OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 154 PERANGKAP BARU CHEN KHO



Chen Kho baru saja menyelesaikan rapat dengan terburu-buru demi mengejar waktu kembali ke rumah menyambut kedatangan ayah dan adiknya, ketika sekretaris seksinya masuk menyampaikan kehadiran tamu tak di undang di lobby, darahnya seakan mendesir ke ubun-ubun.


“Ngapain dia datang lagi, nggak tepat waktu. Suruh pergi, bilang aku ada meeting!” teriak Chen Kho kesal, amarahnya salah sasaran ke sekretaris yang malang menjadi pelampiasan. Ia tak habis pikir, Li An belum juga kapok mencarinya kemari.


“Eh, sebentar! Suruh dia tunggu di sana, aku sebentar lagi menyusul ke bawah.” Chen Kho mendadak berubah pikiran sebelum sekretarisnya melangkah pergi. Sikap plin plannya membuat si wanita menggerutu, di samping jadi korban bentakan dan beberapa saat kemudian disuruh menjadi penyambung lidah.


Chen Kho tahu suara hati wanita yang tengah menggerutu, walaupun  wanita itu adalah bawahannya namun ia masih punya hati menimbang mereka pernah menikmati indahnya masa-masa affair. “Nanti ku beri kau bonus akhir bulan, kita bicarakan lagi besok.”


Angin segar yang ditiupkan Chen Kho langsung menaikkan semangat sekretaris itu. Ia menoleh dan membungkuk hormat dengan girang sebelum menyelesaikan tugasnya. Chen Kho masih sempat melirik nakal pada si wanita, sepertinya affair di antara mereka akan ada babak selanjutnya.


Bukan tanpa alasan Chen Kho mengurungkan niat mengusir Li An, bagaimanapun ia masih tidak terima dengan kekonyolan yang terjadi saat ia gagal memengaruhi pikiran Xiao Jun. Ia hampir melupakan kartu As di tangannya, Xiao Jun boleh saja merasa tak membutuhkannya tapi segalanya pasti akan berbalik andai ia tahu apa status


Chen Kho bagi kakak perempuannya.


“Kita lihat apa kau masih bisa berkutit setelah tahu aku adalah pria kecintaan kakakmu, ha ha ha ….” Tawa Chen Kho menggema dalam ruangannya, ketika ia mulai merasa kekalahan semakin jelas tapi ternyata ia mungkin ditakdirkan sebagai pemenang. Seakan direstui langit, bahkan kartu As yang terlupakan pun bisa


datang menghampirinya.


***


Li An melambaikan tangan ketika melihat Chen Kho, walau ia harus berdiri di samping resepsionis nyaris setengah jam tanpa bersedia duduk di ruang tunggu.


“Kamu nunggu lama ya? Maaf aku baru kelar rapat.” Chen Kho membeberkan alasan klasik dengan senyum yang dibuat-buat.


Li An percaya penuh pada apa yang disampaikan Chen Kho, ia menggeleng dan meyakinkan dirinya tidak keberatan menunggu. “Ng, aku barusan sampe kok. Kamu udah lama nggak ke rumah, aku jadi kuatir.”


Kecemasan Li An memang wajar bila menjalin hubungan yang tulus satu sama lain, secara logika mana ada pasangan yang betah tanpa kabar satu sama lain dalam kurun waktu seminggu. Terlebih di masa kasmaran, seakan tak ingin sedetikpun berpisah dan selalu ingin berada di dekatnya. Malangnya Li An yang bernasib kurang baik dengan segala kekurangan hingga tak sanggup memiliki sebuah ponsel untuk bertukar komunikasi. Ia nekad kemari pun lantaran cemas dan rindu pada kekasihnya.


“Hmm … maaf sayang, aku belakangan ini sibuk dengan urusan kerjaan dan ah … ada kabar untukmu kita bicarakan di mobil saja.” Chen Kho tak berani mengumbar kemesraan di depan karyawannya, ia mengisyaratkan Li An agar mengikuti langkahnya menuju tempat yang lebih aman.


Li An dengan senyum girang mengikuti jejak Chen Kho, tanpa jawaban sepatah katapun. Mereka berakhir di parkiran bawah gedung, duduk berdampingan di dalam mobil mewah tuan direktur. Pendingin mobil disetel maksimal dan mereka masih terdiam tanpa ada rencana beranjak dari parkiran.


“Sayang, aku belum bisa mengantarmu pulang saat ini.  Ada acara penyambutan ayah dan adikku beberapa


Li An menatap Chen Kho dengan mata berbinar girang, “Oh, kau pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan mereka. Tenang saja aku kemari hanya untuk melihatmu sebentar, nggak akan merepotkanmu mengantar. Aku bisa pulang sendiri, kau sedang sibuk dan kelihatan sehat jadi aku sudah cukup tenang. Aku pulang dulu ya.” Li An tersenyum dan bersiap turun dari mobil hingga akhirnya Chen Kho menahan tangannya, ia kembali menoleh heran pada Chen Kho.


“Sebenarnya kedatangan mereka ada hubungannya dengan adikmu, Xiao Jun. Pamanku sedang menyiapkan rencana perjodohan mereka.” Chen Kho masih menahan kata-katanya, ia hendak melihat respon Li An setelah mendengar berita ini.


“Oya? Wah ini kabar yang sangat bagus. Berarti adikku akan dijodohkan dengan adikmu?” Li An dengan polosnya sangat berbahagia.


Chen Kho dengan ekspresi datar melanjutkan pembicaraan, “Seharusnya begitu, jika tidak ditolak Xiao Jun. Sampai sekarang yang kutahu ia masih keras kepala menolak, paman bahkan mengurungnya di kamar dan berbuntut panjang. Li An, maaf aku tidak bisa melindungi ibu dan adikmu. Paman mengurung ibumu di penjara, sedangkan nyonya jadi tahanan kamar. Jika Xiao Jun tetap menolak perjodohan, aku cemas akan ada nyawa tak bersalah dikorbankan karena paman tak mungkin membunuh calon penerusnya.”


Raut senang Li An langsung berubah sedih, mendengar berita sepenting itu membuatnya sangat tak berguna. “Ibuku … aku takut ibuku yang akan dikorbankan.” Li An gelagapan, ia tetap sanggup mengontrol emosi agar tangisnya tak tumpah.


“Apa kau bisa bantu aku? tolong yakinkan tuan besar, aku bersedia menggantikan posisi atau nyawa ibuku. Biar aku saja yang dihukum.” Li An memegang kedua tangan Chen Kho, berusaha meyakinkan pria itu.


“Hei, jangan berpikir sempit. Aku mana rela kau jadi korban melulu. Masih ada cara lain tanpa perlu mengorbankan siapapun.” Ujar Chen Kho sambil meraih tangan Li An untuk digenggam balik.


Li An menyipitkan mata, rautnya Nampak kusut efek pikiran kacau. “Kau punya jalan keluar? Tolong katakan, aku bersedia melakukan apapun asal ibuku selamat.”


Senyum terkulum dari Chen Kho, kalimat itulah yang ingin ia dengar. Akhirnya Li An mulai masuk dalam permainannya, satu persatu bidak catur akan ia mainkan untuk menumbangkan Xiao Jun. “Selama Xiao Jun setuju dijodohkan maka masalah itu pasti selesai. Apa kau bisa yakinkan adikmu untuk setuju? Dia sudah punya kekasih


dan serius, sepertinya agak susah ….”


“Dia punya kekasih? Bukankah jodoh keturunan Li sudah ditentukan tuan besar, kenapa dia nekad mencari pilihan sendiri? Kalau aku bisa bertemu dengannya, akan kucoba membujuk dia.” Ujar Li An penuh tekad, kesempatan bagus jika bisa bertemu dengan adik yang sudah belasan tahun terpisahkan. Sayangnya ia tak menyangka


akan dipertemukan dalam keadaan rumit.


“Kau serius mau bertemu dia? Oke, sayang. Aku pasti aturkan waktu untuk kalian dengan aman. Percayakan padaku.”


Sebenarnya yang paling diuntungkan dan paling senang bukan Li An namun Chen Kho, ia yakin Xiao Jun pasti merubah penilaian terhadap dirinya setelah ia menunjukkan itikad baik mempertemukan dua bersaudara. Setelah itu terjadi, tinggal memperhitungkan kembali langkah berikutnya.


***