
Mobil mewah yang dinaiki Weini melintasi jalan Tanjung Duren dalam keheningan, tanpa suara musik, tanpa percakapan. Kurang lebih lima belas menit ia merasakan kecanggungan yang dilematis. Ini kali pertama ia
pergi dengan seorang pria sebaya – berduaan – entah kemana. Ia masih ragu membuka pembicaraan, melihat track rekor yang ada obrolan dengan pria itu selalu berakhir mengesalkan. Tapi kalau ia tidak mengajak bicara, kapan suasana beku ini mencair?
“Kita mau kemana?” perdebatan hati Weini buyar seketika saat Xiao Jun buka suara. Namun terasa aneh, mengapa ia malah ditanya tujuan mereka padahal Weini mengira pria itu akan membawanya ke suatu tempat.
“Kok malah nanya aku? Kirain kamu mau bawa aku kemana gitu?” Weini mendadak frustasi, dari tadi mereka hanya mutar tanpa tujuan jelas.
“Aku belum begitu mengenal jalan, kukira kamu bisa menunjukkan arah.” Ujar Xiao Jun berlagak tidak berdosa.
“Ya, tapi ngomong dong mau kemana dari tadi. Muterin jalanan Jakarta itu sama aja cari penyakit. Kejebak macet gimana?” Weini mulai dongkol, benar saja tebakannya bahwa bicara dengan Xiao Jun hanya akan berakhir
mengesalkan.
“Oke, kamu yang nentuin mau kemana sekarang?” Xiao Jun fokus menyetir padahal dalam hatinya ia tertawa senang berhasil mengerjain gadis galak itu. Ia sebenarnya punya tujuan, namun terlalu gengsi untuk menunjukkan dari awal.
“Aku lapar.” Seru Weini kesal.
“Kamu mau traktir aku?” timpal Xiao Jun tanpa mengalihkan pandangan ke depan.
*Ggggggrrrrrrrr….*Tolong berikan satu kata buat pria ini! Batin Weini menahan dongkol. Pria itu hobi menguji kesabarannya.
“Okelah dengan begitu kuanggap sebagai penebusan kebebasanku. Kelak kau jangan menyusahkanku lagi.” Sergah Weini nyinyir. Ia merasakan hembusan angin kemenangan di pihaknya.
“Hmm… tergantung seberapa enak makanan itu.” Jawab Xiao Jun tanpa berpikir lama. Memintanya melepaskan Weini semudah itu? Ia khawatir tidak bisa melakukannya.
Sebuah café di dekat Binus menjadi pilihan Weini. Mobil memasuki halaman parkir yang cukup padat dipenuhi kendaraan roda dua. Café ini sangat digandrungi kalangan mahasiswa sekitar kampus dan siang hari menjadi
waktu paling ramai pengunjung. Setelah berhasil parkir dengan susah payah mencari area, Weini malah berubah pikiran.
“Ingat ya lu harus jaga sikap di depan umum. Menarik perhatian sedikit saja lu pasti jadi incaran media. Belum lagi warganet yang lihay jadi paparazzi amatiran. Sebaiknya lu hindari tempat umum yang penuh keramaian.” Weini teringat pesan Bams padanya saat ia bersikeras menolak diberikan manager dan meyakinkan bahwa ia bisa menjaga diri sendiri.
Xiao Jun melepas sabuk pengaman dan bersiap turun, namun melihat Weini bergeming maka ia pun ikutan diam. “Ada apa?” Tanya Xiao Jun penasaran.
Weini menatap pria berparas tampan itu dengan detail. Bahkan penampilan Xiao Jun terlihat mencolok dengan setelan jas formal. Bayangkan betapa hebohnya publik jika mereka turun dari mobil ini sekarang. Mungkin besok ia akan muncul di infotainment dengan narasi yang menggiring opini sesat.
“Mmm… bisa nggak kita ganti tempat lain?” Weini menggigit bibirnya saking cemas dengan reaksi Xiao Jun yang tak tertebak.
Xiao Jun tidak menjawab tapi langsung menyalakan mobil. Ia memegang setir lalu membuka sedikit jendela untuk membayar parkiran, tentu saja dengan tip. Weini merasa sudah kehilangan muka untuk bertanya akan dibawa kemana ia setelah ini. Ia bahkan tidak bisa diandalkan untuk mencari tempat makan.
Kruuuuuk… kruuuukuuk… Sial. Umpat Weini pada dirinya yang seketika menjadi pucat karena suara konser perutnya terdengar nyaring. (pembaca, ada yang ingin pinjamkan bantal buat nutupin wajah Weini dari rasa malu?)
Xiao Jun berusaha bereaksi normal demi menjaga harga diri seorang gadis. Lebih baik ia pura-pura tidak mendengar suara yang barusan melintas di pendengarannya meskipun itu cukup menggelitik.
***
Di sebuah studio production house…
Antrian para peserta audisi terlihat memadati ruang pendaftaran ulang. Banyak gadis muda yang menguji bakat dan keberuntungan demi mendapatkan peran dari sebuah drama terbaru. Salah satu peserta dengan ambisi besar itu adalah Metta. Demi casting, ia rela bolos sekolah untuk totalitas make up. Penampilannya kini terlihat cukup flawless namun gaya busananya sangat minimalis.
“Peserta no 21.” Seru seorang kru yang berdiri di depan studio.
Metta beranjak dari kursi. Ini kesempatannya menunjukkan potensi, ia sangat yakin langkahnya kian dekat mengejar posisi Weini. Secarik script yang disodorkan sebelum casting telah ia hapalkan, kini waktunya beraksi.
Metta berhadapan dengan seorang sutradara dan seorang asisten produser yang menjadi penilai, panasnya sorot lighting dan kamera dari berbagai sudut mulai menciutkan kepercayaan dirinya. Ia mulai merasa canggung,
perutnya terasa mulas.
Adegan nangis. Judul ratapan anak tiri.
“Ibu kejam! Ibu hanya cinta ayah saja! Aku ini…” dialog terputus. Metta lupa dialognya. Air mata bahkan belum sempat menetes. Selang semenit berlalupun ia tetap tidak ingat lanjutan kalimat itu saking gugup.
“Oke lanjut scene selanjutnya.” Perintah Sutradara dengan nada lantang.
Tangan Metta mulai berkeringat dingin. Kali ini ia harus lebih totalitas karena peran antagonis lebih gampang ia jiwai.
“Hei, gadis kampungan! Beraninya lu deketin Leo? Nyali lu gede juga ya mau saingan ama gue. Ngacaa! Lu nggak ada apa-apanya dibanding gue. Cantik nggak, kaya nggak, pintar apalagi.”
Yes! Semudah itu memainkan peran jutek. Metta tidak kesulitan menjiwainya saking sering ia lakukan sehari-hari terutama terhadap Weini dan Sisi.
“Oke cukup. Kabar selanjutnya akan kami hubungi. Terima kasih.” ujar seorang kru menyudahi waktu tampil Metta.
Gadis angkuh itu berlagak seakan sudah menjadi pemenang lalu melenggang keluar dengan bergaya bak model catwalk. Tunggu pembalasanku Weini. Gue pasti lolos casting! Masa jayamu tinggal sesaat, gue bakal nginjak
lu turun dari singgasana. Jangan mimpi jadi tuan putri! “Hihihihi….” Metta terkikih sendiri tanpa sadar dihujani tatapan aneh dari sekeliling.
***
Hasil dari perjalanan yang menghabiskan nyaris dua jam hanya demi makan siang, nyatanya berakhir di sebuah kedai ramen di Central Park. Kedua anak muda yang jaim itu duduk berhadapan dan belum juga memesan
makanan. Weini menyembunyikan wajahnya dengan buku menu, ia tak mampu menatap pria itu dari jarak dekat pasca dua insiden memalukan. Pertama ia membatalkan makan di tempat pilihannya, kedua ia melawak dengan suara keroncongannya.
“Apa kamu bisa baca dengan jarak sedekat itu?” Xiao Jun mengomentari posisi Weini yang aneh. Bagaimana ia memilih menu jika wajahnya menempel pada buku itu.
“Eh… ramen chicken katsu aja.” Ujar Weini dengan cepat. Coba dari awal Xiao Jun membawanya kemari, ia tidak perlu membuang waktu dan tenaga hingga kelaparan begini. Ramen di kedai ini memang cocok dengan selera Weini, kadang ia diajak Haris makan di sini. Tidak disangka sekarang ia makan bersama Xiao Jun.
“Oke.” Xiao Jun memesan beberapa menu selain yang disebut Weini. Ia merasa kasihan dengan waitress yang menunggu pesanan mereka sekian lama gara-gara gadis itu lebih memilih membaca tulisan dengan jidat
ketimbang mata.
“Ng… kau suka makan ramen?” Walau kikuk, Weini mencoba mengajak Xiao Jun berbicara santai.
“Iya.”
Jawaban macam apa itu? Ia membiarkanku kehabisan bahan omongan. Weini hanya berani protes dalam hati saja.
“Boleh bertanya?” Xiao Jun mencoba bertaruh, akankah Weini bersedia terbuka sedikit saja tentang dirinya.
“Apa?” ujar Weini sambil meniup teh panas yang mengepul.
“Kalau boleh tahu, margamu apa?” Xiao Jun melipat kedua tangan dan menyandarkan di atas meja. Menanti sebuah jawaban dari hadapannya.
Diam. Weini tak siap dengan pertanyaan seperti itu. Ia beradu pandang dengan Xiao Jun, berusaha mencari tahu isi hati pria itu. Belum pernah ada satupun yang melontarkan pertanyaan sensitif seperti itu. Tapi kini pria dari Hongkong yang baru ia kenal belum lama mempertanyakannya.
“Nona?” Xiao Jun menanti jawaban.
Weini bimbang, jawaban apa yang harus ia katakan? Menghargai leluhurnya dengan mengakui marga Li atau menghargai pengawal yang sudah seperti ayahnya dan mengaku bermarga Wei?
“Aku…”
***