OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 46 APAPUN DEMI CINTA



Gerai rambut hitam panjang tertiup angin hingga menutupi wajah, wanita itu berdiri dalam pusaran angin kencang. “Li Jun…” suara lemah itu berulang kali memanggil nama asli Xiao Jun. Tangan kurus itu menjulur seolah menunggu pertolongan. Xiao Jun berusaha meraih jemari itu namun kuatnya tiupan angin menghalangi. Tubuh wanita itu terkulai sesaat ketika Xiao Jun nyaris meraih tangannya.


“Aaaarrrhhhhgggg…” Xiao Jun berteriak dan terbangun dari mimpi. Sekian lama tidak dihantui mimpi buruk ini, tetapi seketika wanita dalam bunga tidurnya datang memohon pertolongan. Xiao Jun mengusap wajahnya,


berusaha mengontrol napas yang pasang surut tak beraturan. Diambilnya sebuah jimat kuning lalu tangannya membentuk sebuah formasi sihir, kertas kuning di tangannya seketika terbakar oleh api sihir. Xiao Jun mencoba menerawang ke masa depan, siapa wanita dalam mimpinya.


Angin sihir bertiup menerbangkan benda di sekitar Xiao Jun. Kekuatan yang ia pelajari dari kitab kuno leluhur Wei sudah mencapai kemajuan. Tubuh Xiao Jun terangkat oleh pusaran angin dalam posisi bersila. Ia berkonsentrasi


menilik identitas wanita dalam mimpi yang melekat di ingatannya. Terdengar samar suara wanita itu memanggil namanya lirih, namun ketika Xiao Jun berkonsentrasi melihat lebih jelas wajahnya, tubuh Xiao Jun terpental ke tepi kasur semua formasi sihirnya lenyap.


“Sial!” umpat Xiao Jun kesal. Meski kemampuannya menunjukkan peningkatan, namun ia masih belum layak disebut mahir.


“Ini pasti bukan mimpi biasa. Mungkin potongan masa depan yang belum terjadi. Siapa dia?” teka teki masa depan yang belum terpecahkan. Sebagai keturunan Wei yang ahli sihir aliran putih, mimpi yang berulang kali diyakini sebagai pertanda di masa depan. Sayangnya Xiao Jun mengakui kemampuan sihirnya belum sanggup mendeteksi lebih detail. Hanya waktu yang bisa menjawab semua teka teki ini.


“Semoga bukan saudaraku yang ada dalam mimpi itu.”


***


Haris mengamati pergerakan bintang sejak beberapa malam lalu, ia sangat meyakini prediksinya bahwa dini hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengirim sinyal sihir ke rumahnya. Ia sudah menghitung kegagalan yang telah ia lakukan selama ini, jika kali ini tidak berhasil maka sudah 60 kali ia gagal.


Sesajian buah dan dupa di atas meja yang dilapisi kain merah, serta secarik kertas jimat kuning ia siapkan untuk ritual kali ini. Tinggal menunggu menit yang tepat sesuai hitungan thung shu (buku ramalan) maka Haris akan menggencarkan aksinya.


Weini baru saja terbangun dari tidur demi ke toilet. Matanya masih terasa berat dan kantuk yang begitu melekat, dengan setengah hati ia tertatih menuju toilet di dapur.


“Eh?” Weini mengucek mata, pintu dapur terbuka lebar dengan pencahayaan yang terang di belakang. karena penasaran, ia mendekat untuk mencari tahu ada apa di sana. Kantuknya lenyap seketika saat melihat Haris


berdiri membelakanginya. Pria itu menghadap sebuah meja yang sudah dipenuhi syarat sihir.


“Ayah? Kau mau ritual apa?” suara Weini mengejutkan Haris.


“Apa aku membuatmu terbangun?” Haris bertanya balik. Selama ini saat ia melakukan ritual, ia selalu mengunci diri dengan sihir agar terhindar dari gangguan. Weini bahkan sudah disihir tidur seperti sebelumnya. Namun Haris gagal kali ini.


“Tidak. aku hanya kebelet ke toilet. Ayah mau ngapain?” Weini bertanya dengan isyarat apakah ia boleh mendekat. Haris mengangguk menyetujuinya.


“Aku tidak bisa meremehkanmu lagi. Kemampuan sihirmu berkembang pesat. Bahkan sihir tidur tidak bisa membuatmu lelap seperti biasanya.” Haris tersenyum puas. Murid satu-satunya sudah bisa diandalkan.


“Oh, jadi selama ini ayah membiusku pakai sihir?” protes Weini namun hanya bermaksud bercanda.


“Haha tapi tidurmu jadi berkualitas kan? Sudahlah, aku akan jujur. Ini sihir telepati, atau pengirim sinyal. Sekalian kuajarkan padamu jadi kau harus menjadi asistenku sekarang.” Perintah Haris dengan lembut.


“Jadi apa yang harus saya lakukan guru?” canda Weini.


“Cukup jadi penonton saja di sana.” Haris menujuk di pojokan belakang, dua meter dari jarak berdirinya.


Waktu yang ditunggu sudah mendekati, Haris mulai berkonsentrasi. Jimat di tangannya mulai terbakar api sihir dan dalam sekejab pusaran angin kencang mengitari sekeliling Haris. Seberkas sinar merah seperti sinar laser menembak ke langit, sinar sihir itu hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki mata batin. Weini begitu takjub melihat sinar merah panjang itu menembus ke langit gelap. Semakin lama sinar menjuntai makin tinggi menembus


awan pekat. Haris semakin gencar mengeluarkan tenaga dalam, sinyal itu terus memancar dan menembus jarak yang sudah ia perkirakan.


Kretak… bunyi seperti barang retak terdengar nyaring, menyusul pudarnya sinar merah dan abu jimat bertebaran di atas meja.


“Oke, genap 60 kali.” Seru Haris. Ia menoleh ke arah Weini dan tersenyum.


“Apanya?”


Sakitnya terasa seperti patah hati saat mendengar Haris berkata gagal. Miris sekali sampai 60 kali, jika itu terjadi pada Weini apa ia akan sesabar ayahnya?


“Untuk apa ayah melakukan itu?” Weini mulai prihatin, Haris masih bersikukuh memberi tahu keluarganya di Hongkong walau selalu mendapatkan hasil yang sama, gagal.


“Keluarga kita perlu tahu kita masih hidup. Itu saja!” Haris mulai mengemasi peralatannya. Spontan Weini membantunya tanpa dikomando.


“Suatu hari nanti pasti berhasil. Ayah, perlukah aku mencobanya?”


“Jika aku sudah menyerah, maka kau harus menggantikanku.”


“Jangan menyerah, kita coba bersama saja ayah.”


Haris memilih jawaban dengan senyum. Membiarkan Weini mencoba sesuatu yang berbahaya, tidak akan pernah ia ijinkan selama dirinya masih sanggup. Tiada yang Cuma-Cuma di dunia ini, termasuk sihir. Semakin tinggi


tingkatannya, makin besar pengorbanannya. Dan Haris tidak akan membiarkan itu terjadi sampai nafas terakhirnya.


***


Tengah hari sesuai perjanjian akhirnya menyeret langkah Dina menuju kantor CEO muda Xiao Jun. Demi pria yang belum dikenalnya itu, ia harus kabur di sela syuting Weini dan harus segera kembali sebelum syuting kelar. Jika bukan karena penasaran, Dina tak akan seantusias ini mendatangi Xiao Jun.


“Nona Dina, silahkan masuk.” Sekretaris muda yang cantik dan seksi itu membukakan pintu untuk Dina. Sesaat setelah Dina masuk, wanita itupun pamit keluar.


Rupanya bos muda itu tidak sendirian, di sampingnya berdiri seorang pria separuh baya yang terlihat seperti tangan kanan. Dina merasa gugup menghadapi mereka, dalam hati ia mengumpat pada dirinya yang terlalu bersemangat kemari.


“Selamat siang nona Dina. Senang bertemu dengan anda lagi. Silahkan duduk.” Lau dengan ramah mengarahkan Dina duduk di sofa dalam ruang kantor berdesain mewah dan modern itu.


Dina tersenyum kaku sembari menempati sofa terdekat dari posisi berdirinya. “Terima kasih Tuan.”


Xiao Jun beranjak dari kursi besar dan mendekati Dina. Ia menjulurkan tangan untuk sebuah kesan pertama yang hangat. “Senang bertemu dengan anda Nona Dina. Santai saja, saya mengundang anda ke sini untuk sebuah kerjasama.”


“Ng maksud anda? Kerjasama yang gimana?” Dina bingung.


“Nona sekarang menjadi orang terdekat nona Weini di lingkungan kerja. Maka dari itu, kami berharap anda dapat menjadi partner kami dalam menjaganya.” Sebagai juru bicara, Lau segera memberi penjelasan pada Dina


yang terlihat tegang dan bingung.


“Hah? Partner menjaga non Weini? sorry, saya nggak ngerti. Tugas saya hanya sebagai manager, mengatur jadwal kerja dan kegiatan yang berhubungan dengan kerjaan, bukan merangkap sebagai body guard tuan.”


“Saya hanya ingin memastikan keamanannya di lingkungan kerja dari orang terdekat dan terpercaya. Saya yakin anda orang yang tepat. Maka kami menawarkan kerjasama selama anda masih menjadi managernya.”


Xiao Jun angkat bicara. Dina terlalu was-was kepadanya.


“Saya tidak mampu menjadi bodyguard.” Dina menolak secara halus.


“Hahaha, anda tidak perlu mengerjakan hal kasar Nona. Yang kami minta hanya informasi jika ada hal yang mengancam keselamatan Nona Weini atau semacam itulah. Tenang saja, kami tidak berniat jahat, justru


ingin melindunginya secara rahasia. Dan tentunya kami akan memberikan anda kompensasi.” Ujar Lao seraya mengeluarkan cek dan menyodorkan pada Dina.


“Seratus lima puluh juta? Anda ingin menyuap saya? Atau membeli saya untuk jadi mata-mata?” mata Dina terbelalak melihat nominalnya, terlampau besar hanya untuk menjadi informan.


***