
Grace memandangi kostum pengantin tradisionalnya dengan tatapan lemah, tak ada gairah, tak ada ketertarikan pada kostum bernuansa merah dan emas itu. Ia menghela napas berat, pasrah membiarkan wajah dan rambutnya dipoles oleh beberapa tangan. Posisinya sekarang lebih mirip boneka Barbie yang diam saja diperlakukan apapun. Ini semestinya menjadi hari terbaik dalam hidupnya, harapan yang begitu ia idamkan untuk menjadi nyonya Li Xiao
Jun. Sayangnya setelah doa itu terkabul, ia justru merasa sangat menyesal pernah merapalkan doa tersebut.
“Ng, tidak usah pakai itu, yang simpel saja.” Grace menolak ketika seorang perias hendak menggambar ukiran merah di keningnya sebagai pemanis tampilan. Ia menyingkirkan tangan perias yang memegang kuas dan
hampir menyentuh kulitnya.
Perias itu mengangguk pelan lalu mulai sibuk menata rambut Grace. Pantulan wajah Grace di cermin menyita perhatian sehingga Grace mengangkat satu tangannya. “Cukup, begini saja sudah cukup.” Ujar Grace menyudahi sapuan makeup di wajahnya.
Untuk apa terlalu sempurna, ini bukan hari sempurna yang kuinginkan. Lirih Grace dalam batin, ia memalingkan wajah agar tak lagi menatap bayangannya di cermin. Kesedihan, kecemasan dan segala kerisauan begitu jelas tergurat. Kendati makeup seprofesional apapun itu tidak bisa menutupi gurat tersebut. Grace sungguh tak bisa menenangkan hatinya, ia gugup, ragu tentang langkah yang ia pilih sekarang.
Jun, apa kamu benar bisa diandalkan? Lirih Grace dalam hati. Ia mulai beranjak dari kursi, berdiri mematung membiarkan para dayangnya melucuti pakaian yang dikenakan kemudian menggantinya dengan kostum
kebesarannya hari ini.
***
Xiao Jun tak leluasa berkomunikasi dengan Lau lantaran di dalam kamarnya ada beberapa perias yang membantunya merapikan diri. Ini bukan pernikahan sungguhan, namun harus beracting seakan semuanya benar
nyata dan itu melelahkan bagi Xiao Jun. Hingga perias itu selesai merapikan rambut Xiao Jun dan hendak mengurus kostumnya, di saat itu Xiao Jun mendapatkan kesempatan untuk bicara empat mata dengan Lau.
“Kalian keluarlah, biar pengawal pribadiku saja yang melakukan sisanya.” Ujar Xiao Jun dengan tegas sehingga para perias itu hanya bisa mengangguk patuh lalu keluar meninggalkan Xiao Jun dan Lau di kamar.
Lau membungkuk pelan lalu beranjak mengambilkan jubah kebesaran Xiao Jun. Dengan berat hati Xiao Jun mengenakannya, jubah yang memang dipersiapkan untuknya sebagai pewaris klan Li di hari pernikahan dan sudah
turun temurun dikenakan oleh pewaris pada momen pernikahan.
“Paman, ketika penawar berhasil sampai di tanganmu, segera minum dan amankan dulu sampai kita bereskan pengacau itu. Pertarungan besar ini, aku menaruh harapan besar padamu.” Ujar Xiao Jun pelan, mereka
menyamarkan bisikan misi itu secara natural bersamaan dengan Xiao Jun memakai kostumnya.
“Saya mengerti tuan.” Ungkap Lau patuh, sembari memakaikan asesoris terakhir sebagai pelengkap penampilan Xiao Jun. Topi merah yang klasik dengan aksen permata serta hiasan lain bernuansa senada dengan jubah
merahnya. Dalam balutan busana pengantin kuno itu, aura Xiao Jun begitu terpancar dan serasi dengan kulit putihnya.
Suara pintu diketuk dari depan membuyarkan perbincangan mereka. Xiao Jun yang sudah tampil gagah itu menoleh ke sumber suara lalu mendapati pengawalnya masuk menjemputnya. “Hormat tuan, waktunya sudah tiba. Silahkan menuju ke pavilion untuk menjemput mempelai wanita.”
Xiao Jun mengangguk mantap, semantap kakinya yang mengambil langkah pertama. Langkah yang tak mungkin mundur lagi, dan langkah yang penuh optimis menjemput kemenangan. “Ayo, paman.”
***
Beberapa pelayan dan pengawal tampak berbaris pada tempat mereka, sengaja dihadirkan sebagai antisipas jika ada perlawanan dari pihak Xiao Jun. Terlebih tanpa kehadiran Chen Kho saat itu, tentu Kao Jing menyiapkan alternatif lain untuk menghindari gesekan tak terduga.
“Hei, jangan sentuh barang itu! Tidak ada yang boleh mendekati area itu!” Pekik Kao Jing murka begitu melihat seorang pelayan wanita berusaha merapikan area singgasananya. Padahal Kao Jing sengaja turun dan duduk
di dekat pelataran yang akan digunakan untuk upacara pernikahan, sekaligus memantau situasi namun justru nyaris lengah membiarkan pelayan itu mendekati tempat terlarangnya. Tempat di mana sebuah kotak berisi penawar disiapkan sebagai tebusan.
Pelayan wanita itu tampak ketakutan kemudian segera membungkuk maaf dan menjauhi kursi kebesaran Kao Jing. Langkah pelayan itu tak lepas dari sorot tajam Kao Jing, ia pun mengangkat satu tangannya sebagai kode agar salah seorang pengawal menghampirnya segera.
“Periksa pelayan itu lalu bereskan!” Titah Kao Jing dengan kejam, makna ‘bereskan’ itu secara harus memerintahkan agar pengawal itu menghabisi nyawa pelayan malang itu.
Para pemuka adat sudah tiba, Kao Jing menatap jam dinding lalu tersenyum sumingrah. Sebentar lagi sepasang pengantin itu akan masuk ke ruangan ini, dan ia akan memiliki segalanya.
***
“Nyonya, anda sudah siap? Tuan Kao Jing meminta anda segera menuju aula utama.” Ujar seorang pengawal yang datang menyampaikan pesan dari Kao Jing. Kendati berstatus tahanan kamar, namun dalam momen pernikahan
ini keberadaan Liang Jia tetap diperlukan. Tak peduli betapa tidak akurnya mereka, namun kursi yang akan diduduki orangtua harus terisi meskipun hanya salah satu dari masing-masing pihak sebagai perwakilan.
Liang Jia segera menyudahi lamunannya di hadapan cermin kemudian membalikkan badan dan mengangguk pelan. Ia siap menghadapi kondisi ini, kondisi yang entah akan baik atau semakin buruk nantinya. Yang pasti ia harus hadir di tengah Xiao Jun untuk memastikan apa sebenarnya yang putranya rencanakan.
***
“Aku tak mengerti di jaman modern ini kenapa masih pakai cara kuno. Menyusahkan saja….” Gerutu Grace yang merasa sedikit mabuk diguncang oleh tandu yang diangkat oleh empat pengawal. Ia tersiksa diperlakukan bak putri kerajaan kuno yang tak berdaya dijodohkan dengan pria yang dicintai. Ketika Xiao Jun membukakan tirai tandu dan mengulurkan tangan untuk membantunya keluar dari sana, saat itulah Grace mengeluh sejadi-jadinya.
Xiao Jun masih bisa tersenyum tipis mendengar gerutuan Grace, ia pun berpendapat sama dan merasa repot harus melakukan tradisi ini padahal ini hanya pernikahan settingan. Xiao Jun menggandeng Grace agar tak tersandung ketika berjalan dengan wajah yang tertutup veil merah. Pada kesempatan itulah, ia mencuri waktu untuk membisikkan sesuatu pada Grace. Bisikan yang seketika membuat wajah Grace tegang meskipun tersembunyi, ia mengangguk pelan sebagai tanda sudah memahami apa yang diperintahkan Xiao Jun.
Perlahan mereka melangkah masuk ke dalam aula utama, disaksikan oleh banyak pasang mata yang tak menyadari ancaman yang mungkin saja merenggut nyawa mereka. Senyuman serta suara petasan yang meriah menyimbolkan
kebahagiaan, suara tawa, riuh tepuk tangan sebagai sambutan pada pasangan yang berbahagia. Tanpa mereka tahu dalam hati pasangan itu tak ada rasa bahagia enjalani ini semua.
“Pengantin tiba….”
***
Hi readers, mohon dukungan berikan like dan komentar karena sangat berarti bagi author untuk mempertahankan level. Mohon berikan dukungan nyata itu, terus terang author juga perlu reward agar semangat menulis di sini. Thanks.