OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 52 CINTA YANG MEMABUKKAN



Lau menunggu penuh cemas di apartemen seorang diri. Hingga selarut ini, tuan mudanya belum juga kembali. Ia memang diperintahkan untuk tidak menemani Xiao Jun, semua karena rencana Dina yang mengatur kencan dadakan dengan Weini. Lau menebak kencan tuannya pasti berhasil, siapa tahu mereka berdua sedang berduaan hingga lupa waktu. Membayangkannya saja sudah membuat lau tersenyum girang.


Semenjak ditugaskan menjadi pengawal pribadi Xiao Jun, kala itu tuan mudanya hanya seorang bocah berusia 7 tahun dengan kecerdasan di atas rata-rata. Namun hingga beranjak dewasa, Xiao Jun tidak pernah terlibat perasaan dengan gadis manapun. Bisa dikata Weini adalah cinta pertamanya. Jika tuannya bahagia, Lau pasti turut merasakan kebahagiaan itu. Apalagi belakangan ini Xiao Jun terlihat lebih bersemangat dan gembira, setidaknya ia


tidak hanya terobsesi masalah keluarga hingga mengesampingkan kebahagiaannya sendiri.


Pintu apartemen terbuka, Xiao Jun kembali pada saat Lau belum selesai memikirikannya. Pria tua itu menyambut kepulangan Tuannya dengan membawakan jas dan tas kerjanya. Lau bingung melihat kondisi Xiao jun,tampangnya tidak seperti orang yang habis dimabuk asmara. Bau alcohol mendominasi jas hitam yang ia pakai.


“Tuan, anda mabuk? Aku akan buatkan sup penawar mabuk.” Lau memberi hormat sebelum berlalu dari hadapan Xiao jun.


“Tidaaaak. Lau… siaapkan Vodka! Yang banyak!” Xiao Jun mabuk berat, bicaranya mulai ngelantur.


“Tuan, jangan minum lagi. Anda sangat mabuk sekarang.” Lau membopong Xiao Jun ke kamar namun Xiao Jun memberontak. Ia memilih bersandar di sofa sambil menyanggah kepalanya yang terasa berat.


“Mana minumanku!” teriak Xiao Jun emosi.


Lau tak kuasa melawan lagi, diambilkannya sebotol minuman keras yang direquest tuan muda. Ia sengaja mengambil gelas Sloki ukuran kecil agar Xiao Jun tidak minum lebih banyak lagi. Dibiarkannya Xiao Jun


menenangkan diri dengan alcohol sementara Lau ke dapur menyiapkan sup penawar. Ia tidak yakin Xiao Jun sanggup ke kantor besok pagi jika efek mabuknya belum teratasi.


Xiao Jun meneguk gelas demi gelas setiap wajah Weini terlintas, ia mengalihkannya dengan minuman. Menyakitkan saat teringat penolakan tadi, pertama kali ia jatuh cinta dan saat itu pula ia ditolak.


“Apa aku tidak pantas? Kamu mau yang seperti apa?” ceracau Xiao Jun.


Lau mencoba menghubungi Dina, apa yang sebenarnya terjadi hingga Xiao Jun pulang dalam kondisi sefrustasi itu. puluhan tahun melihatnya tumbuh menjadi seorang pria baik, tak sekalipun Xiao Jun menunjukkan kelemahan atau sisi buruknya seperti ini. Lau tak tahu harus bersikap bagaimana selain terus mengawasinya sampai ia menyerah dengan pelampiasannya.


***


“Tuan Lau, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada mereka? Rencanaku berjalan mulus sampai mereka satu mobil, setelah itu aku belum tahu lagi apa yang terjadi.” Dina menceritakan apa yang ia ketahui lewat telepon. Firasatnya tidak enak, mungkin kencan mereka tidak berjalan mulus hingga Lau menginvestigasi dirinya.


“Baiklah nona, aku ingin kamu cari tahu dari Nona Weini tanpa sepengetahuan Tuan muda. Kabari aku jika sudah dapat infonya!” Lau mengakhiri pembicaraan. Ia kembali mengecek keadaan Xiao Jun yang masih pulas tertidur.


Lau menghela napas panjang, “Sesekali tak apalah. Roda nasib naik turun, siapa tahu hubungan mereka bisa lebih baik setelah ini.” Ujar Lau yang iba menatap Xiao Jun. pria sekuat itu bisa tumbang karena cinta.


“Ng…” Xiao Jun berusaha membuka mata, kepalanya sangat berat hingga ia tak mampu bangun dari posisi tiduran.


“Tuan muda, biar ku bantu.” Lau meraih pundak Xiao Jun dari samping dan membantunya duduk bersender di ranjang.


“Jam berapa ini paman?” mata Xiao Jun masih menyipit, pencahayaan lampu di kamarnya terlihat silau padahal tirai sekitarnya tertutup rapat.


“Jam setengah satu siang tuan muda.”


“Apaaa…” Xiao Jun spontan berdiri namun ia terkulai di sisi ranjang lagi saat langkah pertama.


“Sebaiknya pulihkan kondisi anda dulu. Urusan kantor saya yang akan handel, tuan istirahat saja. Saya sudah buatkan bubur dan sup penawar mabuk.”


Mabuk? Ah… klise film semalam otomatis terputar pada kejadian semalam. Xiao Jun ingat ia mengantar Weini pulang dengan kesal. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam dan ia menurunkan Weini begitu saja di depan rumah


tanpa inisatif mampir menyapa ayahnya. Makan malam yang terselubung kencan itu bisa dikata jauh dari ekspektasinya. Ia mengira Weini menyukainya dan malam itu mereka akan resmi berpacaran. Nyatanya Weini mengelak dan merubah suasana romantis menjadi canggung. Setelah dari rumah Weini, ia mengendara dengan cepat dan berakhir di diskotik elit.


“Saya tidak pernah merasa direpotkan tuan muda.” Lau menyibak tirai hitam yang menutupi cahaya dari luar.


“Supnya diminum selagi hangat. Anda akan segera baikan.” Timpal Lau. Terkadang ia bisa menjadi secerewet itu pada majikannya. Semua karena ia terlalu peduli dan menyayanginya seperti anak.


“Paman, kejadian memalukan ini tidak akan terulang.” Xiao Jun meyakinkan dirinya sendiri, kekhilafan semalam akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya sangat malu.


“Tuan muda tidak perlu berkeras diri. Saat sedih carilah cara bahagia lagi. Saat menangis, cari cara tertawa lagi. Semua yang terjadi adalah wajar, anda juga manusia biasa yang perlu melampiaskan emosi.”


“Aku mengerti. Terima kasih!” Xiao Jun tersenyum pada Lau sebelum meneguk sup bening yang beraroma pekat.


Ponsel Xiao Jun berdering. Lau mengambilkannya dari atas meja, namun ia mengkode Xiao Jun siapa yang menghubunginya sekarang.


Xiao Jun terkejut, ia tidak siap menerima panggilan masuk itu dalam kondisi seperti itu. Dibiarkannya panggilan itu tak terjawab,  “Paman, bantu aku merapikan diri. Jangan sampai ia melihat kondisiku.”


“Baik Tuan muda.” Lau memapah Xiao Jun yang masih pusing ke kamar mandi. Pria itu mengumpulkan tenaga untuk mandi dan menghilangkan pengaruh alcohol sepenuhnya.


***


Beberapa menit kemudian, Xiao Jun meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Tinggal dirinya seorang diri di apartemen, Lau sudah pamit ke kantor sejak ia selesai mandi. Ia memencet password telepon genggamnya lalu memeriksa riwayat panggilan tak terjawab dan menelepon balik ke nomor itu.


“Li Jun, apa kabarmu?” sapa suara di seberang.


Xiao Jun terperanjat, suara yang ia rindukan sekian lama itu memanggil nama aslinya.


“Salam hormat untuk ibu. Apa kabarmu? Aku di sini baik.” Percakapan mereka beralih menjadi video call. Xiao Jun kehabisan kata-kata saking bahagia melihat wajah Xin Er. Wanita yang melahirkannya itu tak kalah terharu, anak lelakinya telah menjadi pria yang sangat tampan meskipun tidak mirip dengan wajah ayahnya. Xiao Jun memiliki wajah yang khas, tidak mempunyai kemiripan dengan orangtua bahkan saudaranya.


“Ibu, kenapa kau bisa menelponku? Jangan sampai Tuan besar mengetahuinya!” Xiao Jun tiba-tiba sadar ibunya melakukan hal yang sangat dilarang, akan fatal akibatnya jika Li San sampai tahu.


“Tenang saja anakku, ibu bersama nyonya besar di Guangzhou. Berkat nyonya besar pula, ibu diijinkan berobat di sini. Kau jangan kuatir ibu sudah sehat sekarang.” Xin Er segera menjelaskan keadaannya sebelum Xiao Jun cemas.


“Syukurlah. Ibu tolong jaga kesehatanmu. Aku belum bisa menemanimu di hari tuamu, maafkan anak yang tidak berguna ini.”


“Jangan berkata begitu. Kau sangat berbakti! Ibu menaruh harapan padamu. Oya, tuan besar ingin kau pulang menghadiri pernikahan nona pertama bulan depan tanggal 18.” Ujar Xin Er, Liang Jia yang  memberinya kesempatan untuk menyampaikan sendiri pada anaknya dan melepas kangen via


telepon.


“Kak Yue Yan menikah…” terdengar ironis bagi Xiao Jun, ketika kakak kandungnya menikah ia diancam jangan hadir namun saat kakak angkatnya menikah ia diwajibkan pulang. Permainan Li San menjauhkan dirinya dari keluarga asli nampaknya belum akan berhenti dalam waktu dekat meskipun ia sudah sepenuhnya menjadi anak penurut.


“Li Jun dengarkan ibu. Kau perlu mendengarkan kata hatimu, jangan biarkan siapapun mengekangmu. Ada saatnya kau harus berpijak pada batu pilihanmu. Pria keturunan Wei adalah pria kuat yang bertindak sesuai pemikirannya. Jika suatu saat dia terlampau batas menjadikanmu pion catur, kau berhak menolak. Jangan hiraukan ibu! Kita siap mati dengan terhormat seperti ayahmu.”


Xiao Jun paham, ibunya tak tahan melihat ia selalu dikendalikan Li San. Tapi untuk saat ini, Xiao Jun hanya bisa mengikuti permainannya sampai roda kembali berputar ke atas untuk keluarganya.


“Aku paham bu. Dan aku juga berfirasat ayah masih hidup.”


“Kalau kau yakin, ikuti kata hatimu. Cari ayahmu kembali, ibu mengandalkanmu!”


***