
Keluarga besar Haris sudah berkumpul di pelataran parkit jet Wen Ting. Semua barang-barang bawaan mereka sudah siap dalam bagasi, tinggal kelapangan hati Li An dan Li Mei untuk segera berpisah lagi dengan kedua orang tuanya.
Weini dan Liang Jia ikut mendampingi momen perpisahan ini, tidak banyak andil mereka, hanya sebagai saksi bahwa saat ini sangat mengharukan. Li An mendekati Weini seraya tersenyum, rasanya belum plong jika belum menyampaikan uneg-uneg yang ada di kepalanya.
“Gong Zhu, boleh minta waktumu sebentar?” Tanya Li An yang memberi isyarat agar Weii bersedia menepi sejenak dari kerumunan yang lainnya.
Weini mengangguk dan memberikan senyuman pertanda baik, “Tentu saja kakak.”
Dua wanita itu berjalan menjauhi keluarga yang lainnya, membiarkan Haris dan Xin Er asyik dengan cucu mereka. Li An menatap Weini dengan lembut, bukan karena segan pada kharisma Weini. Di mata Li An, gadis murni di hadapannya masih dianggap seperti adik, persis saat ia pertama kali bertemu dengannya di Jakarta.
“Gong Zhu, aku secara pribadi mengucapkan terima kasih padamu. Setelah ini kami tiga bersaudara akan kembali berjauhan dengan ayah dan ibu, ku harap anda tidak keberatan untuk menjaga mereka. Ah... maafkan kelancanganku... tapi ayah dan ibu sudah tua, mereka memilih kediaman Li sebagai tempat tinggal di hari tua. Semoga mereka tidak membebani anda.” Ucap Li An meskipun penuturannya agak berantakan. Segan rasanya harus menitipkan orang tua kepada orang lain, namun apa daya bagi Li An, pilihan orang tuanya tidak bisa diganggu gugat lagi.
“Kakak tidak perlu cemas, aku sama sekali tidak terbebani. Bagaimanapun aku telah menganggap mereka sebagai orang tuaku juga. Ayah Haris... dia seterusnya adalah ayahku, dan bibi Xin Er otomatis aku hargai sebagai ibuku. Nanti kalau usia kandunganmu sudah cukup, aku akan ikut ibu untuk menjengukmu. Jaga kesehatanmu ya kak, jangan banyak pikiran.” Jawab Weini penuh perhatian, ia menaruh perhatian yang serius pada Li An yang tengah berbadan dua.
Li An trenyuh, pola pikir Weini yang sangat dewasa dan memiliki dasar hati yang baik dan tuluslah yang menyentuhnya. Reflek ia meraih tangan Weini untuk digenggam, Weini membiarkannya, toh ia sudah bisa mengendalikan kekuatan menyerap chi sehingga tidak perlu was-was lagi akan mencelakakan orang.
“Kamu sudah aku anggap sebagai adikku... bukan adik seperti aku memperlakukan Li Jun, tapi... di hatiku kamu sudah jadi adik iparku. Maaf kalau lancang ya, Gong Zhu... aku dan kak Li Mei sangat menyukaimu, kelak semoga kita tetap berhubungan baik setelah resmi menjadi keluarga.” Ujar Li An mantap, ia memberikan senyuman tulusnya dan mendapat respon yang baik dari Weini.
Sebuah anggukan mantap diberikan Weini kepada Li An, meskipun rasanya aneh karena sejak kemarin baik Liang Jia maupun Grace yang ia temui, terus membicarakan tentang pernikahan, dan sekarang Li An pun ikut-ikutan.
Apa mereka merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku? Gumam Weini dalam hatinya.
***
“Ming Ming, aku mau ikut denganmu saja. Bawa aku pergi ya!” Dina kecanduan bersama kekasihnya, hanya tiga jam saja bersama belum cukup melepas rasa rindunya. Kini ia tengah membujuk pria itu agar membawanya ke Beijing, padahal ia tahu hari ini juga ia harus kembali ke Jakarta.
Ming Ming menggelengkan kepalanya, tak berdaya. Bukan kuasa dia untuk menentukan siapa yang boleh ikut dalam penerbangan pulang kali ini. Harus ada ijin dari sang empu yang jelas tak berani Ming Ming pertanyakan langsung. “Dina, aku tidak punya hak untuk mengajakmu. Lebih baik kita jalani dulu keadaan sekarang, minggu depan aku libur dan aku pasti mencarimu di Jakarta, okey?”
Dina hanya mengangguk pasrah, ini kesekian kalinya ia berlaku sama terhadap kekasihnya. Dan pria itu masih dengan sabar menghadapi sikap kekanakannya. Padahal Dina paham posisi kekasihnya seperti apa, tetapi tetap saja kesan manjanya keluar. Tapi kali ini Dina sadar sepenuhnya, melihat kesabaran Ming Ming menghadapi tingkahnya, ia tidak mau membebaninya lagi.
“Maaf ya, aku jadi bebanin kamu. Aku janji nggak akan kekanakan lagi.” Seru Dina dengan nada menyesal.
Ming Ming hanya tersenyum, dengan lembut dan penuh perhatian ia mengelus rambut Dina. Hanya seperti itu saja sudah sangat menyenangkan bagi Dina, mereka berdua bertatapan dan saling melempar senyuman, mengabaikan mata yang mencuri lihat momen mesra mereka sambil tersenyum.
Xiao Jun melirik malas ke arah kakak iparnya, ia tahu isi otak suami Li An sekarang. Betapa bahagianya pria itu setiap kali ia bisa memantau orang yangtengah kasmaran. Sama halnya ketika Xiao Jun tengah serius dengan Weini, Wen Ting pun pernah menggodanya walau dengan bahasa tubuh. Tetapi Xiao Jun pun tahu, maksud hati Wen Ting memang baik, ia seperti tangan kanan dewa jodoh yang senang turut campur langsung untuk menyatukan orang.
“Menurutmu bagaimana kak? Pria itu kan tangan kananmu.” Xiao Jun malah melemparkan umpan balik ke Wen Ting.
“Tapi gadis itu kan tanan kananmu juga, plus teman baiknya kekasihmu. Bagusnya gimana, siapa yang harus mengalah?” Wen Ting tetap bersikukuh bertanya dan mendesak pendapat Xiao Jun. Tentu saja dengan senyum lebar yang tidak lepas dari bibirnya.
Xiao Jun mengangkat bahunya, nasib percintaannya saja masih buntu dalam pikirannya. Belum ada ide yang tercetus untuk melamar Weini dengan romantis, tapi Wen Ting sudah menghujaninya dengan pertanyaan sulit.
“Aku tidak tahu kak, kenapa tidak biarkan mereka yang memilih saja. Aku rasa Dina tidak keberatan diboyong ke manapun, asalkan ada Ming Ming. Sekarang saja dia lagi meminta diajak ke Beijing.” Ujar Xiao Jun santai, itulah yang ia tangkap dari perbincangan dua sejoli di seberang mereka.
Wen Ting menatap serius pada Xiao Jun, tentu saja dengan sorot tak percaya. “Dari mana kamu tahu?” Tanya Wen Ting heran.
Xiao Jun nyengir, tentu saja ia bisa tahu dari isi hati dua orang di depan. “Kedengaran sampai ke sini apa yang mereka katakan.” Jawab Xiao Jun tetap santai.
“Hah? Kok aku nggak dengar apa-apa?” Tanya Wen Ting shock.
Xiao Jun enggan menanggapi lagi kakak iparnya, tidaka da habisnya jika diladeni. “Yang pasti aku tahu kalau Dina itu tidak rela pisah dari Yue Hwa. Dia masih ingin berguna bagi Yue Hwa.”
Wen Ting terdiam sejenak, memikirkan ribetnya perasaan orang orang yang dikenalnya. “Hmm... apa susahnya memberi gadis itu satu posisi? Mencari orang yang setia itu sulit.” Gumam Wen Ting.
Xiao Jun hanya menarik senyum tipis, “Biarkan Yue Hwa mempertimbangkannya saja, aku rasa yang memberatkan hanya karena kendala bahasa, perlu waktu untuk Dina menyesuaikan diri di sini jika dia memang serius ingin bertahan.”
Wen Ting tiba-tiba tersenyum lebar, penjelasan Xiao Jun barusan membukakan jalan pikirannya tentang jalan keluar terbaik untuk hubungan jarak jauh pengawalnya. Wen Ting melirik ke arah Xiao Jun seraya memberikan tepukan ringan di pundaknya. “Jun, aku titipkan pengawal kesayanganku padamu!”
Xiao Jun mengerutkan dahinya, permintaan Wen Ting cukup membuatnya ambigu. Kakak iparnya itu beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Xiao Jun yang masih betah duduk. Kali ini fokus tatapannya berubah arah, ia tersenyum lembut saat memperhatikan keakraban Weini dengan Li An. Dari kejauhan saja senyuman Weini tampak memikatnya.
Kamu begitu sempurna, Yue Hwa.
***