OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 160 APAPUN DEMI MENDAPATKAN CINTAMU



Grace masih belum bersedia meninggalkan paviliun Xiao Jun, ia masih berdiri menunggu sambutan yang lebih hangat dari tuan rumah itu. Nada bicara yang kasar dan tatapan sedingin es kutub utara sungguh tak dapat diterima Grace, mengingat kesan pertama pertemuan mereka yang begitu manis kemarin mana mungkin pria itu bisa berpaling hati dengan cepat.


Xiao Jun terpaksa menatap wanita keras kepala yang enggan diusir secara halus itu, dari kedua bola matanya menyiratkan sebuah harapan agar Xiao Jun memperlakukannya dengan lembut. Ujung bibir Xiao Jun menyeringai, ia tak punya kewajiban untuk memenuhi harapan yang terlalu muluk dari wanita itu. Belum ada perintah lagi dari Li San usai pertemuan kemarin, dan tanpa perintah dari tuan besar maka Xiao Jun tidak perlu bersikap baik melayani Grace. Semua yang dilakukan harus masuk penilaian Li San demi mendapatkan pertukaran yang disepakati.


“Nona, kurasa kedatanganmu atas kemauan pribadi. Sebaiknya kamu segera kembali ke paviliunmu sebelum ketahuan tuan besar. Di rumah ini banyak aturan yang wajib dipatuhi selama kamu tinggal di sini.” Ujar Xiao Jun dengan tatapan dingin.


Grace cukup pintar dan peka membaca bahasa tubuh Xiao Jun yang tidak menginginkan keberadaannya, hanya saja ia tetap berusaha menolak kenyataan. “Kalau begitu kita bertemu di luar rumah ini saja, aku kemari mengajakmu sarapan. Ah, sarapan di luar juga ide bagus sekalian bisa jalan-jalan mengenal kota ini.” Seru Grace


masih mencoba menjinakkan Xiao Jun.


“Saranku segera pergi dari sini sebelum pengawal ayahku mengetahui kedatanganmu. Kalau kamu mau jalan-jalan, ajak saja saudaramu. Dia lebih punya banyak waktu untuk menemanimu. Maaf, aku masih ada urusan lain. Mohon nona tidak asal melanggar privasi orang tanpa persetujuan dari tuan besar jangan bertindak sesuka hati.”


Xiao Jun berjalan pergi meninggalkan Grace yang terpaku shock. Sikap yang berubah drastis sungguh sulit diterima, di mana senyum manis dan perlakukan lembut Xiao Jun padanya kemarin. “Apa aku bikin salah sama dia?” Grace berjalan lunglai keluar dari paviliun Xiao Jun.


Di depan gerbang, pelayannya dengan wajah ketakutan bergegas menghampirinya. “Nona, gawat. Kita sudah ketahuan, pengawal nyonya besar diutus kemari untuk menjemputmu menghadap nyonya Liang Jia sekarang.”


Grace mengernyitkan dahi, “Aunty mau ketemu aku, apa yang harus kau takutkan? Ayo temani aku ke sana. Kebetulan ada yang mau aku tanyakan pada aunty.”


Pelayan itu bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya, ia lebih cemas akan nasibnya ketimbang Grace. Sesalah apapun Grace masih akan diampuni dan diberi maklum, tapi untuk pelayan rendahan seperti dirinya bisa dibiarkan hidup saja sudah bersyukur. Ia tanpa daya tetap mengekori langkah Grace menuju paviliun Liang Jia.


Grace merasa seperti mendapat angin segar, perlakuan kurang mengenakkan dari Xiao Jun akan segera ia adukan pada Liang Jia. Grace yakin sebagai sesama wanita, ibu Xiao Jun itu pasti mengerti perasaannya dan mungkin akan menegur Xiao Jun agar lebih bersikap manis padanya seperti hari kemarin.


Harus Grace akui kekayaan pamannya tak tanggung-tanggung, rumah para penghuninya saja boleh bersaing dengan kemegahan istana jaman dulu. Ayahnya pernah cerita bahwa rumah ini adalah warisan dari leluhur mereka yang turun temurun dirawat bahkan dipugar agar desain asli bangunannya tetap terjaga. Grace memasuki pelataran


paviliun tempat Liang Jia tinggal, ada sebuah kolam dengan air mancur yang indah di sana. Ia menaiki jembatan yang menghubungkan ke halaman aula, di bawah air jernih itu banyak ikan koi besar berenang bebas dalam kolam teratai.


Liang Jia duduk di atas singgasananya, didampingi dua pelayan biasa yang sementara menggantikan tugas Xin Er. Grace dan pelayannya telah tiba, Liang Jia bisa melihat sikap Grace yang terlampau bebas. Alih-alih memberi hormat, ia bahkan berani langsung mendekati Liang Jia dan memeluknya sementara pelayan yang datang


bersamanya tengah berlutut hormat.


Liang Jia memejamkan mata menahan kegeramannya. Ia tidak membenci Grace melainkan kurang menyukainya, ditambah dengan fakta gadis itu adalah anak dari Kao Jing. Orang yang memprovokatori suaminya untuk membunuh Yue Hwa. Liang Jia berusaha keras agar dendam pribadi dengan orangtua tidak merambat ke anak, bagaimanapun ini bukan kesalahan Grace. Dalam penilaian sekilas Liang Jia, gadis ini cukup baik hanya saja perlu dibina.


“Ehem, kau bisa melepaskanku sekarang dan duduklah di bangku bawah.” Liang Jia mendehem serta meminta Grace sedikit tahu diri.


Perintah itu terdengar berintonasi sama dengan Xiao Jun hingga membuat Grace berkecil hati. Keramahannya tidak mendapat sambutan yang setimpal,  ia merasa seperti virus yang perlu dijauhi atau bahkan disingkirkan. Grace melepas pelukan itu kemudian dengan mulut membisu menuruti kehendak Liang Jia. Ia menempati sebuah bangku di sebelah kiri dari singgasana nyonya besar. Pelayan di kediaman itu langsung menyuguhkan minuman untuknya.


Liang Jia sadar sikapnya barusan membuat gadis itu terdiam, tapi sesuai perintah Li San bahwa mulai hari ini ia dipercayakan untuk membentuk karakter Grace. “Aku mengundangmu kemari untuk menyampaikan beberapa hal yang perlu kamu ketahui. Selama tinggal di sini dengan status calon penggantiku sebagai nyonya besar Li, ada


banyak hal yang harus kamu pelajari. Mulai hari ini, Bibi Gu yang akan mengajarimu tata krama sebagai wanita terhormat.”


Seorang wanita dengan seluruh rambut penuh uban dan dicepol rapi. Bibi Gu langsung membungkuk hormat pada Liang Jia kemudian berjalan menghampiri Grace. Senyum wanita tua itu terlihat elegan, meskipun minim riasan dan keriput yang separuh menguasai wajah tak melunturkan kecantikan dan kharismanya. “Salam untuk nona Grace.”


Grace mengamati wajah bibi Gu dan Liang Jia secara bergantian, hati kecilnya meronta dan merasa diremehkan. Ia sudah dibekali banyak ilmu pendidikan, untuk apalagi belajar dari seorang wanita tua tentang tata krama? Apa istimewanya menjadi nyonya besar sampai harus melewati proses pelatihan? Dan segudang pertanyaan lain yang ingin ia ketahui jawabannya.


“Aunty, apa nggak terlalu berlebihan? Hanya untuk menjadi seorang nyonya saja harus dilatih?” keluh Grace, mendengarnya saja sudah terasa membosankan apalagi  jika harus menjalankannya.


Liang Jia menggelengkan kepala, ia sungguh prihatin dengan sikap Grace yang keterlaluan. “Satu lagi yang harus kamu ingat, di rumah ini tidak boleh ada panggilan bebas. Semua ada aturannya, istilah asing tidak diperkenankan. Selama kamu masih berstatus calon istri putraku, kamu harus memanggilku tante.” Seru Liang Jia tegas.


Grace merasa down seketika, ia mulai sadar bahwa Liang Jia tidak menyukai panggilan seperti itu. Apesnya ia berulang kali memanggilnya dengan sebutan yang umum di tempat tinggalnya dulu. Yang belum ia ketahui, mengapa sikap Xiao Jun berubah drastis terhadapnya? Pasti ada sikap yang kurang berkenan di hatinya.


Aku benci dengan aturan, kekangan, ketidak bebasan, betapa kolotnya mereka yang masih menerapkan tradisi kuno. Tapi aku menyukai Xiao Jun, aku ingin diperlakukan manis seperti kemarin. Ingin lebih dan lebih bersamanya, jika memang sikapku harus diubah, tata krama harus kupelajari, asalkan dia tertarik padaku … aku tak keberatan menjalaninya. Grace memikirkan dengan matang konsekuensi dari keputusannya, selama ia berjuang demi Xiao Jun maka tak ada yang perlu ia kuatirkan.


“Aku mengerti tante. Aku akan menuruti perintahmu dan belajar dengan bibi Gu mulai sekarang.”


***