OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 212 YUE HWA YANG KEMBALI DIINGAT



Sarapan pagi Li San kali ini cukup istimewa, ditemani oleh saudara laki-lakinya yang beberapa hari lagi akan pulang ke Amerika. Ia menyuguhkan secawan arak dan mengajak saudaranya bersulang. “Mari, gan bei (bersulang) untuk kebahagiaan putra putri kita, untuk kejayaan klan Li!” seru Li San dengan tawa puas, yang ia angkat adalah gelas ke empat mereka. Kemampuan minum mereka memang luar biasa lantaran terlatih sejak usia muda.


Kao Jing ikut tertawa dan mengangkat cawannya, “Gan Bei!”


Dalam beberapa teguk, minuman keras itu habis bagaikan menelan air putih biasa. Kao Jing mulai cegukan tetapi ia tak menggubris alarm tubuhnya agar berhenti, cawan kosong di tangannya kembali ia isi penuh sekaligus milik adiknya.


“Kakak, setelah kau pergi, aku akan kesepian lagi. Tahun depan saat pernikahan Xiao Jun dan Grace, datanglah lebih awal biar lebih lama kita berkumpul.” Pinta Li San, ia bisa juga merasa kehilangan ketika saudaranya akan meninggalkannya. Padahal semasa muda, perpisahan seperti itu tidak ada efeknya namun seiring bertambahnya usia, ia semakin suka berkumpul dengan saudara.


Kao Jing tertawa kecil mendengar kemanjaan adiknya, serasa mereka masih anak-anak yang suka bermain bersama. “Tentu saja, aku pasti datang sebulan sebelum acara. Aku tak sabar melihat anakku jadi pengantin.”


“Dia pasti sangat cantik. Tenanglah kak, aku akan mendidik menantuku dengan baik.” Ujar Li San meyakinkan.


Kao Jing mengulum senyum, matanya mulai melirik Li San yang tengah menaruh cawannya ke atas meja. Ini waktunya Kao Jing beraksi, tujuannya kemari bukan sekedar demi acara minum-minum. “Aku percayakan Grace sepenuhnya padamu, semoga putriku itu tidak mengecewakan seperti putraku yang tidak berguna.” Kao Jing


menggelengkan kepala dengan pesimis, kesal hanya dengan memikirkan putranya.


“Keponakanku yang itu hanya perlu diberi didikan lagi, dia cukup berpotensi. Aku masih menghukumnya untuk introspeksi diri.” Ujar Li San serius, bagaimanapun Chen Kho adalah keturunan Li, ia tidak boleh semena-mena pada keponakannya. Itulah mengapa untuk kesalahan fatal sekalipun ia hanya memberinya hukuman ringan.


“Maaf merepotkanmu adik, kau pasti sangat kecewa pada Chen Kho. Hanya saja aku pikir, hukuman introspeksi diri tidak mempan untuk dia. Aku tahu sifat anak itu, dia tidak bisa dihukum dengan kekerasan. Didikanku padanya sejak kecil berbeda dengan didikanmu, aku rasa lebih baik dia kubawa pulang ke Amerika. Aku harus memberinya pelajaran, dan dia akan menjalani kerjaan dari nol di sana biar ada efek jeranya.” Ujar Kao Jing.


Li San manggut-manggut, bagaimanapun yang lebih berhak mengatur kehidupan Chen Kho adalah ayahnya. Tidak ada gunanya juga mengurung dia di kamar, setelah keluar pria itu tidak lagi menjabat sebagai direktur. Chen Kho nyaris tidak berguna lagi bagi Li San di sini.


“Baik, aku setuju. Bawa dia pulang bersamamu, kak. Dia lebih bermasa depan di sana.” Li San dengan mudah menyetujui, lepas satu beban tanggung jawab terhadap keponakannya itu. Li San lebih baik mengurus keponakan perempuan yang bakal jadi menantunya, ketimbang Chen Kho yang punya jiwa bebas dan sulit diatur.


Kao Jing tersenyum puas, ia berhasil meyakinkan adiknya dengan mudah. “Mari, habiskan semua arak ini.” Lagi-lagi Kao Jing mengangkat cawan dan meneguk tanpa ragu.


Seorang pengawal datang menemui Li San, semula pengawal itu segan menyampaikan berita karena kehadiran Kao Jing. Namun Li San tetap memintanya mengatakan langsung, tak perlu menghiraukan keberadaan kakaknya.


“Tuan, saat ini tuan muda Lo datang menemui anda di aula.” Ujar si pengawal.


Li San mengernyit, “Lo Wen Ting? Ada apalagi …” ia sempat ragu hendak diterima atau tidak tamu itu, berhubung ada saudaranya yang masih ingin ia ajak bersantai.


“Kalau begitu, aku pergi dulu adik. Temui tamumu dulu.” Kao Jing malah tahu diri dan hendak pamit, tetapi Li San justru mencegatnya.


“Kakak tidak perlu pergi, dia mungkin tidak lama.” Ujar Li San singkat dan kemudian memerintah pengawalnya mempersilahkan Wen Ting bergabung di taman.


bersih di atas meja untuk tamunya.


“Anak muda, ada urusan apa sepagi ini?” tanya Li San to the point.


Wen Ting tersenyum, rupanya Li San enggan basa-basi lagi seperti sebelumnya. Mungkin pria tua itu masih tersinggung atas penolakannya kemarin. “Sepertinya kedatanganku tidak tepat waktu, maaf mengganggu acara tuan tuan.” Wen Ting menangkupkan kedua tangannya sebagai isyarat maaf.


“Kami sedang minum, kau tertarik bergabung?” ujar Kao Jing.


Wen Ting hanya tersenyum, ia tidak kenal pria yang bicara dengannya namun tetap menghormatinya karena lebih tua. “Silahkan, tuan.”


“Karena anda masih ada tamu, saya tidak akan berpanjang lebar tuan Li San. Saya sudah melamar Li An dan berencana mengadakan upacara pernikahan di Hongkong minggu depan. Maksud saya, jika berkenan tuan Li hadir memberi restu untuk kami.” Ujar Wen Ting serius, ia menatap Li San dengan tenang tanpa rasa takut.


Li San mengernyit, ia tak mengira langkah Wen Ting sangat cepat. Semula ia berpikir pria itu hanya terobsesi sejenak pada gadis Wei itu dan tak berniat menikahinya dalam waktu cepat. Ia salah menebak segalanya. “Oh, selamat tuan. Tapi aku tidak bisa hadir apalagi memberi restu, dia bukan anakku.” Tolak Li San tegas.


Wen Ting tersenyum dan masih dengan raut tenang. “Oh, maaf saya kira karena Xiao Jun anak anda, jadi mungkin saja anda bisa bermurah hati menganggap Li An sebagai putri anda juga.”


Li San sangat tidak senang mendengar perkataan Wen Ting, dengan nada tinggi ia menjawabnya. “Putriku ada lima, buat apa aku harus menganggap putri orang lain lagi!” Bentakan itu membuat Li San keceplosan, alam bawah sadarnya mengingatkan bahwa ia memang mempunyai lima orang anak perempuan.


Kao Jing bahkan tersentak mendengar bentakan Li San, adiknya masih mengingat putri bungsu yang hendak dibunuhnya itu. Wen Ting mengernyit heran, ia tak menyangka Li San punya stok anak gadis sebanyak itu.


Sesaat setelah hening, Li San baru sadar telah salah bicara. “Maksudku empat.” Ia meralat segera dengan canggung. Suasana menjadi tidak nyaman karena sikap Li San yang langsung terkesan menutup diri.


“Baiklah jika begitu, saya tidak bisa memaksa. Tapi perlu anda ketahui, saya akan membawa ibu mertua saya nyonya Xin Er hadir dalam pernikahan kami. Dia adalah ibu yang melahirkan Li An. Kehadiran beliau sangat berarti bagi kami.” Ujar Wen Ting tegas, ia tidak takut apabila Li San menolak karena ia sudah menyiapkan plan B jika sangat terdesak.


Li San merengut, “Kau bawa wanita itu? Dia masih berstatus tahananku, aku tidak ijinkan kau campur terlalu jauh urusan keluargaku. Kau harus tahu batasanmu!”


Wen Ting tersenyum sangat tenang, “Saya tahu tuan Li. Kita sama sama keturunan naga, memegang adat timur, anda juga paham pepatah minum air tidak lupa sumbernya. Dia hanya hadiri upacara pernikahan dan resepsiku, apa itu di luar batas?”


Wen Ting merasa tidak perlu menunggu jawaban Li San lagi, ia segera berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu. “Sebagai sesama penguasa, saya yakin anda tahu mana yang masih termasuk hak asasi manusia dan mana yang di luar batas. Saya permisi dulu, silahkan tuan tuan lanjutkan.”


Pria muda itu beranjak dari sana, meninggalkan dua pria tua yang tercengang karena sikapnya.


***