OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 283 KECELAKAAN YANG MELUNAKKAN HATIMU



Grace mengatur napas yang masih tersengal, dua kali gagal mengambil adegan berlari dan melompat dari balok yang sudah disiapkan oleh tim. Ia menunggu aba-aba sutradara untuk mengulang adegan untuk kesekian kali, kendati hanya peran pendukung tetapi ada beberapa adegan yang menuntutnya berlaga. Setelah yakin mampu menguasai dirinya yang phobia ketinggian dan harus profesional beracting, Grace menarik napas dalam-dalam kemudian melakukan adegannya melompati beberapa susunan balok dibantu alat keamanan.


“CUT! Sempurna!” Pekik sutradara yang dari ekspresinya dapat ditebak sangat puas dengan kerja Grace barusan.


Weini yang sedang retouch makeup pun dapat mendengar riuhnya, ia ikut menarik senyuman puas dari ujung bibirnya. Dan reaksi spontan Weini barusan tak luput dari sorotan Dina yang langsung sewot dan berkomentar. “Non


lebih hebat dari dia, non satu kali take udah oke. Dia perlu tiga kali baru dapat tepuk tangan.” Celetuk Dina.


“Kan dia artis baru, lagian bukan bidang dia juga adegan gitu. Jadi dia cukup okelah menurutku.” Jawab Weini yang diminta memejamkan mata untuk mengganti bulumata. Dina diam, ia terpaksa harus puas dengan jawaban Weini, meskipun dalam hatinya masih terasa jengkel pada Grace.


Selesai satu adegan, Grace kembali bersiap untuk adegan laga yang lebih menakutkan. Scene ini melibatkan Stevan yang diceritakan tak sengaja mencelakakan Grace yang terjebak oleh komplotan bandit bayaran yang


seharusnya menghabisi Stevan. Grace semakin grogi lantaran diharuskan melompat dari ketinggian dan harus mendarat di matras yang sudah disiapkan. Tangan gadis itu gemetaran, meskipun sudah berusaha keras untuk tenang tetapi begitu melihat ke bawah, ia serasa akan pingsan.


Stevan menyadari ketakutan Grace, ia berbisik padanya di sela adegan. “Jangan takut, anggap saja lagi main seluncuran. Kamu pasti aman, semua mengontrol keselamatanmu.”


Grace tak menanggapi Stevan, justru pria itu dianggap sok dekat. Stevan tak mengerti bahwa gadis itu sangat benci


ketinggian. Ia memejamkan mata, berusaha apapun yang dapat menguatkan dirinya. Brother, plis help me! Batin Grace menyebut Chen Kho di saat genting. Selama ini hanya kakaknya yang selalu pasang badan melindunginya.


“ACTION!” Pekik sutradara.


Grace memejamkan mata begitu lekat, tubuhnya mulai beraction sesuai arahan sutradara yang berteriak dengan toa. Gadis itu menahan napasnya ketika merasa tubuhnya didorong salah satu pemeran bandit dan terhuyung jatuh dari ketinggian. Grace berupaya keras melawan rasa takutnya, kesadaran yang semakin melemah seiring tubuh yang jatuh dengan begitu cepat menuju dasar. Jangan mati! Aku nggak rela mati sebelum mendapatkan cinta Xiao


Jun!


Bruk! Tubuh Grace terjatuh membentur matras lalu terpental ke lantai dengan keras. Sebagian kru yang menyaksikannya langsung berteriak histeris, termasuk sutradara yang melempar toanya kemudian berlari


mendekati tubuh Grace yang terkulai.


Weini tersentak, ia mengibas tangan agar tim MUA menyudahi sentuhan di wajahnya. Kecelakaan di lokasi syuting pada hari pertama kerja tentu bukan kejadian yang diharapkan oleh semua pihak. Dina lebih gesit berlari ke arah kerumunan untuk mencari tahu, lalu kembali melapor pada Weini dengan wajah bergidik. “Non, kayaknya dia patah tulang deh. Kok bisa gitu loh, udah mendarat ke matras eh terpental. Efek terlalu jahat kali ya?” Ceplos Dina.


“Kak Dina!” Weini menegur Dina yang kelewatan, menjadikan musibah orang lain sebagai candaan. Dina menyadari kesalahannya meskipun Weini tidak terang-terangan menegurnya. Manager itu menyatakan penyesalan dan


maafnya, namun Weini tak merespon lagi lantaran ia lebih tertarik segera melihat kondisi Grace.


Stevan terlihat sangat panik dan memegangi kaki Grace, sementara Fang Fang menyanggah tubuh Grace agar bisa bersandar. Grace masih sadarkan diri tetapi meringis kesakitan dan sesekali berteriak kencang seraya memegangi kaki kirinya.


“Panggil ambulance aja!” Pekik sutradara.


“Kacau nih, mana baru dapat sedikit scene udah cidera. Terpaksa harus setting studio dan ganti ke scene Weini saja. Sementara scene Grace pending dulu sampai dia bisa syuting lagi.” Timpal sutradara, ia melengos mendapati jadwal yang pasti akan molor dari rencana karena salah satu pemain pentingnya cidera.


harus menunggu tim medis tiba tanpa melakukan apa-apa, padahal jika segera ditangani maka kondisinya tidak akan terlalu parah.


“Biar aku aja yang tangani sambil tunggu bantuan datang.” Weini menawarkan diri sebagai pertolongan pertama Grace. Suaranya yang lembut dan pelan itu mengejutkan setiap telinga yang mendengar, termasuk Grace yang menyipitkan mata pada Weini, menatapnya tanpa rasa percaya.


“Aku tidak akan memperparah kondisinya, dia harus segera dapat penanganan darurat sebelum makin bengkak.” Weini sadar dipelototi oleh sekelilingnya dan meragukan kemampuannya. Grace terlihat tidak menolak meskipun tidak juga menyuarakan persetujuan, kesakitan yang dirasanya membuat gadis itu di ambang pasrah.


Stevan menggeser posisi duduknya, memberi Weini keleluasaan bergerak. Tangan Weini meraih pusat rasa sakit pada kaki Grace lalu merabanya pelan. Tenaga dalamnya ia kerahkan sedikit agar tertransfer ke sana, memberikan rasa nyaman yang begitu nyata dirasakan Grace. Dari raut wajah Grace pun terbaca kalau ia mulai tenang, guratan di wajahnya memudar.


“Ini akan agak sakit, tahan ya.” Weini menatap lembut kepada Grace, langkah yang ia lakukan selanjutnya dijamin menyakitkan hingga perlu mewanti-wantinya.


Stevan menatap dengan ekspresi tegang, Grace yang kesakitan namun pria itu seakan ikut menanggung penderitaannya. Tetapi Stevan cukup lega karena Weini yang menangani, gadis itu punya kemampuan yang luar


biasa, melebihi siapapun yang ada di sini. Dan Weini tak mungkin berani menawarkan diri jika tak yakin sanggup melakukannya.


Krek! Bunyi kaki Grace yang dipelintir oleh Weini, disusul teriakan kencang Grace yang memekakkan telinga. Saking sakitnya, Grace sampai menitikkan air mata.


“Bertahanlah.” Ujar Stevan meraih tangan Grace untuk digenggam. Sementara Grace tak punya tenaga lagi untuk menepis, dia pasrah tubuhnya diperlakukan bagaimanapun oleh mereka.


Sutradara yang menyaksikan tindakan Weini itu sampai memucat, sungguh terlambat untuk melarangnya bertindak lantaran Weini sudah terlanjur turun tangan. “Lu yakin ini nggak nambah parah kondisinya?”


Weini tersenyum tenang seraya mengangguk, “Dia pasti akan pulih setelah istirahat dua hari.” Ujar Weini, ia mengalihkan tatapan kepada Grace yang mendengar diagnosanya. Seulas senyum tulus disunggingkan pada


Grace, meskipun hanya berbalas tatapan yang menyorotkan kebingungan si pemiliknya. Weini berlalu dalam diam, bersamaan dengan datangnya tim medis yang menggotong Grace ke dalam ambulance.


***


Xiao Jun memenuhi janjinya, ia tengah terhubung percakapan antara Jakarta – Hongkong via video call bersama Xin Er.


“Jun, nyonya besar bilang putrinya lahir tanggal 29 april 1998.” Xin Er berbisik menyampaikan pada putranya, ia tak leluasa lantaran Liang Jia berada satu ruangan dengannya.


Senyum Xiao Jun merekah, ia mengangguk paham. “Aku mengerti, terima kasih ibu.”


Senyuman yang tak sanggup ia tafsirkan, antara harus senang atau sedih. Ia menatap secarik kertas yang ada di tangannya, kertas berisi biodata lengkap Weini yang dulu diserahkan Dina. Dalam kertas itu tertera tanggal lahir Weini yang cocok dengan informasi ibunya.


Weini, tempat tanggal lahir : Jakarta,  29 April 1998.


***