
Pagi yang masih sangat buta di kediaman Li, rasanya seperti nostalgia bagi Xin Er yang sudah beberapa lama tidak melakukan pekerjaannya sebagai pelayan. Ia seperti terpanggil untuk melakukan rutinitasnya, dan keinginan itu pun mendapat persetujuan dari Haris. Mereka berdua menempati kamar tamu di paviliun Xiao Jun, tapi tanpa sepengetahuan Xiao Jun, mereka bertindak seolah masih pekerja di rumah itu.
Xin Er masuk ke dapur umum untuk menyiapkan hidangan khusus untuk Li San dan Liang Jia, makanan untuk yang lainnya tetap menjadi tugas koki utama.
"Haiyoo... Aku sudah menjamumu sebagai tamu tetapi kau tetap saja turun ke dapur. Sudahlah kak Xin Er, biarkan saja koki yang mengurus kerjaan ini. Ayo temani aku mengobrol di paviliunku saja, Li San mencarimu." Seru Liang Jia begitu melihat Xin Er sibuk mengaduk masakannya.
Xin Er berhenti beraktivitas, ia baru saja ketahuan dan agak canggung menyembunyikan kesalahannya. Hanya senyum kaku yang bisa ia tampakkan pada nyonya besar rumah ini.
"Maafkan aku, nyonya. Aku tiba-tiba merasa kangen dengan kerjaan lamaku. Ini tidak merepotkanku, justru aku sangat menikmatinya. Biarkan saya menyelesaikan masakan ini untuk anda dan tuan, setelah itu saya akan menemani anda di paviliun." Pinta Xin Er masih mencoba mengambil hati Liang Jia.
Liang Jia geleng-geleng kepala, ia tidak bisa emosi terhadap wanita yang sudah dianggap seperti saudaranya. Ia segera menarik tangan Xin Er agar menjauh dari panci.
"Sudahlah tinggalkan saja, kita sebentar lagi akan jadi keluarga, biasakan diri untuk memanggilku besan saja. Setelah anak anak kita menikah, kita bisa santai menunggu mereka memberi kita cucu."
Dua wanita tua itu tersenyum, membayangkan saja sudah sangat menggembirakan, apalagi jika sampai jadi kenyataan. Sayangnya khayalan mereka terhenti dengan kehadiran seorang pengawal utusan Li San.
"Hormat kepada nyonya besar, saat ini nyonya diminta berkumpul di kamar tuan besar. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana." Ujar pengawal itu lalu membungkukkan badannya.
Liang Jia mengernyitkan dahi, heran sekaligus takut dengan panggilan mendadak itu. Rasanya baru tadi ia menghadap Li San, di sana pun ada Weini yang setia menjaganya sejak dari rumah sakit.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." Ujar Liang Jia pada pengawal itu.
Liang Jia menatap Xin Er dengan cemas, seakan berharap mendapatkan dukungan agar ia tak terlalu cemas. "Ada apa lagi ini? Perasaanku tidak enak." Gumam Liang Jia.
"Jangan berpikir buruk dulu, nyonya. Kita langsung ke sana saja, jangan sampai tuan besar lama menunggu." Ujar Xin Er masih mencoba berbaik sangka.
Liang Jia menurut saja apa yang disarankan Xin Er, ia merasa sangat beruntung karena teman terbaiknya kembali di sisinya.
❤️❤️❤️
Ruangan kamar Li San yang luas tampak ramai oleh keluarga intinya, tak luput juga ada Haris, Li An, Li Mei dan Wen Ting yang ikut hadir. Sejak tadi Li San mengutus semuanya berkumpul, padahal Weini sudah menemaninya sepanjang waktu. Bahkan Weini rela tidur di sofa kursi itu demi menjaga Li San, padahal Li San menyuruhnya tidur di kamarnya saja.
"Apa ibumu sudah datang?" Tanya Li San lirih.
Weini menoleh ke belakang, mencari sosok yang dimaksud ayahnya lalu menggeleng pelan. "Belum, mungkin ibu sedang menuju kemari, ayah."
Li San mengangguk lemah, tatapannya begitu sendu melihat Weini. "Apa kamu bisa tidur nyenyak semalam? Ayah menyusahkanmu saja."
"Tidak, ayah tidak menyusahkan aku. Semalam aku bisa tidur nyenyak, ayah. Jangan khawatir." Jawab Weini lembut.
Yue Yan dan ketiga adiknya kompak mendekati Weini, mereka pun ingin melihat Li San lebih dekat. Saat tatapan Li San ke arah Yue Xin, pria tua itu terlihat mengerutkan dahinya.
"Yue Xin, kenapa kamu masih di sini? Kunjungan pengantin baru tidak boleh sampai menginap. Kau harus segera kembali ke rumah suamimu." Lirih Li San was was.
Yue Xin dan suaminya mendekat, mereka tersenyum demi memenangkan pikiran ayahnya.
"Ayah, kami fleksibel dengan adat, untuk saat ini yang paling utama bagi kami berdua adalah melihat ayah semakin membaik. Kami akan segera pulang jika ayah makin sehat."
Li San diam sesaat, ia terlalu lemah untuk marah-marah lagi. "Anak muda jaman sekarang, makin lama makin toleransi pada adat. Ya sudahlah, yang penting keluarga suamimu tidak mempermasalahkan itu."
"Tidak, ayah mertua. Keluargaku sangat berpikiran terbuka. Ayah dan ibu mengirim salam untuk ayah mertua, semoga segera sehat dan panjang umur." Ujar suami Yue Xin.
Li San hanya mengangguk, perasaannya lega mendengar itu. Liang Jia yang ditunggu-tunggu pun sudah muncul bersama Xin Er. Wanita itu segera mendekat untuk menghadap Li San. Pria tua itu mengangguk pelan saat Liang Jia menatapnya dengan sorot penasaran.
"Semua sudah berkumpul kan?"
"Iya, suamiku. Semua sudah di sini." Jawab Liang Jia, jantungnya berdetak kencang, tiba-tiba ia merasa takut maksud Li San bukan hal baik yang akan diperdengarkan.
Weini dan yang lainnya yang mendengar pun merasa cemas. Weini berusaha menatap Haris, berharap bisa telepati tetapi Haris cukup fokus pada Li San. Weini pun mengurungkan niatnya dan kembali fokus pada Li San.
"Wei, Xin Er... Maafkan aku yang egois telah mengambil putramu dan mengganti marganya.
Aku tahu ini pasti berat bagi kalian karena Xiao Jun juga satu satunya penerus kalian." Lirih Li San yang spontan mendapat perhatian serius dari Xiao Jun dan yang lainnya, mereka tak bisa mereka apa yang diinginkan Li San.
"Hamba berterima kasih pada tuan besar yang sudah menyayangi putra kami dan mendidiknya menjadi orang yang hebat sekarang. Jika bukan karena tuan besar dan nyonya besar, mungkin putra kami tidak mendapatkan masa depannya." Jawab Haris yang tak ingin membebani Li San, terlebih yang diucapkannya memang benar.
"Tidak masalah, lagipula aku sangat menyayangi Jun. Tetapi mulai hari ini... Jun...."
Xiao Jun yang merasa dipanggil itu segera menampakkan dirinya. Ia berdiri di samping Liang Jia lalu memberi hormat pada Li San.
"Jun, kamu sudah mengurus perusahaan dengan baik bahkan lebih pesat dari pada jaman aku yang mengelolanya. Terima kasih atas kerja kerasmu...."
"Ayah, semua berkat bimbingan ayah. Jun yang harus berterima kasih." Jawab Xiao Jun.
Li San malah menggeleng pelan, "Tak perlu sungkan, aku akan memberimu hadiah terakhir. Mulai hari ini, kamu akan kembali memakai nama keluarga aslimu. Aku tetap menganggap mu putraku, dan merestui hubunganmu dengan Yue Hwa. Segeralah menikah, lahirkan keturunan untuk klan Li dan Klan Wei."
Haris, Xin Er dan Xiao Jun yang mendengar keputusan Li San itu segera bersujud. Mereka tak menyangka Li San berbesar hati mengembalikan Xiao Jun pada keluarga aslinya, sebagai putra dari klan Wei. Li An dan Li Mei yang melihat itupun ikut bersujud, mau tidak mau Wen Ting juga ikut melakukan itu demi keluarga mertuanya.
"Terima kasih tuan besar." Berulang kali kata itu dilontarkan Haris sekeluarga.
Weini yang menyaksikan semua itu masih terdiam, perasaannya makin tak enak dengan sikap Li San yang seperti sedang menyampaikan pesan terakhir.
"Sudahlah, bangunlah kalian semua." Perintah Li San yang segera dipatuhi oleh Haris sekeluarga.
Xin Er menyeka air mata harunya, Xiao Jun pun memegangi Xin Er dari samping agar bisa menenangkan ibunya.
"Siapa nama aslimu, Jun? Ayah lupa...." Tanya Li San lirih.
"Wei Li Jun, ayah." Jawab Xiao Jun.
Li San mengangguk, "Li Jun... Ayah titip putri ayah padamu. Bahagialah kalian berdua, dan tolong bimbing dia menjalankan tugasnya. Kalian harus bahagia, harus."
Weini mulai terisak, semakin mendengar pesan Li San semakin ia tak tahan. "Ayah.... Sudahlah."
Liang Jia mulai menenangkan Weini tapi dirinya sendiri ikut terisak.
Li San diam, ia beralih pada yang lainnya.
"Yue Yan, Yue Xin, kalian berdua jadilah istri yang baik dan menjaga nama baik keluarga. Ayah lega, kalian mendapat jodoh yang baik. Yue Fang, Yue Xiao, kalian harus lebih banyak belajar dan mandiri, ayah bebaskan kalian menentukan jodoh sendiri, carilah yang kalian cintai dan mencintai kalian." Lirih Li San.
Sontak ke empat putri itu mengerubungi ayahnya dan mulai menangis, mereka mulai sadar keanehan Li San yang seperti pertanda buruk.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Yue Xiao mau dijodohkan oleh ayah." Isak Yue Xiao.
Li San menggeleng lemah, "Gadis bodoh, sudah diberi kebebasan masih minta dikekang. Pilih yang sesuai hatimu, tidak usah buru-buru menikah jika belum ketemu yang cocok."
Tak ada lagi yang membantah, hingga Li San menghela napas kasar lalu melanjutkan ucapannya.
"Aku meminta kalian semua berkumpul di sini, karena ada sesuatu yang penting yang harus kalian ketahui. Ini tentang keputusanku, tentang kelanjutan klan Li.... Awalnya aku memilih Jun sebagai penggantiku, tapi setelah aku sadar kesalahan di masa laluku, aku sudah mantap mengubah keputusan. Aku menunjuk putriku, Li Yue Hwa sebagai penerus klan Li. Segala urusan yang kupegang sebelumnya, serta semua aset akan diwariskan atas namanya."
❤️❤️❤️