
Tangan Dina sangat jelas terlihat gemetaran saat menerawang cek senilai ratusan juta. Emosinya tampak labil, tatapannya silih berganti berfokus pada Xiao Jun dan cek. Ia tak habis pikir mengapa ada pria seroyal itu yang nekad menghabiskan ratusan juta demi informasi dari orang yang disukainya.
“Nona Dina, harap anda jangan tersinggung. Tuan muda hanya bermaksud memberikan itikad baik sebagai tanda kerjasama. Jika anda keberatan, kami juga tidak bisa memaksa.” Lau menghela napas berat, wajahnya terpampang suram. Namun Xiao Jun justru terlihat sangat tenang.
Dina memegang erat secarik kertas berharga itu, tanpa ia sadari bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia hendak mempertahankan cek itu. “Ehem… Saya nggak bilang keberatan. Hanya kaget aja anda begitu royal demi non Weini.”
“Berarti anda setuju dengan penawaranku?” Xiao Jun dengan tegas meminta keputusan Dina saat ini juga.
Keseriusan Xiao Jun membuat hati Dina bergetar. Mengapa pria tampan yang terlihat ramah, manis dan menyenangkan itu bisa berubah ekspresi secepat itu?
Kapan lagi bisa dapat keuntungan double, aku hanya perlu memberi kabar pada mereka tentang apa yang dilakukan Weini. Kerjaan yang kurang lebih sama dengan manager, harusnya nggak beresiko lah.
“Oke deal!” Seru Dina mantap. Hatinya sudah berbunga membayangkan seratus lima puluh juta dalam genggaman.
“Keputusan yang tepat Nona. Selamat bekerja!” Xiao Jun mengeluarkan sebuah Iphone model terbaru dan mengodorkan pada Dina.
“Pakailah ponsel ini untuk menghubungi kami. Di dalam hanya ada dua kontak, milik saya dan tuan muda. Harap anda tidak menyalahgunakan kepercayaan.” Lau menerangkan maksud pemberian ponsel itu pada Dina sebelum gadis itu bertanya.
“Eh? Segitunya, apa tidak boleh pakai ponsel pribadiku saja?” Dina mencoba negosiasi, ponsel baru membuatnya terkekang saja.
“Kita sebaiknya antisipasi, memisahkan pekerjaan dan pribadi tentu lebih baik. Ini bersifat rahasia, tidak seorangpun boleh mengetahui terutama Nona Weini. Kami hanya meminta anda melaporkan apapun yang anda ketahui terutama jika ada hal yang mencurigakan yang bisa membahayakannya” Sambung Lau panjang lebar memberi penjelasan.
“Boleh saya bertanya, satu pertanyaan saja.” Tanya Dina penasaran.
Lau memandang Xiao Jun, lalu tuan muda itu menggerakkan kedua tangannya untuk mengiyakan permintaan Dina.
“Mengapa tidak terus terang saja pada Weini jika anda kuatir padanya. Apa tidak berlebihan menjadikan orang lain sebagai stalker? Dia selalu baik-baik saja dan semua orang di kantor menyukainya, mungkin anda hanya cemas berlebihan.”
Xiao Jun tersenyum, wanita ini rupanya cukup bawel. “Pepatah bilang, tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahui. Saya hanya ingin memastikan kejadian berbahaya tidak terulang lagi.”
“Maksudnya ada yang ingin mencelakakan Weini?” Dina makin bingung, ia memang orang baru di kantor dan Bams tidak menceritakan kejadian masa lalu tentang artis yang kini ia handel.
“Ya, dulu pernah ada satu artis yang mengirim penyusup untuk mencelakakan nona Weini. saat itu tuan hendak mengusut, namun nona Weini menolak campur tangan kami. Selama dia masih bekerja di industri hiburan, tidak menutup kemungkinan resiko ini akan terulang lagi.” Tutur Lau sembari membetulkan gagang kacamata.
“Oh, ada kejadian seperti itu rupanya.” Dina mangut-mangut mengerti.
“Ah… pantesan kemarin malam Bams bilang Weini harus hati-hati. Beberapa hari lagi kami kedatangan bintang tamu artis terkenal Lisa untuk syuting beberapa episode dengan Weini. jangan-jangan… Lisa berniat cari masalah.” Dina mengetuk bibir dengan telunjuknya, mendadak ia paham sikap over protectif Bams terhadap Weini. Meskipun tidak kentara, Bams mencemaskan keselamatan Weini di lokasi syuting.
“Lisa? Kedengarannya tidak asing. Ah, Tuan masih ingat artis yang pernah anda tolak sebagai brand ambassador, kemudian mendapatkan Weini sebagai pengganti? Namanya Lisa. Mungkin dalang di balik penyelundup itu ada kaitannya dengan dia.” Lau menarik benang merah, semua terasa klop jika dihubungkan.
“Terdengar masuk akal. Tapi kasus itu sudah tutup buku, yang penting sekarang jangan sampai terulang lagi. Nona Dina, saya harapkan kerjasamanya.” Xiao Jun terdengar bijak. Ia mengangguk pelan kepada Dina sebagai tanda kesepakatan.
“Baiklah. Anda bisa mengandalkanku. Ah, sebagai bonus aku beberkan info pertama. Weini libur besok dan aku bisa mengatur jadwal kencan untuk anda jika mau.” Dina mengedipkan mata seraya menggoda Xiao Jun. Ia
“Aturkan saja!” jawab Xiao Jun mantap.
***
Hari ini terasa seperti hari keberuntungan Metta, saat sebuah bunyi notif email masuk berdering dari ponselnya. Ia berjingkrak kegirangan ketika membaca nama si pengirim email. Usaha serta penantian beberapa bulan terjawab sudah. Metta mulai merasa di atas angin, kepercayaan dirinya makin besar. Ia mematut diri di depan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya dari ujung kepala hingga kaki.
“Gue memang pantas jadi artis. Tanpa bantuan papi ternyata aku juga bisa dapat peran di sinetron.” Metta mengelus pipinya, ia mendapat peran dan sebentar lagi wajahnya akan menghiasi layar kaca.
“Tinggal menghitung hari, gue pastikan riwayat karier lu tamat, Weini. Hahaha…”
***
Haris baru saja mengakhiri kursus kelas regular siang ini. Ia sengaja meliburkan diri setengah hari demi menemani waktu senggang Weini yang kosong jadwal syuting. Mereka bahkan sudah berencana belajar nyetir di kawasan Jakarta Utara.
“Kenapa mendadak gitu kak? Bukannya hari ini aku libur?” Weini terdengar uring-uringan dengan lawan bicara di telepon. Ia bahkan melewati Haris begitu saja ketika mereka berpapasan. Haris menatapnya heran, berita apa yang membuat mood gadis itu berubah total.
“Tapi aku ada janji sama ayahku. Gimana dong. Nggak bisa diundur jadwalnya?” Weini mencoba berunding, siapa tahu Dina memberinya kelonggaran.
“Huft… baiklah. Ku hubungi lagi ntar kak.” Weini menyingkirkan ponsel dari telinga, ia beralih pandang menatap Haris dengan tatapan serba salah.
“Pergilah. Kita bisa tunda lain kali.” Haris terlihat santai dengan wibawanya yang menenangkan siapapun yang melihat.
“Kok bisa tahu? Aku kan belum ngomong.” Gumam Weini terheran. Kadang Haris terlihat menakutkan jika serba tahu, Weini bahkan tidak bisa menyembunyikan seekor semut di kulit kepalanya dari hadapan Haris.
“Haha… sudahlah lebih baik kau siap-siap keburu managermu datang.” Haris tak tertarik menjawab lontaran pertanyaan itu.
“Tapi ayah, kau sudah membubarkan les demi rencana kita. Kalau aku pergi, ayah mau ngapain? Apa mau pergi bareng kami?” rasa bersalah kian terasa, Haris bukan tipikal orang yang suka korupsi waktu apalagi menyangkut kerjaan. Namun demi mengajarkannya nyetir di saat kosong job, justru Weini yang mengecewakannya.
“Kau pergi saja. Ayah mau ke rumah om Felix habis ini.”
Rencana Haris membuat Weini lega, rasa bersalah yang membebaninya perlahan lenyap. Ada baiknya mengunjungi rumah sahabat ketimbang sendirian di rumah. Weini bergegas berganti kostum dan berdandan ala kadarnya. Ia mengirim pesan singkat ke Dina, “Kak, Jemputlah.”
***
Dina terbahak, rencana pertama berjalan sangat mulus. Weini tidak hanya baik, tapi juga polos di mata Dina.
“Tuan Xiao Jun, semua berjalan sesuai rencana. Bersiaplah untuk kencan.”
***