
Dengugan berkumandang dari langit yang memekakkan kuping. Xiao Jun menutup kedua telinganya dan menunduk melindungi kepalanya. Fenomena alam yang mengerikan hingga seisi langit berwarna merah darah. Kepanikan di mana-mana, tangisan, teriakan pesimis seakan kiamat telah datang.
“Li Jun!!!! Li… Juuuunnnn….” Suara seorang wanita menggema memekakkan telinga Xiao Jun.
“Hosh… Hosh… Hosh…” Xiao Jun terjaga dari tidur. Nafasnya tak beraturan dengan keringat mengucur dari dahi. Dalam kamar yang bersuhu enam belas derajat celcius itu, ia masih merasakan panas akibat mimpi buruk. Ia baru
empat hari tinggal di Jakarta namun sudah dua kali mendapatkan mimpi buruk.
Suara siapa itu? Ia memanggil nama asliku? Ah… Xiao Jun memegang kepala yang mulai terasa sakit. Mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Indera keenamnya sangat peka dengan hal gaib dan ia yakin mimpinya menjurus pada ramalan. Tetapi siapa yang memanggilnya dengan kekuatan sebesar itu?
Siapa yang memanggilku Li Jun?
***
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan bubur ayam untukmu. Makanlah selagi hangat biar kepalamu cepat sembuh.” Weini datang membawa semangkuk bubur dan segelas air putih hangat dalam nampan motif batik. Raut
wajahnya menunjukkan ekspresi sedih dan bersalah. Ia berdiri menunggu jawaban pria yang terbaring lemah di depannya. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir pria itu, sebaliknya ia memasang wajah angkuh dan acuh.
“Masih marah padaku? Ayolah, jangan seperti itu. Aku udah masakin kamu bubur, udah rawat kamu. Harusnya kamu bilang makasih dong!”
“Oke, makasih. Taruh aja di situ!” ujar si pria ketus pakai banget.
Oke makasih!!! Gggrrrrrrrr… kalimat sakti itu memacu amarah Weini hingga ke level tertinggi. Pria arogan, pria sok tampan, dia kira dia baik? Ganteng? Tajir? Arrrggghhhhhhh kenapa harus ingat orang menyebalkan
itu???
“CUUUUTTTT!” teriakan Bams menghentikan adu peran antara Weini dan Steven. Dari mimic Bams, tampak jelas ia tengah kesal dengan hasil tadi.
“Ekspresi lu kenapa gitu? Mestinya tuh elu pasang muka melas, bukan kesal! Aduuuuh kacau kacau.”
Weini menggigit bibir bawahnya. Ia terbawa emosi pribadi sampai ke lokasi shooting. Parahnya ini sudah ke enam kalinya ia gagal take adegan mudah itu gara-gara kalimat fenomenal yang mengguncang hatinya.
Brengsek banget. Kenapa suara cowok itu mulu yang teringang. Kenapa sih harus pake kalimat oke makasih? Huft…
Bams mengistirahatkan semua kru sejenak. Ia sendiri perlu mendinginkan kepala yang mulai memanas akibat ketidak lancaran shooting.
“Weini, ikut gue ke ruang make up. Gue mau ngomong empat mata.” Ujar Bams seraya berjalan menuju tempat yang ia maksud. Weini segera membuntuti langkahnya dalam diam. Ia pasrah jika Bams akan memecatnya
seperti yang ia lakukan pada Lisa.
“Kalian tunggu di luar sebentar.” Bams meminta empat orang penata rias untuk mengosongkan ruang berukuran enam kali empat meter yang dipenuh kaca itu untuk kami berdua. Ia menarik kursi kayu tanpa penyangga lalu
duduk di atasnya.
“Kau tahu salahmu di mana?”
Weini menunduk, pikirannya menerawang memikirkan jawaban yang tepat tanpa harus membuat pak sutradara itu makin emosi. “Kurang fokus.”
“Kau tahu pekerjaan ini memerlukan seorang artis yang bagaimana?”
Hais lagi-lagi buah simalakama, dijawab takut salah, didiamin lebih salah. “Ng… harus berbakat.” Ujar Weini setelah sempat ragu akan jawaban itu.
Bams melepas topi lalu melempar ke atas meja panjang di hadapannya. “Coba lu liat diri lu di kaca!”
Weini spontat mematut diri di depan kaca besar yang memantulkan bayangannya dari berbagai sisi. “Apa maksudnya kak Bams?”
“Jadi artis itu bukan hanya modal bakat, namun faktor penunjang lain gak kalah penting. Di berbagai sudut, lu akan dinilai, dikomentarin, sama kayak lu di depan kaca ini. Lu harus punya mental baja buat survive di sini. Dan yang tak kalah penting dalam profesi ini adalah professional. Gue nggak peduli mood lu lagi bagus, lagi buruk, ketika kerja lu harus kesampingkan semua itu dan professional.”
“Apa kau akan memutus kontrakku kak?” Tanya Weini serius. Ia sadar bahwa yang hari ini ia lakukan sangat tidak professional dan siap terima resiko terburuk.
Bams menatap Weiki lekat-lekat. “bwa hahhahaha….” Ia terbahak sembari memegang perut. Perubahan ekspresi yang begitu cepat hingga Weini merasa Bams mulai tertular moodynya.
“Lu baru anak kemarin sore, melakukan kesalahan itu masih wajar. Gue cuman beri lu masukan buat lebih baik setelah ini. Kita kerja tim, satu kacau semua kena imbas. Mengerti?” Bams kembali tersenyum sambil
mengerlipkan mata kiri kepada Weini.
“Mengerti. Terima kasih kak Bams.” Weini tersenyum lega, kelalaian kerjanya masih diberi ampun. Nada dering sebuah handphone terdengar di sela obrolan mereka. Weini merasakan getaran dari tasnya dan meraih alat komunikasi itu keluar. Ia menatap layar dan melihat nama orang yang memanggilnya.
Pak Haris? Tapi saat ini bukan waktu yang tepat mengangkat telpon.
“Terima saja. Gue udah selesai ngomong kok. Kalau udah kelar telponnya segera balik ke set.” Bams berjalan meninggalkan Weini yang belum sempat mengucapkan terima kasih.
“Ya Pak Haris.”
“Weini, apa aku mengganggumu?” suara Haris di seberang terdengar khawatir
“Ah tidak aku barusan istirahat kok. Tumben telpon, ada apa Pak?”
“Nanti pulang jam berapa? Aku tunggu ya, kita makan malam bersama. Aku masak Chinnese food loh.”
“Wah… sungguh? Kalau lancar jam tujuh malam sudah kelar. Aku tak sabar makan masakanmu.”
Weini sangat bersemangat. Masakan Haris adalah menu terenak yang pernah ia santap. Pria yang sudah membesarkannya itu jarang masak yang ribet karena kesibukannya. Ia mulai belajar masak pada usia Sembilan tahun demi meringankan pekerjaan rumah Haris yang harus membagi waktu antara banting tulang menafkahinya dan mengasuhnya.
***
Xiao Jun membaca sebuah profil artis wanita yang dicalonkan untuk menjadi bintang iklan produk kesehatan yang akan ia luncurkan sebagai pendobrak bisnis baru. Wajah artis tersohor itu dinilai terlalu dewasa meskipun
usianya baru kepala dua. Dia juga sudah banyak dipercaya membintangi produk ternama dengan bayaran yang fantastis. Tapi entah mengapa Xiao Jun merasa kurang sreg dengannya.
“Artis ini bertarif ratusan juta untuk membintangi iklanku, tapi masih minta stuntman di adengan fight?”
“Dia tidak mau resiko cidera Tuan.” Lau membeberkan sesuai informasi yang ia terima dari managemen si artis.
“Dan kita harus membayar peran pengganti lagi?” Xiao Jun semakin tidak tertarik. Ditutupnya proposal itu dan dilempar ke atas meja kerjanya.
“Benar Tuan. Itu juga sesuai dengan permintaan dari managemennya.”
“Bermodal ketenaran lalu bisa meminta keistimewaan. Apa hebatnya yang begitu? Aku tidak tertarik dengannya. Kita cari yang lain saja, jangan pakai managemen ini setenar apapun dia. Cari pendatang baru yang pantas
dan bisa lakukan adegan kungfu tanpa peran pengganti. Aku lebih bersedia membayarnya setara artis terkenal.”
Xiao Jun membalikkan kursinya membelakangi Lau. Pandangannya menatap langit tanpa awan dari jendela kantornya di tower lantai 25. Lau segera undur diri setelah menerima tugas baru, meninggalkan Xiao Jun sendiri di tengah pikiran yang campur aduk.
Aku yakin kau masih hidup ayah.
***
Weini berjalan gontai membuka gembok pagar rumah. Rasanya ia tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Haris. Jam di sceensaver handphonenya menujukkan pukul sepuluh malam, telat tiga jam dari yang ia janjikan.
Pintu depan terbuka ketika Weini hendak memasukkan kunci. Haris muncul dengan senyum ramah, sungguh di luar perkiraan Weini yang sudah feeling akan dimarahi habis-habisan. Ini pertama kali ia pulang selarut ini – sendiran – alasan kerja.
“Pak Haris, maaf aku…”
“Ssssttt… cepat masuk, tidak baik berdiri lama di depan pintu.”
Ruang makan masih terang benderang meskipun lampu di ruang tamu sudah dipadamkan. Haris mengkode Weini agar segera menuju cahaya terang.
“Kau sudah makan malam? Aku masih menunggumu untuk makan bersama.” Haris membalikkan piring yang ditata terbalik sebelum digunakan. Gesture tangannya mempersilahkan Weini duduk.
Meskipun agak gugup karena tidak terbiasa dengan suasana ini, Weini mengikuti instruksi Haris. “Aku belum makan apapun sejak selesai kerja. Maaf aku sangat terlambat, jalanan yang macet dan shooting yang selesai molor membuatku ingkar janji.”
“Maka kau harus penuhi janjimu sekarang. Mari kita makan!” Haris membuka tudung saji yang menyembunyikan masakan istimewanya. Sepiring besar capcay seafood, sepiring mie panjang umur, dan beberapa telur rebus
diwarnai merah terhidang di hadapan Weini.
“Selamat ulang tahun.”
Weini terharu, matanya mulai berkaca melihat segala ketulusan Haris di hari lahirnya. Ternyata masih ada yang selalu mengingat hari ulangtahunnya, dan tahun ini sangat berkesan bagi Weini. Ia akhirnya genap berusia tujuh belas tahun.
“Pak Haris… ini sangat luar biasa. Terima kasih.”
Weini mengepalkan kedua tangannya di depan dada, sebuah bentuk penghormatan bagi orang yang lebih tua.
“Akhirnya kau mulai beranjak dewasa. Ingat untuk selalu jaga diri dan hindari pergaulan yang tidak baik.” Haris tak lupa memberi petuah. Kendati Weini pulang terlambat, ia tidak akan memarahinya untuk hari ini. Hanya ada kesenangan, kebahagiaan di hari special. Namun ia tidak menjamin akan sesabar itu jika terjadi di lain waktu.
*Terima kasih atas kasih sayang ini. Aku tidak akan pernah melupakan budi baikmu. Dan untuk diriku sendiri,*Happy birthday to me!
***