
Xin Er tidak merasa lelah, semua keluhan badan tuanya tersamar oleh rasa bahagia yang jauh lebih besar. Ia berhasil membuat lima macam menu dalam waktu singkat, tentu saja berkat bantuan Li Mei serta Lau yang juga merasa bersemangat menghidangkan sarapan.
Mungkin masih terlalu dini disebut sarapan, tetapi mereka yang akan datang pasti tak akan menolak santapan ini.
"Sempurna, mereka pasti suka." Gumam Xin Er, puas.
"Sebentar lagi kita akan berkumpul semua. Syukurlah, aku harap ini akan jadi akhir yang melegakan." Gumam Li Mei terharu.
Semua mengangguk setuju, kecuali Li An yang celingukan dan raut wajahnya heran. Dia sengaja begadang dan tak peduli dengan Wen Ting yang melarangnya, ia tetap ingin melihat ibu dan kakaknya sibuk memasak.
"Aku belum melihat Grace sejak tadi. Apa dia belum pulang?" Tanya Li An.
Semua terdiam, kemudian Lau yang menjawab pertanyaan itu. "Nona Grace sepertinya bermalam di rumah sakit. Mungkin dia akan kembali pagi hari seperti kemarin. Jangan cemas nona Li An, dia pasti menunggu Stevan."
"Stevan?" Tanya Li An mengernyitkan dahi.
Lau mengangguk, "Stevan adalah teman dekat nona Grace sekarang. Dia salah satu yang kecelakaan kemarin."
Li An mengangguk paham, ia nampak tersenyum girang. "Ah, jadi dia sudah mendapatkan pria yang tepat? Syukurlah...."
Xin Er ikut tersenyum lega, Grace memang patut bahagia karena Xin Er tahu gadis itu adalah gadis yang baik. Ia pun menanggung beban pikiran andai Grace tetap mencintai Xiao Jun dan terluka karena anaknya. Tapi kini, tidak ada lagi yang perlu ia risaukan.
❤️❤️❤️
Weini perlahan membuka matanya ketika merasakan sentuhan halus di tangannya. Hal pertama yang ia dapatkan adalah senyuman Xiao Jun, manis, melelehkan hatinya yang memang rindu dengan romansa dari pria itu. Weini diam, tak membalas senyuman itu, kesadarannya belum sepenuhnya.
"Kita sudah sampai, turun yuk." Ajak Xiao Jun pelan dan suaranya menggetarkan hati.
Weini memberinya jawaban dengan anggukan, ia menatap sekilas ke luar jendela. Ada rasa yang berat untuk menapaki tempat itu. Tapi di sini ia berada, memang inilah kehidupannya. Weini beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti Xiao Jun dari belakang, sementara Su Rong dan Haris sudah keluar sejak tadi.
Jet itu mendarat di atas apartemen Xiao Jun, dan mereka sudah keluar dari pesawat pribadi yang membawa mereka selamat dari lautan maut. Bisa kembali ke sini dengan selamat rasanya seperti mendapatkan ekstra nyawa, Weini sama sekali tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti itu.
"Bagaimana kabar yang lainnya? Apa Dina baik-baik saja?" Pikiran Weini baru kembali tertuju pada orang terdekatnya di Jakarta. Setelah sebelumnya ia menggalaukan takdir Chen Kho yang miris.
Xiao Jun tampak diam sejenak, mereka berbicara sambil terus berjalan. Lalu Xiao Jun menggenggam erat tangan Weini, menuntunnya memasuki lift. Haris dan Su Rong sudah lebih dulu naik lift, mungkin mereka akan sampai duluan.
Ketika pintu lift tertutup, Weini kembali menatap Xiao Jun yang belum menjawabnya.
"Dina sudah ku ungsikan ke tempat yang aman, dan yang lainnya baik. Keluargaku sedang berkumpul di apartemen, sebentar lagi kau akan bertemu mereka." Jawab Xiao Jun yang akhirnya buka suara setelah didesak oleh tatapan Weini.
Terdengar helaan napas Weini, "Ah... Syukurlah, aku kira dia tak selamat dari incaran sepupuku." Lirih Weini.
"Semua baik-baik saja, jangan khawatir ya." Ujar Xiao Jun yang masih menyembunyikan sesuatu dari Weini, belum tepat waktu memberitahu gadis itu banyak hal saat ini. Biarlah dia sampai dulu ke apartemen dan melonggarkan otot sejenak, ketegangan yang mereka rasakan tentu sangat menguras tenaganya.
🌹🌹🌹
"Aku kembali." Lirih Haris di depan Xin Er.
"Aku tahu...." Ucap Xin Er tak kalah lirih. Sepasang suami istri itu berpelukan penuh haru di depan pintu, kali ini Xin Er benar-benar merasakan kelegaan. Rasanya kepahitan yang sekian lama terus menekannya akan segera sirna. Ia berharap pelukan selamat datang itu adalah pertanda bahwa mulai saat ini mereka tak akan terpisahkan lagi.
Xiao Jun dan Weini pun sampai di sana, mereka menghentikan langkah agar tidak mengacau suasana haru itu. Ini kali pertama Weini bertemu Xin Er, ia tak menyangka akan bertemu keluarga besar Xiao Jun dalam kondisi seperti ini.
Haris menyudahi pelukannya, ia sadar Weini dan Xiao Jun sudah sampai. Perhatian kita ditujukan pada Weini yang tampak disoroti beberapa pasang mata di depan pintu.
Li An terkesima, ia yang lebih beruntung daripada ibu dan kakaknya karena pernah bertemu sebelumnya dengan Weini. Tetapi wajah yang terlihat memesona dengan kecantikannya itu tidak bisa membuatnya berpaling.
"Dia nona Li? Cantik sekali...." Gumam Li Mei menyuarakan pujiannya.
Li An mengangguk, ia membisik di telinga Li Mei. "Aku tak menyangka wajah aslinya lebih cantik daripada topengnya. Dia yang dulu saja sudah cantik, Jun beruntung ya kak." Dua kakak beradik itu malah bergosip.
Weini tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sampai terasa genggaman tangan Xiao Jun di tangannya. Pria itu tersenyum meyakinkan Weini bahwa kehadirannya sangat dinantikan keluarga besarnya. Xiao Jun menggandeng Weini mendekati kerumunan keluarganya.
"Weini... Ah, maksudku Yue Hwa, kenalkan ini ibuku...." Xiao Jun memperkenalkan satu persatu orang yang berdiri menyambutnya.
Weini tersenyum manis dan menganggukkan kepala, ia sedikit canggung berhadapan dengan calon keluarganya kelak. "Yue Hwa memberi hormat pada ibu, kakak dan kakak ipar."
Panggilan akrab itu serasa Weini sudah menjadi bagian keluarga mereka, namun ia memang sudah menganggap Haris ayahnya, otomatis Weini pun harus memanggil yang lainnya dengan panggilan yang senada.
Xin Er menunduk hormat pada Weini, "Salam untuk nona muda Li."
Weini segera menggagalkan niat Xin Er memberinya penghormatan formal, gadis itu langsung menghambur memeluk wanita tua itu. Perkenalan dengan cara seperti ini lebih baik ketimbang harus melihat orang yang ia anggap ibu itu memberinya hormat.
🌹🌹🌹
"Aku akan ke apartemen, mereka mungkin mencemaskan aku. Kamu ingin apa? Sekalian aku bawakan saat datang lagi." Tanya Grace yang sudah siap meninggalkan Stevan sendirian di ruang perawatannya, setelah menghabiskan satu malam untuk menemani pria itu.
Stevan menatap gadisnya dengan lembut, berat rasamya harus ditinggal pergi walau hanya sebentar. "Hmm... Aku hanya ingin kamu segera kembali."
Grace berdecak, ia mendelik pada Stevan lalu menghampirinya. Wajah mereka berdekatan dan secepat kilat Grace mengecup bibir Stevan. Sensasi kecupan dadakan itu membuat Stevan mematung, terasa seperti tersetrum listrik. Padahal itu bukan ciuman pertama mereka tapi rasanya sangat mendebarkan.
"Aku hanya sebentar, kamu jangan berlebihan deh." Gumam Grace yang sudah menjauhkan wajahnya, ia bersiap untuk beranjak dari dekat Stevan. Tetapi pria itu tidak mengijinkannya, dengan sigap ditahannya Grace lalu ditariknya dagu gadis itu hingga mendekat dan berakhir dengan ciuman yang jauh lebih lama dan lebih mengesankan.
🌹🌹🌹
Wei Li Mei