
Entah berapa menit sudah, Weini menenggelamkan wajahnya dan bertumpu di tangan Li San yang dingin.
Kesadarannya harus terus terkontrol agar tidak menyerap energi ayahnya yang tinggal tak seberapa. Tidak ada yang berani mengganggunya, sekalipun Xiao Jun ingin mendekat dan memberikan semangat namun ia tahan. Sebuah desiran energi yang hangat terasa oleh indera ke enam Weini yang peka, gadis itu segera mendongak
untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan matanya membulat saat melihat Li San sudah membuka mata dan menatap ke langit-langit kamar itu.
“Ayaah? Ayaaah....” Pekik Weini dengan senyum lebar serta sesenggukan pasca menangis. Dan semakin bahagia karena menjadi orang pertama yang dilihat Li San saat membuka mata.
Li San perlahan mengalihkan tatapannya ke arah samping, ia masih bingung dengan apa yang terjadi dan keadaan di sekitarnya. Pandangan mata tuanya beradu dengan sepasang mata gadis cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Ayah....” Lirih Weini kembali memanggil dengan suara yang lembut.
Panggilan itu sejenak dicerna oleh Li San, walaupun tak ada yang memberitahunya, tapi nalurinya sebagai seorang ayah begitu yakin bahwa yang duduk di hadapannya adalah Yue Hwa, putri bungsunya.
“Hwa....” Lirih Li San dengan suara yang sangat lemah.
Semua yang sejak tadi berdiri di belakang, akhirnya berhambur mendekati ranjang Li San. Xiao Jun berdiri di belakang Weini, sementara yang lainnya mengerubuni di setiap sisi ranjang hingga penuh. Liang Jia berdiri di samping Weini dan memegang pundak anak gadisnya. Li San memandangi Liang Jia yang ia kenali, namun kesadarannya belum cukup baik untuk menatap ke sekeliling.
“Akhirnya kau bangun juga... Anak kita sudah pulang, kau lihat kan? Ini Yue Hwa, putri kita.” Lirih Liang Jia yang tak bisa menyembunyikan senyum leganya, ia menunjukkan Weini pada Li San yang masih sedikit ternganga.
“Ayah, terima hormat dari Yue Hwa.” Gumam Weini lalu membungkuk dalam posisi duduk.
Li San menatapnya lekat, matanya mulai berkaca-kaca dan tangannya bergerak perlahan ingin terangkat untuk menyentuh Weini. Weini sadar maksud ayahnya, ia pun mendekatkan wajah agar bisa diraba oleh Li San. Sesaat kemudian, tangan keriput itu menyentuh pipi kanannya, Weini merasakan sentuhan itu penuh arti meskipun
dengan kekuatan yang lemah. Bak mimpi yang menjadi kenyataan, sang ayah berkenan menunjukkan kasih sayang padanya.
“Hwa, kamu sudah besar... cantik.” Lirih Li San tersenyum tipis, bukan karena ia enggan melebarkan ukiran bibirnya namun tubuhnya yang masih lemah, susah untuk dipaksakan.
“Iya, ayah... Yue Hwa sudah besar sekarang. Ayah... Cepat sembuh ya, yang kuat biar kita segera pulang ke rumah.” Pinta Weini yang masih berusaha bicara jelas tanpa menangis.
Li San mengangguk lemah, ia berusaha mengedarkan pandangan tetapi gagal. “Jia, siapa saja yang ada di sini?” Tanya Li San lirih.
Liang Jia mendekatkan wajah untuk mendengar apa yang dikatakan suaminya, tetapi Weini yang akhirnya
membisikkan pada ibunya hingga Liang Jia mengangguk paham. “Ah... ini lengkap semua, suamiku. Lima putri kita berkumpul, hari ini Yue Xin dan suaminya pulang kunjungan ke rumah kita, Yue Fang sejak kemarin sudah pulang, Yue Yan baru tiba tadi pagi dan Yue Hwa, pengawal Wei, Xin Er, Xiao Jun dan kedua kakaknya, serta Wen Ting juga ada di sini.” Jawah Liang Jia pelan pelan menyebutkan satu persatu nama agar bisa dipahami Li San.
“Wei Ming Fung? Mana dia?” Lirih Li San.
Haris yang mendengar nama aslinya disebut, langsung bergeser mendekat dan reflek membuat Xin Er yang
berdiri di sampingnya bergeser memberi tempat. Ia menghampiri tempat Weini agar pas disorot oleh Li San yang belum bisa menggerakkan lehernya. Saat itu juga, tatapan antara ia dan pria yang dulu mengirim pengawal untuk menebas kepalanya bertemu. Haris langsung memberikan penghormatan formal dengan begitu bangga
akan jati dirinya sebagai pengawal klan Li.
“Hamba Wei Ming Fung menghadap tuan besar Li.” Seru Haris lantang.
Li San mengangguk lemah, tangannya berpindah dari pipi Weini lalu mengarah pada Haris dengan bantuan Liang Jia yang menopang tangan lemah itu. “Bangunlah, jangan berlutut! Kemarilah....” Lirih Li San memberi perintah.
menjembatani komunikasi mereka yang terbatas saat ini.
Ayah, apa kau merasakan energi ayahku sangat lemah?
Haris menjawab dalam hatinya. Ya, ini bukan pertanda baik. Kamu harus kuat, apapun yang terjadi.
Apa tidak ada cara lain ayah? Aku gagal mentrasferkan energi padanya, apa mungkin karena aku masih lemah? Ayah, apa boleh kau mencobanya? Pinta Weini dalam hatinya.
Haris terdiam, lalu menjawab dalam hati. Aku tak yakin, tapi akan aku coba.
Weini cukup lega mendengar itu, setidaknya mereka berdua yang paham dengan sihir ini sedang berusaha menolong Li San yang walaupun sudah bangun namun aura kehidupannya terasa lemah. Sementara yang lain tidak akan sepeka mereka berdua, bagi yang lainnya ketika Li San bangun adalah pertanda baik yang mereka nantikan.
“Wei, maafkan aku... di masa lalu banyak menyusahkanmu.” Lirih Li San yang tatapannya tak berpaling
dari Haris.
Haris mengangguk pelan, “Hamba tidak merasa direpotkan, sudah kewajiban hamba untuk menjalankan perintah yang diembankan pada hamba.” Jawab Haris dengan rendah hati, ia sungguh tulus dan tidak menyimpan dendam pada Li San.
Li San menggelengkan kepala walau sangat sangat pelan, “Tidak, aku tetap bersalah. Membesarkan putriku
seorang diri bukan hal mudah. Kalian pasti mengalami banyak kesulitan di masa lalu, ini semua karena salahku.” Lirih Li San, memikirkannya saja membuat air matanya ikut andil. Melihat Weini yang tumbuh cantik, sangat cantik malahan, melihat sikap Weini yang sopan dan tidak menyimpan dendam padanya, Li San yakin bahwa Haris telah sukses mendidik anaknya. Berbeda dengan dirinya yang nyaris tak pernah terlibat andil membesarkan ke empat anak gadisnya. Ia justru lebih mementingkan kekuasaan dan mengirim pergi ke empat anak gadisnya, membiarkan
mereka tumbuh tanpa didikan langsung darinya.
“Hamba tidak merasa kesulitan, nona Yue Hwa sangat mandiri sejak kecil. Nona juga tumbuh dengan baik karena berharap bisa membanggakan tuan dan nyonya di kemudian hari.” Ujar Haris merendahkan hatinya dan tak silau menerima pujian.
Li San tersenyum getir, ia menyesal karena terlambat menyadari bahwa Haris adalah pengawal paling handal dan setia yang ia miliki. “Aku harus menebus kesalahanku, katakan saja... Apa yang kau inginkan untuk kompensasinya?” Lirih Li San pelan. Liang Jia sampai mendekatkan lagi wajahnya untuk mendengar apa yang pria tua itu bicarakan, tetapi Haris dan Weini bisa mendengar jelas dari tempat mereka berdiri.
Haris menggeleng pelan, “Tuan besar tidak perlu banyak pikiran, hamba tidak punya keinginan apapun sebagai imbalan. Semua ini hamba lakukan karena tugas sebagai pengawal, hidup dan mati hamba tetap berstatus pengawal klan Li.” Ungkap Haris dengan mimik wajah serius.
Li San terperanjat, semakin baik Haris terhadapnya, semakin besar beban yang ia rasakan. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menebusnya. Di saat diamnya sang tuan besar, Haris berusaha menyalurkan energinya pada Li San. Weini bisa merasakan getarannya, begitupun Xiao Jun yang peka terhadap pergerakan sihir klan Wei yang sedang aktif. Semula Haris pikir itu mudah, namun ketika energi yang dikirimnya mental dan berbalik padanya, persis yang dialami Weini, akhirnya ia dan Weini hanya bisa saling pandang.
“Aku ingin kembali ke rumah sekarang!” Perintah Li San yang sempat terdiam sesaat.
Liang Jia menatapnya dan mencoba meyakinkan suaminya, “Kamu baru sadar, dokter sedang kemari untuk
memeriksamu. Sebaiknya tetap dirawat di sini sampai kondisimu betul-betul pulih.”
“Benar ayah, di sini lebih banyak alat yang memadai daripada di rumah. Sebaiknya di sini dulu sampai dokter mengijinkan pulang.” Timpal Yue Yan sebagai anak pertama dan merasa bertanggung jawab untuk mendukung ibunya, itu semua pun demi kebaikan Li San.
Li San menggeleng, ia tahu itu suara Yue Yan walaupun tidak meliriknya. Sikap keras kepalanya mulai muncul dan ia tidak suka perintahnya diabaikan. “Aku mau pulang sekarang!” Ujarnya keras, dan tak ada satupun yang berani membantahnya.
***