
Aku memandang bulan purnama malam ini
Dari langit yang sama tetapi tempat berpijak kita tak lagi sama
Pun ketika aku sengaja menunggu terbitnya fajar
Kau mungkin lebih dulu merasakan hangatnya sinar yang terbit dari timur itu
Kita punya hati yang tegar untuk menghadapi situasi
Namun yang paling ingin kuketahui adalah
Kapan kehabagiaan sejati itu tiba?
Kapan aku dan kamu akan berdampingan dan tak lagi perpisahkan?
_Suara hati Weini aka Yue Hwa_
***
Weini sengaja menunda tidurnya hingga hari berganti, entah ke mana rasa kantuk itu hingga mata dan kepalanya pun tak merasa berat karena sepanjang malam terjaga. Ia merasa ingin lekas melewati hari demi hari, agar waktu segera berlalu dan membawa kekasihnya kembali. Pembicaraan mereka semalam di telpon masih teringat betul dalam benak Weini, terbawa hingga ia terus merindukannya.
“Kami sudah menyatakan penolakan dan kondisi belum sepenuhnya tenang. Aku harus melakukan sesuatu untuk memenuhi permintaan keluargaku sebagai konsekuensi. Tapi tenanglah, semua pasti berjalan lancar sesuai rencanaku.”
Weini menghela napas saat kata-kata Xiao Jun terngiang, ia tahu betul tentu tidak mudah membatalkan sebuah ikatan yang sudah ditetapkan oleh keluarga, apalagi menyangkut pernikahan yang saling menguntungkan. Kecil kemungkinan keluarga Xiao Jun dan Grace akan menyetujui penolakan mereka.
“Apa permintaan mereka? Apa aku bisa membantumu?”
Weini teringat lagi reaksinya ketika Xiao Jun mengutarakan keluhannya. Meskipun terdengar egois, namun Weini sungguh ingin turut andil meringankan beban pikiran kekasihnya.
“Weini, aku hanya minta kamu tenang dan percayalah padaku. Tunggu aku kembali, pasti akan secepatnya.”
Ketegasan Xiao Jun membuat Weini menitikkan air mata saat itu, bahkan sekarang pun Weini masih menangis mengingatnya. Tak ada yang mengerti kekhawatirannya, kecemasan yang Weini pendam sendiri. Semua orang
seperti tengah menutupi sesuatu darinya, dan ia tak bisa berbuat banyak karena mereka adalah orang terdekatnya. Ia merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari Haris, Xiao Jun dan yang lain padahal Weini tahu ada ketidak-beresan yang ditutupi – entah apa.
“Kalian tidak mengerti… Aku paling benci keadaan ini! Merasa ingin membantu tapi tak dianggap berguna.” Desis Weini, ia mengusap air mata di pipinya. Muak dengan kenyataan yang tak kunjung membaik. Hingga ketukan pintu terdengar dari depan kamarnya, Weini menepis pikirannya kemudian bergegas beranjak dari ranjang.
“Waktunya sarapan, kau belum sikat gigi?” Goda Haris sembari menatap Weini yang terpaku menatapnya. Haris tahu betul bahwa gadis itu tidak tidur sepanjang malam, begitupun dengan Haris yang tak bisa terpejam sedetikpun. Mereka berdua larut dalam pikiran serta kecemasan masing-masing, tanpa bersedia berbagi rasa.
Dua mata Weini terasa panas, dalam hitungan mundur ia yakin air matanya pasti menetes. Tiga… Dua… Satu… Bendungan bening itu jebol tak tertahankan, bersamaan dengan gerakan tubuh Weini yang reflek memeluk Haris. Senyuman Haris lenyap berganti ekspresi wajah terkejut, kedua matanya membesar serta hati yang bergetar merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan Weini saat ini. Perlahan Haris mulai menguasai diri, senyumnya kembali merekam serta tangan yang mendarat di pundak gadis itu. Menepuk pundak tipis itu dengan lembut, keduanya berpelukan sejenak tanpa ada yang inisiatif merusak suasana haru dengan berbicara.
“Akhirnya ayah kembali, aku merindukan sikapmu yang seperti ini.” Lirih Weini dalam isakannya. Berhari-hari Haris menyekat diri dengan sikap formalnya, membuat Weini tak berdaya dan tak terbiasa diperlakukan sekaku itu.
Haris tersenyum, sulit baginya menetralisir perasaannya sekarang. Cukup kali ini saja, ia biarkan perasaan yang bicara. Cukup kali ini saja, ia melonggarkan batas antara seorang pengawal dan nona, karena jika menuruti takdir yang dikhawatirkannya, mungkin momen ini tak akan terulang lagi di kemudian hari.
“Masakanku keburu dingin, kau akan dihukum memanaskannya jika sampai dingin.” Haris kembali bercanda, kata-kata yang asal tercetus itu membuat Weini merenggangkan pelukannya. Bak anak kecil, Weini mengucap basah di kedua pipinya sembari menghentikan sesenggukannya. Belum juga reda sisa isak itu, Weini tertawa kecil lalu air matanya luruh lagi saat menatap wajah hangat Haris, raut yang begitu ia rindukan.
Haris tersenyum tipis, ia segera berjalan menuju dapur. Lebih baik segera menarik diri daripada terjebak dalam suasana haru babak kedua. “Aku serius dengan ancamanku, kalau sampai dingin masakannya kamu harus masak ulang.” Kilah Haris sambil berjalan, membiarkan Weini mengekori langkahnya dengan cepat.
“Iya ayah!” Jawab Weini seraya tersenyum sumingrah. Lebih sumingrah lagi saat melihat hasil masakan Haris yang luar biasa. Weini menghitung dalam hati jumlah mangkuk yang masing-masing berisi menu lain, ada tujuh jenis masakan yang di atas meja dan semuanya makanan kesukaan Weini.
“Wuaah, ayah… Dalam rangka apa masak sebanyak ini?” Tanya Weini yang matanya membulat takjub, perutnya merespon lebih cepat dengan bunyi krucuk yang nyaring.
“Hmm… Anggap saja merayakan hari baikan kita.” Ujar Haris sekenanya, tak luput dengan senyuman yang begitu tulus diobralnya sejak tadi.
Weini langsung antusias mendengar itu, ia menarik kursi kemudian mulai mempersiapkan diri untuk makan besar. “Baiklah, aku siap habiskan semuanya. Lupakan diet!” Ujarnya dengan semangat meletup-letup.
Haris mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari Weini. Ia mengerdipkan mata sekilas, menyadarkan diri agar tidak bertindak mencolok perhatian Weini. Diraihnya sumpit lalu mulai mengambil mie panjang umur serta beberapa sendok lauk. Ia harus makan dengan lahap dan dengan suasana yang hangat seperti dulu, puluhan tahun sudah ia menemani nonanya makan dan di meja makan ini banyak obrolan yang mereka ungkapkan sebagai selingan. Dan mungkin suasana ini kelak akan sangat dirindukan Haris.
“Lain kali makanlah yang lebih banyak, tubuhmu nyaris sekurus papan.” Ujar Haris cuek, kemudian mulai makan tanpa rasa berdosa sudah menyindir tubuh seorang gadis.
Weini nyengir menatap Haris, tak lama kemudian ia tersenyum lalu menjawabnya. “Tubuh ini aset, ayah. Kalau tidak dijaga, aku bisa terlihat gemuk di layar kamera. Tapi kali ini tenang saja, aku tak peduli soal diet, semua makanan ini pasti kuhabiskan.” Celetuk Weini bersungguh-sungguh, ia siap memelarkan perut demi menampung masakan yang khusus dimasak Haris untuk merayakan hari baik mereka.
Haris hanya tersenyum simpul, “Baguslah kalau begitu, lain kali aku masak lebih banyak lagi dan harus kau habiskan ya.” Goda Haris.
Weini langsung manyun, “Jangan keseringan ayah….” Pekiknya yang langsung direspon tawa kecil oleh Haris.
Lain kali nona, di lain kesempatan lagi….
***
Well, sedikit mau alay nih author hehe… Waktu nulis adegan mengharukan Weini dan Haris ternyata bikin author mewek, nggak tahu deh kamu yang baca gimana? Ikutan mewek nggak hehe…