
Video call antara Jakarta – Hongkong menjadi pelepas rindu Xiao Jun pada ibunya. Liang Jia mengatur waktu yang tepat agar komunikasi mereka lancar dan aman meskipun harus berbohong pada suaminya. Xin Er terlihat
lebih kurus namun segar dibanding terakhir kali mereka melakukan percakapan video.
“Ibu tolong jaga kesehatanmu. Maafkan aku yang belum bisa merawatmu, melihat ibu agak kurusan membuatku sangat khawatir.” Xiao Jun menghela nafas, hati kecilnya terasa perih melihat ibu kandungnya. Ia terus
bertanya apa ibunya makan dengan cukup? Istirahat cukup?
“Li Jun, jangan terlalu cemas. Ibu kurus karena pengaruh obat, tapi penyakit ibu beransur baik. Kamu yang harusnya jaga kesehatan, tinggal di Negara orang harus membumi dan hati-hati.”
“Ibu jangan banyak pikiran, aku bisa menyesuaikan diri di sini. Selama aku jauh, mohon ibu lebih memperhatikan diri sendiri. Aku tidak tenang kalau ada apa-apa denganmu.”
Xin Er tersenyum sangat tenang, ia menahan air mata agar tidak mengacaukan perasaan putranya. Xiao Jun berperasaan halus dan paling tidak tahan melihat keluarganya menderita. Xin Er tahu bagaimana tersiksanya
Xiao Jun harus korban perasaan demi melindungi keluarganya yang tersisa.
“Li Jun, jika ada sesuatu yang bisa ibu lakukan untukmu… katakan saja! Ibu ingin melihatmu bahagia.” Ujar Xin Er lirih. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan putranya meskipun nyawa taruhannya.
Xiao Jun terdiam dalam pikirannya, sesuatu yang bisa dilakukan ibunya? Kebahagiaannya? Ia memikirkan apa yang menjadi kebahagiaannya sekarang hingga bayang wajah Weini relfek muncul.
“Ah… itu…” Xiao Jun menjeda sejenak, ia berpikir ulang pantaskah permohonannya? Tapi tekadnya sudah bulat, hanya Xin Er lah orangtua yang ia miliki saat ini dan kepada Xin Er lah ia harus memohon.
“Ibu, aku akan merepotkanmu. Bisakah ibu meminta nyonya besar mengaturkan waktu agar kita bisa bertemu dalam waktu dekat? Ada seseorang yang ingin aku kenalkan.” Ucap Xiao Jun mantap dan berhasil memancing rasa
penasaran ibunya.
“Wah… seseorang untuk dikenalkan? Li Jun, apa itu calonmu? Calon menantu ibu? Oh terdengar sangat menyenangkan, ibu tak sabar untuk bertemu.” Xin Er memegang kedua pipinya, ia terlena oleh khayalan tentang
gadis cantik, lembut dan begitu mencintai Xiao Jun lalu mereka menikah, punya anak hingga Xin Er bisa menimang cucu.
“Ibu?” Xiao Jun beberapa kali menyadarkan Xin Er dari lamunan hingga ibunya fokus pada pembicaraan lagi.
“Oh, maaf ibu melamun. Ini kabar yang sangat menggembirakan, ibu akan meminta bantuan nyonya. Tenang saja Li Jun, apapun caranya ibu harus bertemu kamu dan seseorang itu.”
“Terima kasih Ibu, aku juga akan bicara dengan nyonya besar. Yang penting utamakan keselamatan kalian, bisa panjang urusan jika tuan besar tahu. Aku tidak mau menempatkan kalian dalam bahaya.”
Mengenalkan seseorang yang sangat istimewa dalam hidupnya pada Xin Er memang hal penting bagi Xiao Jun, tapi yang lebih penting dari itu tentu keselamatan ibunya. Mereka tengah berspekulasi dengan resiko terbesar sebagai ganjaran – hukuman mati – namun jika tidak dicoba Xiao Jun mungkin akan menyesalinya. Ia harus menunjukkan itikad baik dan keseriusan agar Haris tidak meragukannya sebagai pasangan yang tepat untuk Weini.
Pembicaraan mereka terhenti karena ketukan pintu dari sekretaris Xiao Jun. Meskipun agak berat menutup telpon lantaran sangat sulit menemukan kesempatan bicara dengan Xin Er, namun Xiao Jun harus berpuas diri sementara.
“Masuk.” Xiao Jun sudah mengatur mood kembali fokus kerja. Ia mengira sekretarisnya yang pintar dan cekatan kerja itu yang masuk, sampai akhirnya ia sadar tamu yang masuk adalah seseorang yang sangat ia kenal.
“Xiao Jun, maaf aku mengganggu jam kerjamu.” Weini tidak serius minta maaf, senyumnya menunjukkan sebaliknya ia tak merasa bersalah muncul tiba-tiba tanpa janjian. Kedua tangannya menyembunyikan sesuatu di
belakang punggung.
“Jangan terlalu sungkan. Kau pasti bosan di rumah sendirian kan? Apa sudah makan?” Xiao Jun bergerak menghampiri Weini yang berhenti setelah beberapa langkah dari pintu.
Ketika Xiao Jun tepat di depannya, ia mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan sambil menggelengkan kepala. “Karena itulah aku datang, temani makan yuk!”
Xiao Jun tersenyum bahkan tawa kecilnya terdengar saat Weini menunjukkan sebuah rantang makanan. Gadis
itu penuh kejutan, Xiao Jun tak menyangka hari ini mendapat banyak hal menyenangkan.
susah payah menyiapkan beberapa macam lauk dan sayuran agar bisa unjuk kebolehan pada Xiao Jun.
Xiao Jun mendehem basa-basi, ia menghentikan tawa dan beralih ke mimik serius. “Oke oke… kita makan bareng tapi di sini nggak apa-apa?”
Satu set sofa tamu dalam ruangan itu ditunjuk Xiao Jun sebagai tempat yang dimaksud untuk makan bersama. Ia belum bisa meninggalkan kantor sebelum Lau kembali. Dalam imajinasi Xiao Jun, alangkah menyenangkan bila menyantap masakan Weini berduaan di rumah saja. Apa daya jam kerja masih panjang, ia tidak bisa sesuka hati terus-terusan melonggarkan peraturan untuk urusan pribadi.
“Di mana aja sama yang penting ada kamu.” Ujar Weini seperti terbawa suasana syuting adegan romantis.
Weini mulai membuka satu demi satu susun rantang. Xiao Jun hanya mengamati dengan tangan menangkup
di dagu. Ia penasaran gadisnya bisa masak makanan apa hingga dengan percaya diri menyuguhkan untuknya. Saat dua menu masakan dan satu wadah nasi putih terhidang di meja, raut muka Xiao Jun berubah gelisah.
“Di kulkas cuman tinggal ini yang bisa diolah. Aku masak cah kangkung ebi terasi pedas dan ayam goreng krispi ekstra pedas. Ini makanan lokal loh, kamu belum pernah cicipin kan?” Weini dengan bangga memperkenalkan nama masakannya. Warna cah kangkung yang dimasak dengan ebi, tomat dan cabe merah besar terlihat menggugah selera. Ditambah dengan ayam goreng fillet yang dibaluri tepung krispy plus dikombinasikan
rempah-rempah lalu disiram dengan saos ekstra pedas. Dari aroma dan tampilan masakannya sebenarnya Xiao Jun layak memberi Weini nilai A, sayangnya gadis itu belum tahu kekurangan Xiao Jun soal makanan.
“Iya, tak ku sangka kamu sangat jago masak.” Puji Xiao Jun sembari merenungi nasibnya setelah mencicipi
makanan itu.
“Eh… jangan puji dulu sebelum dicobain.” Weini makin semangat mengambil nasi dalam dua porsi lalu
memberikan pada Xiao Jun.
“Silahkan…” Ujar Weini meminta Xiao Jun mencicipi duluan.
“Ladies first.” XiaoJun berkelit.
Weini menatapnya dengan ekspresi gemas, aturan apa yang harus mendahulukan wanita makan dulu. Ia menyendok kangkung lalu menaruhnya ke dalam piring Xiao Jun, tidak hanya satu sendok namun tiga cidukan. Ia sangat puas berhasil mengelabui Xiao Jun yang terlihat tak berdaya dengan sayur yang hampir menyamai porsi nasinya.
“Ayamnya juga dicoba ya.” Weini mengambil jatahnya lalu mulai makan tanpa melihat ekspresi Xiao Jun
yang ketakutan melihat cabe.
Seolah disodori racun tapi tak punya pilihan selain menenggaknya, Xiao Jun menguatkan diri melahap semua yang ada di piringnya. Harus ia akui, masakan Weini memang enak. Pantas saja dia sangat ingin menunjukkan
kebolehan pada Xiao Jun.
“Enaaaak.” Dua jempol diacungkan untuk Weini. Walau keringat sebesar bulir jagung mulai mengucur di dahi, Xiao Jun ketagihan menambah porsi makan.
“Kau menyukainya hehehe… lain kali aku bikini menu andalanku yang berbeda.” Melihat Xiao Jun makan dengan lahap saja sangat terasa bahagia bagi Weini. Hingga ia menyadari perubahan wajah Xiao Jun yang memucat
dan keringat yang seakan habis mencuci wajah tanpa dilap. Ia mengambil dua helai tissue lalu menyeka keringat dengan kuatir.
“Kamu sakit?” tanya Weini cemas. Pria itu meneguk air mineral sebotol ukuran kecil hingga habis.
“A… aku baik baik saja.” Sayangnya kalimat itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Xiao Jun memegangi perutnya sembari membungkuk kesakitan.
“Xiao Juuun…”
***