OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 90 YANG PERTAMA DARIMU



Jangan terbuai! Bila kebahagiaan tengah menghampirimu, sekejab mata rasa itu bisa berlalu.


Jangan terpuruk! Sama halnya dengan kebahagiaan, kesedihan pun tidak ada yang abadi.


Tetapi andai waktu terhenti saat kau bersamaku seperti ini, aku tak akan pernah menyesali.


Please always be my side, Dear…


***


Sebenarnya masakan yang dibawa Xiao Jun dari restoran bintang lima masih kalah lezat dibanding masakan Lau, namun kebersamaan yang hangat ini menciptakan sensasi berbeda dari sekedar kenikmatan makanan. Selama


sebelas tahun Weini selalu makan dengan Haris, kini ia bisa semeja dengan Xiao Jun dan Lau. Weini berkhayalan tentang sebuah keluarga, makan bersama orangtua kekasihnya yang belum ia ketahui seperti apa wajahnya serta Haris.


“Jadi besok kamu kembali sekalah?” Xiao Jun berdiri di samping Weini lalu membuyarkan lamunan indahnya.


Haris dan Lau tak terlihat lagi di ruang tamu, kini Xiao Jun berdua dengan Weini di ruang tengah. “Iya, udah ijin terlalu lama. Bentar lagi ujian Negara, aku harus fokus sekolah dulu. Btw, ayahku dan paman kemana?”


tanya Weini yang sedari tadi celingukan mencari kedua pria itu.


“Mereka keluar cari angin, mungkin penat setelah menghabiskan dua botol arak putih.”


Weini manyun, Haris seperti menemukan belahan jiwa yang hilang. Dia dan Lau bisa kebetulan cocok dan nyambung, betul-betul layak dianggap saudara. “Mereka udah mabuk mungkin…” Weini menepuk jidatnya.


Tidak ada jawaban dari pria di sampingnya namun bahasa tubuhlah yang mewakili ungkapan perasaan. Hanya ada Weini dan Xiao Jun dalam rumah sebesar ini, dan mereka hanya terpaut jarak setengah meter. Xiao Jun menggeser langkahnya hingga merapat dengan Weini, sentuhan kulit mereka tak terelakkan dalam jarak yang seakan tiada batas. Xiao Jun meraih tangan Weini lalu ditarik ke depan dadanya, genggaman tangan Xiao Jun begitu hangat hingga wajah Weini merah padam dibuatnya. Gadis itu tidak menolak tapi tidak pula memberi


respon balasan terhadap sikap agresif Xiao Jun.


“Aku sudah siapin supir dan mobil untukmu. Mulai besok kemanapun kamu biar dia yang antar.” Ujar Xiao Jun lembut, genggaman tangan mereka belum terlepas. Sesekali Xiao Jun malah nakal meremas jemari Weini, dan


setiap kali ia melakukannya Weini setengah mati menahan grogi.


“Nggak perlu repot sih, ayah membelikanku mobil yang sampai sekarang belum sempat aku pakai. Ng… aku belum bisa nyetir.” Weini nyengir lantaran keceplosan mengakui kelemahannya.


“Jangan ucapkan penolakan lagi ya. Semua yang aku berikan ke kamu itu tidak berlebihan, kalo kamu selalu merasa nggak enak repotin aku justru bikin khawatir. Aku nggak suka ditolak.” Seru Xiao Jun, kali ini ia menggeser tubuhnya dan menatap mata Weini lekat. Weini seakan terhipnotis oleh tatapan tanpa kedip itu.


“A… Aku terbiasa mandiri, aneh aja kalau didampingi. Ng, aku bisa minta kak Dina temani, dia kan managerku.” Weini tetap saja berusaha membantah setiap kebaikan yang ditawarkan Xiao Jun. Ia sungguh tak nyaman banyak merepotkan pria yang baru seminggu jadi pacarnya.


Xiao Jun memijit kepalanya, pusing juga harus adu keras kepala dengan gadis yang ia sukai. Weini mungkin tidak mengerti betapa kuatirnya ia membiarkan Weini tanpa pengawasannya, ia tidak bisa selalu mendampingi Weini dan itu sangat meresahkannya.


“Kalo nggak mau mobilku, pakai mobilmu saja tapi aku tetap memberimu supir. Paman atau Dina tidak selalu bisa menemanimu, kau lebih aman bersama supir. Kau jangan menolak lagi!” ujar Xiao Jun agak tegas menekan


kata-kata terakhir.


Weini tak kuasa lagi membantah, apa yang dilakukan Xiao Jun memang wajar hanya saja ia perlu penyesuaian. “Oke oke, apapun yang tuan mau deh.”


Cup… sebuah kecupan pelan mendarat di kening Weini secepat kilat. Weini bahkan tidak sempat mengekspresikan kekagetannya. Kepalanya terasa berat membayangkan baru saja bibir Xiao Jun menempel di keningnya, ia


mematung tak bisa apa apa. Aroma tubuh Xiao Jun tercium jelas, entah wewangian apa yang dipakainya namun saat menciumnya terasa begitu menenangkan.


“Weini…” Xiao Jun menyentuh wajah Weini, tangannya sedikit gemetar. Ia juga bersusah payah mengatur ritme jantungnya, ini kali pertama ia dekat dengan seorang gadis.


Si pemilik nama yang dipanggil itu tidak menjawab, lidahnya kelu namun tatapannya tertancap pada bola mata coklat milik Xiao Jun.


“Wo ai ni…” Xiao Jun membisikkan pernyataan cinta itu dengan lembut, napas dari hidungnya terasa menyentil daun telinga Weini saking dekatnya jarak bibir dan telinga mereka.


Weini tidak berucap apapun, ia kebagian peran sebagai patung kali ini. Pernyataan cinta yang tepat moment dalam ketenangan suasana, hanya ada dia dan lelakinya. Xiao Jun menarik Weini dalam pelukan, gurat wajah


Weini yang canggung semakin terasa menggoda. Xiao Jun takut terbuai hasrat, itulah kenapa disembunyikannya wajah Weini dalam pelukan. Tetapi saat Weini melingkarkan tangan ke punggung Xiao Jun, justru reaksi itu membuat pertahanan Xiao Jun lepas kontrol. Didorongnya pelan tubuh Weini hingga pelukan mereka terlepas, Weini tak mengerti reaksi Xiao Jun dan mengira ia ditolak. Dugaan itu meleset seiring bertemunya kedua bibir dalam kecupan lembut. Xiao Jun tanpa ragu meraih dagu Weini dan mengecup bibir tanpa yang merona alami tanpa lipstick itu.


Mata Weini terpejam, ia merasakan sentuhan lembut dari bibir Xiao Jun yang terasa menggetarkan seluruh tubuh. Bibir dari pria yang ia cintai itu telah merenggut ciuman pertamanya, walau hanya kecupan yang merekat tanpa berlebihan saja sudah membuat Weini mabuk kepayang.


Xiao Jun tertawa kecil melihat Weini yang masih terpejam malu. Ia sebenarnya tidak punya pengalaman melakukan hal semesra itu, hanya saja nalurinya yang menggerakkannya. Weini mengintip sebelah mata, apa yang lucu darinya hingga Xiao Jun tertawa seperti itu.


“Aku hanya mengecup, bukan melahapmu. Kenapa kau segitu takut?” Xiao Jun tersenyum.


Weini menunduk malu sembari berpikir sikapnya yang berlebihan merespon perlakuan Xiao Jun, separuhnya lagi ia memang belum siap melakukan hal yang lebih dari itu meskipun ia sadar menyukai pria itu. “Jangan makan aku!”


Ekspresi Xiao Jun berubah, ia tak menyangka citranya di mata Weini serendah itu. Ia turun dari sofa lalu duduk bersimpu, diraihnya kedua tangan Weini dan menggenggamnya erat. “Dengar ya, aku menjaga orang yang


kucintai. Bukan untuk merusaknya atas nama cinta sebelum waktunya. Jangan menilaiku seburuk itu ya.”


Sebuah anggukan pelan mewakili jawaban Weini, ia terharu dengan pernyataan Xiao Jun. Kata-kata itu dapat dipercaya Weini, sebagaimana ia mulai mengenal kekasihnya makin dalam.


“Ah…” Weini teringat ada hal penting yang ingin dibahasnya bersama Xiao Jun. Momen romantis tadi melenakan sejenak fokusnya. Ia harus memanfaatkan kesempatan berdua ini sebaik mungkin sebelum Haris dan Lau


kembali.


“Xiao Jun, ada yang ingin kubahas. Ini tentang Metta…” Weini berhenti sejenak melihat reaksi Xiao Jun saat ia mulai mengungkit nama itu.


Pria muda itu berdiri lalu mengambil posisi duduk di sebelah Weini, ada sedikit jarak yang sengaja ia ciptakan agar fokus dengan pembicaraan. “Katakan saja!”


Weini agak ragu apalagi melihat perubahan raut wajah Xiao Jun yang mendadak serius. Namun ia tidak bisa menyerah, minimal ia mencoba dan tahu tanggapan pria itu seperti apa.


“Bisakah kau cabut gugatan pada Metta dan bebaskan dia?”


***