
Perjalanan yang mendebarkan di atas udara selama kurang lebih lima jam menyisakan sedikit lelah. Weini memejamkan mata kala tubuhnya telentang dengan dua kaki dan dua tangan terbuka lebar di atas kasur
bersprei putih. Xiao Jun memesan tiga kamar hotel mewah, masing-masing dari mereka menempati satu ruang bersebelahan. Ia punya waktu istirahat empat jam sebelum jamuan makan malam privat.
“Bertemu calon mama mertua… hmm…” dengan mata terpejam Weini membayangkan sosok ibunya. Hanya sekejab ia merasakan kasih sayang seorang ibu, setelah itu Harislah yang dominan mendidik dan menyayanginya. Dalam releng hati terdalam, Weini berharap mendapatkan kasih sayang dari ibu Xiao Jun, berharap wanita yang belum ia kenal itu bisa menyukainya.
***
Air yang menyegarkan telah membasuh tubuh lelah Haris. Setelah sekian lama ia tidak keluar negri, akhirnya ada kesempatan untuk refreshing sejenak. Setelan kemeja dan jas andalannya sudah dipakai dengan sangat rapi, ia mengenakan pomade agar rambutnya klimis dan tak lupa menyemprot parfum ke beberapa titik tubuhnya. Ia melirik jam tangan, sudah waktunya menemui seseorang.
Haris memencet bel kamar Xiao Jun yang berada di sebelahnya. Bos muda itu mengatur kamarnya di tengah hingga ia seakan diapit. Tidak perlu waktu lama menunggu, Xiao Jun muncul dari balik pintu.
“Paman sudah siap? Tapi acaranya masih tiga jam lagi…”
Xiao Jun tidak menyangka antusias Haris segitu besarnya, ia bahkan masih mengenakan pakaian saat berangkat.
“Apa aku mengganggu? Ada yang ingin aku katakan sebelum kita pergi.” Haris tersenyum, sebenarnya pertanyaannya hanya formalitas. Ia tidak peduli Xiao Jun terganggu atau tidak, yang jelas ia harus dilayani saat ini juga.
Xiao Jun mempersilahkan Haris masuk kemudian menutup rapat pintu.
***
Samar-samar terdengar suara seperti hak sepatu yang mengetuk lantai kayu. Weini terusik dengan suara yang kian terdengar dekat dan jelas. Matanya masih terasa sangat berat untuk dibuka, namun kebisingan itu sangat mengganggu.
“Wei… ni…” kali ini bukan hanya bunyi hak sepatu namun namanya ikut diserukan.
Dalam panggilan ketiga, Weini terkejut dan membuka mata lebar-lebar saking kagetnya. Di dalam kamar tidak ada penunjuk waktu, entah berapa lama ia ketiduran.
Suara gedoran pintu berkolaburasi dengan bunyi bel dan suara Xiao Jun yang memanggilnya. Ia bergegas menyambut pria kesayangannya tanpa menghiraukan seperti apa penampilannya pasca bangun tidur.
“Kamu ketiduran? Pasti capek habis perjalanan.” Xiao Jun nampak kuatir, ia sudah berdiri di depan kamar Weini kurang lebih sepuluh menit dan baru berhasil membangunkannya.
“Ng… jam berapa sekarang? Sorry aku… aduh kita bakal telat.” Weini kelabakan, terakhir ia hanya ingat merem sejenak lalu ingin mandi tetapi ia malah berakhir dalam mimpi.
Xiao Jun masuk tanpa menunggu dipersilahkan, kekurangan Weini yang mudah panik itu harus segera ditenangkan. “Masih ada waktu untuk bersiap diri. Santai saja, ini bukan rapat formal yang harus tepat waktu. Buruan mandi, aku tunggu.”
Weini bergegas lari ke kamar mandi namun ia menongol lagi dengan wajah galau, “Ng kamu mau di sana sampai kapan? Aku harus ganti baju…”
Mereka berdua saling berpandangan, sedetik kemudian wajah mereka bersemu merah. Xiao Jun langsung balik badan meninggalkan kamar Weini tanpa komentar apapun. Tidak terpikir sebelumnya bahwa Weini pasti akan
merias diri dan perlu privasi. Ia tidak boleh merusak moment pribadi seorang gadis, biarlah Weini memberi kejutan seperti yang diimpikannya.
Xiao Jun memilih menunggu di depan kamar ketimbang masuk kembali ke kamarnya. Punggungnya bersandar pada tembok dan kepalanya menengadah menghadap langit-langit. Menunggu seorang gadis berdandan ternyata
sangat melelahkan, namun Xiao Jun enggan mengusik atau mendesaknya lebih cepat.
Pintu terbuka dan tuan putri melangkah keluar dengan anggun. Xiao Jun terkesima hingga lupa berkedip, sang gadis bergaun hitam panjang dengan sepatu silver heels 7cm, riasan flawless yang sangat natural serta rambut curly yang tergerai indah membuat Xiao Jun semakin jatuh hati.
“Ehem… Ayo berangkat.” Weini mendehem agar nyawa Xiao Jun terkumpul lagi. Ia tidak nyaman diperhatikan seperti itu.
“Eh tunggu, ayah nggak diajak?” Weini baru sadar kebersamaan mereka minus Haris, ia terlalu terbuai rasa senang sampai melupakan ayahnya.
“Karena kamu ketiduran, paman nggak tega bangunin jadi paman berangkat duluan untuk menemui ibuku. Nggak apa-apa kok, biarkan saja kedua orangtua kita saling mengenal dulu.”
Weini menghela napas lega, Haris menyelamatkannya secara tidak langsung. Ia akan terkesan buruk karena telat di momen pertama, namun Weini yakin ayahnya pasti punya cara menyelamatkan imagenya.
Sebuah mobil Limusin menjemput Xiao Jun dan Weini, mengantarkan mereka yang bak pangeran dan putri menuju istana sang ratu.
***
Restoran mewah dan besar di lantai teratas yang menawarkan pemandangan malam kota Guangzhou yang indah. Permainan musik klasik secara live mengundang suasana romantis yang melenakan. Tempat yang begitu cocok untuk pasangan yang memadu kasih, namun Xiao Jun khusus membooking satu lantai demi pertemuan ini.
Seorang tamu disambut dengan ramah oleh pelayan restoran yang kemudian menuntunnya menuju meja yang telah disiapkan. Haris dengan tenang memperhatikan setiap langkah wanita yang hampir seusia dengannya, begitu
memesona meski di usia senja, senyum dan raut wajah sebening air, anggun dan sangat keibuan.
Haris berdiri menyambut kedatangannya, penantian selama ini, kecemasan belasan tahun sirna seketika setelah bertatap muka dengannya.
“Apa kabar Xin Er?”
Xin Er terkesima, calon besannya terlihat ramah dan mudah akrab padahal ini kali pertama mereka bertemu. “Anda pasti ayah kekasih Xiao Jun. Ah, maaf anakku tidak memberitahu sebelumnya siapa nama tuan?” Xin Er bingung harus memanggil apa kepada pria di hadapannya.
“Panggil saja Ming Fung. Xin Er, aku Wei Ming Fung.” Haris berusaha tegar saat membuka identitasnya.
Xin Er terguncang saat mendengar nama suaminya disebut orang yang tidak ia kenal. Kedua matanya berkaca-kaca, ia terbawa emosional ketika ada seseorang yang sok akrab dan mengaku sebagai suaminya. “Maaf tuan, tanpa mengurangi rasa hormat tolong jangan bersikap seakan mengenal saya sebelumnya apalagi sampai memakai nama suami saya. Saya tidak mengenal anda.”
Xin Er yang merasa tersinggung dan sedih lalu berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu, namun Haris lebih cekatan mencegahnya berlalu. Ia kini berdiri menghadap belahan jiwanya yang sudah terpisah belasan tahun.
“Xin Er, ini aku… cincin ini masih melingkar di jari manisku.” Haris melepas cincin nikahnya dan menunjukkan bukti bahwa ia bukan pembohong.
Xin Er membungkam mulutnya dengan kedua tangannya saking histeris, ia mengenali cincin yang terukir namanya itu. Tetapi suaminya sudah berwajah lain, bahkan sangat tidak mirip dengan suami yang ia kenali. Xin Er tak mampu menafsir apa yang telah terjadi ataukah ini hanya imajinasi saja?
“Aku bisa jelaskan semuanya, duduklah… banyak hal yang harus kita bicarakan.” Haris paham kebingungan Xin Er, mengerti kesedihan yang istrinya rasakan karena ia pun merasakan penderitaan yang sama. Ia menuntun Xin Er duduk dan menenangkan dirinya dengan segelas air mineral. Pertemuan ini pasti akan menguras emosi dan air mata, dan ia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin sebelum keadaan kembali seperti semula.
***
*Bocoran kelakuan Haris yang tidak diketahui pembaca*
Weini baru saja memejamkan mata sejenak, menata hati dan fisik yang lelah berjam-jam di pesawat namun dalam sekejab sihir tidur yang dikirim Haris dari kamar sebelah langsung bekerja. Gadis itu terbuai dalam tidur lelap, melupakan antusiasnya untuk bersiap diri, berdandan secantik mungkin agar mendapatkan kesan baik di mata calon ibu mertua.
“Tidurlah sampai Xiao Jun membangunkanmu. Maafkan aku Weini, biar aku duluan yang ketemu Xin Er.”
Setelah meyakinkan sihirnya telah bekerja, Haris melanjutkan misi selanjutnya yakni meyakinkan Xiao Jun. Dipencetnya bel hingga pria muda itu keluar dari kamar.
“Paman sudah siap? Tapi acaranya masih tiga jam lagi…”
***