OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 89 FIRASAT AYAH



Dua jam kemudian…


Haris dan Lau masih terlibat pembicaraan yang asyik ditemani bercangkir arak yang dituang dari satu sumber yang sama. Weini mulai lelah menjadi obat nyamuk, kehadirannya bahkan tidak tergubris.  Obrolan bapak-bapak terdengar tidak menarik baginya, ia berkali-kali menguap saking bosan.


“Da Ge ternyata kuat minum juga. Menyenangkan sekali bisa menikmati arak ini bersama, biasanya aku menghabiskan ini sendiri saat libur.” Lau cepat akrab dengan Haris apalagi setelah mereka menghabiskan waktu


berjam-jam bertukar cerita.


Haris tertawa santai, “Lai gan bei! (Mari bersulang!)” cawan kecil itu diangkat setinggi dagu dengan kedua tangan yang ditekuk seperti hendak memegang hio.


“Mari bersulang lagi Da Qe, semoga nona Weini dan tuan Xiao Jun langgeng dan segera menikah.” Lau mengangkat cawannya serupa yang dilakukan Haris.


Kantuk Weini mendadak hilang ketika Lau mengucapkan harapan seperti itu. Ia malu dan salah tingkah, hubungannya yang baru seumur jagung dengan Xiao Jun apakah layak didoakan secepat itu? meskipun Haris dan


Lau mengaku tidak mabuk, tapi Weini juga tidak yakin bahwa kedua bapak itu masih seratus persen sadar.


“Emmm… paman Lau, maaf menyela pembicaraan kalian. Ada yang ingin aku tanyakan…” Weini Nampak ragu melanjutkan, ia melihat reaksi Lau dulu sebelum meneruskan kata-katanya.


Haris dan Lau langsung beralih perhatian, mereka sama-sama penasaran apa yang ingin Weini bahas. “Silahkan nona.” Ujar Lau ramah.


“Gimana nasib Lisa dan Metta sekarang? Apa kasusnya lanjut?” tanya Weini pelan dan penuh hati-hati.


Lau mengernyit sekilas, ia agaknya bingung harus menjelaskan atau tidak. Xiao Jun tidak memintanya merahasiakan masalah itu, jadi Lau merasa aman untuk berterus terang.


“Soal itu mungkin tuan lebih bisa menjelaskannya padamu. Tapi setahuku Lisa sudah masuk penjara dan Metta menyusulnya siang tadi.”  Ungkap Lau serius.


Haris tertarik dengan cerita Lau namun berbeda dengan Weini yang terpukul mendengar berita itu. “Kasihan.” Ujarnya lirih.


Lau menghela napas melihat reaksi Weini yang penuh empati pada orang yang berniat buruk padanya. Ketidak tegaan itulah yang biasanya dimanfaatkan lawan untuk menundukkannya jika ia terus-terusan pakai hati pada orang yang tak punya hati.


Ponsel Weini berdering, lamunannya seketika buyar dan ia mencari ponselnya yang masih tergeletak di meja makan. Weini berdiri lalu membungkuk pamit menerima panggilan masuk itu, sementara Haris dan Lau


meneruskan acara minumnya yang terjeda.


“Halo, Xiao Jun.” sapa Weini lembut. Ia mulai terbiasa memanggil nama Xiao Jun dengan enteng. Walaupun masih tersisa debaran ringan di dadanya tapi ia bisa mengatasi itu.


“Weini, kamu sudah di rumah baru?”


Weini mengangguk dan beberapa detik kemudian ia sadar belum bersuara, Xiao Jun tidak mungkin bisa melihat anggukannya. “Iya… emm… ada Paman Lau di sini lagi minum dengan ayahku.” Seru Weini memberikan


tambahan informasi yang tidak ditanyakan Xiao Jun.


“Oh, jadi paman masih di sana. Ya sudahlah biarkan saja mereka. Sebentar lagi aku menyusul, apa kamu sudah lapar? Kita makan malam di luar saja gimana?” sedari tadi Xiao Jun mencari Lau namun ponsel pengawalnya


justru tidak aktif, rupanya ia bersenang-senang dengan Haris. Xiao Jun hanya kuatir terjadi sesuatu dan sengaja menghubungi Weini untuk menanyakan keadaan mereka.


“Hmmm… aku belum mood keluar. Kita makan di sini aja gimana? Terserah apapun deh, aku nggak rewel soal makanan.” Pinta Weini, walaupun ia bukan buronan tapi caci maki yang ia baca dari komentar netizen sedikit membebaninya tampil di depan umum.


Weini menempelkan ponsel di bibirnya, ia mulai memikirkan penampilannya sekarang. Lewat kaca ponselnya, ia melihat wajahnya yang tampak sedikit berminyak dan tanpa make up sedikitpun. Tiba-tiba ia merasa kurang percaya diri harus menemui Xiao Jun dengan wajah lusuh seperti ini. Ia berlari ke ruang tamu mendekati kopernya yang masih ditaruh begitu saja di pojok pintu. Haris dan Lau melirik Weini yang tergesa-gesa menarik koper lalu berhenti karena bingung.


“Paman, kamarku yang mana?” tanya Weini panik seakan waktu bisa mengejarnya.


“Ah, tuan menyiapkan kamar itu untuk nona.” Lau memberi petunjuk arah dengan telunjuknya. Weini berlari menarik koper ke kamar yang disiapkan untuknya.


“Lalu kamar da ge di sebelah sini.” Lau menunjuk kamar paling besar di apartemen itu.


“Kamar itu terlalu besar, kenapa tidak untuk Weini saja? Aku bisa tidur di kamar yang lebih kecil.” Ujar Haris setengah menolak.


Lau tersenyum lalu menggelengkan kepala, “Tapi menurut tradisi kita orangtua harus menempati kamar utama dan anak di kamar lainnya. Tuan muda hanya menuruti tradisi timur itu, mohon dimaklumi.”


Haris mengangguk paham, ia tahu betul soal tata krama dan tradisi di sana tetapi tak menyangka Xiao Jun begitu taatnya hingga membawa aturan itu ke kota metropolitan ini. “Oke, aku menghargainya. Kami sudah sangat merepotkan, aku tidak akan protes apapun yang kalian atur.”


“Terima kasih da ge.” Ujar Lau senang dengan pengertian Haris.


Bunyi bel memecah keakraban yang sudah terjalin antara Haris dan Lau. Kini terjawab sudah kepanikan Weini barusan pasti ada kaitannya dengan tamu di luar. Lau berdiri hendak membukakan pintu namun dicegah Haris yang memintanya tetap duduk lalu ia mengambil alih tugas membukakan pintu. Saat ini Haris lah tuan rumahnya.


“Selamat malam paman.” Xiao Jun membungkuk hormat. Ia menjinjing beberapa kantong plastik besar yang langsung disambut oleh Haris.


“Biar aku yang bawa, masuklah.” Seru Haris sebelum Xiao Jun complain dengan tindakan spontannya.


“Oya, Weini sepertinya langsung mandi saat tahu kamu mau datang. Tidak biasanya ia seheboh itu merapikan diri, rupanya mau nyambut kamu datang.” Timpal Haris yang dengan santainya membuka kartu AS Weini.


Weini langsung muncul ketika tengah dibicarakan, kupingnya panas sejak tadi dan ia dengar semua yang Haris katakan. “Ayaaaah… aku dengar semuanya!” Weini geram, dongkol bercampur aduk tapi justru terlihat lucu hingga ketiga pria beda usia itu kompak tertawa.


“Apanya yang lucu?” pekik Weini kesal.


“Sudah-sudah, kita makan bersama saja mumpung masih hangat masakannya.” Xiao Jun menepuk kursi di sebelahnya sebagai kode agar Weini duduk di sampingnya. Weini paham ajakan tak berusara itu namun ia terlalu


malu untuk duduk berdekatan di hadapan Haris.


“A… aku bantu paman Lau siapin makanan dulu.” Weini menemukan alasan tepat untuk mengelak. Kini tinggal Haris dan Xiao Jun dalam ruangan itu, mereka saling bertatapan tanpa bicara.


“Anak muda, berapa usiamu sekarang?” tanya Haris iseng.


“18 tahun paman.” Ujar Xiao Jun tanpa basa basi dulu.


Haris manggut-manggut, teringat anak laki-lakinya yang juga sebaya dengan Xiao Jun. Weini dan Lau muncul tepat waktu, mereka dengan girangnya mengajak makan malam bersama. Xiao Jun melangkah lebih dulu menyusul


Weini yang tak sabar lagi menikmati masakan chinnese food kesukaannya tanpa menyadari Haris menatapnya begitu lekat.


***