
Lampu teras menjadi penerang di gelapnya sekitaran rumah Weini. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumah namun tidak ada jawaban dari dalam. Rumahnya pun gelap gulita di dalam, tidak ada tanda penghuni di sana. Weini menyerah untuk mengetuk, ia mengeluarkan kunci cadangan dari dalam tasnya.
“Tuan Xiao Jun, ayahku tidak di rumah.” Weini belum berniat membuka pintu sebelum Xiao Jun pamit.
“Sayang sekali.” Xiao Jun membungkam mulut dengan tangan kirinya. Ia Nampak berpikir sejenak, momen yang dikira tepat untuk memperkenalkan diri pada ayah Weini, rupanya masih harus menguji kesabarannya. Tapi setidaknya Weini sudah memperbolehkannya bertemu ayahnya. Jika dipikir, tidak buruk juga kenyataannya.
“Kalau begitu masuklah. Aku akan pulang setelah memastikan kamu aman.” Xiao Jun masih mencari alasan untuk mengulur waktu berpisah.
“Rumahku selalu aman kok, tuan.” Kilah Weini.
“Panggil aku Xiao Jun.” selalu dipanggil Tuan oleh Weini membuatnya risih. Rasanya seperti hubungan antara majikan dan tuan saja.
“Xi… Xiao Jun, panggil aku Weini juga.” Meskipun masih terasa canggung, tapi Weini melakukannya. Ia pun tak ingin dipanggil nona oleh pria di hadapannya itu.
“Oke. Aku pulang dulu, Weini. See u.” Xiao Jun berbalik dan melambaikan tangannya tanpa menoleh. Ia tak menunggu jawaban atau reaksi dari Weini, hatinya sudah cukup bahagia untuk saat ini.
Weini menatapi punggung pria berpostur tinggi itu, ia terlihat gagah walau dari belakang. Sedetik kemudian Weini sadar sedang mengagumi seorang pria, ia menepuk wajahnya agar kembali waras berpikir dan membuka pintu rumah.
Klik... lampu di ruang tamu menyala, menyusul lampu ruang tengah dan dapur. “Tumben ayah pergi jam segini.” Jam di dinding menunjukkan pukul 21.32 malam. Tidak biasanya Haris pergi tanpa kabar. Weini menelpon namun tidak ada jawaban dari Haris.
“Apa kau mengujiku dengan jurus baru lagi, ayah?” Weini merasa kesepian, ia menunggu di depan teras sembari berharap Haris muncul.
***
Mobil yang dikemudikan Xiao Jun baru saja meninggalkan jalan di sekitar rumah Weini, namun ia sengaja menginjak rem mendadak hingga mobil di belakangnya ikut mendecit karena rem. Xiao Jun turun dari mobil
lalu berdiri santai dengan melipat kedua lengan.
“Turun saja, Temui aku sekarang!” Ujar Xiao Jun dengan ekspresi datar.
Orang yang ia sindir itu akhirnya menampakkan batang hidung. Penguntit itu merasa kehilangan muka ketika aksinya ketahuan. “Sejak kapan lu sadar gue ikutin?”
“Sejak awal.” Xiao Jun tetap mempertahankan emosinya yang stabil. Ia tidak perlu marah atau bereaksi berlebihan menanggapi pria itu.
Stevan mengumpat dalam hati, pria di hadapannya begitu waspada sampai mampu menyadari keberadaannya padahal ia sudah berusaha menjaga jarak dan bersembunyi sebisa mungkin.
“Jadi lu cowok baru Weini yang lebih dia pilih ketimbang gue!?” cecar Stevan tanpa segan. Ia sudah terlanjur berhadapan maka sekalian saja diperjelas.
“Calon pacarnya. Kenapa?” tanya Xiao Jun santai, sementara lawan bicaranya sudah mulai tersulut ego.
“Gue cuman mau peringatin lu. sekali lu nyakitin Weini, gue bakal bikin perhitungan ama lu!” Stevan begitu menggebu, ia serius dengan ancamannya. Kenekatan Stevan menjadi stalker hanya demi memastikan Weini
bersama orang yang tepat. Ia membuntuti mereka mulai dari kantor, menunggu mereka keluar dari apartemen hingga pulang ke rumah Weini. Dan ia memang menanti kesempatan untuk bicara empat mata dengan rivalnya.
“Aku tidak perlu takut dengan ancamanmu. Apapun yang kulakukan bersama dia, bukan urusanmu.” Xiao Jun berdiri tegak, raut wajahnya menunjukkan ketegasan. Ia mempunyai aura yang sanggup menundukkan lawan hanya dengan sekali tatapan.
“Gue cinta ama dia. Jadi gue nggak bakal biarin dia disakitin cowok lain.” Stevan melangkah pergi dari hadapan Xiao Jun.
“Tunggu! Jika kamu cinta, perjuangkan saja. Biar dia yang memilih!” Xiao Jun serius memberi saran pada Stevan. Baginya tidak perlu menyingkirkan lawan, setiap orang berhak memperjuangkan cinta seseorang terlepas
dari menang atau kalahnya.
“Lu bakal menyesal udah memberi gue kesempatan bersaing. Thank you bro!” Stevan melambai dari kejauhan, ia bergegas masuk ke mobil dan pergi dari hadapan Xiao Jun.
***
Penantian Weini berbuah manis. Haris muncul dari remang-remang lampu jalanan. Pria itu tampak keluar dari sebuah mobil silver. Weini langsung berlari menghampirinya, sebelum ia dihantui penasaran yang semakin larut.
“Ayah…” ucapan Weini terpotong. Haris memamerkan kunci mobil lalu meletakkan di atas telapak tangan Weini.
“Ayah… terima kasih.” Weini terharu, matanya mulai berkaca meski tetesan beningnya tidak luruh ke wajah.
“Sudah waktunya kamu punya kendaraan sendiri. Bukankah itu yang kamu mau, agar Stevan tidak punya alasan menjemputmu lagi.” Haris terbahak, tidak sah bila tidak menggoda Weini dengan nama pria itu.
“Ng… ayah, hari ini Kak Bams memberiku seorang manager. Dia cewek, baik dan akan selalu menemaniku saat jam kerja termasuk antar jemput.” Weini merasa mobil pemberian Haris kini kurang berfungsi. Entah mengapa
ia merasa sedikit sedih, mungkin karena tidak ada alasan lagi untuk dijemput Xiao Jun jika ia membawa mobil sendiri.
“Kau tetap harus belajar nyetir. Anak gadis harus mandiri dalam banyak hal, jangan mengandalkan orang lain.” Haris mengambil posisi duduk di sofa ruang tamu.
Weini bergegas ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Haris. “Ayah sudah makan malam?” tanya Weini cemas, sudah hampir jam 23.00 dan ayahnya nyaris tidak pernah makan di luar.
“Sebelum pergi sudah makan. Aku tidak lapar. Jadi kamu sudah berubah pikiran? Tidak suka dengan hadiah ini?” Haris jelas bisa membaca suasana hati Weini. Belum lama ia merengek dibelikan mobil, sudah diwujudkan
malah tidak menunjukkan rasa senang. Mood anak gadis remaja memang seperti bunglon saja.
“Aku sangat senang. Ayah benar, Aku harus mandiri dalam segala hal. Ketika libur syuting, mohon ayah mengajarkanku menyetir.”
Haris mengangguk senang. “Ini baru anak gadisku. Tadi kamu diantar managermu?”
Deg! Weini terkesiap. Ia harus jujur sekarang daripada kebohongannya menimbulkan masalah baru lagi. “Xiao Jun yang mengantarku.” Suara Weini sangat pelan, persis sedang berbisik saking malunya mengakui kebenaran itu.
Haris tentu mendengar dengan jelas meski suara Weini berdesis. Ia tersenyum puas, Weini punya keberanian untuk terbuka padanya. “Sayang sekali, kali ini tidak bisa bertemu tuan Xiao Jun. Ah, marganya?” Haris menepuk
dahi, mencoba mengingat nama lengkap gebetan Weini.
“Li Xiao Jun.” Ujar Weini lantang. Suaranya keceplosan volume dan ia menepuk mulutnya dengan penuh penyesalan.
“Hahaha… Ayah penasaran seperti apa tampang pria yang bisa membuatmu salah tingkah. Lain kali kenalkan padaku.”
“Buat apa?” Weini makin berdebar, Haris selalu serius dengan ucapannya. Weini tak tahu bagaimana harus memulai sebuah perkenalan antara dua pria yang berarti baginya.
“Buat tes, apa dia lolos seleksi.” Goda Haris iseng namun sukses membuat Weini manyun.
***
Weekend yang tidak bernuansa liburan bagi weini. Sebuah jadwal talkshow live dengan stasiun TV XXX mengharuskannya berada di studio tiga jam lebih awal. Dina menjemputnya dari rumah sejak jam delapan pagi, mereka masih harus mampir ke kantor sebelum berangkat syuting. Dina sangat piawai mengatur jadwal Weini bahkan kepentingan pribadi pun diaturnya.
Weini duduk sembari pasrah dirinya dirias oleh empat orang make up artis. Beberapa bintang tamu yang diundang dalam talkshow pun dirias dalam ruangan yang sama dengan Weini. Ia merasa dirinya yang paling junior di sini, ketika tatapan mereka beradu, Weini memberi senyum ramah namun mereka seakan tidak melihat lalu mengacuhkannya.
“Non, ntar ganti kostum ini. Udah disiapin sama tim wardrobe.” Dina menenteng setelan jumpsuit dengan model tank top backless. Meskipun bagian terbuka itu ditutupi tile warna nude, namun busana itu terlalu seksi bagi Weini.
Weini dilemma sesaat, jika ia tolak maka para senior yang tak ramah itu akan semakin tidak menyukainya. Mereka akan berpikir bahwa Weini sombong dan sok ngartis. Tapi jika diterima, ia krisis kepercayaan diri apalagi jadi tontonan publik.
Sayatan luka di punggungku akan terlihat jelas. Aku tidak bisa memakainya. Selama ini aku menghindari dress seksi meski aku sangat ingin memakainya. Bekas lukaku tidak boleh ada yang melihatnya.
“Kak Dina, apa ada pilihan kostum lain? Aku… tidak nyaman modelan terbuka.” Penolakan Weini ini menjadi cibiran artis lainnya. Mereka bergunjing sembari berbisik tanpa peduli Weini masih di sana.
“Oh… aku minta tuker aja non. Wait!” Dina tidak mempermasalahkan itu dan membawa pergi kostum di tangannya.
Aku tidak akan mempertontonkan kelemahanku. Ketika aku melihat bekas luka itu, seluruh kenangan buruk seakan terulang lagi. Mereka tidak boleh tahu siapa aku dan mengapa aku menyembunyikan identitasku. Mungkin inilah
harga dari segores luka yang menempel di tubuhku.
***