OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 331 MENGHILANGNYA SANG PENGUASA



Seorang pengawal bergegas masuk ke dalam kamar Liang Jia, kedatangannya demi menyampaikan informasi rahasia yang diselidikinya atas permintaan sang nyonya.


“Hormat kepada nyonya besar. Sampai sekarang kami tidak bisa menemukan tuan besar, menurut informasi pengawalnya, tuan diketahui masuk ke aula sejak kemarin dan belum keluar dari sana. Tetapi tuan pun tidak ada di dalam aula ….” Pengawal itu kehabisan kata-kata lantaran bingung dengan fakta yang tidak masuk akal itu. Mereka sudah melakukan penelusuran di dalam aula, selain tidak terlihat keberadaan Li San, pun yang lebih mengejutkan mereka bahwa singgasana yang biasa diduduki Li San kini ditempati dengan santai oleh Chen Kho dan ayahnya.


Liang Jia meremas sapu tangannya dengan jemari yang sudah gemetaran. Ia tampak berusaha menyembunyikan raut khawatirnya dan bersikap setenang mungkin di hadapan pengawal itu. Terlebih kedua putrinya mulai gusar mendengar berita itu.


“Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu. Pergilah, jika ada hal yang mencurigakan laporkan kembali padaku.” Perintah Liang Jia, kemudian pengawal itu membungkuk hormat dan berlalu.


Yue Xin dan Yue Xiao menghampiri Liang Jia dengan raut ketakutan. Sejak semalam Liang Jia meminta mereka tinggal sementara di paviliunnya. Selain untuk antisipasi menghindari Chen Kho yang bisa kapan saja mendatangi kediaman para gadis, Liang Jia pun merasa saat ini yang terbaik adalah saling berkumpul. Apalagi mereka tengah kehilangan sosok pelindung dalam rumah ini, satu-satunya pemimpin keluarga entah di mana sekarang. Tinggallah Liang Jia yang harus pasang badan melindungi kedua putrid an dirinya sendiri.


“Ibu, bagaimana sekarang? Apa mungkin paman telah ….” Yue Xiao seketika menangis dan tak sanggup meneruskan dugaan buruknya.


“Adik, jangan berpikir buruk. Ayah tidak mungkin semudah itu dikalahkan, mungkin ini siasat ayah. Benarkan ibu?” Ujar Yue Xin menyela pembicaraan adiknya.


Liang Jia hanya bergeming, segalanya masih terlihat abu-abu. Ia pun tidak tahu apakah ini hanya jebakan Li San atau memang benar yang diduga Yue Xiao, bahwa suaminya serta ayah dari lima putrinya itu telah dibunuh oleh kakak kandungnya.


“Ibu harus memastikan dulu, kalian tunggu di sini dan jangan keluar dari kamarku. Mengerti?” Tegas Liang Jia. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menghadapi kenyataan, bersembunyi di dalam rumah hanya mengulur waktu kematian. Cepat atau lambat, jika benar Kao Jing telah merampas kekuasaan, maka Liang Jia mungkin tak akan dibiarkan hidup lebih lama lagi. Ia tidak takut akan kematian, hanya saja nasib kedua putrinya akan ia perjuangkan agar tidak berakhir seperti dirinya ataupun Yue Hwa.


Yue Xin dan Yue Xiao hanya menurut dan menatap punggung ibunya yang berlalu dari hadapan mereka.


***


Derap langkah Liang Jia ketika memasuki aula pun terdengar oleh Chen Kho. Bunyi sepatu yang dikenakan wanita itu meskipun beralas karet dan tidak menimbulkan suara, namun tetap terdeteksi oleh indera pendengaran Chen Kho yang tajam. Pria itu menyeringai menantikan wanita yang dipanggil bibi itu masuk demi menginterograsinya.


“Di mana Li San?” Pekik Liang Jia tanpa basa basi. Ia menatap tajam pada Chen Kho yang duduk menyilangkan kaki di tempat yang biasanya Li San tempati.


Tawa Chen Kho yang mengejek terdengar sangat menjengkelkan bagi Liang Jia. Meskipun sedikit gugup, namun wanita itu tetap menegakkan wajahnya menatap lurus pada keponakannya yang lancang.


“Bibi, mengapa terburu-buru? Duduk dan bicarakanlah, aku masih punya hati untuk menerima keluhanmu.” Ujar Chen Kho, suaranya terkesan dibuat selembut mungkin.


“Oh ya, apa tidak salah bibi menanyakan paman kepadaku? Sebagai orang terdekatnya harusnya bibi lebih tahu di mana paman. Aku dan ayah pun mencarinya sejak kemarin.” Kilah Chen Kho dengan tampang tanpa dosa. Ia bisa setenang itu menyembunyikan kebenaran.


Chen Kho kembali tertawa, “Kenapa tidak boleh? Ini hanya sebuah kursi, bibi saja yang berlebihan menilainya.


“Kamu lancang! Sebagai keturunan Li, kamu pasti tahu makna kursi itu dan tak pantas kau duduki sembarangan! Turun dari sana sekarang! Dan berhenti berpura-pura, katakan di mana suamiku!” Kecam Liang Jia, ia berjalan maju beberapa langkah mendekati kursi Chen Kho, namun pria muda itu tak menunjukkan reaksi apapun atas gertakannya.


“Ya, kamu memang benar adik ipar. Sebagai keturunan Li, aku tahu betul syarat menduduki kursi itu. Dan kamu … Sebagai istri dari keturunan Li, apa kamu tahu makna benda ini?” Kao Jing tiba-tiba masuk lalu mewakili putranya berdebat dengan Liang Jia.


Seketika itu pula Liang Jia menoleh ke belakang, memastikan benda apa yang dimaksud kakak iparnya. Wanita itu terperanjat, mulutnya bahkan ternganga saat melihat barang yang tak asing baginya. Sebuah gantungan giok warisan yang tak pernah lepas sebagai hiasan ikat pinggang suaminya, yang bukanlah giok biasa. Itu adalah simbol kekuasaan yang dipercayakan bagi si pemegang giok dan diwariskan turun temurun dari generasi terdahulu. Sekarang benda sepenting itu berada dalam genggaman Kao Jing, air mata Liang Jia luluh detik itu juga.


“Kau? Teganya kau merampas hak adikmu! Di mana dia sekarang?” Pekik Liang Jia, perasaannya hancur beserta sekelumit pikiran buruk yang terus melintas. Li San tidak mungkin secara sadar memberikan benda berharga itu, semestinya benda itu diwariskan pada Xiao Jun sebagai penerusnya. Liang Jia yakin, Kao Jing pasti melakukan sesuatu yang buruk untuk merampas itu, bahkan kemungkinan terburuknya adalah pertikaian darah.


Kao Jing tertawa keras hingga perut tambunnya berguncang. Tangisan dan keputus-asaan Liang Jia malah dijadikan lelucon. “Kau selalu berprasangka buruk padaku sejak dulu, tapi harus kuakui bahwa dugaanmu selalu benar. Sayangnya kali ini sedikit meleset, aku tidak perlu memaksanya, dia dengan suka rela memberikan padaku. Karena memang seharusnya akulah pemilik tahta ini.”


Liang Jia menggelengkan kepala, ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Kao Jing. “Kau gila! Kewarasanmu sudah dibutakan oleh haus kuasa, apa kau pikir kau akan bahagia setelah mendapatkan semuanya? Ha ha ha … Jangan bermimpi! Kau tidak pernah puas, dan rasa itulah yang akan terus menyiksamu!” Kecam Liang Jia.


“Cukup! Wanita … Aku tak butuh nasehatmu. Lebih baik kau pikirkan caramu bertahan hidup karena aku tidak sudi memberikan tumpangan gratis pada orang yang tidak berguna seperti kamu!” Bentak Kao Jing.


Liang Jia melotot pada pria tua itu, ia sungguh muak padanya. Bahkan ancaman serius itu dikesampingkan oleh Liang Jia, meskipun tahu bahwa Kao Jing sungguh-sungguh dengan niatnya.


“Kecuali kau jadi wanita penghiburku, aku akan membiarkanmu tetap menikmati segala fasilitasmu di rumah ini.” Lanjut Kao Jing dengan suara melunak.


Liang Jia spontan meludahi wajah pria itu, tawaran menjijikkan itu tak sanggup membungkamnya lagi. Harga dirinya tercabik dan ia tak akan tenang jika tidak memberi perlawanan. “Lebih baik aku mati daripada harus hidup terhina di tanganmu!” Tegas Liang Jia kemudian bergegas angkat kaki dari hadapan dua pria tak tahu malu itu.


***


Kamu suka cerita ini? Yuk gabung di grup chat author dan ramaikan bersama para penggemar lainnya.


Author menantimu ^^