OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 53 KALA KEBENCIAN BERSATU



Beberapa staf kantor Shining Production House dihebohkan dengan kedatangan Stevan yang muncul lebih awal dari jam yang dijanjikan. Aktor tenar itu sengaja datang lebih awal untuk menghindari keributan dari fans wanita yang bekerja di sana. Ia langsung menempati ruang produser PH itu yang belum datang. Dua orang karyawan wanita yang tahu kehadiran Stevan malah sengaja masuk demi mendapatkan selfie bersama. Stevan tetap melayani mereka sebagai resiko public figure, tapi dia sudah memperhitungkan langkah yang ia tempuh sekarang cukup efektif meminimalisir resiko dikeburuni lebih banyak orang nantinya, maklum saja Stevan bukan artis


di agensi ini dan ini kali kedua dia menjalin kerjasama dengan PH besar saingan PH Multi Utama tempat ia dan Weini bernaung.


“Trims Kak.” Wanita yang berhasil mendapat selfie itu nekad mengecup pipi kiri Stevan sebelum kabur dari ruangan itu.


Stevan pasrah saja lalu mengelap bekas kecupan itu dengan tisu. Ganas juga wanita itu, protes Stevan dalam hati. Jika bukan karena tawaran iklan yang menggiurkan dari PH ini, ia tak mungkin mengorbankan rutinitas tidur siangnya demi ke sini. Tiba-tiba ia hendak ke toilet dan celingak celinguk mencari toilet dalam ruangan.


“Ah sial!” umpat Stevan saat mendapati pintu toilet sang produser terkunci. Terpaksa ia harus keluar diam-diam dari gua persembunyian dan bertapa di toilet.


***


Para peserta casting yang didominasi oleh remaja perempuan tampak memadati ruang audisi. Salah seorang gadis melenggang dengan sombong demi menerobos sekumpulan newbie yang berdesakan.


“Minggir! Ih…” Metta menepis dan tak segan mendorong siapapun yang menghalanginya. Saat kulitnya bersentuhan dengan gadis lain, ia terlihat menepis dengan wajah jijik.


“Lagaknya kayak artis terkenal aja. Padahal baru datang casting aja belagu!” cibir seorang cewek yang tersinggung didorong hingga nyaris jatuh.


Metta berhenti, dengan wajah sadis dia menoleh ke sumber suara. Lirikan matanya mengerikan, persis hantu kelaparan yang bertemu mangsa. “Lu bilang apa? Gue ke sini buat casting? Helooooo… sorry gue gak level


dengan perjuangan kayak lu pada. Ngantri setengah mampus juga belum tentu lolos.”


“Ow… baru jadi artis pendatang aja songong. Cuih…”


“Bad attitude gitu emang bisa tenar? Belum kena cecar netizen aja lu, siap siap bae pas kedok busuk lu kebongkar. Siapa yang bakal ngorbitin lu!” bergantian para cewek yang merasa diremehkan Metta memberi sumpah serapah.


“Lu pada ngancem gue? Doain gue yang buruk? Siapa lu pada? Punya apa buat gertakin gue!” Metta tak gentar meski ia tengah dikerubuni sekelompok cewek yang reaksinya seperti hendak menelan Metta hidup-hidup.


“Hahaha… belum tahu aja lu efek sosmed. Gue viralin lu habis ini, mampus karier lu!” ancam seorang cewek nggak main-main. Ia bersiap mengunggah rekaman ke sosmed.


“Heh! Berani lu sebar, gue tuntut lu!” gertak Metta, kali ini ia sekuat hati menyembunyikan nyalinya yang mulai ciut.


“Gue takut bangeeeet. Help me help hahahaha…” sekelompok cewek yang sudah kalap brutalnya terbahak.


Metta lebih mirip tikus kecil yang diperebutkan sekelompok kucing liar. Ia menggigil ketakutan melihat sorotan tajam yang siap menerkamnya kapanpun. Cewek yang mempunyai rekaman video itu tertawa penuh kemenangan, ia hendak menekan opsi bagikan ke sosmed. Apesnya ponselnya keburu pindah ke tangan lain.


“Nyali kalian gede juga. Gue bakal bilang ke produser biar kalian didiskualifikasi.”


“Li… Li saaaaa…” segerombolan cewek itu berbisik, ada yang terlihat ketakutan bahkan ada yang mendadak lupa kejadian barusan dan terkagum-kagum melihat kemunculan artis multitalenta yang sangat tersohor itu berdiri di hadapan mereka.


Lisa menghapus video itu sembari melotot pada si pemilik ponsel. “Gue peringatin ya. Kalo mau gabung di sini, nggak usah sok seniorita. Cam kan buat semuanya. Kali ini gue ampuni!”  Lisa Melempar balik ponsel ke si pemilik tanpa peduli ponsel itu berhasil ditangkap atau tidak.


Sekumpulan cewek itu bubar menjauh dari titik kumpul, menyisakan Metta dan Lisa yang masih berdiri di tempat.


“Lu! Gue tahu biangnya itu lu! So, lu gak makasih gitu ke gue?” sindir Lisa sinis.


“SIS? Lu kira olshop sas sis sas sis?” bentak Lisa kasar.


“Sorry…” Metta menunduk serba salah. Di hadapan artis cantik itu, Metta bukan siapa siapa, dan ia harus bisa mengambil hatinya agar kelak kecipratan keuntungan dari Lisa.


Lisa melirik tajam dari atas sampai bawah penampilan Metta, sepertinya ia tahu peran apa yang akan pendatang baru ini mainkan. “Lu Metta kan? Anak baru yang dihubungin tim kapan hari.”


“Iya, Kak Lisa.” Metta menjawab sekenanya daripada salah bicara dan kena damprat lagi.


“Ikut gue!” Lisa menuntun jalan ke ruang pribadinya. Ia perlu bicara empat mata dengan juniornya. Sedangkan Metta bersedia menurunkan harga dirinya sebagai anak pengusaha berkuasa yang tak pernah digertak dan diperintah orang dan rela menuruti perintah Lisa.


“Lu pada…” Lisa mengusir tiga asistennya keluar dengan isyarat tangan. Ia sengaja mensterilkan ruangan untuk bicara empat mata


.


“Gue kasih tahu ya, lu bisa dapat peran di sini karena gue yang pilih. CV lu udah masuk tong sampah Pak Soni, direktur kita. Gue pungut dan seleksi ulang buat jadi pengganti gue.” Ujar Lisa sambil memainkan rambut dengan ujung jari.


“Peran pengganti maksudnya?” Metta bingung, kenapa ia harus menggantikan Lisa?


“Lu nggak usah mikir kejauhan. Peran lu di sini hanya buat gantiin beberapa adegan gue dan lu pasti senang walaupun peran kecil.” Sombongnya Lisa mulai keluar.


“Hah? Hanya peran kecil?” Mendadak Metta down, ia kira bisa mendapuk peran utama atau paling tidak peran pendukung utama. Tapi hanya peran kecil saja, apa yang bisa dia banggakan?


“Lu kira sekali masuk langsung didapuk jadi peran utama gitu?  Hahahaha… naïf banget! Jangan remehin peran utama, nggak ada bayi yang baru lahir langsung merangkak.”


“Gue dapat peran gimana?” tanya Metta penasaran.


“Gue baca CV lu dan kebetulan banget lu satu sekolah sama Weini. Peran perdana lu nanti gantiin gue saat beradu acting dengan dia.” Seru Lisa sinis, terdengar betul nada kebencian saat ia menyebut nama Weini.


“Hah? Adu acting sama Weini? oh God.” Metta terkulai lemas ke lantai. Kakinya gemetaran tak mampu membayangkan harga dirinya akan tercabik puluhan keping saat harus menjadi seorang pengganti di hadapan Weini. Impiannya untuk pamer di depan Weini perlahan menjauh sangat jauh dari ekspektasi.


“Yup! Lu senang kan bisa ketemu teman sekolah.”


“Gue musuhan ama dia.” Keluh Metta tak bersemangat.


Lisa menegakkan punggungnya, pengakuan barusan menghentakkannya. “Lu juga benci ama dia!? Kebetulan banget. Kalau gitu kita kerjasama aja buat jatuhin dia.”


Metta seketika semangat, ia tak mengira Weini mempunyai rival dan orang itu orang yang kariernya lebih gemilang ketimbang dia. “Ini baru gue suka. Mau diapain dia kak?”


“Nanti pas syuting, gue mau lu lakukan sesuatu ke dia. Kita bikin dia babak belur kali ini. Lihat seberapa mujur nasibnya bisa lolos dari genggaman gue.” Lisa terkikih bahagia. Metta tak kalah girangnya.


Sementara itu, Stevan menguping dari balik pintu yang tak tertutup rapat.  Ia mendengar semua percakapan mereka dari awal lalu bergegas menjauh dari sana sebelum jejaknya dicurigai oleh mereka.


***