
Stevan mengernyitkan dahinya dan tak habis pikir saat menerima angpao dari Xiao Jun. Semakin bingung saat melihat isinya yang ternyata adalah secarik kertas yang bertuliskan tiga kata. “Wei Li Sheng. Apa ini, bos?” tanya Stevan yang tak mengerti maksud perkataan yang asing baginya itu.
Grace dan yang lainnya pun sama herannya, hanya Grace dan Weini yang bisa menebak sedikit tentang kata-kata itu. Wei bisa jadi nama marga Xiao Jun, Li adalah nama tengah tiga bersaudara itu, namun kata terakhir itu ‘Sheng’ yang tidak mereka mengerti.
Xiao Jun tersenyum tipis, ia tahu semua yang ada di sana mempunyai pertanyaan yang sama. Ia pun akan menyudahi rasa penasaran mereka. Xiao Jun menatap Stevan dengan lekat, seraya menggelontorkan senyuman hangat. “Bukankah kamu bilang kalau kita bersaudara? Karena kamu sudah dianggap anak oleh ayah Wei, maka beliau menghadiahimu sebuah nama.” Gumam Xiao Jun pelan, yang langsung bisa dimengerti oleh semua yang mendengarnya.
Stevan sumingrah, tersenyum lebar lalu membaca ulang nama pemberian Haris untuknya. “Ini namaku? Nama Mandarinku yang pakai marga seperti kalian?” Tanya Stevan sekali lagi lantaran tidak percaya.
Xiao Jun menganggukan kepalanya, tersenyum dan membenarkan apa yang didengar Stevan. “Ah ha ha ha... Terima kasih ayah Haris, makasih bos Jun.” Ucapnya girang.
“Ng, satu hal lagi, jangan panggil aku bos. Panggil aku Jun atau adik saja, bagaimana?” Pinta Xiao Jun dengan lembut karena ia merasa sungkan dengan sebutan yang terlampau meninggikan dirinya itu.
Stevan terkekeh, ia pun langsung menghambur memeluk saudara barunya. Kali ini sungguh sudah terikat hubungan yang sudah diakui oleh Haris sekeluarga. “Terima kasih, adik! Akhirnya aku punya saudara laki-laki.” Ujar Stevan, saking antusiasnya sampai ia tak mengukur tenaganya, ia memeluk erat Xiao Jun bahkan menepuk punggungnya dengan kencang.
Grace dan Weini saling berpandangan sejenak, terharu dengan momen ini. Persahabatan mereka walaupun bukan dimulai dengan cara yang baik, bahkan pernah saling berseteru namun ternyata bisa berujung damai dan bahagia hingga saling mengikat tali kekeluargaan.
“Ah, bagaimana dengan punyamu Grace? Coba kamu buka punyamu.” Pinta Stevan yang penasaran dengan angpao yang dipegangi Grace sejak tadi. Semua mata pun tertuju pada Grace sehingga ia yang tadinya tidak ingin membuka kertas merah itu di depan semuanya, menjadi tidak bisa mengelaknya.
Grace membuka angpao yang tertutup rapat itu kemudian mengerutkan kening saat tahu isinya adalah kertas putih. Ia menatap sejenak ke arah Xiao Jun untuk mencari kepastian, namun pria itu justru mengangguk mantap, mempersilahkannya membuka kertas itu. Grace menarik kertas itu keluar, terlipat rapi dan tampak ada goresan tinta hitam di sana. Wajah Grace langsung sumingrah saat membaca satu kalimat pertama yang tertulis dalam aksara Mandarin.
Ni Hao, mei mei... selamat ya atas rencana pernikahanmu. Kabar yang paling aku tunggu dan aku ikut senang melihat kebahagiaanmu. Akhirnya kamu bisa menemukan jodoh yang tepat yang memang ditakdirkan untukmu. Ce ce harap kita sama-sama mendapatkan yang terbaik dalam hidup kita. Oya, ce ce ingin memberikanmu hadiah sekaligus tanda doa restu untuk kalian berdua. Kalau kamu berkenan, ce ce ingin kamu memakai veil yang ce ce pakai waktu menikah. Berharap semoga kebahagiaan menular kepadamu, dan semoga kamu segera dapat momongan. Kabari Jun ya kalau kamu setuju, akan ce ce kirimkan untukmu. Berbahagia selalu ya, cantik.
Grace membaca surat yang ia tahu dari siapa pengirimnya itu dengan mata berkaca-kaca, tidak pernah ia sangka sebelumnya bahwa ia akan disukai dan disayangi seperti adik oleh seorang wanita yang dulu pernah disakiti oleh kakaknya. Bak mendapatkan keajaiban, melihat betapa baiknya Li An terhadapnya, keluarga Xiao Jun membalas perlakuan buruk Chen Kho dan Kao Jing dengan perlakuan yang baik.
“Jun... tolong sampaikan pada ce ce Li An, aku sangat sangat senang. Aku mau menerima apapun yang dia berikan. Aku....” Grace tak mampu berkata lagi saking senangnya, ia tersenyum sambil menitikkan air mata haru. Weini yang duduk di sebelahnya langsung menenangkan dengan mengelus lembut pundaknya.
Dina yang biasanya bawel pun ikut terdiam dan terharu, tak tahu harus ikut berkomentar apa lagi. Ia pun penasaran dengan isi angpaonya, yang ternyata setiap orang mendapatkan kejutan yang berbeda dari Xiao Jun. Sebenarnya Dina sudah mengintipnya sebentar, tapi ia tidak mengerti apa hadiah yang diberikan oleh Xiao Jun.
Stevan melihat sikap diam Dina sebagai sesuatu yang aneh, tidak biasanya gadis itu anteng. Dan hebatnya lagi, tidak memamerkan apa yang menjadi jatahnya. “Sekarang giliran Dina yang buka angpaonya. Ayo, kamu dapat apa Din?” gumam Stevan dengan senyum cengirnya.
Dina membalas dengan tak kalah nyengir, ia pun melirik ke bos Junnya untuk meminta kepastian terhadap kado anehnya itu. “Ng, aku sebenarnya nggak paham ini apaan. Kertas dan benda apaan ini bos?” Tanya Dina seraya menarik keluar sebuah logam bulat yang terbuat dari emas seperti uang koin kuno. Bukan hanya itu, ada secarik kertas yang terselip di dalamnya. Dina pun menyodorkannya pada Grace yang duduk di sampingnya.
Grace bisa membaca aksara mandarin itu, tapi tidak begitu paham akan artinya. “Hmm... apa ini semacam pengampunan dari hukuman mati?”
“What? Hukuman mati?” bulu kuduk Dina langsung mengembang saat mendengar kata hukuman mati tercuat dengan entang dari Grace.
Weini penasaran lalu meminta kertas itu dari Grace, “Coba aku lihat Grace.”
Grace menyodorkannya pada Weini, sedetik kemudian Weini tertawa kecil lantaran ia paham bahwa Grace dan Dina telah salah mengartikan maksud tulisan itu. “Astaga Grace, kamu mengejutkan kak Dina saja. Lihat wajahnya sampai memucat begitu.” Ujar Weini geleng geleng kepala lalu Dina menundukkan wajahnya biar tidak malu-maluin.
“Surat ini maksudnya adalah hak istimewa yang diberikan Klan Wei kepada kak Dina. Plakat emas ini adalah simbol yang bisa kak Dina pakai untuk meminta bantuan atau permintaan khusus tak terbantahkan oleh si pemberi plakat. Berarti di sini Jun lah maksudnya. Kak Dina bisa memakai ini kapan saja, dan hanya tiga permintaan saja yang bisa dikabulkan. Setiap kali kakak meminta dan sudah dikabulkan, maka lingkaran dalam koin ini akan dilubangi, jika sampai tiga lingkaran ini sudah terlubangi, maka hak istimewa kakak sudah selesai dan koin ini hanya jadi koin biasa.” Jelas Weini yang akhirnya bisa dipahami oleh mereka semua.
“Tapi kenapa tuan memberikan hadiah sekeren ini padaku?” Tanya Dina yang mulai heran, bukannya tidak bersyukur namun hanya demi menuntaskan rasa penasarannya saja.
Xiao Jun menaikkan satu alisnya, bersiap menggoda Dina. “Kenapa Din? Apa kamu tidak suka? Kamu bisa mengembalikannya kapanpun.” Ujar Xiao Jun santai.
Dina segera menggelengkan kepalanya dengan kencang, tangannya melindungi koin emas itu agar tidak dirampas. “Tidak... tidak... aku hanya pengen tahu, tapi udah nggak pengen tahu sih, tuan nggak usah jawab lagi he he.... pokoknya makasih tuan, akan Dina simpan baik-baik sambil dipikirkan apa yang ingin diminta ha ha....” Seru Dina dengan tawa khasnya.
Semua sudah membuka kertasnya, tapi Weini justru menyimpannya dengan rapat sehingga membuat yang lainnya melirik antusias ke arahnya. Weini tahu bahwa ia menjadi sorotan teman-temannya sekarang, ia pun hanya tersenyum canggung dan berusaha menghindari tatapan yang ingin kepo terhadapnya.
“Ng, punyaku biasa saja kok. Hanya selembar uang kertas.” Kilah Weini berusaha membohongi yang lainnya, tapi ia tidak pandai berlaku tidak jujur sehingga dengan mudah tertangkap basah.
“Ayolah non, ini bukan sesuatu yang perlu ditutupi loh.” Seru Dina yang mulai sigap mengompori.
Weini melirik ke arah Xiao Jun, tapi pria itu malah tersenyum dan memberi kode dengan anggukan agar Weini segera membukanya. Disudutkan dengan cara seperti itu serta oleh semua yang duduk di sana, membuat Weini tidak punya pilihan lain. Ia pun mulai membuka angpao itu kemudian melirik secarik kertas putih di dalam sana. Perlahan ditariknya keluar kertas itu, ia tahu pasti Xiao Jun yang menuliskannya sendiri, tapi belum tahu apa isinya.
“Hah?” Weini terkesiap, isi kertas itu membuatnya sedikit shock dan terharu. Ia terdiam membisu, membaca tulisan tangan itu dengan seksama dalam hatinya, membiarkan semua orang yang mendengar kata ‘Hah’nya menunggu sampai penasaran, tapi Weini tak peduli. Yang ia pedulikan adalah coretan tinta yang diukirkan Xiao Jun, sebuah pengakuan yang bisa dirasakan nilai ketulusannya.
Dulu kamu menolaknya, kau tahu waktu itu aku merasa hatiku ikut ditolak. Kau bersikeras menolak sehingga hanya bersedia menyimpan bungkusnya saja, isinya kau kembalikan padaku. Namun sekarang, aku memberikannya lagi... utuh... baik isi maupun bungkusannya. Berharap kamu mau menerima semuanya, luar dan dalam... aku serahkan segalanya padamu. Isi hatiku, jiwa ragaku, kehidupanku, dan segala yang ada dalam diriku, aku serahkan hanya padamu, Hwa.
Pandangan mata Weini menjadi kabur karena genangan air mata, ia sangat terharu oleh kata-kata Xiao Jun yang tidak berlebihan meskipun sarat dengan kata-kata manis. Weini ingat betul momen waktu itu, saat mereka masih belum dekat, dan sama-sama saling suka namun saling tidak menyadari perasaan. Yang membuat Weini terharu karena Xiao Jun mengingat betul semua momen mereka, mulai dari cara perkenalan hingga cara pendekatan. Pria itu mengajaknya berostalgia, membuatnya mengingat sesuatu yang amat berharga yang pernah mereka alami di masa lalu.
“Non, jadi itu isinya apaan? Cincin lamaran?” Seru Dina mulai blak blakan dan tebakannya seratus persen melesat.
Weini menyimpan lagi air mata harunya, tak jadi menetes karena disadarkan oleh Dina. Ia jadi serba salah lantaran Dina yang terang terangan seolah mereka menyaksikan acara lamaran. Grace dan yang lainnya menyoroti Weini hingga gadis itu tak berkutik. “Ng, bukan... bukan apa apa... hanya tulisan iseng saja.” Gumam Weini canggung.
“Ah, masa sih? Tapi kenapa wajahmu memerah kalau hanya tulisan iseng?” goda Grace, ketularan gaya Dina.
Weini terpaku diam, melirik Xiao Jun dan berharap mendapatkan pertolongan, tetapi yang ada justru Xiao Jun tersenyum lebar dan diam saja. Huft... mengecewakan. Gumam Weini kecewa dalam hatinya.
Ponsel Xiao Jun berdering, dengan sigap ia menerima panggilan dari seseorang yang ia nantikan sejak tadi. Saat menerima panggilan itu, nyaris tak terdengar suara Xiao Jun yang berbicara dengan lawan bicaranya. “Ya, terima kasih paman.” Ujar Xiao Jun di penghujung pembicaraan.
Bos muda itu menatap Weini dengan lekat, kemudian mengendarkan pandangan ke arah yang lainnya. “Hmm... teman-teman, kalian teruskan saja ngobrolnya di sini. Aku dan Yue Hwa ijin keluar sebentar ya. Nggak apa apa kan?” tanya Xiao Jun basa basi, padahal ia tidak memerlukan persetujuan yang lainnya dan tanpa ijin mereka pun Xiao Jun tetap akan menculik Weini.
Dina dan yang lainnya langsung paham dan peka, mereka mengangguk mantap, bahkan Stevan langsung mengibas tangannya seakan mengusir secara halus. “Ya, sana sana... jaga adikku baik baik ya. Waduh aku jadi punya dua adik sekaligus ha ha ha... berasa udah tua bener dah.” Celetuk Stevan terbahak.
Xiao Jun berdiri, menjulurkan tangannya menantikan Weini menggapai tangannya. Ia perlu tangan halus gadis itu untuk saling berpegangan dan beranjak dari hadapan teman-teman mereka.
“Hwa, ikut denganku ke suatu tempat ya.” Pinta Xiao Jun setelah Weini menyerahkan tangannya untuk digenggam. Weini pun memberikan jawaban dengan isyarat senyuman dan anggukan. Ke manapun itu, asalkan bersamamu maka aku pasti tenang. Gumam Weini dalam hatinya, senang.
❤️❤️❤️