
Suara tepuk tangan yang nyaring memecah ketegangan di aula utama. Meskipun kemenangan tampak sudah diraih Xiao Jun, namun belum bisa sepenuhnya senang sebelum Chen Kho pun berhasil ditakhlukkan. Xiao Jun dan Lau mempersiapkan diri lagi jika suara tepuk tangan dan suara derap langkah sepatu itu menandakan kedatangan Chen Kho. Sepasang kaki terlihat melangkah masuk dalam aula utama. Kehadirannya membuat Xiao Jun dan Lau tersentak kaget, semua sungguh di luar prediksi mereka.
“Bravo, adik ipar akhirnya kau berhasil mendapatkan penawarnya.” Seru Wen Ting yang masuk sembari tersenyum sumingrah disertai tepuk tangan dari dirinya.
Xiao Jun bergegas mendekati Wen Ting, ada banyak pertanyaan yang siap menginterogasi kakak iparnya itu. “Jadi penembak jitu orang suruhanmu kak? Bagaimana bisa kau datang tepat waktu?”
Wen Ting tertawa puas melihat wajah penasaran Xiao Jun, “Hebat kan kakak iparmu ini, Jun. lebih hebat lagi ayah mertua yang menyusun strategi ini semua. Aku bangga punya ayah mertua yang luar biasa, bisa memprediksi masa depan bahkan perhitungannya tepat kali ini.” Ungkap Wen Ting dengann polosnya, sebagai orang awam yang tak peka dengan sihir, jelas ia merasa kagum dengan kelebihan Haris.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, “Ayah yang mengatur semua ini?” Saking bingungnya Xiao Jun sampai bertanya ulang.
Wen Ting mengangguk, “Termasuk memberitahuku titik lemah di rumah besar ini sampai bisa kususupi. Kamu pasti tidak sadar sebagian anak buah si pengkhianat itu sudah kubereskan dan diganti anak buahku kan.” Gumam Wen Ting dengan bangganya.
Kekaguman Wen Ting memang beralasan, bahkan Xiao Jun pun semakin respek pada ayahnya. Diam-diam ayahnya pun merencanakan pertolongan ini, jika bukan karena campur tangan Haris, mungkin saja Xiao Jun akan kewalahan
dan kecil harapan memenangkan pertarungan tadi.
“Terima kasih kakak ipar, bantuanmu sangat berarti kali ini. Dan juga ayah, aku sungguh tidak menyangka ia merencanakan begitu sempurna.” Gumam Xiao Jun sembari mengangguk hormat pada Wen Ting.
Wen Ting sumingrah, seperti biasa pembawaannya selalu santai dan humoris. “Ah, penawarnya?” Ia mengingatkan target utama perkelahian ini adalah demi penawar racun.
Lau mengangguk pelan pada Wen Ting, kemudian Xiao Jun menunjukkan kotak kecil dalam tangannya kepada kakak iparnya. Ia membuka kotak itu dan melihat isi di dalamnya berupa dua butir pil kecil berwarna hitam dan yang satunya berwarna kuning keemasan.
Xiao Jun mengernyit heran, ia memang belum sempat membuka kotak itu namun setelah mendapati isinya yang berbeda, ia bingung melihat dua butir pil kecil yang berwarna hitam dan yang satunya berwarna kuning keemasan. “Yang mana untuk ibu?”
Wen Ting menatapi pil itu dengan serius, sesaat kemudian matanya berbinar dan ia kembali kagum pada ayah mertuanya. “Yang keemasan ini untuk ibu.” Jawabnya sangat meyakinkan.
Xiao Jun dan Lau menatap heran pada Lau, tanpa pertanyaan yang terlontar pun Wen Ting paham bahwa dua orang itu bingung mengapa Wen Ting bisa seyakin itu. “Ayah yang berpesan bahwa jenis racun ibu dan pengawalmu berbeda. Ah, ayah bahkan bisa menerawang sedetil itu, beliau bilang pil untuk ibu yang berwarna keemasan.”
“Sungguh? Wah, aku iri padamu kakak ipar. Ayah bahkan tidak memberitahuku soal ini.” Gumam Xiao Jun.
“Justru aku yang iri padamu Jun, aku hanya orang biasa, tidak bisa kungfu, tidak bisa sihir seperti kamu dan ayah.” Canda Wen Ting yang disusul dengan suara tawanya.
Xiao Jun tersenyum tipis lalu menatap Lau, “Paman, segera minum pil yang ini.” Perintah Xiao Jun.
Lau mengangguk patuh lalu mengambil jatah obatnya dan segera menelannya. Reaksi obat tidak segera bekerja tetapi Lau yakin ia tidak apa-apa lantaran energi yang ditransferkan Haris padanya masih sangat berguna.
“Kakak, aku masih punya kerjaan lain. Apa kau akan langsung kembali dan menyerahkan obat ini pada ibu?” Tanya Xiao Jun yang merasa tidak bisa berlama-lama lagi dengan Wen Ting.
“Pengawal, bawa obat ini kembali ke rumah. Pastikan obat itu sampai di tangan nyonya dengan baik. Sebagaian dari kalian pulanglah dulu, sisanya ikut aku pulang nanti.” Perintah Wen Ting tegas, air mukanya berubah serius ketika berhadapan dengan anak buahnya.
Xiao Jun dan Lau hanya diam melihat sikap Wen Ting yang bisa berubah drastis lalu kembali tersenyum santai lagi pada mereka.
“Jadi, apa misi selanjutnya?” Tanya Wen Ting mengalihkan sorotan heran dari dua pasang mata yang menatapnya itu.
Xiao Jun mengedarkan pandangan dari Wen Ting ke pojok ruangan di dekat singgasana Li San. “Menemukan tuan besar rumah ini.” Ungkap Xiao Jun mantap. Tanpa memberi aba-aba, ia memimpin jalan menuju ke atas kursi kebesaran sang penguasa. Lau dan Wen Ting mengekori jejaknya dalam diam dan penuh waspada. Pengawal suruhan Wen Ting pun siaga mengawal mereka dari belakang.
Xiao Jun menuruti kata hatinya, ia menaruh curiga pada kursi besar nan megah milik Li San. “Jika benar dugaanku, pasti ada sesuatu pada kursi ini.” Gumam Xiao Jun, ia menatap jeli kursi bercorak ukiran naga dan berwarna keemasan itu. Sekilas tampak seperti kursi normal, namun firasat Xiao Jun tetap yakin ada rahasia di balik kursi ini. Mengingat sifat protektif Li San yang terlalu mengagungkan benda ini, tidak boleh seorangpun yang mendekati singgasananya jika bukan pengawal pilihannya. Dan hanya pengawal tersebut yang boleh membersihkan area itu.
Sepasang mata naga yang terukir di gagang kursi mencolok perhatian Xiao Jun, di dalam bola mata itu terdapat aksara mandarin 天 (langit) dan 地球 bumi. Xiao Jun bergegas membalikkan badan menatap serius pada pengikut di belakangnya. “Kakak ipar, kau tunggu di sini saja. Aku akan masuk ke dalam, dan jika dalam waktu paling lambat dua puluh menit aku tidak keluar, tolong pencet dua mata ini.” Xiao Jun menunjuk dua bola mata naga itu.
Wen Ting mengernyit heran, “Kamu mau masuk ke mana?”
“Ruang rahasia tuan besar.” Jawab Xiao Jun singkat.
“Baiklah, pengawalku sebagian akan ikut ke dalam bersamamu.” Perintah Wen Ting, ia tak ingin dibantah sehingga
Xiao Jun pun hanya mengangguk pasrah.
Xiao Jun menyuruh Wen Ting dan pengikutnya mundur menjauh dari singgasana itu, ia pun tak yakin apa
perkiraannya tepat. Daripada menelan lebih banyak korban dari percobaan ini, lebih baik mengantisipasi mereka ke tempat yang lebih aman.
“Paman, bersiaplah aku akan mencobanya.” Ujar Xiao Jun pada Lau di sampingnya. Pengawal tua itu hanya
mengangguk patuh pada tuannya.
Perlahan Xiao Jun mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan menyentuh bola mata itu, tak seperti
dugaannya ternyata kayu itu terasa lunak dan tekanan jari itu terbenam. Getaran terasa kencang pada lantai yang dipijak Xiao Jun hingga mereka yang berdiri di sana mulai ketakutan. Dalam hitungan detik, dinding belakang kursi itu bergeser perlahan seperti membuka pintu penghubung ruangan lain.
Wen Ting yang menyaksikan dalam jarak empat meter pun tersentak kaget ketika Xiao Jun serta pengikutnya menghilang terbawa dinding yang bergeser itu. Setelah mereka menghilang, dinding serta tampilan singgasana itu kembali terlihat biasa.
***