OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 87 TETANGGA PENUH CINTA



Xiao Jun baru selesai rapat ketika sebuah pesan dari Dina masuk. Ia berharap pesan itu dari Weini, namun sedikit kecewa karena tidak sesuai harapan.


“Astaga.” Xiao Jun geram pada dirinya yang lalai melindungi Weini. Padahal ia sudah menyiapkan satu unit apartemen di sebelahnya untuk Weini namun lupa dan malah mengantarkan mereka pulang ke rumah itu.


Xiao Jun menghubungi Dina, ia tak sabar mengetik pesan lagi. “Dina, segera atur prescon mewakili Weini. Nanti lawyer Weini yang damping, intinya kamu tegaskan pada mereka yang bikin berita provokatif itu akan kita tuntut beserta akun yang menyebar komentar negatif akan kita lacak dan ciduk.” Ujar Xiao Jun tegas, ia selalu serius dengan setiap keputusan yang diambilnya dan Dina tahu betul itu.


“Siap Boss!” ujar Dina bersemangat. Ia bangga sekaligus merasa beruntung bisa menjadi orang kepercayaan Xiao Jun yang royal.


***


Haris dan Weini masih berkomunikasi lewat chat, hingga akhirnya Weini lelah. Ia berbicara dengan pelan ketika keadaan di luar semakin memancing perhatian.


“Jadi sihir apa yang cocok ayah?” tanya Weini. mereka tidak mungkin terus-terusan bersembunyi seperti buronan.


Haris masuk ke kamarnya lalu keluar membawa sebuah jimat, dirapalkannya sebuah mantera sembari membakar jimat kuning itu dengan api sihirnya. “Pergi semuanya, rumah ini sudah seminggu kosong.” Usai mengucapkan


perintah, kertas kuning itupun ludes terbakar tanpa abu.


Weini terkesima dan langsung mengacungkan dua jempol, “Cerdas!” puji Weini sembari senyum girang.


Di luar terdengar suara mobil melaju pergi, Weini memasang telinga lebih peka untuk mendengar pembicaraan para wartawan. Beberapa mengerutu sebelum beranjak, dan sebagian langsung pergi tanpa komentar.


“Keren banget Ayah! Aku baru menyadari ilmu yang kau ajarkan itu sangat berguna.” Ujar Weini yang sedang berbangga hati diturunkan sihir dari Haris. Ia berpikir alangkah nikmatnya hidup dengan mengandalkan kekuatan sihir, semua bisa dikendalikan sesuka hati.


“Jangan senang dulu. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan sihir.” Sela Haris yang tahu betul isi pikiran Weini.


“Iya iya… ayah sering bilang gitu. Sampe sekarang pun aku nggak pernah menggunakannya apa yang kupelajari darimu. Lalu kapan aku bisa buktikan kalau sihirku sudah ampuh?” gerutu Weini, puluhan mantera sudah


ia hapal di luar kepala, ia tahu gunanya tapi tak pernah punya kesempatan mempraktekkannya. Memikirkannya saja membuatnya sebel, buat apa capek-capek belajar tapi tidak bisa diterapkan?


“Sebelum kau bisa berpikir dewasa, jangan sesekali menggunakannya. Saat kita menggunakan sihir untuk merubah keadaan, yang semestinya terjadi akhirnya tidak terjadi. Kemungkinan terburuknya masa depan pun bisa ikut berubah, bahkan bisa membawa dampak pada orang lain. Tapi kalau kepepet untuk menolong diri sendiri, kau boleh memakainya. Itupun dengan catatan, harus tepat memilih solusi.”


Weini mengetuk bibir dengan jarinya, sihir Haris sakti mandraguna ia tak bisa membayangkan akibatnya jika jatuh ke tangan orang yang tidak tepat. “Ayah, apa setiap orang bisa belajar ilmumu?”


Haris yang tengah merapikan tumpukan buku di ruang kursusnya langsung menatap Weini, “Hanya orang berhati baik yang bisa mempelajarinya. Karena itulah sihir klan Wei disebut sihir putih.”


Hanya orang baik? Weini mengulang perkataan itu dalam hati, tidak diragukan lagi Haris memiliki kebeningan hati dan juga kesetiaan terhadap keluarganya. Ia dibesarkan oleh Haris dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi dan keluarganya, ini bukan lagi disebut baik namun sungguh mulia. Weini membandingkan dengan dirinya, ia merasa tidak sebaik itu dan belum pernah melakukan hal mulia seperti Haris, beruntungnya ia bisa mempelajari


semua sihir Haris.


Weini terpukau, “Wuoooo… ayaaah, kau menolongku lagi. Beribu makasih ayah.” Weini membungkuk hormat ala didikan di rumah lamanya.


Haris langsung menyanggahnya bangun, ia terlihat waspada dengan lirikan ke arah luar. “Ada yang datang, bangunlah.”


Firasat Haris tepat, ketukan pintu mulai terdengar. Haris bergegas menyambut tamu yang sudah ia duga. Weini berdiri di tempat tanpa berniat menyusul langkah Haris.


“Paman, apa kalian baik-baik saja? Mereka tidak bertindak kelewatan kan?” Xiao Jun sungguh cemas, ia bergegas kemari setelah memberi perintah pada Dina untuk mengatasi kekacauan media.


Haris tersenyum ramah, “Seperti yang kau lihat, kami tak masalah. Masuklah.”


Melihat Xiao Jun yang menghampiri ternyata langsung membuat semangat Weini membara. Ia mempersilahkan Xiao Jun duduk di sofa ruang tamu, lalu membiarkannya ngobrol dengan Haris sementara ia berniat menyuguhkan teh.


“Nggak perlu bikin minuman. Kemarilah Weini, ada yang ingin kusampaikan pada kalian.” Xiao Jun mencegah Weini meninggalkan mereka, lebih baik tidak membuang banyak waktu untuk sesuatu yang formal.


Weini menuruti permintaan Xiao Jun, ia duduk di samping Haris sembari menanti hal penting apa yang mendesak Xiao Jun kemarin. Mereka beradu tatap sejenak hingga Xiao Jun lupa harus berkata apa.


“Ehem… Langsung saja anak muda, apa yang mau disampaikan?” Haris basa basi mendehem, ia canggung berada di tengah tatapan mesra anak muda, seolah ia nyamuknya saja.


Tatapan sepasang kekasih itu terjeda, Xiao Jun kembali ke tujuan utamanya kemari. “Paman, maafkan aku yang lalai hingga lupa membawa kalian ke tempat yang lebih aman. Saat ini wartawan sedang memburu Weini, sebelum situasi kondusif  sebaiknya kalian pindah ke apartemenku. Tenang saja aku sudah menyediakan satu unit di sebelah apartemenku. Bagaimana kalau kalian pindah sekarang?”


“Tidak perlulah, aku sudah banyak merepotkanmu. Biar kami atasi sendiri, kau jangan repot-repot menyewa tempat untuk kami.” Weini menolak langsung tawaran Xiao Jun. Pria itu sudah banyak menghabiskan waktu, pikiran bahkan materi untuknya. Ia tidak mau disebut gadis matre yang menghisap kekayaan pacarnya.


“Aku sudah membelinya kemarin, mubajir kalau tidak ditempati. Bagaimana menurut paman?” Xiao Jun mencoba meraih kepercayaan Haris agar bersedia pindah.


Haris terdiam sejenak, rautnya tampak serius berpikir. Dua anak itu berselisih pendapat dan dua-duanya berharap ia berpihak pada mereka. Yang satu bertindak demi melindungi, satunya lagi bertindak karena tidak mau membebani. Haris makin bingung bersikap.


“Baiklah…” Seru Haris tiba-tiba yang langsung disambut antusias oleh Weini, ia yakin Haris pasti lebih mendukungnya. Ia tak peduli Xiao Jun menatap kegirangannya dengan kecewa, asalkan Haris bersuara


maka Xiao Jun tak bisa apa-apa.


“Weini, bereskan barangmu! Kita pindah sekarang!” sambung Haris bersemangat.


“Eh?” Kegembiraan semenit lalu hilang begitu mendengar keputusan Haris. Weini berjalan lunglai menerima kekalahannya, asalkan Haris Bersuara maka ia tak bisa apa-apa.


Xiao Jun tertawa senang, ia mengangukkan kepala sebagai ungkapan terima kasihnya pada Haris. Mulai hari ini ia akan tetanggaan dengan orang yang paling ia kasihi, bisa dibilang mereka akan menjadi tetangga penuh cinta.


***