
Sepanjang berada dalam mobil, Grace memilih diam dan membuang pandangan ke jalanan. Menatapi tanpa rasa antusias sedikitpun pada keramaian kota Hongkong. Kao Jing beberapa kali mencuri pandang kepada putrinya yang duduk di samping, melihat keasyikan Grace menikmati keheningan membuat Kao Jing tak sampai hati mengusiknya.
“Bagaimana kondisi di rumah tuan besarmu sekarang?” Kao Jing mengajak supir yang juga sejak awal diam menjadi teman bicara, sekedar basa-basi untuk memecah suasana hening. Kao Jing tak betah menghabiskan perjalanan yang kurang lebih satu jam dengan membisu sendirian.
“Sejak kemarin semua pelayan sudah sibuk menyiapkan segalanya, tuan besar akan menggelar penyambutan besar-besaran atas kedatangan nona dan tuan.” Ujar supir dengan sopan dan tetap fokus menyetir.
Kao Jing terkejut, ini hanya kedatangan biasa namun Li San sepenuh hati memberikan sambutan formal. Ia kemudian melirik Grace yang masih apatis, penampilan putrinya dari atas sampai bawah sungguh tak sesuai untuk tampilan formal. Anak gadisnya mengenakan tank top yang dipadukan blazer serta hot pants, rambut dikucir cepol
dan mata yang ditutupi kacamata coklat. Tanpa Kao Jing sadari kepalanya menggeleng lemah saking prihatinnya dengan penampilan cuek si gadis. Kostumnya lebih pantas dipakai ke mal ketimbang ke acara formal meskipun dalam acara keluarga.
“Antarkan kami ke butik ternama di sini sebelum ke rumah Li San.” Kao Jing memerintahkan supir yang diutus untuk menjadi supir pribadinya selama berada di Hongkong.
Mobil seketika berbalik arah dan menuju ke pusat keramaian, semula Grace tak ambil pusing dengan apapun yang ayahnya bicarakan sampai ia menyadari rute perjalanan yang putar balik menuju tempat yang barusan ia lewati, akhirnya ia buka suara bertanya pada Kao Jing.
“Daddy, ada apa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Grace menatap ayahnya, hanya ia yang bisa melihat jelas kedua mata lawan bicaranya sementara ia masih mengenakan kacamata.
“Kita harus ke butik mencarikanmu gaun yang cocok. Kau tak bisa muncul dengan penampilan seperti ini.” Seru Kao Jing serius.
Perkataan Kao Jing barusan membuat Grace melongo, bibir tipisnya membentuk huruf O saking terkejutnya. “Bajuku nggak ada salahnya, kenapa harus diganti? Daddy, jangan bikin aku nggak nyaman biarkan aku jadi diri sendiri.”
Kao Jing menggeleng kencang, “Tidak untuk sekarang, mereka melakukan acara penyambutan untuk kita. Kau tak boleh datang dengan baju kurang bahan seperti ini, mau ditaruh kemana muka daddy kalau sampai mereka menggunjingkanmu tidak tahu aturan.”
Grace menanggapi penilaian ayahnya dengan serius, ia melihat dirinya yang memamerkan sepasang kaki mulus jenjang, bentuk tubuh sempurna, wajah campuran Asia dan Amerika yang kentara dengan hidung bangir dan bola mata birunya. Ia bahkan dengan percaya diri tampil seperti ini dalam acara formal di negaranya, kenapa di sini harus dipermasalahkan seolah ia tak lebih dari seonggok daging berjalan tanpa busana?
“Daddy, that's not my style, please don't make things complicated. Aku mau jadi diri sendiri dengan gayaku, kalau mereka mau terima bagus, nggak yaudah. Kita pulang saja!” ujar Grace cuek tanpa banyak pertimbangan. Belum apa-apa aturan sudah membuat moodnya jelek, saking malasnya dengan aturan ketat keluarga Li San, ia bahkan rela pulang pergi dalam sehari ketika menghadiri pernikahan Yue Yan. Tak peduli betapa Chen Kho memintanya nginap, ia enggan menyesuaikan diri dengan aturan konyol di sana dan merasa salut dengan kakaknya yang begitu sanggup tinggal di rumah itu sekian lama. Grace mulai berpikir, mungkin ini karmanya sempat menghina aturan konyol Li San dan tak lama kemudian ia harus dijodohkan dengan putra satu-satunya.
“Sudah kau diam dan menurutlah. Ini bukan Amerika, ingat tak peduli kau lahir di mana, besar di mana, kau tetap keturunan klan Li yang terhormat. Jangan beri malu daddy, harga dirimu terletak dari sikap dan caramu berpakaian pada acara formal ini. Suka tak suka, kau harus mengerti!” Kao Jing dengan tegas memaksa Grace.
Suara tegas dan lantang dari ayahnya kontan menakutkan Grace, sifat ayahnya yang lemah lembut dan selalu berbicara dengan nada santai padanya seketika lenyap seiring kedatangan mereka ke kampung halaman sang ayah. Dari sini ia baru mengenali sisi gelap Kao Jing yang selama ini tak ia ketahui, ternyata ayahnya sanggup bernada kasar, membentak bahkan memaksa menuruti kehendaknya.
standar kebahagiaan ayanya.
***
Mulai dari gerbang, aula utama, hingga paviliun para nona Li dihias sedemikian apik. Nuansa merah dan emas menjadi warna keberuntungan yang menghiasi dekor di sana hingga terkesan seperti hendak mengadakan pesta pernikahan. Yue Xin dan Yue Xiao berlagak seperti pengawas yang memantau kerja setiap pelayan. Hanya itu yang
bisa mereka lakukan untuk menghabiskan waktu yang membosankan.
“Eh kak, pelayan itu! apa kita beri dia pelajaran?” tanya Yue Xiao menunjuk pelayan yang mereka todong beberapa hari lalu, ia yakin pasti setelah mereka merampas obat dari tangannya kemudian si pelayan itu pergi mengadu pada Liang Jia.
Yue Xin menghela napas, “Adik, kok nggak kapok sih. Jangan cari masalah dulu deh, aku nggak mau bikin ibu nangis lagi. Masalah kita aja bentar lagi di depan mata, kamu masih mau nambah?”
Bibir Yue Xiao auto manyun setelah ditegur kakaknya, ia tentu masih ingat kejadian mengharukan kemarin ketika mereka bertiga saling berpelukan dan menangis. Meskipun kadang merasa kesal dengan ibunya, tetapi Yue Xiao juga tak tega melihat ibunya berlinang air mata.
“Hmmm … iya deh. Kok si peran utamanya belum muncul ya? Segala persiapan sudah nyaris sempurna tapi belum satu pun dari mereka datang. Atau jangan-jangan Grace kabur karena nggak mau dijodohkan? Ha ha ha ….” Membayangkannya saja sudah bisa membuat Yue Xiao terkikih, ia dan Yue Xin paling sentiment dengan sepupu mereka yang disebut nona centil itu.
Yue Xin ikut celingukan dan mengangguk setuju, hanya ada mereka berdua sebagai keluarga inti selain itu baik Liang Jia, Li San dan Xiao Jun yang berkepentingan dalam acara ini belum juga hadir di aula. “Iya, ya … kok aku baru sadar hanya ada kita berdua yang penting di sini. Si Chen Kho aja nggak ada, bukankah ia juga harus ikut menyambut keluarganya?”
Mereka berdua saling menatap lalu dengan kompak mengangkat bahu, “Whatever lah, bukan kita yang rugi kalau ini batal.” Seru Yue Xin cuek. Ia menatap sekumpulan bunga teratai yang mekar di kolam ikan di samping aula. Keindahan bunga itu lebih menarik ketimbang membicarakan orang-orang itu.
“Tapi sayang juga sama dekornya, udah bagus banget. Ayah akan langsung mengadakan upacara pertunangan buat mereka kah? Dekorasi serta suasananya udah mirip banget kan kak.” Seru Yue Xiao yang takjub dengan hiasan di sekitar, terlalu mewah hanya untuk sebuah acara penyambutan tamu agung, ini lebih meyakinkan
untuk pesta pertunangan.
“Bagus kalau gitu, biar si nona centil nggak perlu tinggal dipaviliun kita. Sekalian aja dia sekamar ama Xiao Jun, ha ha ha ….” Kelakar Yue Xin mengada-ada. Keduanya kompak terkikih bersama membayangkan andai khayalan itu jadi kenyataan. Yang terjadi adalah senyum mereka mendadak terbungkam ketika melihat Xiao Jun, Li San dan Liang Jia yang barusan disebut mulai tampak dari kejauhan berjalan memasuki pelataran.
***