OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 236 PENTINGKAH SEBUAH PENGAKUAN?



Pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat bahkan cenderung menyengat, membuat ragu setiap raga yang merasakannya bahwa semalam ada hujan deras yang mampir ke bumi. Weini sudah terjaga sebelum kokok ayam menjadi alarm, ia bahkan sudah merapikan rambut curlynya. Gadis berhidung bangir itu tidak menyadari sejak kapan ia punya kebiasaan berdandan ketika suasana hatinya memburuk. Ia memoles bibir dengan warna yang condong peach, menguaskan blush on berwarna senada serta membubuhi kelopak matanya dengan warna pastel. Weini memperlakukan wajahnya bagaikan selembar kertas putih polos yang dilukis dengan beragam tinta


warna.


Dina terbangun dengan kantuk yang masih berat, ia mengucek mata dengan kedua tangan hingga matanya memerah. Dua bola matanya membesar, saat mendapati Weini duduk dengan penampilan anggun, cantik seperti


hendak ke pesta. Ia tergesa-gesa bangun, lalu mengemasi peralatan tidurnya.


“Aku kesiangan ya non? Sorry … Sorry.” Keluh Dina, ia tergopoh-gopoh meraih handuk dan baju ganti, hendak masuk ke kamar mandi.


Weini menoleh pada managernya, memberi seulas senyuman manis lantaran sikap Dina yang menggemaskan. “Baru jam enam pagi kak, santai saja.”


Dina melongo, ia nyaris roboh mendengar jawaban itu. Tampilan Weini mengecohkannya, demi apa coba artis cantik itu begitu sempurna pada jam enam pagi? “Non, masih waras nggak? Hari ini kita nggak ada syuting,


non mau kemana secantik ini?”


“Atau yang udah nggak waras itu aku ya?” Timpal Dina, ia dengan tampang linglung masuk ke kamar mandi.


Weini hanya menggelengkan kepala lalu kembali mematut diri di depan cermin. Wajahnya sudah selesai dipoles, tidak ada alasan lagi ia berlama-lama bercermin. Langkahnya penuh semangat keluar kamar menghampiri Haris yang sibuk di dapur bersama Stevan. Weini berdiri di pojok pintu, mendengarkan perbincangan seru dua pria itu.


“Om, aku bisa bikin masakan barat yang enak. Hmm… spageti, stick daging sapi yang empuk, apalagi ya?” Stevan terdiam memikirkan apa saja masakan andalannya.


Haris malah tertawa kecil mendengar menu masakan ala barat yang diabsen oleh Stevan. “Mendengarnya saja membuatku bingung, lidahku yang kampungan ini hanya suka menyantap masakan timur, Chinese food, apa kau


bisa masak itu?”


Giliran Stevan yang bingung sembari menggaruk kepalanya, “Aku belum pernah masak itu, om. Pasti bisa kalau dipraktekkan.”


Haris mengangguk, “Baiklah, ini saat yang tepat untuk belajar. Jadi asistenku sekarang, kita bikin sarapan enak.” Haris menyodorkan celemek untuk Stevan, dulunya Dina yang sering memakai itu ketika berguru padanya.


Weini tersenyum melihat tontonan itu, seperti reality show tentang kehidupan ayah anak di rumah. Haris tahu bahwa Weini berdiri di belakang sejak tadi, namun ia tak menggubrisnya. Biarkan saja ia sibuk menjadi penonton asalkan membuat dirinya terhibur.


“Trus ngapain lagi om?” Stevan sangat cekatan menyelesaikan tugasnya mengiris wortel, mengupas bawang dan bumbu lainnya. Saking cepatnya sampai menawarkan diri pada misi selanjutnya.


Haris menunjuk Stevan menjadi koki. Memberi pria muda itu kepercayaan untuk memanjakan lidah penghuni rumah ini pada momen sarapan bersama. Hingga Stevan menatapnya dengan tatapan yang sangat berarti, dan Haris tahu apa yang selanjutnya akan dia katakan.


“Om, bolehkah mulai saat ini aku memanggilmu ayah?” Stevan belum mengalihkan tatapannya pada Haris, penuh harap mendapatkan penerimaan.


Weini tersentak, ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan saking kaget mendengar permintaan Stevan. Sedangkan Haris masih terdiam, tetap tenang dan belum menyuarakan jawaban. Tak lama kemudian tawa Haris


membahana, membuat Stevan mengernyitkan dahi lantaran kebingungan.


“Anak muda, permintaanmu apa tidak berlebihan? Aku tidak punya keistimewaan apa-apa, untuk apa memanggilku ayah? Kau masih punya orang yang memang diakui sebagai ayah. Aku dan dia tidak ada bedanya.” Tolak Haris


secara halus. Ia memiliki tiga orang anak yang berantakan hidupnya selepas ia pergi, lalu mengakui anak majikan sebagai anaknya. Dan sekarang, ada lagi yang berharap menjadi anaknya. Sebutan itu bukan sekedar panggilan semata, ada tanggung jawab dari status itu.


Stevan menunduk kecewa, ia merasakan penolakan dari Haris dan mulai menggerutu. “Itu berbeda, om dan dia tidak bisa disamakan. Hah, sudahlah aku juga tidak bisa memaksa, mungkin sudah takdirku selalu ditolak. Anakmu


menolak jadi pacarku, dan om menolak jadi dipanggil ayah.” Stevan berkecil hati, rasanya seperti patah hati kedua kali.


Weini trenyuh melihat wajah Stevan yang menyedihkan, dalam hatinya berseru pada Haris agar pria itu memberi Stevan kesempatan. Ayah, terima saja dia. Dia hanya kurang kasih sayang.


Stevan tersenyum, ekspresi wajahnya penuh kebahagiaan. “Aku … aku akan jadi kakak yang baik buat Weini.” Ucap Stevan mantap, semantap ketika ia menyadari Weini berdiri di belakang mendengarkan entah sejak kapan. Mata


mereka beradu pandang, sejurus dengan senyuman dari Weini yang begitu menenangkan.


“Baiklah, ingat baik-baik itu. Jadi kakak yang baik buat adikmu.”Haris memberikan jawaban tanpa kata ‘ya’, tetapi siapapun tahu bahwa perkataannya barusan jauh lebih bermakna.


“Siap, ayah Haris.” Seru Stevan tersenyum bahagia.


Dian muncul dari belakang Weini dengan raut sewot ketika mendengar suara Stevan. “Ayah Haris? Apa-apaan coba? Aku telat banget ya sampe ketinggalan info, kok stevan bisa manggil om Haris ayah?”


Mereka bertiga – Haris, Weini, Stevan – hanya tertawa, tak satupun dari mereka berniat memberi penjelasan. Akhirnya Dina melanjutkan kesewotannya, “Kalau gitu aku juga mau dong manggil ayah. Boleh ya ayah Haris? Banyak anak banyak rejeki loh!” Rengek Dina, tampang memelasnya malah terlihat menggemaskan.


Haris tertawa kecil, ia harus memanfaatkan kesempatan ini. “Boleh, tapi temani om minum teh dulu ya.”


Dina dengan semangat penuh mengangguk kencang, “Ayo, mau di mana om? Tehnya udah siap belum?” Aku ambilin ya!” Dina tak sabaran lagi.


Stevan merasa iri melihat apa yang didapatkan Dina, “Ayah Haris, kenapa hanya Dina yang diajak? Aku juga mau minum teh bareng, ya kan Weini. Kita ngeteh bersama aja buat rayakan ini.” Stevan mengajukan usul yang


sebenarnya terdengar bagus, namun bukan pada saat ini. Haris hanya perlu bersama Dina, berdua saja.


“Kalian berdua siapkan makanan ya, tunggu kami kembali baru makan bareng. Sabar nak Stevan, hanya sebentar kok. Lain kali ayah traktir minum di luar.” Haris mengisyaratkan pada Weini lewat gestur tubuh. Wajah Weini sampai mengkerut melihat ayahnya, ia belum paham apa yang direncanakan Haris. Dan perlu waktu dua menit untuk mengartikan kode Haris, kini Weini paham rencana terselubung ayahnya.


Kak Dina yang malang. Gumam Weini, ia jelas tahu kelanjutan dari ajakan minum itu. Setelah seteguk air yang disodorkan Haris maka ingatan yang ingin dihapus pria itu dari memori Dina akan terhapuskan. Weini tahu


teorinya namun tidak dengan prakteknya, Haris masih tidak mempercayainya lantaran takut ia menyalah-gunakan mantera itu.


***


Dina duduk tak sabaran menantikan teh suguhan Haris. Ia sudah menawarkan diri untuk membuatkan minuman itu pada Haris, namun justru ia yang dilayani bak tuan putri.


“Nah, silahkan. Mari bersulang sebagai ayah dan anak.” Ucap Haris seraya tersenyum.


“Bersulang!” Pekik Dina dan dengan rakus menghabiskan secangkir teh manis itu.


“Dan lupakan!” Bisik Haris, sihirnya pun mulai ekerja.


***


Tambahan cerita : Menguak sisi lain Haris alias Wei Ming Fung.


Suara hati ini untukmu, putraku Wei Li Jun.


Aku sangat senang melihatmu kembali, berdiri tegak dalam jangkauanku. Setidaknya aku tahu bahwa kau baik-baik saja. Meskipun hatimu rapuh, dan tekadmu masih penuh untuk menemukanku. Putraku, apa menurutmu ayah


kejam? Sengaja bermain petak umpat denganmu, dan hanya aku yang tahu kebenaran ini? Apapun yang kau pikirkan tentangku, kelak kau pasti tahu jawabannya. Dalam hidup ini, alangkah senangnya jika kita bisa menjalani sesuai harapan. Namun bukan berarti hidupmu usai, ketika harapan tak seindah kenyataan. Berjuanglah sedikit


lagi, sampai kau mengerti bahwa kita berhak menentukan pilihan hidup dan bersiap menghadapi konsekuensinya. Aku akan muncul, saat kau sungguh membutuhkanku. Ini janji ayah! Jika saat ini aku belum muncul, itu berarti kau belum sepenuhnya membutuhkanku. Dan sebanyak apapun mereka yang mengaku sebagai anakku, kau tetap satu-satunya putraku. Kalian tak akan tergantikan! Aku mencintaimu, Jun.


***