OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 391 MENGHADAPI FITNAH



Paviliun para nona Li sudah dipadati wartawan yang memenuhi undangan dadakan. Para pencari berita itu tak segan berbisik-bisik hingga menimbulkan keriuhan di dalam ruangan besar itu. Berita menghebohkan yang mengguncang hingga pelosok negeri itu jelas menimbulkan rusuh internal, sosok Li San memang dihormati sebagai penguasa yang berdarah keturunan raja dari jaman dinasti terakhir. Itulah sebabnya Li San punya hak membuat peraturan dalam kediamannya dan masih mempertahankan adat tradisi kuno.


Jika bukan karena munculnya rumor yang disebarkan entah oleh siapa dari media, tentang kasus hilangnya putri bungsu Li San yang dinyatakan meninggal itu, mungkin para wartawan tidak akan bergadang demi meliput berita klarifikasi keluarga Li. Begitu cepatnya rumor beredar, berikut foto-foto seorang gadis yang beranjak dewasa yang dituding sebagai Li Yue Hwa, putri bungsu yang telah meninggal itu. Entah apa motifnya si penyebar berita yang belum terlacak identitasnya itu membongkar aib lama keluarga Li. Yang pasti satu negara sudah dihebohkan dengan ketidak-pastian berita itu, jika benar rumor itu maka kedok Li San menutupi segala kebohongannya akan terbongkar, dan ini bukan pertanda baik bagi keluarganya.


Suara berisik mendadak hening saat mereka melihat Liang Jia bersama beberapa pengawal dan juru bicaranya masuk dalam ruangan. Sosok nyonya besar yang anggun dan berkharisma serta jarang tersorot berita itu kini hadir memukau para wartawan yang berdecak kagum menatap Liang Jia. Demi bertatap muka dengan mereka, Liang


Jia harus berpenampilan sempurna, berdandan cantik dan mengenakan jubah kebesarannya untuk memperlihatkan ketegarannya. Ia berjalan menuju mimbar yang sudah disiapkan untuknya, tak ada kesempatan untuk mundur lagi, ia harus menyelesaikan apa yang ia mulai.


Liang Jia menempati kursinya, ia begitu terlatih menyembunyikan ketegangannya dengan senyum dan ekspesi tenang. Sikap diri yang terdidik sejak kecil di kalangan keluarga bangsawan, apalagi ia adalah nyonya besarnya, tentu ia pandai membawakan diri untuk tetap tenang. Liang Jia memberi isyarat pada jubirnya agar memulai acara,


pihak klan Li hanya mengklarifikasi tanpa bersedia menjawab pertanyaan pers.


Kata pembuka yang sekedar basa basi pun harus Liang Jia lontarkan, hingga sampai di sesi ia harus menyatakan inti permasalahan, sejenak ia menarik napas agar tegar angkat bicara.


“Sebenarnya ini hanya masalah internal keluarga kami, maaf sampai melebar dan menimbulkan keresahan publik.” Jelas Liang Jia berniat mengakhiri pertemuannya dengan pers.


Suasana kembali gaduh lantaran pers belum terima dengan penjelasan yang tidak menjawab tanda tanya mereka. Hingga salah satu dari mereka memberanikan diri mengajukan pertanyaan, “Apa benar selama ini tuan besar Li telah mengorbankan putrinya? Jika saat itu nona kecil Li terbunuh jelas ini sangat mengerikan, seorang ayah berani membunuh darah dagingnya. Nyonya besar, apa anda tidak ingin menjelaskan pada kami?”


Riuh seketika, bahkan mereka tak peduli dengan teriakan juru bicara Liang Jia yang menegaskan untuk tidak bertanya. Liang Jia meremas sapu tangannya, ia pun geram karena masa lalu keluarga mereka kembali diusik, padahal semestinya masalah ini sudah jelas dan putrinya yang sudah ditemukan itu akan segera berkumpul dengannya.


“Itu masa lalu, kita tidak perlu menyalahkan masa lalu. Yang pasti putri bungsuku akan segera kembali bersama kami.” Tegas Liang Jia sembari berdiri hendak meninggalkan ruangan.


Seorang wartawan kembali berteriak heboh karena mendapatkan pesan dari seseorang yang misterius berisikan berita yang mengejutkan. “Oh, astaga fakta apalagi ini? Ternyata selama ini nona muda Li yang menghilang itu memakai topeng! Foto yang beredar adalah foto topengnya demi menghindari rencana pembunuhan tuan besar Li. Dan satu-satunya orang yang tahu rahasia besar ini dan berusaha menolong nona muda justru disekap oleh tuan Li San. Astaga... Tuan besar Li ternyata menyiksa kakak kandungnya sendiri, tuan Li Kao Jing karena tak ingin rahasianya bocor serta tetap akan menghabisi nyawa putrinya. Mengapa ada penguasa sekeji ini?” Teriak wartawan itu lantang dan membuat semua yang mendengarnya shock, termasuk Liang Jia.


Liang Jia tertahan dalam ruangan itu, ia merasa terjebak keadaan. Dari isi berita yang didengarnya itu sudah jelas siapa dalang di balik kericuhan, hanya saja Liang Jia tak habis pikir betapa liciknya Kao Jing dan Chen Kho menyiapkan serangan ini untuk menyudutkan Li San di mata publik. Liang Jia sedikit gentar, ia mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Semua wartawan itu tak lagi bisa dikontrol, mereka meneriakkan pertanyaan yang semuanya menyudutkan Li San. Liang Jia terduduk kembali di kursinya, ia harus berpikir cepat untuk mendapatkan solusi. Pasti ada anak buah Kao Jing yang tersisa di dekatnya, dan entah siapa yang sengaja disiapkan untuk menjatuhkan Li San selangkah demi selangkah.


***


Grace duduk tak tenang menjaga Li San, hatinya berada di luar sana memikirkan banyak hal sementara raganya tertinggal di sini.


“Grace, pergilah temani tantemu.” Perintah Li San yang tiba-tiba dan mengejutkan Grace. Gadis itu langsung mendongak dan menghampiri ranjang Li San.


“Tapi paman?” Tanya Grace yang juga mencemaskan Li San jika ia tinggal, Liang Jia menitipkan suaminya pada Grace. Dalam kondisi ini sulit mempercayai orang alam sekalipun, tak ada jaminan mereka tidak memanfaatkan kesempatan untuk berbuat jahat pada Li San yang tengah tergeletak tak berdaya.


“Aku tidak masalah, pergilah temani dia. Aku takut dia kesulitan menghadapi keadaan di sana.” Ujar Li San yang terus gusar memikirkan Liang Jia.


Grace mengangguk mantap, kemudian mematuhi perintah Li San tanpa menunda waktu lagi.


***


“Nyonya, kapan nona muda akan kembali? Bagaimana wajah aslinya di balik topeng? Apa hanya keluarga yang mengetahuinya?”


“Nyonya, di mana tuan Li sekarang? Kenapa anda yang harus menemui pers? Apa tuan Li yang mengutus anda keluar agar beliau bisa bersembunyi?”


“Nyonya... Nyonya....”


Teriakan dan sederet pertanyaan memusingkan itu belum mendapat tanggapan dari Liang Jia, ia hanya bisa diam untuk saat ini, membiarkan mereka berteriak sepuasnya. Liang Jia bisa saja menyuruh pengawal untuk mengamankan mereka, bahkan mengusirnya, tetapi itu bukan jalan keluar terbaik. Dampaknya mungkin akan lebih buruk bagi nama baik keluarga Li, saat ini saja Li San sudah dicap diktator yang mengerikan.


“Nyonya, anda tidak bisa berdiam diri terus. Anda mengundang kami untuk klarifikasi, namun belum ada satupun pertanyaan kami yang ditanggapi. Apa benar tuan Li San menghukum saudaranya sendiri hanya karena melindungi putri bungsu anda?” Teriak seorang wartawan yang tak kenal lelah menodong Liang Jia.


“Tidak benar! Seorang pengkhianat memang pantas dihukum! Apalagi orang yang memutar balikkan fakta,


dia pantas mendapatkan hukumannya!”


Teriakan lantang seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari pintu masuk, berhasil menjadi pusat perhatian semua orang dalam ruangan itu. Grace berdiri lantang dengan berkacak pinggang, matanya nanar menatap semua yang mengintimidasi Liang Jia lewat pertanyaan sampah itu. Napas Grace tersengal-sengal, ia berlari kencang dari


paviliun Liang Jia kemari dan mungkin sedikit terlambat menyelamatkan tantenya dari desakan pers.


Liang Jia terkejut melihat keberanian Grace menyuarakan semua itu, ia sejak tadi diam memikirkan jawaban terbaik demi menjaga perasaan Grace, bagaimanapun Kao Jing adalah ayah Grace, dan Liang Jia tak tega melihat gadis baik itu terluka karena aib ayahnya terbongkar. Lebih tepatnya ini adalah aib keluarga besar Li, mereka semua


bersaudara dan ini murni masalah keluarga.


“Hei nona, anda berani sekali berkata kasar seperti itu. Apa anda punya kapasitas untuk bicara masalah ini?” Ujar seorang wartawan yang menatap remeh Grace, di mata mereka, Grace yang sedang berjalan masuk ruangan itu adalah salah satu pelayan Liang Jia yang nekad bicara demi melindungi majikannya.


Grace berhenti melangkah gara-gara pertanyaan itu membuat panas hatinya, ia melirik sinis pada orang yang barusan meremehkannya. Senyum seringai yang menakutkan terulas dari wajah Grace, “Aku sangat pantas bicara di sini, karena aku adalah putri dari Li Kao Jing! Ayahku memang pengkhianat, ia membolak-balikkan fakta dan aku berani bersumpah bahwa apa yang kukatakan inilah kebenarannya!”


Seketika seluruh ruangan gempar mendengar pengakuan Grace, sorot kamera serta flash mengarah pada Grace. Liang Jia menunduk frustasi, urusan ini akan jauh lebih runyam setelah pengakuan Grace. Mereka tak akan berhenti menggali lubang masalah, dan Grace mungkin akan jadi sasaran ayahnya sendiri atas kenekatannya sekarang. Semua ini hanya bisa terhenti jika Weini segera kembali, jika mereka melihat sendiri bahwa masalah keluarga ini telah selesai.


***


Kamu mau bilang apa sama Grace? Kalau author sih mau kasih tepuk tangan atas keberaniannya hehe ^^