
Aku merasa telah mengenalmu, rupanya aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangmu.
Merasa paling mengerti kamu, padahal tak sepengertian kamu yang selalu ada untukku.
Memberimu kehangatan dan perhatian yang justru melukaimu.
Maafkan aku yang tak becus menjaga perasaanmu.
Kupastikan bila kau bertahan, kelak ku buktikan akulah yang paling memahamimu.
_Quote of Weini aka Yue Hwa_
***
Weini celingukan ke sekeliling kantor, sesaat ia bingung apa yang harus dilakukan. Xiao Jun meringkuk kesakitan memegangi dengan tubuh yang penuh keringat dingin. Ia tak menyangka pria sehebat dan sekuat Xiao Jun bisa tumbang juga.
“Apa yang salah? Kenapa mendadak sakit? Kita ke rumah sakit ya.” Weini berniat memapah Xiao Jun keluar namun pria itu nyatanya masih punya tenaga kuat untuk bergeming. Dicengkramnya erat tangan Weini agar gadis itu duduk di sampingnya.
“Hubungi paman Lau saja.” Perintah Xiao Jun. dalam kondisi ini ia lebih memerlukan Lau ketimbang ke rumah sakit.
Weini tak berani membantah permintaan Xiao Jun, ia sangat mencemaskan kondisi pria itu yang terlihat sangat menderita. Jika Lau lebih diutamakan daripada penanganan medis maka Weini hanya bisa menuruti kehendaknya. Tidak sulit menghubungi Lau dari ponsel Xiao Jun. pengawal itu seakan selalu standby 24 jam untuk tuannya. Ia bergegas kemari setelah Weini menceritakan kondisi Xiao Jun.
Lau sergap mendekati Xiao Jun tanpa menyapa Weini dulu. Terlihat jelas raut kecemasannya, Weini menyingkir dari samping Xiao Jun agar pengawal itu leluasa menanganinya. Ia melihat Lau memberikan sebutir pil putih yang segera diminum Xiao Jun.
“Nona terimakasih sudah menghubungiku. Saya bawa tuan kembali ke apartemen untuk istirahat. Nona bisa menjaganya di sana.” ujar Lau mulai terlihat tenang.
Xiao Jun menggeleng, ia menolak diajak pulang. “Nanti saja. Jangan buat mereka melihatku dalam keadaan begini.”
Lau dan Weini saling berpandangan, setelah mengatakan itu Xiao Jun dengan polos tertidur di sofa. Weini mengira pria itu pingsan lalu berusaha menggugahnya.
“Tenang nona. Itu efek penenang dan pereda nyerinya. Tuan akan membaik setelah ini, biarkan dia tidur.”
“Aku kira dia… pingsan.” Ujar Weini lirih, kecemasannya membuncah.
Ketegangan yang terlewati barusan akhirnya membuat Lau bisa berfokus ke hal lain, tatapannya tertuju pada peralatan makan yang belum dibereskan. Ia mulai curiga faktor apa yang memicu penyakit lama Xiao Jun
kumat padahal hampir setahun tidak pernah terjadi.
“Maaf nona, apa yang kalian makan bersama tadi?” tanya Lau agak menyelidiki Weini.
Gadis itu menunduk, pertanyaan itu seakan mencurigainya memasukkan sesuatu ke dalam makanan Xiao Jun. bahkan Lau kini mencurigainya, apalagi Xiao Jun nanti?
Lau tiba-tiba tertawa, ia tak menyangka Weini merasa dicurigai hanya karena ia terlalu serius bertanya. “Maaf membuat nona salah paham, saya hanya mau memastikan makanan apa yang memicu maag kronis tuan kambuh. Dia pantang makanan pedas dan berbumbu tajam.”
Weini meremas kedua tangan, perasaan bersalah seakan menikam hingga ke ulu hati. Awalnya ia berniat memberi perhatian dan ungkapan rasa terima kasih yang sederhana, ternyata ia malah melukai sang kekasih.
“Aku… ini salahku paman. Aku membawakan makanan seperti itu, dan memaksanya makan.” Weini menundukkan kepala, betapa egoisnya hingga tidak mengerti keterpaksaan Xiao Jun dan tetap mengambilkan sayur dalam
porsi banyak.
“Jangan terlalu menyalahkan diri, tuan bukan orang yang bisa dipaksa. Ia bersedia makan atas kemauannya.” Lau menghibur Weini, ia paham betul sifat Xiao Jun yang sangat menghargai orang yang ia cintai. Walaupun
“Paman, tolong ceritakan padaku apa yang Xiao Jun sukai dan tidak. Apa yang suka ia makan, apa yang membuatnya bahagia dan yang bikin dia marah? Aku ingin mengenalnya lebih dalam.” Pinta Weini dengan
memelas, ia merasa perlu menebus kesalahannya.
Rasa ingin tahu yang sangat besar itu sedikit menggelitik Lau, wajar bila Weini belum begitu mengenal Xiao Jun, proses perkenalan mereka hingga jadian tergolong alot. Saling menahan perasaan dan menunjukkan sisi egois masing-masing. Kalau bukan karena kejadian yang besar hingga Xiao Jun merasa terancam kehilangan, perasaannya tidak akan terdorong untuk saling mengakui ketertarikan mereka.
“Gimana ya?” Lau agak bingung harus mulai dari mana.
“Sebenarnya lebih baik nona mengenalnya langsung seiring waktu. Saya memang bersama tuan hampir dua belas tahun, tapi kurang etis kalau saya membocorkan privasi tuan.”
Jawaban Lau mematahkan semangat Weini, apa benar-benar tidak ada harapan untuk mengorek informasi dari Lau? Xiao Jun pasti sangat beruntung mempunyai pengawal seloyal itu. “Dui Bu qi (maaf).” Weini menyatakan penyesalannya yang terlampau obsesi mengorek hal pribadi Xiao Jun lewat perantara.
Lau tersentuh dengan sikap Weini yang tahu diri dan tidak memaksa lebih jauh. Mungkin tidak ada salahnya memberi dia bonus. “Tuan Xiao Jun nyaris tidak punya kekurangan selain maag kronis itu. Ia tidak rewel
soal makanan selama tidak melanggar pantangan. Dia displin, tegas, orang yang tertutup dan sayang keluarga. Itu saja yang bisa saya ceritakan nona.”
“Paman, bukankah Xiao Jun berkecukupan sejak kecil, kenapa dia bisa sakit maag? Apa waktu kecil dia bandel?” Weini terpancing bertanya, ia tak habis pikir orang yang tak kekurangan materi dan pangan itu bisa menyengsarakan lambungnya hingga berpenyakit kronis.
Pertanyaan itu mungkin terasa sepele bagi Weini, namun Lau kebingungan menjawabnya. “Itu… Ya, tuan muda sangat lincah dan aktif waktu kecil jadi sering telat makan karena kebablasan main.”
Weini merasa janggal dengan jawaban Lau, melihat kedisiplinan Xiao Jun rasanya mustahil ia keasyikan main sampai melewatkan makan. Sebagai pengawal, mana mungkin Lau tidak mengawasinya?
Dalam benak Lau, kenyataan yang sebenarnya terlintas bagai film yang diputar balik. Ia masih ingat betapa keras kepalanya Xiao Jun kecil menahan lapar lalu memberikan makanannya pada anjing kesayangannya. Hanya
karena ia tahu ibunya tidak mendapat cukup makanan dan kedua kakaknya mungkin serba kekurangan sementara ia menikmati segala kemewahan hidup. Ia masih anak kecil yang direnggut begitu saja oleh Li San sebagai anak. Ia tak punya kuasa untuk menolong ibunya, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjaga sikap agar tidak menyulitkan Xin Er. Ia mengira dengan menyakiti diri makan sekali sehari seperti jatah ibunya adalah cara untuk berbagi beban penderitaan. Sepolos itulah pikiran anak kecil yang akhirnya membuatnya menderita maag kronis saat remaja.
“Kelak kalo dia bandel lagi, aku siap menjitaknya.” Seru Weini bertekad. Ia mengepalkan tangan seolah siap melayangkan tinju.
Lau cukup lega, alasan konyolnya bisa diterima Weini tanpa banyak pertanyaan susulan. “Nona, saya siap mendukungmu.” Keduanya tertawa bersamaan membayangkan menjitak Xiao Jun.
“Siapa yang jitak?” Xiao Jun terbangun dan langsung menyahut pembicaraan mereka. Ditinggal tidur sejenak saja sudah dimanfaatkan untuk membicarakannya.
Lau segera membungkuk hormat sementara Weini canggung dan berdiri tak berkutit. “Kamu udah baikan?”
“Sangat baik malahan.” Seru Xiao Jun menahan diri. Ia mendengar semua percakapan Lau dan Weini. Untungnya Lau tidak menceritakan yang sebenarnya dan tahu bagaimana menghadapi rasa ingin tahu Weini.
“Paman, kuserahkan urusan kantor padamu.” Ujar Xiao Jun sambil berdiri dan menarik tangan Weini. Gadis itu belum punya persiapan hingga tidak sempat mengelak.
“Kemana?” tanya Weini yang merasakan ajakan paksa kekasihnya. Pria itu bahkan tidak menoleh, ia tetap berjalan di depan sambil menarik tangan Weini.
“Memberi kamu sedikit pelajaran!”
Lau tersipu malu mendengar jawaban telak Xiao Jun, ia bisa menerka pelajaran apa yang akan gadis itu terima.
Semangat nona! Hihihi…
***