dan aku sungguh mengandalkanmu.” Pinta Haris penuh kesungguhan.
Haris tak pernah seserius ini mengharapkan bantuan pihak lain, nyaris segalanya bisa ia lakukan dengan mengandalkan kekuatan sihirnya. Namun kali ini, lain sudah ceritanya. Kegelapan yang tak bisa ia tembus dengan penglihatan mata batinnya, kini mulai menebar kesuraman. Kegelapan yang membuatnya menitikkan air mata karena tak mampu melihat akhirnya, setelah ini ia harus mengerahkan segalanya untuk merubah takdir, jika memang takdir itu menghendakinya merubah yang semestinya terjadi.
***