OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 132 SACRIFICE



Haris belum pernah menginjakkan kaki ke gedung perkantoran yang diberikan alamatnya oleh Weini. Jika bukan karena kepentingan yang mendesak, Haris enggan berada di sekitar lingkungan formal itu. Ia berada di lantai dua lima, tempat berdirinya kantor pemasaran perusahaan Xiao Jun. Haris celingukan sesaat mengamati suasana


di sekitar yang terlihat riuh layaknya pasar. Beberapa staf berseragam hitam terlihat bingung dan ketakutan, Haris menebak pasti telah terjadi keributan besar yang mengguncang kondisi karyawan. Jika merunut keterangan Weini yang cemas kondisi Lau, ketegangan yang dilihatnya sekarang pasti menjurus pada body guard Xiao Jun itu.


Seorang karyawan wanita berpapasan dengan Haris, langkahnya terburu dan ia tampak ketakutan. Haris membuntuti wanita itu hingga di depan lift kemudian membentangkan tangan mencegatnya. Reaksi spontan Haris membuat wanita ia bergerak mundur dan menatap heran pada Haris.


“Maaf adik, aku kemarin mencari tuan Lau. Tapi sepertinya keadaan kantor sedang kondusif, apa tuan Lau ada?” Haris polos bertanya, ia menatap kedalaman mata wanita itu sembari menerawang kejujurannya.


Bak terhipnotis, wanita itu langsung menumpahkan isi hatinya. Segala ketakutan yang ia rasakan sepanjang hari, “Bapak cari Pak Lau? Dia barusan dibawa pergi oleh serombongan pria menakutkan. Direktur utama kami tidak datang dan pak Lau yang menggantikannya, tiba-tiba rombongan pria itu menerobos keamanan sampai


menghajar security dan… dan membawa pergi pak Lau dengan tangan diborgol.” Ungkap wanita itu dengan panik.


“Serombongan pria? Apa mereka terlihat seperti orang asing?” Haris memancing pertanyaan itu, ia perlu memastikan sesuatu dari penjelasan saksi.


Wanita itu mengangguk, “Ya. Mereka berbahasa Mandarin, kami tidak mengerti percakapan mereka. Sekarang orang-orang asing itu menunjuk seorang penerjemah dan mengumumkan mulai hari ini perusahaan akan dipimpin oleh tim professional dari Hongkong. Ah… maafkan aku pak, aku tidak bisa bicara lebih lama lagi. Ada tugas


penting yang mereka perintahkan padaku.”


Haris tidak menghalangi wanita itu, ia cukup puas dengan informasi yang didapatnya. “Aku minta maaf sudah mengganggumu. Terima kasih atas infonya.”


Wanita itu tersenyum kemudian masuk ke dalam lift, sementara Haris mengamati sekeliling sekali lagi sebelum pergi. Malangnya nasib Lau, Haris yakin tuan besar lah yang mengutus anak buahnya untuk menangkap Lau. Segalanya tidak akan mudah jika sudah berurusan dengan Li San. Sama halnya dengan yang dialami Haris, beruntungnya ia menguasai sihir hingga mudah lolos dari maut. Lau hanya pengawal biasa yang mengandalkan kekuatan fisik untuk perlawanan, ia tidak akan mudah lolos dari hukuman apalagi terikat sumpah setia seorang pengawal.


“Lau yang malang, semoga takdir berkata lain agar kau bisa lolos dari hukuman mati.” Haris bersedih atas nasib Lau, tiada cara yang bisa ia lakukan untuk membantunya hanya doa agar masih ada jalan keluar untuk masalah ini.


***


Semangkuk sup ginseng mulai mendingin tanpa tersentuh oleh Liang Jia. Semenjak kunjungan Li San, selera makannya drastic menurun. Betapa kesal perasaan yang terpendam memikirkan Xiao Jun dan Xin Er. Membujuknya menikahi seseorang yang tidak ia cinta, andai belum ada gadis yang ia cintai mungkin akan lain cerita. Hubungan mereka baru menapaki satu jenjang serius kemudian harus dikacaukan oleh perjodohan


paksa, Liang Jia tidak mampu membayangkan hancurnya perasaan Xiao Jun.


Li San berani menamparnya, bukan tidak mungkin ia berani melukai Xiao Jun dan Xin Er ketika mereka sungguh memberontak kehendaknya. Liang Jia enggan kehilangan orang-orang yang ia cintai kesekian kali, “Tapi aku tak sanggup membujuknya menerima perjodohan. Memisahkan dua orang yang saling mencintai, dosa sebesar


itu apa langit akan mengampuniku?”


Seorang pelayan masuk membawakan jatah makan selanjutnya, ketika hendak meletakkan di atas meja, ia menyadari jatah makan sebelumnya belum tersentuh sama sekali. Ia menatap nyonya besar yang duduk memandang ke luar jendela, aktivitas baru sang nyonya yang menghabiskan waktu membosankan dalam kamar jika bukan merajut maka ia akan melamun di sisi jendela.


“Nyonya, anda belum makan dari pagi. Saya akan bawakan sup ginseng yang baru, minumlah selagi hangat nanti untuk kesehatan anda.” Pelayan itu prihatin dengan Liang Jia dan hanya berani memberi perhatian kecil seperti itu.


“Tidak perlu, aku tidak akan meminumnya.” Kelar Liang Jia tanpa mengalihkan pandangan.


“Ng, baiklah nyonya. Saya undur diri…” Pelayan itu tahu diri dan segera menyingkir dari hadapan Liang Jia.


Si gadis pelayan berdiri canggung dipelototi setajam itu seakan ia akan dikuliti hidup-hidup. “Saya tidak tahu apa apa nyonya, saya diutus kepala pelayan untuk melayani anda. Siapa pelayan yang nyonya maksud?”  ujar si pelayan gemetaran, ia hanya trainee yang diterima dua hari lalu.


“Panggilkan kepala pelayan sekarang!” seru Liang Jia tegas.


Pelayan itu terbirit menghampiri kepala pelayan demi menyampaikan titah nyonya besar. Dalam lima belas menit mereka kembali menghadap Liang Jia, seakan mempermainkan bawahannya Liang Jia meminta kepala pelayan membawakan orang yang ia cari untuk menghadapnya.


Pelayan yang dimaksud itu kini tak berani menatapnya, ia berlutut dengan kepala tertunduk dalam. “Hormat kepada nyonya besar, panjang umur!”


Hanya ada mereka berdua dalam kamar yang terkunci dari dalam. Liang Jia mengusir semua pelayan yang tidak berkepentingan, ia harus menanyakan secara empat mata.


“Apa kau sudah lakukan tugasmu?” tanya Liang Jia singkat dan tegas.


Pelayan itu ketakutan, Liang Jia bahkan bisa melihat jari tangan gadis itu bergetar. “Su… sudah nyonya.” Ujar pelayan itu.


“Oya? Kau berkata jujur atau sedang mempermainkanku?” Liang Jia menunduk lalu mengangkat wajah pelayan itu dengan jemarinya. Ia melihat langsung betapa pucat wajah gadis lemah itu.


“Ampun nyonya, hamba tidak berani. Hamba tidak beranii…” pelayan itu menyembah Liang Jia, nyalinya ciut untuk sekedar berbohong. Hidupnya terasa menyedihkan diancam oleh dua pihak yang sama-sama punya kuasa.


“Katakan sejujurnya, aku akan mengampunimu.” Seru Liang Jia melunak. Ia tidak sampai hati menyakiti pelayan lemah, hanya saja sesekali harus memberi gertakan agar tidak dipermainkan.


“Obat itu direbut oleh dua nona muda. Mereka membuntuti hamba dan mengancam akan laporkan kepada tuan besar. Hamba terpaksa nyonya, maafkan hamba. Tolong ampuni nyawa hamba.” Pelayan itu menangis ketakutan, setelah ini mungkin ia akan menghadapi kesulitan dari dua nona muda yang ia maksud karena telah membocorkan


kebenaran.


“Dua nona siapa? Katakan yang jelas!” Liang Jia geram, putrinya yang mana yang lancang bertindak seenaknya.


“Nona kedua dan nona ke-empat, nyonya.” Pelayan itu terbata-bata dengan suara mendesis.


Liang Jia meremas sapu tangan, ia tak mengira tabiat dua anak gadis itu begitu buruk di belakangnya. Ia menyalahkan Li San yang telah memisahkan semua anak gadisnya sehingga tidak satupun yang tumbuh dewasa dalam didikannya. Ke empat anak gadis itu malah dipercayakan untuk Kao Jing yang begitu bebas di Amerika.


“Sudahlah, aku tidak akan menyulitkanmu. Kelak jika mereka berdua mengancammu, bilang ke mereka bahwa aku sudah tahu kelakuannya dan suruh mereka temui aku.” seru Liang Jia sembari membiarkan pelayan itu berlalu dari hadapannya.


Ia kian mencemaskan keadaan Xin Er, penyakitnya berkemungkinan kambuh karena tidak mengonsumsi obat itu ditambah dengan udara lembab di tahanan bawah tanah, pasti semakin memicu potensi memburuknya kesehatan. Kondisi yang serba tidak menguntungkan itu harus dilalui dengan pengorbanan, bila tidak ada seorangpun


yang mau mengalah maka tak menutup kemungkinan akan ada korban jiwa.


Liang Jia menggedor pintunya sehingga menarik perhatian penjaga. “Bilang ke tuan, aku akan menemui Xiao Jun!”


***