OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 346 JEBAKAN YANG RUMIT



Acara minum di bar berakhir menyedihkan bagi Weini. Niat awalnya ia ingin minum beberapa gelas Wine untuk melepas penat, yang terjadi malah Dina lebih antusias hingga kebablasan mabuk. Ketika mabuk ternyata manager itu cukup merepotkan, Weini harus melatih kesabaran untuk menghadapinya malam ini.


“Thanks udah dianter pulang. Hmm … Kamu nggak mampir bentar?” Tanya Weini basa basi lantaran tak enak harus merepotkan Xiao Jun menjadi supirnya. Gara-gara Dina yang pakai acara mabuk itu, Xiao Jun terpaksa menyusul ke bar dengan taksi demi membawa mobil Dina.


“Sudah terlalu malam, kamu habis ini langsung istirahat ya. Besok malam aku pasti datang lagi.” Gumam Xiao Jun sambil menepuk lembut pundak Weini.


“Bintangnya banyak banget, non. Hmm … Ng … Hueeek.” Dina ngelantur kemudian berlari ke tepi jalan untuk muntah.


Weini dan Xiao Jun yang melihat itu hanya bisa nyengir.


“Habis muntah pasti sudah enakan dia, kalau masih seperti itu mintalah obat pereda mabuk sama ayah Haris. Aku memberikannya beberapa pil saat kamu pulang mabuk waktu itu.” Ujar Xiao Jun dengan tatapan super lembut pada Weini.


Weini hanya mengangguk, mungkin mabuknya Dina bisa jadi alasan ia berbaikan dengan Haris. “Baiklah, kamu pulang hati-hati ya. Besok pagi aku akan menemani Grace keluar dari rumah sakit, lalu lanjut ke kantor.” Ujar Weini menceritakan dulu jadwal kegiatannya besok.


Xiao Jun mengangguk paham, kemudian menarik Weini dengan cepat demi memberinya kecupan selamat malam di kening. “Jangan banyak pikiran, kecuali memikirkanku.” Bisiknya lembut di telinga Weini.


Weini mengantar kepergian Xiao Jun dengan lambaian tangan ketika pria itu masuk ke dalam taksi. Fokusnya berpindah pada Dina yang masih berjongkok di tepi jalan, seperti orang frustasi yang lupa arah pulang. “Kak,


masuk yuk.” Ujar Weini lalu memapah tubuh sempoyongan Dina.


Ada rasa yang menyedihkan ketika Weini masuk ke dalam rumahnya yang terlihat gelap. Haris tidak menyalakan lampu di ruang tamu serta pria itu tidak keluar menyambutnya. “Ayah, apa kamu masih marah?” Desis Weini sedih.


Haris merasakan panggilan Weini dalam hati, ia pun keluar menyambut nonanya. “Anda pulang larut nona? Apa sudah ….” Haris terhenti melihat Weini memapah Dina. Ia tak mengira Weini akan membawanya menginap.


“Nona? Ah ha ha, aku dipanggil nona.” Celetuk Dina ngelantur.


Weini serba salah menatap Haris, “Ng, dia mabuk parah ayah. Aku mengajaknya nginap semalam di sini, kasian kalau tidak ada yang menjaganya di kosnya.”


Haris terpaku diam, ia pun merasa canggung berbicara formal pada Weini, terlebih karena Weini tak pernah menanggapi keseriusannya dan selalu menganggapnya ayah. “Baiklah, akan ku ambilkan pil pereda mabuk


untuknya.” Gumam Haris kemudian berbalik badan kembali ke kamarnya, mengambilkan obat yang dia maksud.


Weini menyunggingkan senyum, dugaannya tepat juga dengan menjadikan Dina sebagai alasan mungkin akan memperbaiki hubungannya dengan Haris. Setidaknya jika ada orang lain di antara mereka, Haris akan kembali bersikap seperti biasa agar tidak mencurigakan. Bagaimanapun tidak boleh banyak yang tahu rahasia mereka, kecuali Xiao Jun yang terlanjur tahu.


Dina langsung merebahkan diri begitu Weini mendudukkannya di ranjang. Saat itu pula pintu diketuk dari depan, Haris datang membawakan pil yang dikatakannya barusan. “Minumkan langsung padanya, no ….” Haris berhenti bicara, ia nyaris keceplosan menyebut ‘nona’ lagi.


“Makasih ayah. Istirahatlah, aku akan mengurus sisanya.” Jawab Weini dengan hati girang. Sepertinya ia akan menahan Dina lebih lama di rumah sampai Haris betul-betul berbaikan dengannya dan kehidupan mereka kembali normal dengan terpaksa.


***


“Wen Ting … Kak Li Mei … Pelayaaaan!” Pekik Li An sembari mendekap ibunya yang pingsan. Air matanya tak tertahankan, semuanya terjadi begitu cepat di depan mata. Li An bahkan terlalu bingung untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi. Ia menyaksikan Xin Er mencicipi kue buatannya, lalu muntah darah dan pingsan. Jelas-jelas ia sendiri yang membuat kue itu, tidak ada yang aneh dengan bahannya dan ia pun sudah mencicipinya. Lalu apa yang salah?


Wen ting tergesa-gesa menghampiri Li An setelah mendengar teriakan begitupun Li Mei, tanpa mendengar penjelasaan Li An, mereka pun terkejut mendapati Xin Er yang tak berdaya itu. Wen Ting segera mengambil alih


menggendong ibu mertuanya, sementara Li Mei berdiri mematung saking shocknya.


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang, kalian jangan panik ya.” Ujar Wen Ting berusaha menenangkan meskipun ia sendiri tampak sangat gusar.


Li An dan kakaknya hanya mengangguk dalam diam kemudian membuntuti langkah Wen Ting yang berlari menuju pintu keluar rumahnya. Dalam kondisi kalang kabut itu, tidak ada satupun di antara mereka berdua yang membawa ponsel. Li Mei terpaksa hanya mengantar sampai di pintu utama dan melihat mobil Wen Ting melaju cepat. Ia punya tanggungan anak yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.


Li Mei kembali ke ruangan di mana ibunya tergeletak tak sadarkan diri, dilihatnya potongan kue yang terjatuh ke lantai serta ponsel yang dibiarkan begitu saja di lantai. Li Mei memungutnya dan menyadari itu adalah ponsel ibunya, tanpa perlu menunggu ijin siapapun, ia menghubungi nomor terakhir yang ada dalam daftar panggilan. Bunyi nada sambungan menanti jawaban dari seberang, agak lama hingga akhirnya tersambungkan. “Ayah ….”


***


Di dalam perjalanan Xiao Jun mengamati layar ponselnya, terasa janggal tanpa kabar dari Lau. Terakhir kali pengawal itu memberinya pesan yang mengabarkan bahwa ia sudah mendarat di lapangan kawasan istana Li San itu. Tetapi hingga malam nyaris berganti subuh, Lau belum juga menghubunginya lagi. Xiao Jun tak sabar lagi, rasa gelisah dan tanda tanya besar di hatinya nyaris meledak. Ia memutuskan menghubungi pengawalnya detik ini juga. Bos muda itu kian gusar lantaran Lau belum mengangkat telponnya, hingga ia harus mengulang panggilan.


“Tuan muda, ni hao ….” Suara Lau yang terdengar itu langsung membuat Xiao Jun tersenyum lega. Bersamaan dengan itu, rasa curiga dan khawatirnya pun ikut lenyap.


“Paman, apa kau baik-baik saja? Kenapa belum mengabariku sejak siang?” Tanya Xiao Jun pelan.


“Maaf tuan, aku terlalu sibuk tadi. Aku baik-baik saja, besok akan kuceritakan langsung sekembalinya aku dari sini.” Jawab Lau dengan nada pelan.


Xiao Jun mengangguk senang, “Baik paman, aku akan menunggumu pulang besok. Istirahatlah, paman pasti lelah seharian bekerja.” Ujar Xiao Jun kemudian mengakhiri panggilannya.


Tanpa Xiao Jun ketahui, kondisi Lau saat menerima panggilannya sungguh di bawah tekanan Chen Kho. Tangan Lau yang masih terborgol saat ia berbaring tentu tidak memungkinkan untuk menerima panggilan tuannya. Pengawal yang menjaga Lau lah yang mengeluarkan ponsel dalam saku jas Lau lalu melaporkan pada Chen Kho. Atas perintah Chen Kho lah, Lau dipaksa menjawab panggilan itu. Tentu saja dengan ancaman yang memaksanya membungkam kenyataan yang terjadi agar tidak dicurigai Xiao Jun.


“Kerja bagus, kau memang layak dapat predikat pengawal tersetia.” Seru Chen Kho sambil tertawa lalu menepuk keras wajah Lau sebelum berlalu dari hadapannya.


***


 Hi guys, kira-kira ada yang bisa menebak apa yang direncanakan Chen Kho pada Lau?


Dan jangan pelit like serta komentarnya ya, plis.