
“Pulang, nak... Pulanglah!” Lirih Liang Jia dalam isakannya, betapa rindunya sudah tak terbendung lagi dan ingin segera memeluk Weini secara nyata.
Weini mengangguk pelan, perasaannya kini bercampur aduk, antara bahagia, bersyukur atau masih merasa tak puas dengan kenyataan. “Aku pasti pulang, bu. Ayah... Di mana ayah?” Tanya Weini lirih, ia tahu kondisi ayahnya namun ingin membuktikannya. Benarkah yang dikatakan Grace bahwa ayahnya kini terbaring tidak sadarkan diri?
Liang Jia menarik napas, mencoba bicara dengan tegar tanpa terkontaminasi tangisan. Ia mulai mengarahkan layar ponsel pada Li San. “Ayahmu... dia masih seperti ini, Hwa.” Lirih Liang Jia. Ia menggunakan satu tangan untuk memegang ponsel agak tinggi, sementara tangan yang satunya ia manfaatkan untuk mengguncang tubuh Li San
lagi.
“Bangunlah, Yue Hwa ingin bicara denganmu. Yue Hwa... putri kita, dia sedang melihatmu. Bangunlah, kau
menunggunya kembali bukan? Dia sebentar lagi akan datang.” Pekik Liang Jia yang memaksakan kehendaknya mengguncang tubuh suaminya.
Weini tak sanggup menahan isaknya lagi, dibiarkannya pecah begitu saja. Air matanya yang deras memburamkan tatapannya pada layar ponsel yang diarahkan pada kedua orangtuanya. “Ayaah....” Lirih Weini terdengar lirih dan sedih. Ia memalingkan wajahnya lalu ponsel itu di arahan ke bawah hingga menyoroti lantai. Hatinya tak sekuat itu
untuk bertahan melihat penderitaan ayah dan ibunya. Ponsel di tangannya kembali diserahkan pada Haris yang hanya diam melihat kesedihan nonanya.
Haris mengerti betul perasaan Weini, ia pun segera menggantikan posisi Weini untuk bicara dengan Liang Jia. Sementara Weini memilih berjalan keluar dari kamar tanpa bersedia dihibur oleh siapapun. Saat lewat di hadapan Xin Er, wanita tua itu mencoba menghiburnya namun Weini menggeleng pelan sebagai isyarat agar ia tidak
diganggu. Xin Er mengerti dan membiarkan Weini keluar dengan isakan yang sesekali masih terdengar.
***
Xiao Jun dan Lau berada dalam ruang kerjanya, banyak hal yang perlu persetujuan Xiao Jun dan tak bisa diwakili oleh Lau yang harus ditanda tangani. Bertubi-tubi masalah yang terjadi membuat Xiao Jun sedikit mengabaikan perusahaannya di sini. Setelah menemukan Weini dengan selamat, barulah ia bisa membagi fokusnya untuk pekerjaan.
“Rapat dengan kolega di Singapura diaturkan jadwal ulangnya, paman.” Perintah Xiao Jun sembari meletakkan pulpen yang ia gunakan untuk menanda-tangani beberapa berkas penting.
Lau mengangguk patuh, “Baik, tuan.” Tidak ada lagi urusan yang harus dilaporkan pada Xiao Jun, pengawal
tua itupun membungkuk hormat untuk pamit dari hadapan tuannya. Ketika hendak membuka pintu, Weini justru lebih dulu masuk ke dalam ruangan itu. Lau kembali membungkuk hormat kepada nona muda Li itu.
“Saya permisi dulu, nona.” Ucap Lau sopan kemudian meninggalkan dua majikannya di dalam ruangan itu. Weini hanya mengangguk, ia tak punya semangat membalas sahutan Lau sekalipun hanya basa basi.
Xiao Jun yang tengah memeriksa laporan perusahaannya pun bergegas menutup laptopnya. Wajah sembab
Weini yang kentara bahwa ia baru saja menangis itu mengejutkan Xiao Jun, ia bergegas berdiri dan menghampiri Weini yang berdiri di tengah ruangan itu dan menatap sendu padanya.
“Sayang, ada apa?” Tanya Xiao Jun cemas, jantungnya berdetak kencang saking takut terjadi sesuatu pada kekasih cantiknya.
Weini mengumpulkan semangatnya dengan tarikan napas panjang, ia tak mau bicara sambil terisak. “Aku mau pulang sekarang. Aku mau pulang ke Hongkong!” Lirih Weini tegas.
Kini Xiao Jun paham apa yang membuat Weini bertampang menyedihkan seperti ini, ia merangkulnya lembut agar bisa sedikit menenangkan hati Weini. Sesak terasa di hati Xiao Jun saking seringnya melihat Weini gundah dan meratapi kesedihan. Gadis tangguh itu bukan lemah karena menangis, ia hanya berperasaan halus dan tak sanggup melihat orang-orang yang dicintainya menderita.
“Baik, kita pulang sekarang. Aku akan siapkan jet, kita berangkat sekarang.” Jawab Xiao Jun pelan, tidak ada yang perlu ditunda lagi. Biarlah mereka memanen semua kesedihan, ketegangan dan rasa lelah dari bertubi-tubinya masalah yang datang. Masalah yang membuat mereka kehilangan waktu untuk kebersamaan berdua, masalah yang sempat memisahkan mereka tanpa kepastian bagaimana akan kembali dipertemukan. Yang pasti, Xiao Jun sudah bertekad dalam hatinya untuk tidak membiarkan Weini sendirian lagi. Ia tak akan membiarkan gadis itu menghadapi kesulitan besar tanpa dirinya.
***
Xin Er, Li An serta Li Mei kembali mengepaki barang-barang mereka. Hanya bermalam satu hari saja di apartemen Xiao Jun dan mereka harus kembali angkat koper. Kali ini dengan tujuan yang lebih pasti, tujuan yang ingin Xin Er datangi sejak kemarin. Terdengar tangisan bayi Li Mei yang melengking, Xin Er berhenti menyusun kopernya lalu
mendekati Li Mei yang terlihat sabar menenangkan tangis bayinya.
“Sini ibu lihat.” Pinta Xin Er yang sudah menjulurkan kedua tangannya, siap menggendong bayi itu.
Li Mei mendekatkan bayinya agar bisa digendong Xin Er, tatapannya agak cemas dan tak lepas dari anaknya. “Aku sudah memberinya obat penurun panas, badannya demam bu.” Gumam Li Mei.
Li Mei menggeleng pelan seraya tersenyum, “Tidak perlu minta maaf, Bu. Aku justru senang punya kesempatan berkumpul dengan ayah dan ibu. Ini momen yang sangat aku harapkan sejak kecil hingga aku menikah, aku terus berharap kita sekeluarga dapat berkumpul lagi. Aku bahagia, bu. Anak-anak demam itu biasa, aku akan lebih
ekstra menjaganya. Ibu jangan khawatir ya, lanjutkan saja persiapan kita. Jangan sampai nona Yue Hwa menunggu kita yang belum siap.” Ujar Li Mei kemudian menjulurkan tangan agar Xin Er membiarkannya yang mengurus bayinya.
Xin Er tak banyak protes, apa yang dikatakan Li Mei memang benar. Selalu ada harga dari sebuah pengorbanan, meskipun harus terlunta-lunta ke sana kemari, ia rela asalkan keluarganya tidak terpisahkan lagi.
***
Weini tidak punya sesuatu untuk dipersiapkan, ia hanya perlu mengganti dress yang sejak kemarin ia kenakan. Terlalu norak baginya memakai gaun panjang yang membuatnya terlihat seperti hendak ke pesta lalu pulang ke rumah aslinya. Ia tahu gaun itu pemberian Chen Kho yang memang sangat gemar membuatnya berpenampilan cantik meskipun tak sadarkan diri, dan karena gaun ini sangat berarti lah, Weini ini menyimpannya dengan baik.
“Hmmm... Ku rasa ini cocok untukmu, simpel dan jauh lebih nyaman ketimbang gaunmu yang tadi.” Ujar Grace yang sejak tadi membongkar lemari pakaiannya karena Weini ingin meminjam pakaiannya. Dua gadis itu kembali ke apartemen Grace, dan kini Weini bisa tersenyum lega karena bisa mengganti pakaiannya.
Setelan dress casual yang simpel berwarna biru dongker itu dipakai Weini, tak lupa pula ia merapikan rambutnya yang agak kusut belum disisir sejak mendarat tadi. “Hmm... Aku merasa bisa nyaman bernapas sekarang, makasih Grace.” Ucap Weini lembut.
Grace menggeleng pelan, “Tak perlu terima kasih, koleksi bajuku juga tidak banyak di sini. Untung saja ada yang cocok denganmu, tapi kamu tampaknya cocok memakai apa saja, dasarnya kau sudah sangat cantik.” Puji Grace tulus.
Weini tersenyum tipis, banyak yang memujinya cantik hingga terdengar bosan baginya. “Ayo, kau juga bersiap-siaplah, sebentar lagi kita berangkat.” Ujar Weini mengalihkan topik.
Grace kembali menggeleng, kali ini lebih cepat. “Kalian saja yang berangkat, aku tidak bisa ikut kali ini. Sampaikan salamku untuk tante, dan juga aku selalu doakan agar paman segera sadar dan sembuh. Semoga kalian sekeluarga segera berkumpul dan bahagia.” Ucap Grace, ia meraih tangan sepupunya dan tersenyum.
Weini mengerutkan dahi, ia tak menyangka ajakannya ditolak Grace. Ia mengira Grace akan ikut pulang dengannya, bagaimanapun Grace tetap bagian dari keluarganya. “Kau yakin tidak mau ikut pulang? Apa yang mau kau lakukan di sini?” Tanya Weini cemas.
Grace tersenyum lalu mengangguk, “Aku sangat yakin, sepupu. Kalian sekeluarga akan berkumpul, aku tidak enak harus menampakkan diri di depan kalian. Semua kekacauan ini terjadi karena ulah ayah dan mendiang kakakku. Aku turut menyesal atas nama mereka.” Lirih Grace menundukkan kepala.
“Tidak, ini bukan salah mereka Grace. Bukan salah paman, kakak sepupu dan bukan salahmu. Kakakmu sudah
menceritakan padaku apa yang terjadi padanya, ini murni bukan kehendak dia, aku juga yakin ini bukan kehendak ayahmu. Jadi tolong, jangan terus menyalahkan dirimu. Aku janji, aku akan tegakkan keadilan untuk kak Chen Kho. Akan aku cari ‘dia’ yang harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan keluarga kita.” Jelas Weini serius.
Mendengar penjelasan Weini membuat Grce sedikit lega, padahal ia sudah menyiapkan hati untuk menerima andai Weini akan menyalahkannya dan keluarganya, tetapi ternyata semua tidak seperti yang ia bayangkan.
“Terima kasih, Weini... tapi, aku sungguh belum bisa ikut denganmu sekarang. Aku janji akan menyusul segera, setelah urusanku kelar.” Ujar Grace sungguh-sungguh.
Weini memincingkan matanya, mencoba mencari kebenaran dari alasan Grace. “Kamu punya urusan yang
belum selesai di sini? Apa itu dia?” Selidik Weini dengan sorot mata yang tampak menggoda.
Grace tersenyum dan sedikit menunduk, tetapi ia kembali menegakkan kepalanya dan menatap Weini dengan mantap. “Ya, aku mau menemaninya sampai keluar rumah sakit. Masih ada Fang Fang dan Bams yang juga perlu perhatian. Kamu pulanglah dulu, aku pasti segera menyusul ke sana begitu mereka keluar dari rumah sakit.” Gumam Grace.
Weini mengerti sekarang, ia mengerti perasaan Grace pada Stevan yang telah tumbuh dan mulai menguat. Tangan Weini segera menarik Grace agar menghambur ke pelukannya, seolah ingin Grace tahu bahwa ia turut bahagia mengetahui Grace telah menemukan tambatan hati yang tepat. Seseorang yang sangat Weini kenal baik dan yakin bisa membahagiakan sepupunya.
“Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Aku sungguh senang... sangat senang kalian memutuskan bersama.” Gumam Weini di sela pelukannya dengan Grace yang semakin erat.
***
Up banyak nih guys, jangan pelit komen, like dan vote loh ya. makaciiiih....
Salam sayang dari Weini ❤️🌹