
Kediaman Li tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan Yue Xiao. Hari baik yang ditentukan oleh Haris yang telah memperhitungkan pula kapan pernikahan putranya akan digelar, membuatnya mencari hari yang tidak terlalu mepet agar tidak terkesan mendesak. Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, keluarga Li menikahkan putrinya. Beberapa tetua sebenarnya menentang pernikahan Yue Xiao, apalagi Yue Hwa dan meminta keluarga tersohor itu menunda pernikahan hingga tahun depan. Namun untungnya saat Weini meninggalkan rumahnya sebentar, dan Haris dipercayakan untuk menggantikan Weini mengurus beberapa hal, kesempatan itulah digunakan Haris dan penasehat He untuk mengambil hati para tetua hingga menyetujui pernikahan dua putri Li dalam waktu dekat ini.
Tentu saja tak terlepas dari persyaratan yang harus kedua putri itu lakukan. Haris pun menyanggupinya, dan memang menitik beratkan pesan terakhir Li San yang meminta Weini segera menikah agar tidak terbelenggu masa berkabung tiga tahun. Alasan kuat itupula yang tidak berani dibantah oleh para tetua, karena setinggi apapun adat, tetap amanah terakhir dari orang yang telah meninggallah yang diutamakan.
“Lampionnya diletakkan satu pasang di sini juga.” Seru Liang Jia yang tampak begitu bersemangat mengawasi kerja para pelayannya. Baru kali ini pula ia terlibat langsung mengurusi ***** bengek persiapan ritual pernikahan putrinya. Sewaktu pernikahan Yue Yan saja, Liang Jia tidak berani ikut campur karena takut berselisih pandang dengan Li San. Ia memilih diam dan menuruti selera suaminya, daripada terkesan mengacaukan hari baik putrinya hanya karena perbedaan pendapat.
Xin Er mendekati Liang Jia, melihat keseruan wanita tua itu dari jarak dekat. Liang Jia tersenyum senang saat menyadari Xin Er berdiri di sebelahnya. “Menurutmu lebih bagus pernak pernik kecil itu digantung di ruang utama atau di luar saja. Aku menyukai corak burung phenonix ini di tempel di dinding sana. Bagaimana menurutmu Xin?”
“Selera nyonya boleh juga, aku juga merasa lebih cocok ditaruh di sana.” Jawab Xin Er yang manggut-manggut dan tersenyum lepas pada nyonyanya.
Liang Jia lebih terlihat puas lagi, namun ia mengalihkan pandangan dari Xin Er, celingukan sebentar lalu menyerah karena tidak berhasil menemukan yang ia cari. “Di mana Wei? Aku belum melihatnya sejak tadi.”
Xin Er sudah tahu pasti nyonya besar itu mencari suaminya, “Wei sedang keluar sebentar nyonya, katanya Gong Zhu dan Li Jun akan pulang hari ini. Wei menyiapkan sesuatu untuk menyambut mereka.” Ujar Xin Er lembut.
Sepasang bola mata Liang Jia berbinar senang, kabar yang ia dengar sangat menyenangkan. “Hwa pulang hari ini? Astaga anak itu bahkan tidak mengabariku dulu.” Ujar Liang Jia sambil geleng geleng kepala, namun senyumannya belum juga kuncup. Bagaimanapun tidak bisa menutupi rasa senangnya saat mengetahui anak bungsunya akan kembali.
“Kami juga tidak diberitahu, tapi Wei mungkin punya ikatan batin yang kuat dengan mereka hingga bisa tahu tanpa dikabari. Mungkin mereka sengaja ingin membuat kejutan pada kita, yang penting mereka kembali dengan selamat, Nyonya.” Jelas Xin Er yang tetap berpegang pada pikiran positifnya.
“Ya, biarkan saja. Yang pasti nanti malam Hwa akan menemaniku lagi. Senangnya... akhirnya ada kebahagiaan di rumah ini. Aku sangat sangat bahagia.” Gumam Liang Jia dengan tarikan napas yang terdengar lega.
Dua wanita tua itupun menyibukkan dirinya meskipun tidak terlalu penting terlibat dalam dekorasi itu. Sembari menanti waktu berlalu, mengantarkan kembali anak anak kesayangan mereka kembali pada rumah yang sesungguhnya.
❤️❤️❤️
Setelah hampir empat jam perjalanan, jet yang ditumpangi Weini dan teman-temannya pun mendarat sempurna di pelataran kediamannya yang berhamparkan rumput hijau nan luas.
“Hwa, kita sudah sampai.” Xiao Jun membangunkan Weini yang tertidur pulas dengan mengelus lembut telapak tangannya. Sepanjang perjalanan Xiao Jun begitu bahagia bisa melihat secara dekat bagaimana polosnya wajah Weini saat tertidur. Cantik alami tanpa polesan berlebihan, tampilan seperti itu saja sudah membuat semua mata yang menatapnya terpesona. Xiao Jun boleh berbangga hati, yang lainnya hanya bisa sebatas mengagumi Weini. Namun ia bahkan bisa memilikinya lebih dari itu.
Weini membuka matanya dengan setengah terkejut, hal pertama yang ia lihat sangatlah mengesankan. Ia tahu telah sampai di tujuan terakhir dan yang paling menyenangkan adalah bisa bersama dengan pria kecintaannya. “Ng, apa aku ketiduran?” tanya Weini polos.
Xiao Jun menahan tawanya, mendengar pertanyaan Weini antara lucu atau imut. “Tidak. Kamu hanya ngorok sedikit.” Ujar Xiao Jun sengaja meledek, kemudian ia mengelus rambut Weini dengan manja. Apalagi saat melihat rona merah di pipi Weini yang begitu alami, gadis itu tengah malu-malu dibuatnya.
Dina menyelonjorkan sepasang kakinya yang pegel dan pasca kesemutan karena salah posisi duduk. Suaranya terdengar nyaring saat merenggangkan otot, “Akhirnya aku datang lagi ke sini. Eh bukan, aku datang buat tinggal di sini. Hore!” Seru Dina sangat bersemangat. Ia lekas berdiri kemudian jingkrak jingkrang senang. Seumur umur belum pernah membayangkan akan tinggal di istana, apalagi di era modern seperti ini masih ada yang rumah mewah yang bercita rasa seperti istana pada jaman kuno. Rasa hati Dina begitu bangga, sekalipun hanya tinggal sebagai pelayan saja sudah membuatnya merasa menjadi gadis yang istimewa.
“Eh? Suaraku mengganggu kalian ya? Maaf maaf.” Dina membungkukkan tubuhnya. Ketika menginjakkan kaki kemari spontan membuat ia teringat tata krama dari hasil pengamatan saat tinggal di sini beberapa saat lalu.
“Ayo Dina, kita harus turun duluan.” Ming Ming menepuk pelan pundak Dina, menyadarkan gadis itu agar menghentikan tingkah lebaynya. Mereka sudah berada di lingkungan yang sangat berbeda dengan Jakarta. Lingkungan yang penuh aturan ketat dan kesenjangan status yang begitu kentara. Apalagi Dina datang kemari bukan sebagai tamu lagi, melainkan untuk mengabdi pada klan Li.
Dina menoleh ke arah kekasihnya, kali ini ia harus menurut dan bungkam karena pria itu jelas lebih berpengalaman dari pada dirinya. “Baiklah, tolong ajari aku ya. Apapun yang kamu tahu, aku akan menghindari berbuat kesalahan sebisa mungkin.” Bisik Dina pelan, ia mulai bisa mengontrol suaranya.
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Dina antusias.
“Kita harus berjalan di depan tuan dan Gong Zhu. Ingat untuk memanggilnya Gong Zhu, kamu jaga sikap jangan sampai latah ya. Jalanlah dulu, biar aku yang bawakan koper mereka turun.” Ujar Ming Ming memberikan perintah pertamanya pada Dina.
Dina langung berdiri tegak dan memberi tanda hormat, “Siap komandan.” Ujarnya masih sempat usil dan tertawa. Saat Ming Ming menggelengkan kepala, Dina buruan kabur dan mengambil posisi di depan Weini. Mempersilahkan gadis kehormatan itu turun, Dina membungkukkan badannya seperti yang biasanya seorang pelayan lakukan saat Weini akan melintas.
Weini yang melihat sikap Dina yang masih canggung itu sontak geleng geleng kepala, tangan lembutnya pun menyentuh lengan Dina dengan pelan. “Kak, nggak usah kayak gitu dulu ya. Kakak masih aku anggap sebagai tamu, sampai aku menemukan posisi yang pas untukmu. Jangan sungkan ya, anggap seperti rumah sendiri.”
Dina menggeleng dengan cepat dan tetap membungkukkan badannya, ia tak berani menatap Weini saat bicara, persis seperti gadis pelayan lainnya. “Jangan nona, eh Gong Zhu... saya memang datang untuk bekerja padamu, jadi biarkan saya bersikap hormat pada anda. Btw, terima kasih atas kebaikan nona, saya sangat tersanjung.” Awalnya Dina memang tampak sangat meyakinkan, namun kata-kata terakhirnya langsung meruntuhkan keseriusannya dalam bersikap. Dina mengintip Weini lalu tersenyum lebar, khas seperti Dina yang biasanya.
“Turun yuk, Hwa.” Untung saja Xiao Jun yang berdiri di belakang Weini yang menyadarkan mereka untuk segera menghentikan kekonyolan. Mereka berempat pun turun dengan posisi Dina dan Ming Ming yang berjalan di depan.
Kepulangan sang nona penguasa yang tidak diketahui siapapun membuat Weini cukup lega karena tidak perlu melewati prosedur penghormatan. Tidak ada jejeran pengawal dan pelayan yang menyambutnya, ia bisa leluasa berjalan santai dengan Xiao Jun dan juga kedua temannya.
“Aku akan mencoba cara ini terus tiap pulang dari bepergian, lebih nyaman kalau tidak ketahuan orang rumah.” Ujar Weini tampak girang, caranya berhasil meskipun terkesan kurang sopan karena ia tidak mengabari ibunya.
Xiao Jun yang berjalan di samping Weini pun tersenyum penuh arti terselubung. “Kata siapa tidak ada yang tahu kepulangan kita? Coba lihat di arah jam tiga, siapa yang lagi jalan ke sini.” Seru Xiao Jun yang matanya lebih awas dan berhasil melihat kedatangan seseorang ke arah mereka.
“Eh?” Weini terhenyak, ia pun menoleh ke arah yang disebutkan Xiao Jun. Sepasang bola mata Weini berbinar, menyusul senyumnya yang mengembang penuh melihat seseorang yang datang menyambutnya. Kalau orang ini yang muncul, jelas Weini tidak akan menolak, justru senang karena ada banyak hal yang ingin ia ceritakan padanya.
“Ayah....” Pekik Weini girang, menyapa dulu kepada Haris yang sudah mendekat. Xiao Jun pun ikut melakukan hal yang sama, menyapa ayahnya lalu membungkuk hormat. Begitupun dengan Dina dan Ming Ming, mereka berdua lebih pantas lagi berlaku hormat.
Haris mengangguk pelan sebagai respon kepada anak-anaknya, ia menatap teduh pada Dina yang akhirnya telah memutuskan untuk ikut kemari. “Kalian pasti lelah sehabis perjalanan, aula utama sedang didekorasi. Jadi kalian bisa langsung istirahat di paviliun masing-masing. Oya, aku melupakan salam pembuka. Gong Zhu, selamat datang kembali. Dan juga Dina, senang bisa bertemu denganmu lagi.” Seru Haris yang sengaja sedikit berbasa-basi.
“Aula utama sedang direhab? Kok mendadak ya, ayah? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” gumam Weini heran.
“Bukan direhab nona, tapi sedang di dekorasi oleh para pelayan. Nona Yue Xiao lima hari lagi akan menikah.” Jawab Haris dengan tenang.
Weini terkejut, begitupula dengan Xiao Jun. Pasalnya kabar bahagia ini benar benar luput dari mereka. “Kak Yue Xiao mau nikah, kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Kalau tahu gitu kan aku bisa pulang lebih cepat, ayah.” Protes Weini.
Haris tersenyum lalu mengangguk, “Maaf nona, bukan bermaksud ingin mengabaikan anda, namun dalam hal pernikahan ini kan memang masih wewenang nyonya besar dan para tetua. Kami tidak ingin mengganggu waktu liburan anda dengan hal yang sebenarnya bisa kami tangani. Yang penting anda sudah pulang dan dipastikan bisa hadir dalam ritual pernikahan mereka.”
Weini manggut manggut, mengerti betul apa yang Haris jelaskan dan tidak ambil pusing lagi. “Syukurlah, yang penting semuanya berjalan lancar. Terima kasih ayah, pastinya ayah sudah melakukan yang terbaik untuk membantuku selama aku pergi.”
“Tidak masalah nona, mari kembali ke paviliun. Anda sudah dinantikan oleh nyonya besar.” Ujar Haris yang sekaligus memberi kode pada putranya agar mereka punya waktu untuk bicara empat mata setelah ini.
❤️❤️❤️